"Meeooong," suara kucing terdengar nyaring.
"Dasar kucing kurang ajar, kau pikir ikan itu murah harganya ? Kau pikir bisa di dapat dengan mencuri ?" teriak seseorang kasar sambil melempari pisau kepada kucing itu.
tap tap tap tap
Langkah seseorang, terdengar cepat dan mendobrak pintu seketika.
Dunbrakkk
"Dasar anak kurang ajar, mau sampai kapan kalian akan terus tertidur di kamar hah ? Mau sampai kiamat ? Bangun !!! Bangun !!! Cepat bangun !!!" suara teriakan itu terdengar begitu familiar, sambil memandangi kami, dengan seperempat tenaganya, yang cukup terasa sakit dan mengganggu.
"Eh kenapa kita bisa dirumah ka ?" aku sontak kaget, terbangun dari tempat tidur, sambil menatap sosok laki-laki buruk itu.
" Emmm, aku juga enggak tau dik," ujur kaka, sambil bangun, ikut duduk dengan perasaan panik sambil memeluk ku.
"Sudah puas tidurnya ? Teruslah tertidur sampai kalian mati. Ada kucing menghabiskan ikan, untuk sarapan kita aja, kalian enggak tau kan ? Dasar anak-anak bodoh," Teriaknya setelah berhenti memandangi kami, yang ada hanya tatapan yang tajam, ke arah kami berdua.
Kami hanya terdiam, dalam kebingungan menatapnya. Dunia memang unik dan menarik, banyak hal yang terjadi dan aku tidak pernah memahaminya.
"Mau diam di situ terus ? Cepat bergegas beresin rumah," bentak bapak imitasi kasar.
Tidak ada yang menjawab, terutama kakak ku yang diam, sambil melihat ke arah bapak imitasi, dengan penuh amarah dan sinis.
"Kenapa matamu seperti itu ? Kau ingin melawan ku ?" ucapnya kasar, mulai memandang kami dengan tatapan remeh dan senyuman sinis.
"Sini agar ku congkel matamu, menggunakan pisau ini ? Cepat sana bekerja," lanjutnya, kemudian pergi.
Perlahan aku berdiri, terdiam dengan seribu pertanyaan dan juga kebingungan. Bagaimana mungkin kami bisa ada di kamar, apa yang terjadi semalam?
kemudian kaka menyentuh pundakku pelan.
"Aku juga bingung, kenapa kita bisa bangun disini ?" balasnya seraya paham, apa yang sedang aku pikirkan.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan ka ?" tanyaku dengan hati-hati, agar tidak didengar oleh siapapun, dengan lagak yang memeriksa ke kanan dan ke kiri.
"Kita hanya bisa mencari tahu, dan mengikuti cara bapak bermain," balas kakak sambil tersenyum. Aku membalasnya dengan sedikit anggukan, berisyarat baiklah.
Kami pun merapikan rumah, dan memasak sesuatu yang bisa dimasak.
kami masih dalam pikiran kebingungan, bagaimana kami bisa sampai di rumah, dan baju kami pun sudah diganti, jawabannya mungkin hanya ibu yang tahu.
Tidak terasa, waktu cepat sekali berlalu dan anehnya semua berjalan seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa.
Saat jam di dinding, menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh, sudah saatnya sarapan.
Kami pun segera menyiapkan makanan di meja makan, menyeramkan sekali rasanya, setelah semua yang terjadi semalam.
kami harus duduk dan makan bersama, setelah kejadian itu, kami juga yang disuruh membersihkan semua bekasnya.
Ibarat kecelakaan pesawat, kamilah penumpang yang sedang kecelakaan, tapi justru kami yang di suruh, membersihkan puing-puing pesawat itu.
Sudahlah lupakan, aku masih ingin tau kenapa kami bisa bangun tidur, sudah berada di kasur kami.
Kami duduk dan makan bersama, ada aku dan kakakku lalu Angel dan Leo, mereka berdua adik ku dan orang imitasi itu, saat itu ibuku sudah berangkat kerja.
Sebenarnya hal ini memang sering terjadi, ibu sudah berangkat pagi untuk bekerja.
Lalu bapak imitasi ku, dia di rumah menonton televisi, memancing ikan, dan dia bisa pergi bekerja sesuka hatinya.
Karena bapak bekerja di bengkel, jadi terserah dia kapan mau buka dalam satu minggu.
Aku heran kenapa dia bisa merasa tenang-tenang saja, padahal istrinya sedang banting tulang agar menghidupi kami.
Saat sedang makan kaka ku tidak henti-henti terus menatap bapak imitasi dengan tatapan sinis, aku melihat jelas seperti ada api di matanya. Api itu sedang berkobar dan ingin membakar bapak imitasi kami.
Tiba- tiba saja dia melempar piring yang di depannya ke wajah kaka ku.
"Ahh dasar kurang dihajar, kau anggap apa aku ini ? Kau lihat dengan tatapan seperti itu,"
ucapnya sambil melotot, mulai menekan giginya, sambil menggoyahkannya yang memberi isyarat, bahwa dia sedang emosi kemudian ia terdiam sejenak.
Piring kecil yang terbuat dari kaca, biasanya kalau kita beli sabun, nanti diberi bonus piring cantik. Piring itulah yang dilempar oleh bapak dan mendarat tepat sasaran di wajah kaka ku.
"Hah! Bagaimana anaknya tidak sopan, bapaknya aja enggak sopan," ucap kakak sambil tersenyum sinis, tanpa melakukan pembalasan apapun. Piring yang mendarat di wajahnya pun, dia tangkap ketika ingin jatuh kebawah.
"Aduh,,, aduh,,, mati saya kalau begini, bukannya terimakasih, kalian berdua itu sudah saya tolongin. Kalian itu sama seperti dua anak anjing, yang kedinginan di hujan malam, dan saya datang saya pelihara kalian, saya kasih makan. Tapi apa ? Setelah besar kalian menggigit saya Itu namanya enggak tahu diri," balasnya kemudian terdiam di kursi.
Bapak imitasi jika ceramah, bisa satu harian nonstop terkadang aku berpikir, apa dia tidak lelah ceramah sepanjang hari ?
kenapa dia bisa kuat sekali, untuk ceramah dan mengomeli anaknya. Kadang aku berfikir, mungkin sudah bakat dari lahir, jadi aku tidak heran, sudah pasti kuat, kelihatanya ceramah hobi dia.
Contohnya hari ini, saja dia terus berbicara, tidak berhenti sejak makan tadi hingga sore ini, tepatnya pukul empat sore, di kursi makan tempat yang ia duduki, sejak pagi tadi.
Terkadang jika dia jeramah, kami harus duduk dan menatap wajahnya, jika saja kami menatap ke bawah misalnya, atau melihat ke kiri. Dia bisa marah dan merasa tidak didengar dan diabaikan.
"Huh apa sih, maunya ini orang ceramah terus, apakah dia tidak bosan ?" gumamku sambil menatap dia, dengan pandangan yang mulai merasa lelah.
Padahal dari pagi sampai sore, dia terus saja berbicara, memarahi kami. Kami duduk manis dan diam, menatap wajahnya sampe sore, coba pikirkan apakah itu tidak membosankan?
"Huhh, ini orang licik sekali kelihatanya, perasan semalam kami tidur di rumah kosong yang kotor, tetapi kenapa setelah terbangun kami sudah di rumah ya ?? ini membingungkan," gumam kakak ku, nampaknya dia sudah mulai lelah mendengar ceramah dan mulai berasumsi.
"Jadi orang aneh ini menganggap kami anak anjing, jadi dia tidak tulus selama ini," balasku terkejut dalam hatiku, mendengar ucapannya yang sekarang.
Tin.. tin…
Bunyi klakson motor, dan suara mesin motor yang dimatikan. Aku dan kaka menarik nafas lega, ada tamu yang datang.
Kami harap mereka bertamu dan mengobrol panjang dengan bapak.
Karena kepala kami, sudah sangat panas dan pusing mendengar ceramahnya.
Ternyata yang datang saudara dekat kami, adik kandung bapak, atau mereka biasa ku panggil paman, mereka selalu simpati terhadap urusan keluarga kami mereka datang untuk bertamu mencairkan suasana.
Mereka mengetuk pintu, dan masuk. Lalu duduk di ruang tamu.
Bapak beranjak, dari kursi meja makan menuju ruang tamu.
Kedua adikku keluar dari ruang televisi, dan menyambut kedatangan saudara kami.
Aku dan kaka ku ke dapur membuat minum untuk paman dan bibi ku yang bertamu, tanpa sadar bibi menghampiri kami ke dapur.
"Dik ? Semalam bapakmu bilang apa aja ?" ucapnya agak berbisik, kami heran sebenarnya. belum ada sepuluh menit lebih mereka bertamu. Kenapa bibi bisa tahu kalau semalam kami perang dunia.
"Biasalah bi dia marah namun marahnya sangat berlebihan," ucap ku memanaskan air mata, dan kaka mengambil kopi bubuk dan gula pasir.
"Iya dia tega memukul anaknya sendiri dan bahkan mengatakan kami berdua anak anjing," cetus Kaka melanjutkan perkataanku dengan mata yang merah hampir menangis.
"Apa ?? Anak anjing ?? Kok dia bilang kayak gitu ?" ucap bibi ku dengan wajah kesal dan sedih.
"Bahkan dia memukulku dengan kursi," ucapku sambil tersendu, sambil mengingat potongan kejadian yang terjadi.
"Sabar ya, memang bapakmu itu seperti itu enggak pernah mau berubah" Bibi berjalan dan merangkul kami berdua.
Setelah itu kakakku yang mengantarkan dua cangkir kopi, yang sudah kami buat ke ruang tamu.
Perasaan yang agak lega, bercampur dengan bingung.
Namun kami sudah sedikit membaik karena saudara kami datang.
Kalau mereka tidak datang, mungkin sampai tengah malam nanti bapak masih ceramah. Mungkin bagi kaka ini adalah hal biasa, tapi bagiku ini sangat mengerikan.
Aku masih penasaran, dan ingin mengetahui apa yang sedang terjadi sebenarnya. Aku mengantarkan kopi ke ruang tamu. Lalu pembicaraan hening sejenak, aku melihat mereka berdua terdiam melihatku, jantungku berdegup kencang.
Kenapa mereka berdua terdiam ?
Saat membuka mata, aku terkejut dan menjatuhkan cangkir kopi tersebut