Bab 9

3539 Words
Cinta atau AllahHari ini tepat sehari sebelum hari raya, Imam kembali dari Jogja setelah menyelesaikan pekerjaannya. Waktunya di Jogja ternyata jauh lebih lama dari yang diperkirakan kemarin ini. Untuk itu dia merasa bersalah pada Ell karena harus meninggalkannya begitu lama. Setelah sampai di bandara, Imam langsung menuju rumah maminya di daerah Jakarta Selatan. Sore ini daerah Jakarta semakin tak terkendali. Lalu lintas begitu padat. Biasaya jarak tempuh dari bandara internasional Soekarno Hatta ke rumah Imam hanya berkisar satu setengah jam namun kali ini jauh lebih lama. Jika dulu banyak orang bilang pada hari lebaran Jakarta sepi, itu salah besar. Semakin ke sini semakin padat penduduk kota yang memiliki julukan kota metropolitan. "Assalamu'alaikum. " "Wa'alaikumsalam. Sudah sampai, Mas?" mami senang melihat wajah putranya yang tersenyum bahagia. Imam mencium tangan maminya dengan senyum yang terus terkembang di bibirnya. Jujur saja ia merasa rindu melihat perempuan paruh baya yang sudah menjadi kekasih hatinya ini. "Iya, Mi, macet banget jalanan," keluh Imam. "Ell di mana, Mi?" "Dia di kamar dari pagi, katanya nggak enak badan," jelas mami. Imam segera melangkahkan kakinya ke kamar di mana Ell berada. "Ell," panggil Imam. "Mas Imam," cicitnya. "Kamu kenapa? Apa yang sakit?" Imam menempelkan punggung tangannya pada kening Ell. "Aku tidak kenapa-napa, Mas. Memangnya aku kenapa?" Ell menatap wajah suaminya yang nampak khawatir. "Kata Mami kamu sakit," ucap Imam penuh penekanan. "Ah, itu. Cuma merasa tidak enak badan mas. Tapi tidak apa-apa kok," jawab Ell lesu mengingat percakapan Sendi dan Mami kemarin ini. Imam mendesah lega, dia sudah ketakutan jika Ell harus sakit seperti Sabrin waktu itu. "Ya, sudah, istirahat saja," ucap Imam, dia berjalan ke kamar mandi ingin membersihkan dirinya. "Mas," panggil Ell. "Ya, Ell." Imam menatap sejenak wajah Ell sebelum masuk ke dalam kamar mandi. "Ah, aku lupa mau bicara apa," bohong Ell. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Ell tanyakan pada Imam tentang Sendi. Tetapi dia urungkan niatnya. Karena dia melihat wajah Imam yang begitu lelah. Setelah Imam selesai membersihkan dirinya, dia melihat pakaiannya sudah tersedia di atas ranjang. Namun keberadaan Ell tidak ada di kamarnya. "Ell," panggil Imam saat dia menuju dapur. "Ya, ampun, Mas, sekarang yang dicari istrinya terus. Sama Mami sudah lupa," keluh mami. "Kan Imam sudah lihat Mami, kenapa Imam harus cari Mami lagi?" Dipeluknya tubuh mami yang sedang sibuk di dapur. "Mas, kan sekali-kali Mami mau diperhatikan juga." "Ini kan Mas perhatikan Mami," goda Imam. Pelukan di tubuh maminya semakin ia eratkan seakan takut kehilangan mami yang telah melahirkannya itu. Kemudian Ell datang menghampiri kehangatan ibu dan anak itu, dia tersenyum bahagia melihat suaminya masih suka bermesraan dengan mami. Karena Ell sangat jarang melihat seorang pria setelah menikah masih mau bermesraan dengan ibu kandungnya. Bahkan biasanya seorang pria akan berhenti bermanjaan dengan ibunya setelah masa pubernya. "Tuh, Ell. Tadi Imam cari kamu," ucap mami. "Kalau sudah dilihat nggak perlu dicari lagi. Tadi kan Mas cari karena dia nggak terlihat di mata Mas," jelas Imam. Mami mencibir kelakuan putranya itu. Dia tidak tahu sifat Imam menurun dari siapa. Karena yang mami tahu, sifat papi tidak seperti itu. Sifat papi lebih seperti sifat Fatah, menantunya. "Iya, Mami tahu, Mami maklum deh kalian kan baru menikah," goda mami. "Tapi Mami baru tahu ternyata Sabrin sama kamu lebih dewasaan Sabrin," sindir mami kembali. "Kok dewasaan Sabrin, Mi?" protes Imam. "Dewasa dari mananya anak itu?" Imam duduk di ruang makan menatap maminya tengah sibuk menyiapkan menu berbuka puasa bersama Ell. "Setidaknya Sabrin masih bisa mengontrol hawa nafsunya jika berada bersama Fatah." Mendengar hal itu, Imam mencibir ke arah maminya. "Mi, memang yang Mami lihat Imam nggak bisa jaga hawa nafsu, ya? Kalau hanya manggil Ell karena nggak lihat dia di mata Imam, itu bukan nafsu, Mi. Kalau nafsu kayak begini ...." Mami memperhatikan gerakan Imam yang mendekati Ell. Ell yang tidak sadar Imam tengah mendekat ke arahnya tiba-tiba saja menjerit saat dengan seenaknya tangan Imam meremas b****g Ell dengan kuat. "Mas Imam!" jerit Ell merasa sangat kaget akan ulah Imam. Imam tertawa puas dengan aksinya, sedangkan mami hanya menggeleng-gelengkan kepala, anak laki-lakinya memang sudah keterlaluan.  "Mami lihat, kan? Itu baru nafsu." "Itu namanya kemasukan setan. Dosa kamu, Mas, lagi puasa," jelas mami. Ell memukul-mukul lengan Imam tanda protes akan perlakuan Imam tadi. "Apa?" tanya Imam pada Ell. "Kamu apa-apaan, sih?" cicit Ell. "Aku cuma mencontohkan sama Mami." Imam kembali duduk ke tempat semula. Menatap dua perempuan yang dia sayangi tengah sibuk dengan segala hal. "Kamu cari Ell seperti itu karena takut kehilangan Ell?" tanya mami memastikan. Dia ingin tahu seberapa besar cinta Imam pada Ell. "Bukan takut kehilangan, Mi, semua yang ada di dunia ini kan cuma titipan. Jadi saat kita memiliki sesuatu harus siap untuk kehilangan. Aku tadi mencari Ell, karena tadi Mami yang bilang dia sedang sakit," jelas Imam. "Alasan saja kamu, Mas," dengus mami kesal. "Mi, walaupun Ell tidak terlihat di mata Imam, tapi asal Mami tahu Ell selalu berada di sini." Imam menunjuk hatinya sendiri. "Jadi sejauh apa pun diri Ell terpisah dari aku, akan tetapi hati kita akan tetap satu," tegas Imam. Mendengar hal itu Ell menahan tangisannya. Dia begitu terharu dengan semua perkataan Imam. Saat dirinya tadi mulai ragu karena tahu sesuatu kebenaran mengenai Sendi, namun saat ini keraguan itu seperti sirna. "Susah deh ngomong sama orang yang lagi dimabuk cinta," cibir mami. Imam tertawa mendengar ucapan mami, matanya memandang Ell yang juga sedang memandangnya. Walau tak ada kata yang terucap, namun hati mereka seperti satu. ꭃ Selepas Sholat Ied, Imam memohon maaf kepada kedua orang tuanya. Dia merasa banyak melakukan kesalahan tahun ini. Mulai dari menentang kedua orang tuanya dengan pernikahan ini, hingga kesalahan-kesalahan kecil yang tak terhitung. Tak mau ketinggalan, Ell juga minta maaf kepada kedua orang tua Imam. Dia mengaku belum bisa menjadi istri dan menantu yang baik. Dia masih jauh dari kata sempurna. Papi yang awalnya tidak begitu respect dengan Ell, akhirnya bisa terbuka juga dengan Ell. Papi merasa percuma tidak menerima Ell, karena putranya sudah menikahi Ell sesuai syariat Islam. Karena itu sedikit demi sedikit ia perbaiki sikapnya pada sang menantu. Mami yang mudah terharu menangis sedih sekarang ini. Rasanya baru tahun kemarin dia berkumpul dengan kedua putra putrinya. Namun tahun ini kedua anaknya sudah menjadi pribadi yang lain. Sabrin sudah menjadi seorang istri dan ibu. Sedangkan Imam sudah memiliki istri yang baru dua minggu ini dinikahinya. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Seolah sedikit lagi giliran mami dan papi lah yang pergi untuk selamanya. "Mi, kenapa nangis? Imam salah ngomong lagi?" tanya Imam. "Mami cuma ingat tahun kemarin kalian masih berkumpul bersama Mami," keluh mami. "Jadi mau Mami, aku sama Sabrin tetap jadi anak kecil?" ucap Imam. "Bahkan Sabrin yang kelihatan masih kecil saja sudah bisa membuat bayi kecil," sambungnya. "Hus, kamu apa-apaan sih, Mas. Ngomongnya begitu!" "Lagian Mami, hidup dibawa serius banget," kekehnya. Mereka berempat bersantap menu lebaran dengan lahap. Ell yang ikut serta dalam euforia kebahagian hari raya itu begitu senang. Baru kali ini dia merasa begitu antusias. Bahkan dia tidak pernah merasakan seperti ini saat hari rayanya tiba. Apa dia berlebihan? Tentu tidak. Karena memang benar semua tidaklah sama. Dan dalam hati Ell terus berdoa agar ke depannya ia masih bisa merasakan hal ini di tengah-tengah keluarga Imam. "Makan yang banyak, Ell, kamu belum pernah kan cobain makanan khas hari raya," ujar mami yang disambut antusias oleh Ell. Dia juga melayani Imam dengan begitu terampil. Diambilkannya beberapa potong lauk di piring Imam. Walau Imam hanya mengucapkan kata terima kasih, entah mengapa rasanya begitu bahagia. Ini adalah momen langka dalam hidupnya. Setelah acara makan bersama selesai, Imam sudah rapi dengan jaket hitam yang melekat pas di tubuhnya. Di belakangnya berada Ell yang mengikuti langkah kaki Imam. Pakaian mereka terlihat serupa di mata mami yang sedang melihat pergerakan putra dan menantunya. "Kamu mau ke mana, Mas? Nggak nunggu Sabrin datang?" tanya mami. "Nggak, Mi, nanti saja malam Mas ke sini lagi. Ada perlu sebentar," jelas Imam. "Sama Ell juga?" Mami melihat Ell tengah memakai jaket kulit yang serupa dengan yang Imam kenakan. "Iyalah, Mi, masa Ell ditinggal lagi?" ucap Imam. "Mau ke mana kamu, Ell?" Mami berusaha mengorek informasi dengan bertanya pada Ell, akan tapi Ell menjawab tidak tahu. Dia hanya diminta untuk menemani Imam ke suatu tempat. "Ya, sudah, hati-hati," ucap mami memberi izin. Saat mami mengantar mereka keluar, mami nampak tak percaya Imam tengah menghidupkan motor sport yang sudah lama tidak pernah dia pergunakan. "Ya, Allah, Mas, naik motor?" "Iya, Mi, sayang nggak pernah dipakai." "Kamu sama Ell loh, naik mobil saja. Jangan pakai motor itu," nasihat mami sekali lagi yang diabaikan oleh Imam. "Nggak papa, Mi, nanti Imam yang jagain Ell," ucap Imam seadanya. "Ayo, Ell." "Mi, Ell sama Mas Imam pergi dulu, ya." Diciumnya pipi sang mami. "Dasar anak susah diatur!" keluh mami saat melihat motor Imam sudah melesat jauh. ꭃ Tak disangka ternyata Imam membawa Ell ke tempat favoritnya. Sebuah taman kota di daerah pinggiran Jakarta. Imam memang sering menghabiskan waktunya di sini. Kadang dia suka memandang matahari yang hendak terbenam dari tempat ini. Karena letak taman ini lebih tinggi dari sekelilingnya, membuat pemandangannya menjadi lebih indah. Inilah salah satu tempat yang masih dibiarkan asri oleh pemerintah kota Jakarta. Karena sebagian tempat yang serupa seperti ini telah berubah fungsi menjadi lahan pemukiman. "Kok di sini, Mas? Ini tempat favoritmu?" tanya Ell saat mereka sedang duduk di bangku taman. Rambut Ell yang digerai nampak terbang tertiup angin taman yang cukup kencang. "Hm. Ini teman favoritku untuk menikmati hari. Setelah lepas lelah dengan rutinitas seharian. Kenapa? Kamu aneh ngeliat aku begini?" jawab Imam. Wajahnya memandang jauh ke depan. Sekali-kali Imam akan menutup kedua matanya untuk menikmati kedamaian yang dirasakan. "Nggak sih. Cuma baru tahu saja. Ini sisi lainmu," ucap Ell dengan senyuman manisnya. "Apa aku orang pertama yang kamu ajak kemari?" sambungnya. Imam merentangkan kedua tangannya, menghirup udara segar siang ini yang tidak begitu panas. "Bukan," jawabnya singkat. "Pasti Sabrin yang selalu temani kamu di sini," ucap Ell turut memejamkan matanya. "Bukan juga. Aku nggak pernah mengajak Sabrin ke sini," jujurnya. "Lalu?" "Sendi," jawabnya santai. Ell menatap wajah Imam yang tersenyum tanpa dosa. Mau tidak mau Ell ikut tersenyum walau terasa sangat sulit menarik sudut bibirnya. Sungguh Ell tahu, ini semua masa lalu Imam. Tapi apakah Imam tidak merasakan apa yang dia tengah rasakan saat ini. "Sama Sendi? Kapan?" tanya Ell setenang mungkin. "SMA. Dia dulu tidak berhijab. Setipe dengan Sabrin. Waktu itu aku ingin menjemput Sabrin ke sekolahnya, ternyata Sabrin sudah pulang. Dan yang kutemui hanya Sendi," jelas Imam. Setelah Ell mendengar penjelasan Imam, Ell hanya diam. Dia takut untuk melanjutkan pertanyaannya. Walau sebenarnya dia sangat penasaran mengapa Imam bisa mengajak Sendi ke sini. "Kamu mau es krim?" tanya Imam pada Ell. "Boleh," jawab Ell. “Memangnya ada penjual es krim?” sambungnya lagi. “Itu, ada. Es krim favorit Sendi dulu. Jika Mas ajak kemari ia akan merengek meminta dibelikan es krim,” cerita Imam tanpa beban sedikit pun. Dalam diam ia menahan sesak di hatinya. Berkali-kali ia menenangkan pikirannya bila yang diceritakan Imam adalah masa lalu. Tapi mengapa semakin ia tahan semakin sakit yang ia rasakan. “Tidak usah, Mas, aku tidak ingin es krim,” jawab Ell kembali. “Kenapa? Kamu harus mencobanya dulu. Pasti akan ketagihan dengan rasanya,” ucap Imam tak terbantahkan. Imam berlari ke arah penjual es krim yang berada di taman itu. Memang dihari raya seperti ini tempat hiburan selalu padat dikunjungi pengunjung. Walaupun taman ini bukan merupakan tempat hiburan, tetapi karena suasananya yang asri membuat banyak orang menjadikannya tempat wisata. "Es krim cokelat dua," ucap Imam dan seorang wanita bersamaan. "Mas Imam." "Sendi." “Selamat lebaran dulu,” ucap Imam terlebih dahulu. Ia mengulurkan tangannya namun tidak disambut oleh Sendi. “Selamat lebaran juga, Mas,” tubuhnya sedikit menunduk dan senyum di bibirnya membuat Imam salah tingkah. Ditariknya kembali tangannya itu, lalu Imam menjadi bingung harus berbuat apa setelahnya. "Mas ngapain ke sini?" tanya Sendi dengan nada cukup kaget. "Itu," tunjuk Imam pada Ell yang duduk di salah satu bangku taman. "Jalan-jalan sama Ell. Kamu ngapain di sini? Sama Sabrin?" Imam melihat kiri kanan. "Nggak, Mas, sama adik sepupuku dari Jawa. Dia lebaran di sini," jelas Sendi. "Es krimnya aku duluan ya, Mas pesan lagi aja," kekeh Sendi saat mengambil es krim yang sudah disiapkan penjualnya. Imam menggaruk belakang kepalanya, semakin salah tingkah. Jika berada di dekat Sendi seperti ini ada saja hal yang membuat Imam grogi. Dan itu rasanya aneh. "Kamu nggak ke rumah? Mami nungguin kamu pasti," ucap Imam. Langkah Sendi terhenti begitu saja. Sebenarnya dia ingin menjauh dari Imam. Tapi jika tak menjawab pertanyaan Imam, dia merasa tidak sopan. "Insha Allah besok Sendi ke sana," jawabnya. "Ok. Nanti Mas bilang sama Mami," ucapnya antusias. "Iya, Mas," lirih Sendi. Dia berlalu begitu cepat meninggalkan Imam yang masih berdiri melihat arah punggung Sendi yang lama-lama tak terlihat. "Es krim untuk princess," ucap Imam pada Ell sembari memberikan sebuah es krim. "Makasih, my prince," jawab Ell sedikit kaku. Ell dan Imam nampak bahagia menikmati kebersamaan mereka. Walau tadi ada rasa sakit yang Ell rasakan, namun ia percaya Imam mampu mengobati semua kesakitannya. Kadang tingkah konyol Imam membuat Ell tertawa bahagia. Dia bersyukur bisa memiliki Imam menjadi suaminya. Karena Imam memberikan rasa bahagia yang belum pernah Ell rasakan sebelumnya. "Mas, aku ke toilet dulu, ya." Karena ramai pengunjung, toilet yang hanya terdapat satu di taman seluas ini menjadi begitu ramai. "Aduh, antri, ya," keluh Ell. "Iya, toiletnya cuma satu," sahut orang yang di sebelah Ell. Ell melihat siapa gerangan perempuan yang berdiri di sebelahnya, lalu saat tahu siapa perempuan itu rasa sesak kembali lagi. Apa Tuhan memang sengaja membuat segalanya begitu sempit. Mengapa harus perempuan ini yang ia temui? "Sendi," ucap Ell hati-hati. Sendi menatap Ell dengan senyum simpul di bibirnya. "Kak Ell, aku pikir siapa." "Kamu sama siapa ke sini?" "Ini adik sepupuku." Sendi mengenalkan adik sepupunya pada Ell. Selanjutnya tak ada ucapan dari keduanya. Mereka sama-sama diam tanpa bersuara. Sibuk dengan perasaan mereka masing-masing. "Sen, aku boleh tanya sesuatu?" "Tanya saja, Kak." Sendi tak melepas senyum sedikit pun dari bibirnya. Walau senyum itu adalah sebuah topeng dari rasa sakitnya saat ini. Kadang memang sebuah senyuman merupakan topeng hati yang menangis .... "Kamu ... sama keluarganya Mas Imam sudah kenal lama, ya?" "Hm, soal itu." Sendi tertawa kecil. Dia sebenarnya sudah paham maksud dari pertanyaan Ell. Walau Ell tak menjelaskan mengapa dia bertanya seperti itu. Tetapi raut wajah Ell tidak bisa membohonginya, "Aku mengenal Sabrin sudah dari pertama masuk SMA. Sekitar enam tahun yang lalu." "Oh." "Tetapi Kak Ell kan tahu Mas Imam sejak dulu nggak tinggal di Indonesia. Sejak lulus SMA, dia sudah memilih kuliah di Jerman. Jadi paling kembali setahun sekali," jelas Sendi tanpa ditanya soal Imam oleh Ell. Ell melirik ke arah Sendi. Dia tidak tahu dari mana Sendi bisa membaca pikirannya. Ell sebenarnya memang ingin menanyakan kedekatan hubungan Imam dengan Sendi. Tetapi setelah mendengar penjelasan Sendi, dia paham jika Imam dan Sendi memang tidak ada hubungan apa-apa. "Kapan ke rumah? Mami pasti nunggu kamu," tanya Ell berusaha mengalihkan pembicaraan. "Insha Allah besok, Kak." Setelah adik sepupu Sendi keluar dari toilet. Sendi memohon pamit pada Ell. "Terima kasih atas jawabanmu, membuat hatiku tenang," bisik hati Ell. ꭃ Keesokan harinya, Sendi menepati janji untuk datang berkunjung. Mami menyambut antusias kedatangan Sendi. Sabrin yang sedang menginap di rumah mami, tak menutupi rasa bahagianya bertemu dengan sahabatnya di momen hari raya seperti ini. "Kenapa baru hari ini datangnya? Mami nunggu dari kemarin." "Kemarin ada adik sepupu yang datang dari Jawa. Jadi Sendi temani dia dulu," jelas Sendi. "Sen, gimana cerita kita yang kemarin ini?" bisik Sabrin. "Cerita apa, sih?" tanya Sendi tak mengerti. Mereka berdua sibuk berbisik-bisik. Padahal di ruang keluarga itu ada mami dan juga Ell. "Ngomongin apa kalian?" tanya mami. "Nggak ada, Mi," jawab Sabrin cepat. "Mas Fatah mana Rin? Aku belum lebaran sama dia," Sendi mengalihkan pembicaraan agar mami tidak bertanya lebih lanjut akan masalah ini. "Jangan tanya Mas Fatah, dia pagi-pagi ke rumah sakit. Katanya ada pasien operasi yang harus ditolong. Kan ngeselin," kesal Sabrin. "Hus, nggak boleh begitu, Rin. Dia kan kerja. Kamu harusnya dukung dia," ucap Sendi. "Tuh, dengarkan kata sahabatmu," sahut mami keki. "Iya, iya, Sabrin dengar." Ell hanya tersenyum melihat keakraban mereka bertiga. Walau mereka duduk bersama, akan tetapi dia merasa tidak bisa membaur dengan yang lain. Seperti ada tembok tak kasat mata yang memisahkan dirinya dengan yang lain. "Oh, iya, Mi, coba tanyakan sama Papi ada nggak anak temannya yang kayak Mas Fatah." "Memangnya untuk apa?" "Sabrin mau kenalkan sama Sendi." Uhukk! Sendi yang tengah menyantap kue-kue di atas meja menjadi tersedak karena ulah Sabrin. Air matanya sampai keluar karena tersedak makanan di tenggorokannya. "Minum, Sen." Mami menyodorkan segelas air berwarna kuning kepada Sendi. Lantas dengan cepat Sendi meminumnya. Dadanya terasa sakit karena tersedak tadi. "Kamu ngomong apaan, sih? Nggak lucu, tahu!" protesnya. "Atau kamu maunya dilamar langsung?" goda Sabrin. "Siapa yang mau dilamar?" tanya Imam yang tiba-tiba saja sudah ikut bergabung bersama para perempuan. "Sabrin minta Mami carikann jodoh untuk Sendi." Wajah Imam yang tadinya ceria, mendadak lesu. Dia hanya melirik wajah Sendi. Mencari-cari sebuah jawaban yang dia tidak tahu pertanyaannya apa. "Sabrin dari kemarin ngomongnya ngawur terus," ucap Sendi sebagai pembelaan. Ia tidak ingin terlihat begitu mengenaskan karena belum memiliki pasangan hidup. "Mami maunya kamu lulus kuliah dulu, Sen. Biar nggak repot kayak Sabrin sekarang. Sudah punya anak tapi kuliah belum selesai." "Lagian siapa yang maksa Sabrin dulu nikah?" kesalnya. "Iya, Mi, Sendi mau kuliah dulu. Terus kerja baru mikir untuk nikah," ucapnya pasti. "Tapi jika nanti ada seorang pemuda yang melamarmu, berikan alasan yang jelas jika kau menolaknya," nasihat mami. "Iya, Mi." Setelah mendengar nasihat mami, mereka semua membisu. Tidak ada yang berani memulai percakapan kembali. ꭃ Hari sudah menjelang malam, Sendi memohon pamit pulang pada mami karena merasa tidak enak. Mami yang merasa tidak tega meminta Imam untuk mengantarkan Sendi. Dia takut Sendi mengalami hal buruk seperti yang pernah Sabrin alami. Imam menyanggupi permintaan mami untuk mengantarkan Sendi. Tetapi Ell yang sejak tadi ada di samping Imam mendadak tidak rela meminjamkan Imam untuk mengantarkan Sendi. "Aku pergi sebentar ya, Ell," pamitnya. "Mas hati-hati. Jangan ngebut-ngebut," ucap Ell. Sendi turut mengucapkan pamit pada Ell. Sebenarnya Sendi tidak ingin merepotkan Imam, tetapi dia juga tidak bisa menolak keinginan mami. Memang sangat bahaya bagi seorang perempuan berpergian di malam hari. Apalagi ini ibu kota yang sangat rawan bahaya. "Kamu benar mau menikah?" tanya Imam ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Sekali-kali matanya melirik Sendi yang duduk di sampingnya. "Mas percaya sama Sabrin? Dia cuma menggodaku," jawabnya. "Mas bisa carikan calon yang baik untukmu." Pandangan Sendi yang awalnya menghadap keluar jendela, tiba-tiba saja terfokus pada wajah Imam yang sedang sibuk mengemudi. Mengapa laki-laki di sebelahnya ini berucap seperti itu dengan mudahnya? "Jika menurut Mas calon itu baik untukku, akan aku pertimbangkan," jawab Sendi dengan bijak. "Mau sebanyak apa kamu menolak pinangan laki-laki lagi, Sen?" goda Imam. "Sampai aku bertemu dengan imamku sesungguhnya." "Aku Imam." "Iya, memang namamu Imam, Mas," kekeh Sendi. Dia tidak bisa menutupi rasa ingin tertawanya. "Itu kamu tahu," ucap Imam. "Mas." "Iya, Sen." "Apa Mas tahu, sesuatu yang tak terlihat, tak tersentuh, tetapi dia ada di sekeliling kita?" Imam menatap wajah Sendi yang juga sedang menatapnya. Kebetulan jalanan sedang macet, jadi terdapat sedikit waktu untuk mereka berbicara dengan leluasa. "Cinta." Kedua alis Sendi saling bertautan. Dia tidak menyangka Imam akan menjawab 'cinta'. "Kenapa? Mas benar, kan? Cinta itu tidak terlihat, tidak bisa disentuh, tapi ada di sekeliling kita," jelas Imam. "Mas, pikiranmu ngawur. Kenapa jadi jawab cinta? Walau cinta itu tidak terlihat tapi orang yang sedang jatuh cinta pasti terlihat perbedaan sifatnya. Cinta memang tidak bisa tersentuh, tapi cinta bisa dirasakan. Karena sesungguhnya cintalah yang menyentuh hati kita. Dan memang benar cinta ada di sekeliling kita," jelas Sendi. "Maksud dari pertanyaanku tadi itu Allah, Mas. Allah itu tidak terlihat, tapi kita tahu keberadaannya, Allah tidak bisa disentuh, dan Allah selalu ada di sekeliling kita. Bahkan ada di hati kita." "Iya, Allah juga bisa. Tapi jawaban Mas tadi juga benar. Kamu tahu kadang cinta jugalah yang selalu berusaha mengerti tanpa didengarkan, dan merasakan sesuatu tanpa dijelaskan." "Ish, susah ngomong sama pengantin baru," keluh Sendi. Wajah Imam berubah serius ketika menangkap gaya bahasa Sendi yang mulai merajuk, "Bukan masalah pengantin barunya. Tapi memang kamu selalu—" “Aku kenapa? Kamu mau salahkan aku, iya?” ucap Sendi dengan nada tinggi. Namun setelahnya dia membekap mulutnya karena telah berteriak di depan wajah Imam seperti ini. Sungguh malu rasanya. Siapa dia berani bersikap seperti ini. “Sen,” panggil Imam dengan lembut. Sendi tahu ia tengah diperhatikan, akan tetapi dia terus saja menundukkan kepala. Mencoba menetralkan kembali perasaan anehnya. "Sudah, Mas, aku turun di sini saja," potong Sendi. Dengan cepat dia membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil Imam. Berlama-lama berbicara dengan Imam membuat penyakit hatinya datang kembali. Dia sangat takut semakin tidak bisa mengontrol perasannya. Sendi tidak mau perasaan terlarangnya datang kembali. Dia sudah cukup baik me-manage hatinya untuk mencintai Allah. Namun jika Imam melakukan hal-hal di luar dugaan, dia tidak berjanji bisa menghindar lagi kali ini. Sedangkan Imam yang ditinggal Sendi begitu saja hanya tersenyum sendu. Tanpa Sendi mengungkapkan apa yang dia rasakan, Imam seolah mengerti. "Bodoh," gumam Imam. Terkadang kita harus belajar tanpa panduan. Mengerti tanpa dijelaskan. Menerima tanpa diberi. Mendengar saat rindu memanggil. Tanpa ada kata-kata kita tahu. Tahu jika kau tengah memanggil 'namaku' .... ----- Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD