ANDAI MASIH ADA

1030 Words
Di tengah malam hujan turun begitu deras. Seluruh baju ku dan kaka ku sudah basah semua. Air terlihat merah diiringi luka di hati, dan luka di tangan yang begitu perih, kutahan dengan sayatan masa lalu. Kami berdua gadis kecil, yang berjalan kaki mencari tempat untuk berteduh. "Apakah kamu yakin adik ku, ini sudah malam, bukankah tidak mengganggu dan kurang sopan juga ?" ucap kakak dengan wajah cemberut dan kebingungan. "Lalu mau bagaimana ka? Ini sudah malam hujan juga turun semakin deras, apa yang harus kita lakukan," balasku mencoba menahan air mata, yang seakan penuh dipelupuk mataku. "Bagaimana jika kita tidur di salah satu rumah kosong di barisan sana saja ka," balasku sambil menunjuk barisan perumahan, di seberang berjarak tidak jauh, dari tempat kami berdiri. namun ada beberapa rumah yang kosong. "Kamu yakin adik ku ?" ucap kaka pelan, dan menatapi barisan rumah itu, sambil menahan rasa miris dihati. "Tentu saja yakin, kenapa tidak ?? mau dimana lagi memangnya ?" ucapku berbicara dengan rasa miris, sambil menahan tangis. Lalu kami pun melangkahkan kaki, menuju salah satu rumah kosong itu, kami masuk didalam begitu gelap, lantainya pun basah dan kotor, ada tanah dan kotoran hewan dimana-mana, belum lagi baju yang basah, memberikan isyarat bahwa tempat ini mengerikan. "Huaaa huaaa.. Tuhan sekarang kami kedinginan, dan membutuhkan tempat beristirahat mengapa harus begini ?" balasku, dengan tangis yang kuat, sambil mengusap-usap air mata di pipiku. "Adik sudah jangan menangis lagi, ini baru awal dari kisah hidup kita, permainan belum dimulai," ucap kakak, yang ternyata mencucurkan air mata yang begitu deras, membuat matanya merah. "Kakak aku kedinginan aku juga haus, aku juga lapar tanganku perih, darahnya masih terus keluar, belum lagi punggungku yang sakit, yang dibanting kursi itu. Lalu tempat istirahat yang begitu kejam ini, lihat ka apakah ini layak untuk kita ?" ucapku dengan lepas, diiringi dengan tangisan yang begitu keras. "Sudahlah adik ku, kakak juga sedih tapi ini jalan yang kita pilih, kita harus pertanggung jawabkan, di mata dia kita hanyalah sebuah debu. Dia mengibaratkan kita, dengan dua anak anjing yang menggonggong kedinginan, di tengah derasnya hujan, lalu diambil dan dipeliharanya, dan setelah besar anjing itu menggigitnya, di mata dia kita bukan apa-apa, kita tidak dianggap, dan tidak akan pernah dianggap," ucap kaka berusaha duduk dan menerima tempat kumuh itu, berisyarat bahwa ini adalah takdirnya. Kita harus menerimanya mau tidak mau. "Untuk apa hidup, kalau hanya akan menderita ? Dari sejak aku lahir, sejak aku melihat indahnya cahaya bumi ini, ayahku sudah diambil, aku belum melihat wajahnya, aku belum menatap senyumnya, aku belum pernah memanggilnya dengan sebutan ayah, aku mulai beranjak dewasa, di hadapan orang lain karena kekurangan biaya. Setelah SMP (Sekolah Menengah Pertama) aku dibawa kehadapannya, yaitu kehadapan iblis itu. Aku tidak menyukai kata iblis, tapi nampaknya itu cocok untuknya. Aku tidak pernah mengerti arti dari sebuah keluarga," icapku sambil menangis, menutup wajahku dengan tanganku, sambil berusaha duduk di sebelah kakak, dengan tangis yang begitu kencang. Aku dan kakakku adalah gadis kecil, yang berusaha bertahan hidup di dunia yang bagai neraka ini. "Andai ayah masih hidup! Ini tidak akan terjadi," ucap kaka sambil memeluk ku erat. "Adik nampaknya kamu panas? Tubuhmu hangat sekali bagaimana ini ?" ucap kaka kepanikan, sambil memegangi dahiku lalu memegang leherku. "Aku baik-baik aja kok ka. Kaka jangan khawatir," balasku sambil membalas pelukannya, berusaha mengontrol air mata yang keluar begitu deras. "Apanya yang baik-baik? Astaga Tuhan ini bagaimana ?" melepaskan pelukan, dan berusaha berfikir bagaimana dengan kondisiku. "Kakak jangan takut, aku akan baik-baik saja kok, aku akan segera tidur sekalipun aku sakit, kita tidak bisa berbuat apa-apa," balasku perlahan agar meyakinkan kakaku. Lalu kurebahkan tubuh, entah apa yang ku tiduri, entah tanah atau kotoran hewan, lantainya pun agak sedikit becek. Tapi aku berlagak nyaman, agar kakak tidak panik dan khawatir. "Adik maafkan aku selalu tidak berguna untukmu," ujur Kaka, sambil menangis lebih kuat lagi. "Sudahlah ka, mau dibuat apa lagi ? Inilah sebuah hidup, yang memang harus kita jalani, walaupun sedih dan kejam, tetap harus dijalani, lagian aku kuat kok, kan kakak kekuatanku," balas ku berusaha menghapus air mata, dan berpura-pura tersenyum lagi. "Fake smile, senyuman yang palsu jangan lakukan itu lagi adikku, percayalah semua akan berlalu, seiring dengan berhembusnya angin, sampai kapanpun dia tidak akan bahagia." Ucap kaka ku dengan penuh rasa frustasi dan dendam yang terus membara. "Mana bisa aku tidur, dalam keadaan seperti ini ?" ucap kaka ku, memperhatikan lingkungan sekitar. "Tidurlah ka, anggap saja ini adalah kasur terempuk, yang menggunakan AC ( pendingin ruangan)," ucapku berpura-pura tersenyum, dan menikmati suasana yang ada. "Baiklah seandainya saja ayah masih ada," ucap kakak ku dengan miris, sambil menggerutu. "sudahlah ka, Tuhan tau mana yang terbaik untuk kita," balasku, berusaha meyakinkan dia kembali. "Iya aku paham, tapi kalau saja dia masih hidup. ini semua nggak akan serumit sekarang. Mungkin kita lagi duduk di ruang tamu, sama ayah sambil menonton televisi. Bukan kedinginan dan kesakitan, kayak sekarang ini," balasnya mulai kehilangan kesadarannya. "Sudah ka, kenapa kita harus bersedih ?" balasku mulai tersenyum, menatap kaka ku. "Maksudmu kita harus bahagia ?" ujur kaka mulai kesal mendengar balasanku. "Bukan begitu, kenapa kita tidak mengubah hal yang kita terima negatif menjadi hal positif ?" ujurku menatap kakak, dia hanya terdiam menundukkan kepalanya, tidak berharap banyak. Entah mengapa ini pertama kalinya aku melihatnya murung dan lemas. "Kakak ?" panggilku mendekat sambil menyentuh tangannya. Kemudian kaka mengangkat kepalanya, kulihat air matanya berlinang, bagai air terjun yang begitu deras berjatuhan. Kemudian kakak mulai menghapus air matanya, nampaknya dia menemukan energi baru. "Kita harus berjuang, untuk membungkam mulutnya. kita harus semangat, buktikan kalau kita bukan serendah yang dia katakan," ucapnya, kemudian kakak tersenyum. Setidaknya dia sudah bisa tersenyum, dan mendapat energi positif. Walau aku sendiri masih bingung, bagaimana lanjutan dari kisah ku dan kakaku. apa iya mungkin aku bisa bertahan? Bagaimana kami akan makan besok? Bagaimana kami akan memulai hari esok? Apakah setiap malam harus tidur begini? Apakah tempat seperti ini aman untuk dua gadis yang baru tumbuh dewasa ? dan sekejam apakah dunia esok menanti kami? Kututup hari ini dengan sejuta pikiran yang entah apa yang akan kami lakukan dan hal-hal buruk seperti apa yang akan terjadi? Yang ku tau hanyalah tidur dan menutup mataku. Rasanya besok akan lebih baik, semoga saja keajaiban itu benar adanya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD