Bab 6

3658 Words
Serupa Tapi Tak SamaHari berganti hari, Imam dan Ell menjalani hidup seperti layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Yang membuat berbeda adalah mereka tidak lagi tinggal di rumah mami. Karena Imamlah yang menolak untuk hidup satu rumah dengan maminya. Bukannya Imam tidak sayang dengan maminya, tapi dia memang sudah terbiasa hidup jauh dari orang tuanya. Apalagi bila ia masih berada di sekitar mami sudah bisa dipastikan edisi kekesalan seperti yang dilakukan mami beberapa hari lalu akan terulang kembali. Dia masih belum mampu akan menjawab apa bila mami bertanya akan pertanyaan yang sama untuk ke sekian kalinya. Apa perasaannya masih bimbang untuk menyentuh Ell lebih dalam lagi, atau memang sejak awal ia telah salah membawa Ell ke dalam hidupnya. Dan Ell kesehariannya hanya menjadi ibu rumah tangga. Dia fokus mengurus semua kebutuhan Imam. Sampai-sampai dia rela belajar memasak dengan mami untuk melayani Imam. Di mata Imam, Ell sudah sangat sempurna menjadi seorang istri. Namun untuk menjadi pendampingnya menyempurnakan ibadah pada Allah masih sangat jauh rasanya. "Mas nanti pulang jam berapa?" Ell memperhatikan Imam yang sedang memakai sepatunya. "Pulang lebih cepat, Ell, kerjaan sudah Mas selesaikan. Beberapa hari lagi kantor kan cuti bersama," ujar Imam. "Cuti kenapa, Mas?" Dahi Ell berkerut, dia tak tahu mengapa kantor suaminya tiba-tiba melakukan cuti bersama. Imam melihat ke arah Ell, dia sadar Ell dan dia berbeda keyakinan. Tapi apa sampai sebegitu lupanya Ell dengan hari raya keyakinan suaminya ini? "Kan Idul Fitri, Ell," desis napas berat Imam begitu terdengar. "Maaf, Mas, aku lupa," lirihnya. Ell sadar dia memang berbeda. Dan dia merasa bodoh karena hari penting seperti itu bisa sampai terlupa olehnya. Padahal setiap malam ia selalu menemani suaminya itu untuk santap sahur. Menyiapkan segalanya agar Imam yakin memiliki agama yang berbeda bukan berarti tidak bisa memberikan yang terbaik kepada pasangan hidup. "Nggak apa-apa, Ell. Mas berangkat dulu, kalau mau pergi ke mana-mana hubungi Mas dulu." Ell menyanggupi perkataan Imam, tak lupa dia mencium punggung tangan suaminya. Setelah mengantar kepergian Imam, dering ponsel Ell berbunyi. Ternyata nama pemanggil adalah mami Imam yang menghubungi. "Assalamu'alaikum ... Ell," ucap mami. Ell bingung harus menjawab apa salam dari maminya itu. Apakah dia berdosa jika menjawab salam dari umat muslim? "Maaf, Ell, seharusnya Mami nggak ngucapin salam itu. Kebiasaan susah dihilangkan," sambung mami. "Nggak papa, Mi, ada apa?" tanya Ell penuh antusias. Walau dia berbeda namun rasa kasih sayang mami padanya tidak pernah berbeda sedikit pun. "Mami mau kamu sama Imam tinggal di sini saja sampai hari raya. Masa waktu hari raya, kamu dan Imam berjauhan dengan keluarga. Kamu bujuk Imam ya sampai dia mau," pinta mami. Ell hanya diam saja, dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Bagaimanapun Imam adalah suaminya. Imamlah yang berhak menentukan mereka akan tinggal di mana. "Nanti Ell tanya Mas Imam dulu ya, Mi," jawab Ell. "Iya. Kalau kamu nggak sibuk bisa kan siang ini main ke rumah. Mami sama Sabrin mau buat kue bersama," ajak mami. Sebuah senyuman terbit di bibir Ell, dia merasa senang maminya tetap sayang padanya walau dia menantu yang berbeda. "Iya, Mi, nanti Ell ke sana," ucapnya bahagia. "Mami tunggu ya, Ell. Mami tutup dulu, ya." Setelah panggilan mami berakhir, dia berniat menghubungi Imam untuk meminta izin ke rumah mami siang ini. Hingga berkali-kali nada tunggu dapat Ell dengar, namun tidak ada jawaban dari Imam. Apa mungkin Ell mengganggu Imam yang tengah menyetir? Pada nada tunggu yang kesekian kalinya, panggilan Ell diangkat oleh Imam. "Halo, ada apa, Ell?" "Mas sudah sampai kantor? Ell mau minta izin sama Mas Imam, siang ini aku mau ke rumah Mami," jelasnya. "Ya, sudah, hati-hati. Nanti pulang kantor Mas jemput," jawab Imam terburu-buru.  Ell mengerti akan ucapan suaminya, ia menjawab dengan mengganggukkan kepala walau Ell yakin Imam tak melihat itu, tapi dengan kediamannya Imam pasti tahu jawaban dari Ell. ꭃ Pukul sebelas, Ell sudah sampai di rumah mami menggunakan taksi. Dia mengenakan dress putih dengan tali spaghetti yang melingkar di bahu putihnya. Rambutnya yang pirang digerai hingga menutupi bahunya yang terbuka. Wajah putihnya tak terpoles make up sedikit pun. Ell memang sangat tidak suka berdandan berlebihan. Karena Ell lebih menyukai semua yang natural. "Ell, sudah dating?" sambut mami. "Sudah, Mi," Ell mencium tangan mami dan memeluk tubuh maminya itu. "Kita ke supermarket dulu ya, mumpung ada Fatah di rumah yang bisa mengantarkan," ujar mami.  Ell mengangguk saja dengan permintaan mami. Dia memperhatikan mami mertuanya itu, walau umur sudah lanjut tapi masih begitu cantik. Tubuh mami pun masih belum terlihat jika umurnya hampir lima puluh tahun. Siang itu mami menggunakan gamis putih dengan hijab cokelat yang sangat cocok dengannya. Sesaat Ell memperhatikan penampilannya. Entah kenapa dia menjadi tak percaya diri jika berada di samping maminya itu. Bukan karena takut dia kalah cantik, tapi pakaian yang dia gunakan sangat berbanding terbalik dengan mami. "Mi, sudah siap belum?" teriak Sabrin yang baru saja turun dari kamarnya. Ell kembali memperhatikan pakaian yang dikenakan Sabrin. Wanita itu menggunakan pakaian serupa dengan mami, namun terlihat lebih modis dengan bentuk hijab pink yang dibuat sedemikian rupa. "Kak Ell sudah datang ternyata?" ucapnya. Ell tersenyum ke arah Sabrin sekilas sebelum pandangannya kembali tertuju pada bayi yang ada di gendongan Sabrin saat itu. "Begini deh kalau sudah menjadi ibu rumah tangga. Ke mana-mana banyak yang dibawa. Padahal cuma ke supermarket saja," ucap Sabrin sambil melihat Fatah membawa satu tas bayi berukuran besar. "Ai, nursing apronnya sudah dimasukkan ke dalam tas, kan?" tanya Fatah. "Nggak tahu, Mas cek saja," ucap Sabrin tak peduli. Dia sibuk mendiamkan anaknya yang menangis. Jujur saja Ell merasa iri melihat pasangan Sabrin dan Fatah, mereka berdua tampak sangat serasi. Andai dia bisa seperti itu bersama Imam. Memiliki keluarga kecil bahagia. Apa semua itu hanya dalam mimpi Ell? Bahkan hingga detik ini Imam belum menyentuhnya sebagai seorang suami. Atau Imam menyesal telah menikahinya? Banyak sekali tanda tanya besar yang terus berkelebat di pikirannya. Apa memang seharusnya ia dan Imam tidak seharusnya menikah? Ell menepis semua pemikiran buruknya. Seharusnya dia tidak berpikir seperti itu. Dia dan Imam harus tetap melangkah ke depan. Jangan menyesali perbedaan ini. Karena mereka bersatu juga berkat adanya perbedaan. Di dalam perjalanan, Sabrin yang lebih banyak berbicara dengan mami dan Ell. Karena memang Ell tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi kecanggungan ini. Dia hanya diam dan memperhatikan jalan melalui jendela mobilnya. Pikirannya entah terbang ke mana saat ini, karena hati dan otaknya terus saja berperang saling menyalahkan atas keadaan yang ia rasa telah membuat sesak rongga-rongga pernapasannya. Ketika sampai di supermarket tempat biasa mami berbelanja, mami bertemu dengan sahabat lamanya. Mereka sibuk berbincang-bincang sesaat sambil mengulas hal lama yang sudah jarang mereka bicarakan. "Itu Sabrin?" tunjuk sahabat mami pada Ell. Karena yang ia tahu sejak dulu Sabrin tidak mengenakan hijab, sehingga dia berpikir jika Ell adalah Sabrin. "Ell, Sabrin, Mas, sini kenalkan dulu sama sahabat Mami," panggil mami. Saat sahabat mami yang bernama Rima melihat ke arah wajah Sabrin, dia seperti kaget. Karena ternyata dia salah mengenali orang, "Loh, loh, ternyata bukan Sabrin." "Ini Sabrin anakku. Dia telah berhijab sekarang. Alhamdulillah, sudah lebih baik semenjak menikah," jelas mami. "Kenalkan, Rin, ini Tante Rima. Sahabat Mami." "Oh, alah, Sabrin sudah menikah? Terakhir bertemu masih anak-anak sekali." Sabrin mencium tangan sahabat maminya itu. "Lalu yang ini siapa?" tunjuknya pada Ell. "Ini namanya Sellma, istrinya Imam," jelas mami. Ell terlihat ketakutan, dia takut mami mertuanya ini malu mengenalkan dia pada sahabatnya itu. Tapi kembali lagi semua ini di luar dugaan Ell, mami begitu lantang menjelaskan jika dirinya adalah istri dari Imam. "Ya, ampun, Imam sudah menikah ternyata. Putraku masih kuliah sekarang, mengambil S2-nya. Berapa tahun ya bedanya Imam sama Hans?" "Saya pikir Hans seumuran Sabrin, bukan ternyata?" tanya mami. "Bukan, Hans 24 tahun kalau tidak salah tahun ini," jelas Rima. "Dan ini siapa?" sambungnya lagi. "Ini suaminya Sabrin, Fatah." "Assalamu'alaikum," salam Fatah sambil merapatkan kedua tangannya karena tak berniat menyentuh Tante Rima. "Wa'alaikumsalam, gantengnya. Sabrin bisa saja memilih suami," goda Tante Rima. "Ini suami saya yang memilihkannya untuk Sabrin," ujar mami bangga pada menantunya itu. "Pilihan yang sangat tepat, Jeng." Cukup lama mami berbincang dengan sahabatnya itu, barulah mereka memulai berbelanja bersama. Ell membantu memilihkan beberapa bahan yang memang diperlukan untuk membuat kue. Dia cukup teliti mana bahan yang berkualitas mana yang tidak. Berbeda dengan Sabrin yang langsung saja memasukkan barang ke dalam trolly tanpa perlu repot-repot mengeceknya terlebih dahulu. Mami adalah seorang ibu rumah tangga yang memang lebih suka membuat kue sendiri dibandingkan harus membeli. Selain kualitasnya terjamin, rasanya juga lebih enak. Setelah trolly yang didorong Fatah penuh, mereka menuju kasir bersama. "Mas, aku ke masjid duluan, ya. Dedenya udah haus ini," "Ya, sudah, hati-hati." "Aku temani, Rin," usul Ell. Ell dan Sabrin berjalan beriringan menuju masjid yang berada di samping gedung supermarket itu. "Kak Ell mau masuk?" Ell nampak bingung dengan ajakan Sabrin untuk masuk ke dalam masjid. Tapi kemudian Ell menggelengkan kepalanya pada Sabrin. Ell takut salah-salah masuk ke dalam bangunan tempat umat muslim beribadah. Daripada dia melakukan kesalahan, lebih baik dia menunggu di teras masjid itu. "Dek, kamu nggak masuk ke dalam?" tegur seorang ibu-ibu saat melihat Ell sendirian. Ell menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Oh, lagi nunggu pacarnya sholat, ya?" sambung ibu-ibu itu kembali. Lagi-lagi Ell menggelengkan kepalanya. "Ah, pasti lagi datang bulan? Masuk saja. Panas di luar. Asal darahnya tidak menembus keluar pakaian tidak apa-apa," jelas ibu-ibu itu. "Makasih, Bu, tapi maaf saya nonmuslim." Lantas ibu-ibu itu memohon maaf pada Ell karena merasa tak enak. Ell hanya tersenyum mendengar permintaan maaf itu. Perasaan aneh menjalar di tubuhnya. Dia merasa bersalah karena tidak memberitahu ibu-ibu itu sejak awal jika dia nonmuslim. Sehingga membuat sang ibu salah pemikiran terhadapnya. "Ell, kenapa kamu menunggu di luar?" Mami tak tega melihat menantunya kepanasan duduk di luar teras masjid itu. "Bukannya Ell tidak boleh masuk, Mi?" tanya Ell bingung. "Siapa bilang kamu tidak boleh masuk?" Mami menatap Ell kasihan. Wajah Ell sudah memerah karena terkena sinar matahari siang. Ditambah banyaknya keringat yang mengucur di wajahnya. Sungguh ibu mana yang tega melihat anak perempuannya tersiksa seperti ini. Walau mami hanya ibu mertua Ell, namun mami tidak pernah membedakan Ell dengan Sabrin. "Ell yang bilang, Mi," gumamnya. "Menurut Imam al-Syafi'i rahimahullah di dalam al-Umm berkata : ولا بأس أن يبيت المشرك في كل مسجد إلا المسجد الحرام فإن الله عز وجل يقول {إنما المشركون نجس فلا يقربوا المسجد الحرام بعد عامهم هذا}  "Tidak apa-apa orang musyrik menetap di dalam seluruh masjid kecuali Masjidil Haram, sebab Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini (QS. al-Taubah : 28)’," jelas mami. "Jadi boleh, Mi?" Ell merasa tidak percaya dengan perkataan mami. "Boleh, Nak, asal ada izin dari umat muslimnya. Kan sekarang Mami izinkan kamu masuk. Bukannya waktu di Jerman kalian menikahnya di dalam masjid?" "Tapi kan, Mi, itu karena permintaan Mas Imam," lirih Ell. "Sama saja, sayang, sekarang Mami yang minta kamu masuk. Mami mana tega biarin kamu kepanasan di luar. Ayo masuk, di luar panas, saying." Mami memegang tangan Ell, menuntunnya ke dalam masjid. "Mi, Imam al Syafi’i itu siapa?" tanya Ell ingin tahu. Mami menoleh menatap wajah menantunya itu. Lalu mami tersenyum bahagia. Karena ada sedikit ketertarikan Ell tentang apa yang dia jelaskan tadi. Mami berharap ini awal yang baik. "Imam al-Syafi'i adalah seorang mufti besar sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi'i. Imam Syafi'i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad," jelas mami. "Jadi intinya masih saudara ya, Mi?" Mami mengangguk menjawab pertanyaan Ell. Baru langkah pertama dia menginjakkan kaki di dalam masjid, hati Ell bergetar. Apalagi saat suara lantang pemimpin jalannya sholat mengumandangkan seruan-seruan sang pencipta. Saat berada di dalam, Ell melihat Sabrin sedang sibuk mendiamkan putranya yang tengah menangis. Tangis bayi laki-laki itu mulai reda ketika Sabrin menyusuinya. "Sini, Rin, biar Kakak bantu. Kamu ibadah dulu saja." "Makasih ya, Kak Ell, tapi saat ini Sabrin belum boleh ibadah," ucapnya. Wajah Ell menjadi bingung mengapa Sabrin tidak boleh ibadah? Apa ada larangan seorang ibu untuk ibadah? “Kenapa tidak boleh?” Sabrin menanggapinya dengan senyuman. Ell memang berbeda agama dengannya, namun bukan berarti ia boleh meremehkan orang seperti Ell yang tidak tahu pastinya tentang seluk-beluk Islam. Dia saja yang beragama Islam masih harus banyak belajar menggali pelajaran tentang Islam. “Aku sedang berada pada masa nifas, Kak. Maka dari itu tidaklah boleh aku beribadah,” jelas Sabrin. “Berapa lamanya masa nifas itu?” “Mas Fatah menjelaskan waktu nifas semua perempuan itu berbeda. Dan dalam Islam pun tidak dijelaskan waktu yang pasti masa nifas itu. Karena nifas itu sendiri adalah darah yang keluar pasca melahirkan. Bila dalam beberapa hari darah itu sudah tidak keluar, maka diwajibkan perempuan itu untuk bersuci dan bisa memulai ibadahnya kembali. Namun bila beberapa hari selanjutnya darah itu keluar kembali maka diharuskannya untuk berhenti atas kewajibannya beribadah.” “Jadi berbeda-beda?” “Jelas berbeda-beda, tergantung kondisi fisik perempuan tersebut. Ada yang hormonnya berlebih hingga sampai 40 hari darah nifas masih saja keluar, ada yang belum 40 hari darah itu telah berhenti.” “Jadi seperti itu dalam Islam menyikapi hal yang boleh dilakukan dan hal yang tidak.” “Iya, kata Mas Fatah, Allah tidak akan membuat sulit umatnya untuk beribadah. Dalam masa nifas pun bukan berarti kita tidak boleh berdoa pada Allah. Karena di mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun, tetap Allah yang menjadi pusat utama kita.” Ell sangat tertarik dengan penjelasan Sabrin yang begitu sederhana namun sangat tepat mengenai hatinya. “Jika suatu saat nanti Kak Ell bisa merasakan nikmatnya mencintai Allah, Kak Ell akan tahu dahsyatnya berdoa kepadaNya,” ungkap Sabrin sembari menimang anaknya itu. Kedua mata Ell terus saja menatap gerak gerik Sabrin yang begitu lembut memperlakukan buah hatinya. “Boleh Kakak gendong?” “Boleh, Kak.” Ell menimang-nimang bayi laki-laki itu. Menatap wajah yang begitu serupa dengan suami adik iparnya. Tangannya bergerak mengusap pipi bayi yang tengah tertidur di pelukannya. Perasaan hangat langsung menyerang hatinya, entah Ell tidak mengerti perasaan apa ini. Yang dia tahu ketika menatap Syafiq, putra dari Sabrin, perasaan kasih sayang ini langsung tumbuh begitu saja dan ia tidak ingin ini berakhir. Padahal biasanya Ell sangat jarang berinteraksi dengan anak-anak, namun ketika menggendong Syafiq rasa nyaman akan bayi ini langsung dapat ia rasakan. "Wah, sudah cocok banget," puji Sabrin. "Iya, benar.  Sudah, Ell, cepat-cepat hamil. Kasihan Imam sudah ketuaan belum punya anak juga," ucap mami setelah menyelesaikan sholatnya. Ell tak mampu menjawab apa pun. Dia mengusap pipi lembut bayi yang tertidur itu. Wajah bayi itu sungguh sangat mirip dengan Fatah. Dari rambutnya, keningnya, pipinya, matanya, bibirnya, hidungnya. Semua seperti duplikat dari Fatah. Seketika Ell tertawa sendiri, dia berpikir kelak ada duplikat Imam seperti ini nantinya. Pasti Imam akan bahagia. ꭃ Hari sudah beranjak sore, mami, Sabrin, dan Ell masih sibuk di dapur membuat beberapa kue untuk menyambut Idul Fitri nanti. Seharian bersama maminya itu, Ell banyak sekali mendapatkan ilmu untuk menjadi seorang istri yang baik. Dia tak henti-hentinya berterima kasih pada Tuhan karena telah dikenalkan pada keluarga sebaik ini. Keluarga yang bisa menerima semua kekurangan dari Ell. "Assalamu'alaikum," ucap Imam saat melihat tiga wanita cantik tengah sibuk memasak. "Wa'alaikumsalam," ucap Sabrin dan mami serentak. "Gimana kuenya sudah matang?" tanya Imam pada Ell. "Belum, Mas, Mas memangnya mau coba kuenya?" Imam mengangguk sambil berjalan mendekati Ell. Diciumnya kening istrinya itu. "Ya, elah, Mas, nggak usah romantis-romantisan di sini, kali. Tau deh yang pengantin baru," sindir Sabrin. "Bisanya syirik saja kamu," cibir Imam. "Siapa yang syirik?" tanya Sabrin tak terima. "Kamulah, Rin, karena sudah ada pengganggu kecil ya, jadi nggak bisa mesra-mesraan." "Hus, kok anak dibilang pengganggu. Anak itu anugerah. Allah berarti sudah percaya sama adikmu," bantah mami. "Iya, Mi, iya. Mas tahu," ucap Imam. "Arti anak itu adalah anugerah yang diberikan Allah pada para orang tuanya. Kehadiran anak disebut berita baik terangkum dalam surat Maryam ayat 7, hiburan karena mengenakan pandangan mata terdapat dalam surat Al-Furqan ayat 74, dan perhiasan hidup di dunia tercatat dalam surat Al-Kahfi ayat 46. Serta dalam surat At-Taghabun ayat 15, anak juga sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang Allah, pelanjut, penerus, dan pewaris orang tua, tetapi juga sekaligus ujian," jelas Imam. "Nah, kalau sudah tahu kenapa disebut anak pengganggu. Aneh kamu, Mas," ucap mami. Ell tersenyum getir saat mendengar ucapaan suaminya itu. Dia tak menyangka, pria yang menikahinya memiliki ilmu agama yang baik. Alangkah bahagianya dia. Tapi apa ilmu agama yang dimiliki Imam dapat bermanfaat untuknya? "Sana, Mas, belajar sama Mas Fatah gimana biar cepat buat Kak Ell hamil," ucap Sabrin. "Benar tuh, Mas, coba konsultasi sama Fatah sana," ucap mami menimpali perkataan Sabrin. Imam mengusap wajahnya gusar, diliriknya Ell masih saja menunduk mengaduk bahan-bahan kue di dalam mixer. "Iya, Mi, nanti Imam konsul," lirihnya. "Nah, gitu dong, kan biar Mami bisa nambah cucu." Bagaimana Imam bisa menghapus senyum bahagia maminya itu saat dia menyanggupi akan memberi cucu pada mami dalam waktu dekat. Dia saja masih bingung beribadah layaknya suami istri dengan Ell. Apa nanti yang telah dia perbuat akan mendapatkan pahala atau akan menjadi dosa nantinya. Walau Imam sudah mengikuti semua sesuai syariat Islam namun masih ada setitik keraguan dalam dirinya. "Assalamu'alaikum," ucap Sendi. "Wa'alaikumsalam," sahut mami bahagia. "Maaf, Mi, Sendi telat. Tadi Sendi liqo dulu." "Nggak apa-apa kok, sayang. Kan memang janjinya kita buka puasa bersama hari ini," ucap mami. "Ini, Mi, Sendi bawa buat buka puasa nanti." "Ya, Allah, Sen. Nggak perlu repot-repot. Kan Mami yang undang kamu." "Cuma sedikit, Mi, air kelapa muda sama kurma arab," ujar Sendi. Seperti sudah terbiasa dengan rumah ini, Sendi langsung turut membantu mami menyiapkan menu buka puasa hari ini. "Mas, kamu mandi dulu sana," ucap Ell mendekati Imam yang memang sejak tadi duduk di kursi makan. "Iya, Mas mandi dulu," Imam mengusap wajah Ell lembut. "Wajahmu merah banget. Habis ke mana tadi?" tanya Imam khawatir. "Tadi aku menunggu di luar masjid waktu menemani Sabrin," lirihnya. Namun tiba-tiba Imam geram pada Sabrin. Mengapa adiknya tega meninggalkan Ell sendiri di luar masjid hingga wajahnya seperti terbakar sinar matahari. "Rin, kamu ninggalin Ell di luar masjid tadi? Tega banget kamu," marah Imam. "Sabrin sudah ngajak Kak Ell, Mas, tapi Kak Ell nya yang nggak mau," bela Sabrin.. "Iya, Mas, aku yang tidak mau," sahut Ell merasa tidak enak. "Tapi kan, Rin, kamu bisa mengajak dia masuk. Jadi nggak begini kan wajahnya." Mami dan Sendi mendekati Imam yang masih beradu mulut dengan Sabrin. "Kalian kenapa, sih? Sehari akur gitu loh jadi adik-kakak," ujar mami. "Kamu, Mas, jangan langsung marah pada Sabrin begitu. Nggak boleh. Tadi Mami sudah ajak Ell masuk ke dalam masjid. Memang siang tadi cuaca panas, Mas. Kulit Ell nggak biasa sama cuaca panas seperti itu," jelas mami. "Dosa tahu, Mas, nuduh aku sembarangan!" kesal Sabrin. Sendi hanya bisa diam melihat pertengkaran ini. Dia bingung memosisikan dirinya seperti apa. Karena dia saat ini hanya sebagai tamu yang diundang untuk acara berbuka bersama. "Sudah, Mas, jangan marah begitu," Ell mengusap lengan Imam dengan sayang. Tanpa sengaja pandangan Sendi melihat gerakan itu. Refleks dia membuang pandangannya jauh. Dia tidak ingin terbawa suasana hatinya. "Jarak terjauh kita hanyalah 'waktu'. Perasaan terindah kita hanyalah sebuah 'kerinduan'. Terkadang memang kita harus terpisahkan agar kita tahu arti dari sebuah kerinduan satu sama lain. Tahukah kamu, ada seseorang yang merindukanmu tanpa sebuah lisan terucap. Aku misalnya ...," lirih hati Sendi. "Sen, kok jadi melamun begitu. Tolong buatkan teh, sebentar lagi maghrib," pinta mami. Setelah Sendi sadar dari lamunannya, ternyata dia tinggal berdua dengan mami. Entah sejak kapan Imam, Ell, dan Sabrin tak berada di sini. Apa begitu lama dia melamun? ꭃ Suara adzan maghrib terdengar menggema, di ruang makan sudah berkumpul semua keluarga. Ada mami yang sibuk melayani papi untuk mengambilkan menu berbuka. Ada Sabrin yang tak kalah sibuk melayani Fatah sambil menggendong buah cinta mereka. Dan tak ketinggalan Ell, walau Ell tidak berpuasa namun setiap hari memang Ell selalu melayani Imam dengan setulus hatinya. Sedangkan Sendi? Hati Sendi meringis sedih, jika karena tidak enak dengan mami mungkin dia memilih tidak datang. "Sen, makan yang banyak. Jangan malu-malu," ucap mami. "Iya, Mi," lirih Sendi. Di hadapan Sendi duduk pasangan baru, Ell dengan Imam. Sendi bahagia Imam dilayani dengan baik oleh Ell. Ribuan rasa syukur dia panjatkan pada Allah, karena dia merasa bahagia jika melihat Imam juga bahagia. "Mas, nanti Mas Imam mau konsul untuk program punya anak, tuh!" ujar Sabrin. "Yang benar, Ai? Boleh, kok. Mas siap jelasin semuanya." Mendengar hal itu Sendi tersedak dengan air teh yang sedang dia minum. Air mata Sendi sampai keluar karena terlalu kaget mendengarnya. "Pelan-pelan, Sen, minumnya," ucap mami yang merasakan kesedihan yang sedang Sendi rasakan. Bukannya mami buta melihat situasi ini, namun ia hanya bisa diam dan melihat bagaimana takdir akan berakhir nantinya. "Iya, Mi, air tehnya terlalu panas," bohongnya. Sendi menggigit bibir bawahnya, dia menunggu reaksi Imam dengan perkataan Fatah tadi. "Iya, nanti Mas konsul sama Fatah. Kamu tenang aja, Rin, kalau Fatah bisa buat kamu hamil dalam waktu lima bulan menikah. Mas bisa buat Ell hamil dua bulan nikah," ujarnya asal. Tetapi Imam sama sekali tidak memprediksi ucapannya itu karena ada seseorang yang begitu terluka mendengarnya. "Mas apaan, sih," Ell malu mendengar Imam bicara yang sifatnya pribadi seperti itu. Imam tersenyum kepada Ell, lalu mengusap jemari Ell. "Kalau begitu kalah saya dengan Mas Imam. Masa dokter obgyn bisa K.O," ucap Fatah yang seolah-olah merasa sedih dengan perkataan Imam tadi. Mendadak ruang makan yang tadinya nampak dingin menjadi hangat karena percandaan mereka. Sendi berusaha ikut tertawa bersama mereka semua. Bersikap olah-olah tidak ada yang tengah menyakiti hatinya saat ini. Karena sekuat apa pun ia menjerit tetap saja semua telah berubah. Usai berbuka puasa, mereka semua menuju masjid untuk menunaikan ibadah mereka. Sedangkan Sabrin lebih memilih untuk menidurkan sang buah hati di dalam kamarnya. Lalu Ell yang ditinggal sendiri dibuat bingung harus melakukan apa. Walau jarak masjid sangat dekat dengan rumah mami, namun perasaan sepi menghantui Ell. Kali ini dia benar-benar merasakan berbeda dari yang lain. Seandainya dia seorang muslim juga, tentu saja Imam akan mengajaknya beribadah bersama. Mungkin ini baru sebagian kecil yang harus Ell rasakan karena perbedaan dia dengan Imam. Karena dia sudah mengambil keputusan ini, mau tidak mau Ell harus menghadapi semuanya dengan berlapang d**a.   Kadang kita merasa serupa, namun bukan berarti kita sama .... ---- Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD