Bab 8

2517 Words
Skenario TerbaikPertemuan tak terduga Sendi dan Ell di rumah mami sangat-sangat membuat syok Ell. Sebenarnya bukan hanya Ell, namun Sendi juga merasakan hal yang sama. Tetapi dia lebih ahli menyembunyikan perasaannya. Berbeda dengan Ell, yang mendadak diam tak mendengarkan perkataan mami. Seolah ia terlalu sibuk dengan rasa sakit di hatinya dan tidak memedulikan keadaan sekitar. Sendi sadar bahwa Ell merasa tidak enak dengan kehadirannya. Untuk itu Sendi berusaha untuk pamit dengan mami. Walau mami terus saja menahannya, ia tetap berusaha membujuk mami agar diperbolehkan untuk pulang. Satu demi satu alasan keluar dari bibirnya untuk membuat mami percaya bila dia ada urusan setelah ini. Dan akhirnya mami merelakan Sendi untuk pamit pulang. Setelah berhasil keluar dari rumah mami, Sendi sebenarnya ingin segera mencari masjid terdekat. Tetapi karena dia sedang datang bulan. Niatnya terhenti. Rasanya banyak yang harus dia ceritakan pada kekasih hatinya. Memohon ampun karena merasakan penyakit hati yang tak seharusnya dia rasakan. Sendi hanya duduk di pelataran masjid, hatinya menangis, namun raut wajahnya tetap tergambar setenang mungkin. Bahkan tak ada orang yang menyangka jika hati Sendi sedang hancur berkeping-keping. Semua percakapan dengan mami dan Ell tadi masih terus berputar-putar dalam ingatannya. Menusuk ke dalam jantungnya hingga rasanya begitu sakit. "Doakan Mami ya, Sen, biar Ell cepat kasih Mami cucu. Supaya rumah ini terus ramai. Kalau Syafiq tinggal di rumah neneknya di sana, Mami jadi sepi," keluh mami.          Seharusnya dia bahagia melihat mami yang sudah dia anggap ibu kandungnya bahagia. Tetapi lagi-lagi hati tak mampu untuk berbohong. Ia tidak mampu menutupi kesakitan hatinya saat ini. Karena itu ia lebih memilih menghindari semuanya. Sendi tahu benar, rata-rata doa yang dipanjatkan wanita-wanita seumuran dia tak jauh-jauh dari namanya jodoh terbaik. 'Ya, Allah, berikan jodoh yang terbaik untukku' padahal mereka belum tentu tahu seperti apa jodoh yang terbaik untuk mereka. Hanya Tuhan lah yang tahu akan berakhir dengan siapa jodoh mereka nanti. Dan semua itu masih menjadi sebuah misteri yang harus mereka pecahkan. Bagaimana cara memecahkannya? Sendi tahu cara memecahkan masalah ini seperti apa. Yang pertama-tama dilakukan adalah memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Jodoh kita merupakan cerminan dari diri kita. Jika perempuan itu memiliki sifat yang baik, agama yang baik, pendidikan yang baik. Insya Allah dia juga akan diberikan jodoh yang sama sifatnya, agamanya, dan pendidikannya oleh Allah. Sebenarnya hal seperti ini dulu Sendi pernah nasihatkan pada Sabrin. Saat sahabatnya itu sedang benar-benar dilema dengan percintaannya. Dan saat ini Sendi lah yang merasakannya. Merasakan cinta yang tak seharusnya. Apa Sendi yakin ini cinta? Percayakah cinta sejati hanya akan bisa didengar saat keadaan senyap? Bukan saat gegap gempita dengan kalimat yang mengaburkan makna. Cinta sejati hanya bisa dikenali saat sepi. Diperhatikan dengan saksama dalam keadaan kesadaran diri sepenuhnya. Cinta sejati bukan berisi teriakan-teriakan 'aku cinta kamu'. Tetapi lebih pada makna cinta itu sendiri. Sendi percaya akan hal itu. Karena beberapa kali dia melakukan kegiatan berdiam diri, maka nama Imam lah yang terdengar. Berdiam diri di sini bukan mengurung diri di kamar dan tak melakukan apa-apa, berdiam diri versi Sendi adalah saat sepertiga malam di mana dia menemui kekasih hatinya. Jadi apa benar yang Sendi rasakan itu cinta pada Imam? Toh, menurut orang cinta tak harus memiliki. Jadi memang mungkin sudah seperti ini jalan yang harus dilaluinya. “Maafkan aku ya, Allah,” isaknya menahan perih. ꭃ "Kamu kenapa, Ell? Dari tadi Mami lihat melamun terus?" Mami merasa aneh dengan sikap menantunya itu yang berubah tiba-tiba. Mami tahu Ell bukanlah perempuan pendiam, maka dari itu ketika Ell mendadak diam ia tahu bahwa menantunya itu sedang tidak baik-baik saja. "Aku cuma lelah, Mi," jelasnya. "Jangan terlalu diporsir juga. Nanti Mami bilangin sama Imam, deh. Istrinya nggak dikasih waktu istirahat." Ell tersenyum mendengar kata-kata mami. Pasti mami mertuanya berpikir jika Imam memaksa Ell untuk melayani dia terus di ranjang. Padahal pada kenyataannya mereka saja baru sekali melakukannya. Sungguh ironis memang. "Katanya Mami mau cepat punya cucu?" Ell memeluk lengan mami. Bersandar seperti ini membuatnya rindu dengan orang tuanya di Jerman sana. "Tapi Mami nggak mau buat kamu sakit juga, Ell. Mami jelaskan ya, Mami nggak pernah beda-bedakan kamu sama Sabrin. Mami sudah anggap kamu seperti anak kandung Mami sendiri. Jika kamu salah, Mami akan yang paling keras menasihati kamu. Tapi saat kamu melakukan hal yang benar, Mami tidak segan-segan memujimu, sayang. Mungkin menurutmu aneh, atau mungkin menurutmu Mami memakai topeng, tapi inilah Mami yang sebenarnya." "Kenapa Mami bilang Mami pakai topeng?" "Pasti ada sebagian kecil dari dirimu bertanya-tanya. Padahal kita memiliki keyakinan berbeda mengapa Mami baik sekali padamu. Anakku, Ell, Mami nggak pernah melihat semua itu. Apalagi setelah Imam membawamu masuk ke dalam sebuah pernikahan yang sakral di mata Tuhan. Mami sudah menepis itu semua. Walau Mami nggak munafik, Mami berharap suatu saat nanti kamu bisa seperti kami. Tapi lagi-lagi semua keputusan ada di kamu," ucap mami. "Kamu tahu, Ell, orang mukmin itu bersaudara, ibaratnya sebuah bangunan yang saling menguatkan, dan juga seperti anggota badan yang saling bekerjasama antara satu dengan lainnya," Sambung mami sambil mengusap pipi Ell. "Mami ...  apa orang muslim memaksakan agamanya pada 'bukan jenisnya'?" Mami tersenyum pada Ell, ternyata dalam pemikiran Ell tentang umat muslim semuanya salah. "Ell, anakku, Islam memiliki konsep yang jelas. 'Tidak ada paksaan dalam agama' , karena 'Bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami' adalah contoh populer dari toleransi dalam Islam. Apalagi toleransi beragama adalah masalah yang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah," jelas mami. "Lantas mengapa Mami berharap banget aku masuk Islam?" tanya Ell tak paham maksudnya. "Begini, Ell, baik Mami ataupun Islam tidak pernah memaksakan agama untuk orang lain. Sesuai dengan definisi Islam yang demikian sering dirumuskan dengan istilah "Islam agama rahmatal lil'alamîn", agama yang mengayomi seluruh alam. Ini berarti bahwa Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan. Dalam al-Qur'an Allah berfirman yang artinya, "Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?" Di bagian lain Allah juga mengingatkan, yang artinya: "Sesungguhnya ini adalah umatmu semua (wahai para rasul), yaitu umat yang tunggal, dan aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah olehmu sekalian akan Daku (saja)." Ayat ini menegaskan bahwa pada dasarnya umat manusia itu tunggal tapi kemudian mereka berpencar memilih keyakinannya masing-masing. Ini mengartikulasikan bahwa Islam memahami pilihan keyakinan mereka sekalipun Islam juga menjelaskan, "Sesungguhnya telah jelas antara yang benar dari yang bathil". Selanjutnya, di Surah Yunus, Allah menandaskan lagi, yang artinya: "Katakan olehmu (ya Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak pula memperserikatkan-Nya kepada apa pun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai "tuhan-tuhan" selain Allah!" Ayat ini mengajak umat beragama (terutama Yahudi, Kristiani, dan Islam) menekankan persamaan dan menghindari perbedaan demi merengkuh rasa saling menghargai dan menghormati. Ayat ini juga mengajak untuk sama-sama menjunjung tinggi tauhid, yaitu sikap tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Jadi, ayat ini dengan amat jelas menyuguhkan suatu konsep toleransi antar-umat beragama yang didasari oleh kepentingan yang sama, yaitu 'menjauhi konflik'," jelas mami panjang lebar. Ell memeluk erat mami mertuanya itu. Rasanya begitu damai mendengar penjelasan dari mami. Bahkan ceramah yang biasanya dia dengar di gereja kalah dengan penjelasan mami. Mami sama sekali tidak memojokkan salah satu agama, tapi mami berusaha menengahi perbedaan itu. "Makasih ya, Mi." "Sama-sama, anakku. Jangan ragu untuk bertanya pada Mami." Ell diam, dia mengingat percakapan maminya tadi bersama Sendi. Bahwa sebenarnya Sendi lah yang seharusnya berada di samping Imam. Jika tahu seperti ini apa Ell bisa merelakan? Ya, Tuhan, Ell tidak akan sanggup jika harus mengetahui yang sebenarnya. Biarlah dia disebut egois. Tetapi memang bukan dia yang memaksa Imam untuk menikahinya. Imamlah yang datang padanya. Jadi biarkan dia memperjuangkan apa yang sudah dia miliki saat ini. ꭃ Sendi menatap sebuah rumah yang dari depan terlihat sangat kokoh. Dengan warna dinding rumah itu berwarna putih, menandakan si pemiliknya memiliki hati yang bersih dan suci. Halaman yang cukup luas membuat rumah ini bagaikan di tengah hamparan padang rumput. "Maaf, Non. Cari siapa?" "Assalamu'alaikum, Pak, saya mau bertemu dengan Sabrin," ucapnya lembut. "Oh, Nyonya Sabrin. Silakan masuk, beliau ada di dalam," jelas security tersebut. Sendi mengangguk terima kasih pada orang itu. Saat ini Sendi memang sedang di rumah Fatah, mengapa Sendi ke sini? Karena dia merasa sahabatnya tengah membutuhkannya. Jika Sendi belum bertemu langsung dengan Sabrin, hatinya belum tenang. Dia masih trauma pada kejadian hampir dua minggu lalu. "Assalamu'alaikum," ucap Sendi di depan pintu masuk. "Wa'alaikumsalam." Sendi tersenyum pada sosok Adel yang sedang membukakan pintu untuknya. "Sendi, ya?" "Iya, kamu Adel, kan?" Adel mengangguk. "Masuk, mau ketemu sama Kak Sabrin?" tanya Adel masih dengan senyuman indah miliknya. "Iya." "Dia ada di kamarnya. Langsung aja ke kamarnya. Mas Fatah lagi di rumah sakit," jelasnya. Sendi menaiki anak tangga satu per satu, hingga dia tepat berada di depan pintu kamar Sabrin. Dia mengetuk beberapa kali terlebih dahulu baru Sendi membuka pintu tersebut. "Sen ... lama banget sih, aku tungguin dari tadi!" kesal Sabrin setelah tahu yang datang adalah Sendi. Sendi membalas tatapan Sabrin sama kesalnya. Sabrin dengan seenaknya mengeluh padanya, sedangkan dia saja tidak tahu Sabrin di rumah Fatah. "Kamu nggak kasih tahu aku kalau kamu di sini. Tadi aku ke rumah mamimu." "Eh, memang aku nggak kasih tahu, ya? Maaf, deh. Ngapain saja kamu di rumah Mami?" tanya Sabrin penasaran. Apa mungkin sahabatnya itu bertemu dengan kakak laki-lakinya di sana. Atau ada hal menarik apa yang mungkin maminya ceritakan. Sendi mengusap lembut pipi bayi yang masih merah di atas ranjang Sabrin. "Ngobrol. Ngapain lagi?" "Aku pikir bahas mau nggak jadi istri kedua Mas Imam," kekeh Sabrin merasa geli sendiri dengan pemikirannya. "Wus, ngawur aja kamu!" "Kenapa? Mas Imam pasti mau punya dua istri cantik kayak kamu sama Kak Ell," goda Sabrin. "Iya, Mas Imam mau, tapi aku nggak mau," jawab Sendi kesal. "Kenapa nggak mau, Sen? Apa Mas-ku kurang tampan? Atau kurang kaya? Padahal aku berharap kita jadi saudara, loh." Sabrin menatap iba pada sahabatnya itu. Walau Sendi tidak pernah cerita tentang perasaannya, tapi Sabrin seolah tahu apa yang Sendi rasakan. Apa ini yang dinamakan sahabat sehati? "Kita kan memang saudara? Kita saudara sesama muslim loh, Rin," jelas Sendi. "Ye, bukan itu maksudku." Sendi hanya tertawa melihat tingkah kesal Sabrin. "Sabrina Sakhi Hamid temanku, sahabatku, saudaraku. Kamu tahu nggak perumpamaan sahabat terbaik itu seperti pohon. jika kau duduk di bawahnya dia dapat menaungimu, jika kau mengambil buahnya dapat kau makan. Dan jika ia tak bermanfaat untukmu ia juga tak akan membahayakanmu. Aku ingin menjadi pohon untukmu. Walaupun daun di pohon itu tertiup oleh angin, tetapi dia tidak pernah marah pada angin," jelas Sendi yang masih terus saja mengusap pipi lembut Syafiq. "Ohh ... so sweet banget. Kamu lama-lama kayak Mas Fatah. Eh, bukan deng, Mas Imam saja. Mas Fatah cuma buatku," kekeh Sabrin. Sendi mencibir sahabatnya itu. Baginya bahagia bersama sahabatnya sudah lebih dari cukup menutupi kekosongan hatinya. Mungkin ini sudah menjadi skenario Tuhan untuknya. "Sen, woy, melamun saja!" "Siapa yang melamun?" Sendi tersenyum pada putra Sabrin yang tertidur pulas. "Aku mau kamu cepat-cepat punya anak deh, Sen, biar Syafiq aku jodohkan sama anakmu. Biar kita bisa jadi keluarga," cerita Sabrin akan mimpi-mimpinya. "Kamu itu ngomong apa, Rin? Kan sudah aku bilang, kita tetap bersaudara tanpa aku harus menjadi istri Mas Imam, tanpa harus kamu menjodohkan anak kita berdua. Jadi nggak perlu susah-susah memikirkan hal yang tidak penting." "Sendi, kenapa sih kamu selalu merendahkan perkataanku? Aku minta kamu nikah sama Mas Imam kamu nggak mau, aku minta anak kita dijodohkan nantinya, kamu juga nggak mau. Kesel aku jadinya." "Ya, jelas nggak mau, dia kan sudah punya istri, Rin. Lagian kamu sudah bicara anak saja, jodohku saja belum terlihat," potong Sendi cepat. Sabrin terkekeh lebar mendengar perkataan Sendi. Benar juga apa yang dia ucapkan. Sabrin saja yang tidak tahu diri. "Jadi kalau belum punya istri mau, ya?" Sendi tertawa sejenak. Dia ingat bagaimana mami memintanya menjadi istri Imam waktu itu. Tetapi dia dengan mantap menolak Imam. Ingatlah, perempuan memang tidak bisa memilih, tapi perempuan bisa menolak apa yang tidak sesuai menurutnya. "Kenapa bahas nikah terus? Aku belum mau nikah, Rin," bohongnya. "Kalau kata Mas Fatah nikah itu wajib, loh. Nikah itu ibadah, jika nggak dilakukan malahan jadi dosa." "Iya, aku tahu, Rin. Aku paham, tetapi jika memang belum waktuku menikah, kita harus bagaimana? Memaksa bukan jalan yang baik," jelas Sendi. "Ya, tapi, misalkan Mas Imam melamarmu, kan jatohya bukan memaksa," lirih Sabrin. "Asal kamu tahu, Rin, mamimu pernah melamarku untuk Mas Imam," ceritanya. "Loh, kapan? Kok aku nggak tahu. Tapi kenapa Mas Imam nikahnya sama Kak Ell?" tanya Sabrin penasaran. "Beberapa hari sebelum dia ke Jerman waktu itu," ucap Sendi sambil mengingat-ingat hari itu. Di mana ia dapat melihat raut wajah kecewa dari Imam. "Terus kamu terima?" "Ya, aku tolaklah. Kamu pakai tanya. Jelas-jelas dia nikah sama perempuan lain. Aneh-aneh saja kamu." "Kenapa ditolak, sih?" kesal Sabrin pada sahabatnya. "Ditolak atau diterima itu cuma sebuah pilihan," ucap Sendi. "Dan asal kamu tahu, Rin, hidup ini hanya masalah ditolak atau diterima. Seperti layaknya kamu akan masuk sekolah favoritmu, apakah kamu akan ditolak atau diterima di sekolah itu. Apa pun kesempatannya, apa pun pilihannya, apa pun solusinya. Cuma ada dua pilihan itu," sambung Sendi. "Terus sekarang kamu menyesal? Galau dong kamu tahu Mas Imam nikah sama wanita lain?" cecar Sabrin. Sendi merenung sejenak, munafik baginya jika dia bilang dia tidak menyesal. Munafik baginya jika dia bilang dia tidak galau. Tapi haruskah dia jujur dengan apa yang dia rasakan saat ini? "Jika memang aku pusing, buat apa aku pusing lama-lama. Jika memang aku galau, buat apa aku galau berkepanjangan. Karena menurutku ada yang lebih penting yang patut aku cemaskan. Yang benar-benar harus aku khawatirkan dibandingkan hanya soal pernikahan Mas Imam," jawab Sendi dengan bijak. "Apa yang lebih penting?" Sendi tersenyum melihat raut wajah Sabrin. Dia tahu sahabatnya ini bingung dengan apa yang dia rasakan. "Ditolak atau diterimanya masuk surga. Ini jauh lebih penting menurutku. Jauh lebih membuatku galau. Jauh lebih membuatku pusing. Jauh lebih membuatku ingin menangis. Jauh lebih membuatku takut. Ingat, Rin, percintaan di dunia hanya sementara," jelasnya yang membuat Sabrin diam membisu. "Insya Allah, aku menolak Mas Imam waktu itu dengan perasaan yang ikhlas tanpa paksaan. Dan sekarang aku melihat dia sudah bahagia dengan wanita lain aku ikhlas lillahi ta'ala. Dia tetap kakakku, doaku untuknya tak pernah putus sedikit pun. Menurutku ini jauh lebih indah. Jadi jangan pernah beranggapan setelah aku menolaknya maka aku menjauhinya. Itu salah besar. Semakin hati ini sakit, semakin hati ini menjauhi, maka semakin berdosa diri ini. Karena keputusan ini adalah pilihan hatiku sendiri," jelas Sendi. "Makasih ya, Sen. Kamu memang sahabat sejatiku. Aku doakan kamu bisa memiliki kekasih hati yang jauh lebih baik dari Mas Imam. Aku akan menjadi orang pertama yang bahagia saat kamu bahagia dan aku juga akan menjadi orang yang pertama menangis saat aku tahu kau sedang bersedih." Sendi membalas pelukan Sabrin dengan erat. Dia sangat bersyukur, walau memang tidak ada Imam di sampingnya, tetapi Sendi masih bisa memiliki Sabrin dan mami yang selalu menerima dia. Sendi harap memang seperti ini jalan hidup terbaik untuknya. ----- Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD