Bab 7

1926 Words
Bersabarlah Seperti AirBerteman dengan sepi merupakan menu utama Ell jika menunggu Imam menyelesaikan ibadahnya. Seperti saat ini, setelah mereka pulang sehabis acara buka puasa bersama dengan keluarga Imam, dini harinya Ell sudah ditinggal sendiri oleh Imam. Suaminya sibuk merajut kasih dengan Sang Pencipta. Sedangkan Ell, hanya berbaring di kasur menunggu suaminya kembali ke dalam kamar mereka. Imam memang selalu sholat tahajud di sepertiga malam. Dan bisa dipastikan Imam akan kembali ke kamar mereka sekitar pukul enam pagi. Ingin rasanya Ell melakukan protes pada Imam. Tapi kembali lagi dia tidak berhak mengatur waktu Imam untuk beribadah. Bahkan Imam tidak pernah membatasi Ell jika hari Minggu Ell harus pergi ke gereja. "Sudah bangun?" tegur Imam. Ell melirik ke arah jam di atas nakas, jarum jam baru menunjukkan pukul tiga, tetapi Imam sudah kembali. "Kok cepat, Mas?" "Iya, Mas ingin istirahat. Karena pukul sepuluh nanti Mas harus terbang ke Jogja, perusahaan Papi di sana ada kendala. Mau tidur sebentar sebelum sholat subuh," jelasnya sambil membuka baju koko yang dia kenakan. "Oh," lirih Ell. Hati Ell seperti tak ingin ditinggal oleh Imam untuk pergi jauh. Padahal pernikahan dia dengan Imam yang masih bisa dihitung jari, namun sudah berapa kali Ell ditinggal sendiri oleh Imam. "Kata Mas sebentar lagi cuti bersama?" Ell menatap wajah lelah Imam yang berbaring di sebelahnya. "Iya, sebelum libur panjang aku ingin menyelesaikan semuanya," ucap Imam. "Kamu nggak mau tidur lagi?" Diliriknya wajah Ell yang salah tingkah. "Mas," gumam Ell. "Ada apa? Kamu sakit?" Imam yang tadinya ingin istirahat, akhirnya memusatkan semua perhatiannya pada Ell. "Mas, semalam aku bersama Syafiq. Dia lucu banget ya, Mas. Baru lahir tapi sudah kelihatan pintarnya." Imam menarik tubuh Ell mendekat, dia tahu apa maksud dari cerita Ell. Mungkin sudah cukup bagi Imam selama ini untuk berpikir. Dia sudah berdosa karena telah memaksa untuk menikah dengan Ell yang berbeda keyakinan. Hanya karena beralasan cinta pada Ell hingga matanya tertutup begitu saja dari norma-norma Islam. Tetapi setelah berhasil menikahi Ell, dia seperti ingin melepas tanggung jawab sebagai seorang suami. Mungkin untuk tanggung jawab menafkahi secara lahir Imam sudah melakukan untuk Ell. Semua kebutuhan untuk Ell sudah dia penuhi, dari pakaian, makanan, tempat tinggal, mampu dia penuhi. Akan tetapi untuk nafkah batin Imam belum bisa memberikannya. "Maafkan, Mas. Mas belum bisa memberikanmu nafkah batin. Tapi jika kamu mau kita bisa melakukannya sekarang," ucap Imam Ell membulatkan matanya. Sungguh bukan itu maksud dari perkataan dia mengenai Syafiq. Tetapi jika Imam sudah mengajaknya dia tidak mampu menolak. "Kok diam saja? Nggak mau?" goda Imam. "Mas Imam, malu tahu!" jerit Ell. Dia membenamkan wajahnya di d**a Imam. Detak jantungnya berirama sangat cepat seperti ia sedang melakukan perlombaan lari jarak jauh. Lalu hati dan perasaannya begitu berbunga-bunga. Apa ini adalah buah kesabarannya selama ini? Imam mengajaknya untuk menjadi seorang istri yang sesungguhnya. "Sama suami sendiri nggak usah malu, Ell. Aku sholat dua rakaat dulu, ya. Baru kita mulai setelah itu," ucap Imam. "Iya, Mas." Sepeninggal Imam mengambil wudhu untuk sholat, hati Ell semakin berdebar sangat kencang. Dia takut karena ini pengalaman pertamanya. Jangan aneh karena mendengar ini pengalaman pertama untuk Ell, walau dia tinggal di Jerman tetapi dia begitu menjaga dirinya. Bahkan Ell belum pernah berpacaran sebelum bertemu dengan Imam. Dia ingin Imam jadi yang pertama menyentuhnya bahkan jika bisa menjadi yang terakhir. Saat Imam kembali dari berwudhu, dia melihat Ell sedang merias dirinya di depan meja rias. Imam tersenyum simpul, melihat tingkah Ell seperti ini membuatnya ingin tertawa. Dia kenakan kembali baju koko sebelum memulai sholat dua rakaatnya. "Sudah, Mas, ibadahnya?" Ell memperhatikan Imam yang sedang mengakhiri sholatnya dengan mengucap salam. "Kenapa? Sudah nggak sabar, ya," godanya kembali. "Mas Imam," cicitnya. Ell malu jika terus digoda seperti itu terus. Imam mendekat ke arah Ell, dikecupnya kening Ell sambil membacakan sebuah doa pada Ell. "Bismillahi allahumma jannibnas syaithona wajannibisyaithona maa rozaqtana," ucap Imam. Diangkatnya tubuh Ell ke atas ranjang mereka. Kedua mata mereka saling menyelami perasaan yang mereka rasakan saatt ini. Imam tersenyum lebar kala pipi Ell semakin bersemu merah. Bisa Imam lihat Ell begitu gugup untuk memulainya. “Rileks saja, Ell, Mas tidak akan menyakitimu,” ucapnya tulus. Disatukan keningnya dan Ell, lalu diciumnya ujung hidung Ell yang terlampau mancung. “Mas,” cicit Ell kembali. “Jangan permainkan aku seperti ini,” sambungnya. “Baiklah, sayang,” Imam mulai mencumbui tubuh Ell, mulai dari wajahnya hingga ke bagian perut bawah Ell. Ell terlena dengan semua perlakuan Imam, hingga kegiatan yang menurut Imam ibadah dilaksanakannya dengan baik. Tanpa paksaan, tanpa kekerasan, namun penuh kelembutan dan kasih sayang. Setelah selesai, Imam mencium kening Ell dan membaca sebait doa untuk Ell. Walau Imam tidak tahu doa itu akan didengarkan oleh Allah atau tidak, yang jelas dia telah melakukannya sesuai dengan yang Islam ajarkan. Untuk hasilnya biarkan Allah yang menentukan apa kegiatannya barusan merupakan pahala atau zina. Dia bangkit dan bergerak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan Ell yang masih tergolek lemah. Lima belas menit kemudian Imam telah keluar dari kamar mandi, hanya dengan terbalut handuk kecil pada bagian pinggangnya. Dengan segera Imam menuntaskan sholat subuh yang sudah terlewat dari waktunya. Sholat subuh yang sempat tertunda karena percintaan mereka tadi. "Mas," panggil Ell. "Ya, Ell." Imam masih fokus memakai pakaian kerjanya. "Terima kasih ... dan maaf," lirih Ell. Imam berbalik menatap Ell, lalu mendekat ke arah Ell dan duduk di samping tubuh Ell yang masih tertutup selimut tipis. "Kenapa minta maaf?" "Karena aku belum bisa puaskan, Mas," ucapnya takut. Kedua tangannya menarik selimut tipis untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya yang masih telanjang. "Kamu sudah bisa puaskan Mas, jadi nggak perlu minta maaf," diusapnya pipi Ell dengan lembut. "Mas, aku kan belum ada pengalaman apa-apa tadi," cicit Ell kembali. "Aku tahu, memang kamu pikir aku ada pengalaman?" "Tapi kayaknya kamu lebih banyak tahu." Ell menatap wajah Imam minta penjelasan. Imam terkekeh lebar, lalu mengusap kening Ell, "Aku cuma mengikuti naluri laki-lakiku. Dan pernah membaca sedikit buku dalam melakukan hubungan suami istri yang benar," jelasnya. "Aku pikir Mas belajar sama Fatah." "Melakukan itu tidak perlu belajar sebenarnya, karena hewan saja yang tidak punya pikiran, tidak pernah belajar seks, bisa melakukannya dengan pasangan betinanya. Memangnya ada di sekolah edukasi seks? Sangat jarang. Apalagi jika sekolah di Indonesia yang masih menggunakan adat timur sebagai patokan," jelas Imam. “Kalau masalah yang tadi mas lakukan kepadamu, hanya untuk membuatmu tidak tegang saja,” sambungnya kembali. "Mas, bagian itu tidak perlu dibahas." Pipi Ell merona malu. "Tapi suka, kan? Buktinya sampai mendesah begitu," ledek Imam. "Sakit, nggak?" "Tahu, ah. Malu aku!" Ell memeluk lengan Imam dengan manja. "Mas mau punya anak kayak Syafiq juga, ya?" "Siapa juga yang nggak mau punya anak, orang menikah karena ingin melestarikan keturunannya. Malahan Mas nggak mau kamu pakai alat kontrasepsi. Karena Nabi saja ingin umatnya memiliki banyak anak," jelas Imam. Ell semakin malu mendengar perkataan Imam. Mau tidak mau dia harus siap mengandung banyak anak dari suaminya ini. "Kamu mau kan punya anak banyak dari aku?" tanya Imam sembari mengusap pipi istrinya dengan sayang. "Iya, Mas, aku mau," ucap Ell malu-malu. "Terima kasih, Ell. Mas mau siapkan barang-barang yang dibawa. Kamu hari ini Mas antar ke rumah mami. Sampai Mas pulang dari Jogja kamu di sana saja. Nanti Mas jemput pulangnya." "Iya, Mas." ꭃ Sebelum pergi ke bandara, Imam mengantarkan Ell ke rumah maminya. Satu-satunya jalan agar Ell tidak sendirian saat ia pergi adalah melakukan hal ini. Biar bagaimanapun Imam tidak rela membiarkan istrinya sendirian. Ell melepas kepergian suaminya dengan mencium tangan Imam. Dengan penuh senyuman Imam mencium kening Ell sebelum beranjak pergi. Jika terlihat oleh orang lain kehidupan rumah tangga mereka sangat baik, namun perasaan hati siapa yang tahu. "Ell, Imam pergi berapa lama di Jogja?" tanya mami setelah Imam pergi. "Katanya dua hari, Mi, lalu mulai cuti bersama," jelas Ell. "Ya, sudah, sampai lebaran kalian tinggal di sini saja. Kamu nggak kasihan sama Mami tinggal cuma berdua Papi?" "Iya, Mi, nanti Ell sama Mas Imam tinggal di sini." "Sabrin sama Fatah pulang ke rumah mamanya Fatah. Nanti kembali ke sini waktu lebaran saja," desah mami lesu. "Mami jangan sedih dong, kan ada Ell," hibur Ell sembari merangkul mami mertuanya. "Iya, karena itu kamu cepat-cepat hamil. Kasian Syafiq direbutkan sana-sini." Ell tertawa mendengar cerita mami. Maklum saja Syafiq merupakan cucu pertama antar dua keluarga, sehingga tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Saat mami dan Ell tengah berbincang di ruang keluarga, terdengar suara perempuan mengucapkan salam dari luar. "Assalamu'alaikum," ucap Sendi. "Wa'alaikumsalam ... Sendi, Mami pikir siapa," jawab mami. "Mau ketemu Sabrin, Mi," Sendi menjelaskan maksud kedatangannya kemari. "Loh, Sabrin nggak bilang hari ini dia menginap di rumah Fatah?" Sendi menggeleng cepat, ia merasa tidak mendapatkan kabar dari sahabatnya itu, "Nggak, Mi, memang Sabrin di rumah Mas Fatah, ya?" Pandangan mata Sendi beralih dari mami menatap wanita muda yang berjalan dari arah dalam rumah. "Tadi pagi-pagi benar Sabrin sama Fatah sudah pergi," jelas mami. "Sudah, masuk dulu sini." Mami menarik tangan Sendi untuk masuk ke dalam. "Kamu puasa nggak?" "Sendi lagi nggak puasa, Mi," ucapnya. "Biar Ell yang buatin minum, Mi," ucap Ell. Mami mengangguk mengiyakan ucapan Ell. "Kamu nggak pulang kampung kan, Sen? Lebaran di sini saja sama Mami. Mami sepi di rumah. Sabrin di rumah mama mertuanya," pinta mami. "Sendi nggak enak, Mi, kan ada Mas Imam sama istrinya," jelas Sendi. "Ya, kan kalau tambah kamu jadi tambah ramai. Kamu juga sendirian kan di kosan?" ujar mami. "Makanya kalau nggak mau sendirian cepat menikah, Sen," goda mami. "Belum ada yang mau sama Sendi, Mi. Sendi masih anak kuliahan. Tahun depan baru lulus." "Waktu itu Mami mau, kamunya yang nggak mau." "Nggaklah, Mi, Sendi sudah menganggap Mas Imam kakak Sendi sendiri. Dan mami sudah Sendi anggap ibu sendiri," jelas Sendi. Walau sedikit berbohong, tetapi dia memang menyayangi mami seperti ibu kandungnya sendiri. "Kamu memang sahabat Sabrin yang paling baik. Nanti Mami minta Papi carikan jodoh yang baik untuk kamu." "Maksud, Mami? Kayak Mas Fatah?" "Ya, bisa seperti itu," kekeh mami. Dia merasa lucu dengan perubahan wajah Sendi yang terlihat gugup. Namun ternyata percakapan itu tak sengaja didengar oleh Ell dari arah dapur. Tangannya bergetar saat tahu mami pernah meminta Sendi menjadi istri dari Imam. Air mata di wajahnya mengalir begitu saja. Sesak di hatinya tiba-tiba datang menyiksa. Hingga rongga-rongga di dadanya menyempit dan mengikis semua pasokan oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya. "Ya, Tuhan ..." Tangannya menggenggam erat kalung salib yang menggantung di lehernya. Hatinya sakit seperti hancur berkeping-keping. Pantas saja dia merasa ada yang aneh saat melihat tatapan Sendi pada Imam. Ell berpikir apa jangan-jangan Sendi juga mengharapkan Imam sebagai suaminya? Dan sekarang Ell mendapatkan jawabannya. "Ell, sudah minumnya?" Dengan segera Ell menghapus air matanya. Ia harus berpura-pura tidak mendengar apa-apa sekarang. "Sudah, Mi," dia berusaha menguatkan hatinya bertatapan dengan Sendi. Dia harus lebih bersabar menjaga perasaan sakitnya. Walau bersabar itu sangat sulit dilakukan, namun sebisa mungkin Ell melakukannya dengan baik. Ell berpikir bisakah dia bersabar seperti layaknya air yang mengalir? Yang terus mengalir ke bawah sesuai hukum alamnya. Jika bertemu rintangan maka air itu akan berbelok. Jika bertemu celah kecil maka air akan menyelip. Jika bertemu batu ia akan menyibak. Namun jika bertemu bendungan teruslah mengumpulkan kesabaran itu, hingga semakin banyak dan semakin tinggi agar bendungan itu dapat terlampaui. Seolah-olah tidak melakukan apa pun, hanya diam, sabar dan tenang. Tetapi sebenarnya sedang melakukan perjuangan keras. Hingga mampu melampuinya. Begitu seterusnya. Dan kini Ell harus menerapkan hal seperti itu dihatinya. Ia harus jauh lebih bersabar dalam menghadapi masalah apa pun. Dan Ell yakin suatu saat nanti, dia akan mendapatkan hadiah dari kesabarannya yang telah dia perjuangkan saat ini. Karena sabar itu tidak akan pernah ada batasnya. ----- Continue.. Jangan lupa pesan dalam versi cetak juga
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD