KENANGAN

1608 Words
Ku buka sebuah lipatan, terlihat kertas kecil, namun lipatan foto itu terlihat begitu usang, dan sudah sangat lama. Tepatnya di foto itu tertulis sebuah angka dan nisan, RAYHAND RIP: 27-05-2003, tanggal lahirnya 26-02-1970. Ya itu adalah satu-satunya benda yang kumiliki yang berbau, ayahku. Ku pandangi perlahan foto itu dengan rasa sangat miris hati, perlahan air mataku jatuh mengenai foto, besik ku didalam hati " Ayah, kau dimana? Aku takut? Lihat dia ayah, dia siapa? Apakah ayah tau dia sangat kejam padaku, pada kakak, dan pada ibu. Ayah marahi dia, tegur dia, suruh agar dia tidak terus menyiksa kami. Ayah kenapa kau pergi secepat itu? Kenapa kau tinggalkan aku? Aku belum saja melihatmu ! Aku belum memelukmu! aku bahkan tidak tahu ayahku seperti apa? Tuhan kenapa mengambilnya? Kenapa Tuhan setega ini? Ayah aku ingin, seperti anak kecil yang kulihat di jalanan, bercanda di tengah hujan deras, aku ingin bercanda bersama ayah, aku mau kepalaku diusap-usap oleh ayah. Aku ingin ada seorang ayah yang bertanya kepadaku, apakah aku sudah makan? Atau apakah nilai ku menurun atau naik? Tapi tidak ada, kenyataannya ayahku tidak ada." Aku terus menangis dengan sangat keras, tanpa henti. BBBRUUKKK... bunyi pintu kamar terbanting, begitu keras membuyarkan lamunanku tentang ayah "Ohh jadi kau menangis disini!!!" Tegur bapak dengan begitu keras. Bapak pun menarik tangan ku, dengan keras dan menjatuhkanku, begitu saja. Kemudian bapak, mengambil kursi kayu, dan membantingnya tepat di pundakku, keras sekali bantinggan itu sampai membuat aku ambruk. Dan membuat sedikit luka di kepalaku, ibu yang melihat kejadian itu pun langsung berteriak kuat. "AAAAA!!!! Apa kau nggak punya otak !!!" teriak ibu begitu geram, sambil menuju arahku. "Apa? nggak punya otak? Teruslah membela anak mu yang sudah jelas salah itu," balas bapak dengan begitu geram, nampaknya urat marahnya sudah meledak, sehingga tidak dapat di kendalikannya lagi perasaannya itu. Sedangkan aku yang merasakan bantingan kursi itu pun berusaha bangkit mengambil foto kuburan ayah. Karna hanya itu satu-satunya benda agar aku bisa melihat ayah, walaupun hanya nisannya. Ku gengam erat foto itu, tidak ku perdulikan seberapa sakit kursi kayu itu menggenai tubuhku. lalu kakaku datang menghampiri dan berkata "kau tidak apa-apa adik ku ?" ucapnya dengan rasa begitu panik ia menyentuhku. "Aku baik-baik saja ka, yang terpenting adalah, foto ayah kita," balasku lalu aku tersenyum puas. Tampa sadar kaka ku berdiri dan melawan bapak, "Enggak nyangka, orang tua umur sudah dewasa, anak sudah punya, tapi kelakuan kaya anak-anak. Malu-maluin banget ya, inginya di panggil bapak. inginnya di hormati, inginya di hargai, menghargai orang aja enggak bisa, kalau anda hendak di hargai sebagai bapak ! Anda hendak dihormati ! Cara menghormat pun tidak pernah kau ajarkan, Mana tanggung jawab sebagai bapak ? mencari nafkah saja anda tidak. Taunya cuman memerintah dan ngomong doang, bukankah anda bilang bicara sama perbuatan harus seimbang, mana buktinya ? Setiap harinya kau hanya marah-marah, hanya bisa menuntut, bangun pun kau jam sembilan keatas, kau saja tidak tahu anakmu sekolah atau tidak, yang saya lihat di luaran sana seorang bapak yang memberikan uang kepada ibu. Di rumah ini aneh justru terbalik, justru bapak yang minta uang kepada ibu, dan ibu yang memberi uang pada bapak, mana tanggung jawabmu sebagai bapak disini? Apakah anda hanya PATUNG BERJALAN!!" seru kaka dengan kuat, sambil mendongkakkan kepalanya mendekati bapak. "AAAAAARRRGGGG kaka sama adik sama-sama durhaka, apa kalian tidak pernah di ajarin sopan santun ! saya bunuh kamu ya? enggak sopan banget sama orang tua mu berani kamu seperti itu !" Pekik bapak dengan penuh emosi. "Ya, silakan BUNUH Saya asalkan itu membuat bapak puas, tapi tolong jangan sakiti lagi ibu, dan adik saya," balas kaka melotot, geram kepada bapa imitasi ku itu. "Ohhh kamu mau saya bunuh, ohh oke," cetus bapak pun mengambil pisau yang berada di dekatnya. "Kaka jangan, kalau kaka mau mati aku juga akan ikut bersamamu, kita inikan satu. Aku mana bisa hidup tanpa mu kaka, apakah kau kaka yang ku kenal yang kuat? Kenapa kaka mau mati konyol begini ?" Teriak ku begitu keras, sambil mencoba untuk berdiri. Lalu bapak imitasi, terlihat begitu nekat dan mengkayuhkan tanggannya, kearah kaka ku. "HENTIKAN !!!! apa kamu gila mau membunuh anak mu !!!" teriak ibu dengan tetesan air mata. Ku tangkap pisau itu dengan tangan. Seketika hujan turun begitu deras tanpa jeda, dan emosi pun mengalir begitu deras hingga tidak terkendali. Petir pun menyambar begitu keras. Setetes darah pun mengalir, dari besi yang terlihat nampak begitu tajam. Di iringi dengan air mata yang berderai. Setelah itu ku hempaskan pisau itu, lalu aku berlutut tepat di kaki bapak imitasiku itu. "Maafkan kami bapak, sangat kurang ajar kepadamu. Saya terlalu berdosa untuk minta maaf pada bapak. Saya dan kaka akan pergi dari rumah ini, dan saya mohon jaga ibu saya. Jangan lukai, jika kau melukainya kau menyakiti dua jiwa. saya pamit pak," pekikku setelah berlutut aku pun berdiri dan menarik tanggan kaka ku. "Ayo kaka ku," balas ku berusaha tersenyum, sambil menahan rasa sakit. "Ibu, jaga kedua adik ku yang manis itu ya bu," balas kaka dengan sedih harus segera pergi, dan tidak lupa kaka mengambil satu payung, untuk kami gunakan. "Baik silahkan saja pergi, kalian kira kehidupan di luar sana itu mudah, kalau enggak akan hancur kalian di luar sana. Tanpa orang tua, silahkan itu lebih baik, dari pada kedua adikmu ini nantinya akan hancur, karena mencontoh kalian yang tidak baik dan benar," serunya dengan segala kata keangkuhan, dan kesombongan. Ibu ingin menahan namun bapak imitasiku memberikan perlawanani,seperti biarkan saja mereka pergi. Lalu perlahan ku langkahkan kaki, bersama kaka tersayang, di tengah hujan badai yang begitu deras, bersama luka pisau yang ada di tanggan " luka ini adalah kenangan saat bapak ku menggenalkanku dengan pisau," gumam ku dalam hati. "Ehhh adik, kita duduk saja dulu di dekat warung sana ya," ucap kakak mengingat bahwa dekat rumahku sekitar seratus meter ada kedai yang bisa ditempati, cukup teduh dan bisa digunakan untuk menghangatkan tubuh. "Ohhh kedai pelagi ka? Ayo boleh," balasku dengan sedikit senyuman. "Sekalian kita bersihkan luka di tangganmu ya," balasnya dengan lirih, lalu kami berjalan mengunakan payung yang kecil itu. Sesampai di kedai pelangi aku duduk, lalu menghela nafas panjang, kaka mengobati luka ku, dengan mencucinya menggunakan air hujan yang turun begitu deras, tidak terasa lagi perihnya luka ditanganku itu. "kau tahu dik ? Air hujan itu seperti melambangkan sebuah airmata," ucap kakak. "Ehhh kenapa di ibaratkan dengan air mata ?" tanyaku dengan penuh rasa heran. "Ya tentu saja ayah menangis, melihat kondisi kita sekarang ini. Apakah kamu enggak sadar, ayah menangis melihat kelakuan bapak, yang begitu kejam kepada kita," ucap kaka, seperti memberi jawaban mengenai gerutuhanku tadi di kamar. "Ehh apa kaka beneran ? Aku fikir ayah tidak ingat, aku kira ayah lupa dengan kita, aku kira ayah tidak sedih lihat kita di pukulin," ucapku sambil menangis keras, "Ehhh enggak kok, apa kamu enggak sadar waktu kamu tangkis pisaunya, langsung bunyi petir, dan turun hujan deras, tandanya kan ayah berteriak. Mendengar tangisanmu itukan? " balasku tatap mata kaka, nampak seperti berkaca-kaca. Lalu aku membalasnya, "entah aku nggak yakin kalau ayah peduli dengan kita ka," sahut ku, pelan sambil menangis. "Ehh kenapa kamu menagis adik ku ? " balas kaka terlihat begitu peka, dia mengusap air mataku, lalu memeluk ku. "Sudahlah adik kecil ku yang manis, kau mau melihat ayah bersedih dan tidak tenang ?" ucap kakak yang ternyata juga ikut menangis, karena merasa miris sekali, dengan jalan yang sedang kami lalui ini, di malam seperti ini, entah mau tidur di mana kami. "Kaka bagaimana, kalau kita menginap dirumah guru les ku saja? Dia baik padaku, rumahnya juga dekat dari kedai ini," cetusku sambil tersenyum kepada kaka, berusaha menutupi rasa sedih di sertai rasa miris. "Ehhh apakah tidak mengganggu dik? Malam begini? Kurasa ini sangat menggangu ketenangan mereka, kurasa jangan dik, kita tidur di kedai ini saja," ucap kaka melirik sekeliling kedai yang terlihat begitu kumuh, apa lagi atapnya hanyalah dari jerami yang di keringkan saja. Belum lagi dengan lantai yang mulai basah, karna lantainya pun menggunakan bambu, setelah memperhatikan kondisi kedai itu pun, kaka merasa sangat miris jika memang terpaksa harus tidur di sana. "Sudahlah ka tidak akan mengganggu, apa kau ingat suaminya ibu guru lesku itu, pernah jam dua malam datang kerumah, yang waktu itu ada maling dirumah, dia yang berpatroli, semalaman menjaga kita semua, kaka ingatkan ?" ku berkata sambil tersenyum, berusaha meyakinkan kaka. "Baiklah kalau begitu dik, ayo kita berangkat sekarang," ucap kaka dengan pasrah. Akhirnya, kami pun berjalan menggunakan satu payung "Ehh adik lihat hujan derasnya sudah berubah menjadi gerimis," ucap kaka lembut. "Terimakasih ayah," ucapku dengan tersenyum menatap langit "Adik apa kamu tidak pernah menceritakan soal gurumu kepadaku ?" ucap kaka penasaran. "Ohh dia guru les ku kakak, taukan aku les di situ sudah tiga tahun, dia itu ibu Mira namanya. Dia punya anak satu, anaknya laki-laki. Dia juga punya masa kelam seperti kita ini, terkadang dia merasa miris kalau melihat kita," ucapku sambil memurung, merasa sedih. "Hahaaa, kamu juga sih, pake cerita segala," kaka mengusap kepalaku perlahan. "Kaka, sambil berjalan aku boleh taukan, seperti apa ayah dahulu kepadamu? Aku kan masih merengek menangis, baru menampakkan diri, dengan dunia ketika ayah masih hidup," ujurku kepada kaka. "Hahaha, kamu ini ada-ada aja dik. Apa yang harus aku ceritakan? Soal kenakalan ku, kepada ayah? Dulu aku slalu memita ayah membawakan permen, sesudah ia pulang bekerja. Kalau tidak di bawakan aku akan menangis seharian, aku akan marah kepada mereka, kalau ayah lupa, dia selalu menggodaku dengan senyumannya, terkadang ia juga mengelitiki ku, lalu menggodaku dan menggendong ku. Pokoknya dia jago membuatku untuk terus tersenyum. Ahh pokoknya gitu deh," ujur kaka sedikit tertawa sambil bercerita. Kami menatap jalanan, hujan gerimis, gelap, kedinginan, dan berharap mendapat tempat di rumah guru lesku. Tapi apakah kami akan di terima ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD