Bab 10

2847 Words
Renungan HatiJika aku diperbolehkan untuk memilih, aku tidak berharap dipertemukan olehmu. Tetapi, aku berharap dipersatukan dalam cintaNya. Sudah sebulan semenjak Imam mengantarkan Sendi, dia tidak pernah bertemu dengan gadis itu lagi. Walau terkadang Imam berharap dapat bertemu Sendi di rumah maminya, namun gadis itu bak hilang ditelan bumi. Sabrin pun tidak pernah menyebut-nyebut nama Sendi lagi. Tolong jangan artikan Imam rindu padanya. Tidak sama sekali, dia hanya ingin tahu alasan mengapa Sendi waktu itu bersikap seperti itu. Imam seperti merasa memiliki sebuah kesalahan pada Sendi, yang Imam sendiri tidak tahu apa itu. Sedangkan kehidupannya bersama Ell berjalan dengan baik. Imam berusaha semampunya membuat Ell bahagia. Kadang Imam suka membuat kejutan kecil untuk Ell, seperti makan malam bersama, atau Imam suka sekali memberikan Ell bunga. Ell merasa sangat bahagia dengan semua perhatian Imam. Layaknya di antara mereka tidak ada jurang pemisah, yaitu agama. Minggu pagi seperti biasa Imam mengantarkan Ell ke sebuah gereja yang biasa Ell datangi. Dengan mengenakan sebuah dress berwarna hitam dengan panjang sebatas paha lalu ditambah heels berukuran tujuh senti membuat Ell tampil sempurna. "Ell," Imam melirik Ell yang sibuk mengeluarkan selendang hitam dari tas kecilnya. "Iya, Mas." "Mas boleh tanya?" "Tanya apa, Mas?" Ell mulai meneliti wajah Imam yang masih sibuk mengemudi. "Kenapa kaummu beribadah selalu hari Minggu?" Ell menautkan alisnya, dia nampak kaget mendengar Imam bertanya akan hal itu. "Memangnya kenapa, Mas?" "Begini, Ell, bukannya Mas mau membandingkan. Mas hanya aneh. Kami, umat muslim dalam sehari minimal lima kali kami melakukan ibadah kami. Sedangkan kaummu selalu ibadah di hari Minggu," ucap Imam. "Bila diibaratkan, Mas mandi lima kali sehari. Menurutmu, Mas akan wangi tidak?" "Wangilah kalau lima kali sehari mandinya. Tapi sabunnya boros, Mas," jawab Ell sekenanya. Imam tertawa mendengar jawaban Ell. "Lalu, kaummu yang mandi hanya satu minggu sekali, apa akan wangi?" tanya Imam hati-hati. Dia bukannya ingin menyudutkan Ell, namun dia berusaha untuk memahami apa yang diyakini oleh istrinya itu. "Mas Imam ... Mas Imam. Please dont judge book from the cover. Mas bertanya seperti itu karena Mas tidak tahu, kan?" cibir Ell. "Mas bukan men-judge kamu, Ell. Mas kan hanya tanya di sini? Maaf kalau Mas salah. Namanya juga manusia." "Begini, Mas, bukannya di agamamu juga ada satu hari dalam seminggu yang lebih spesial deh dari hari lain. Begitu pun di agamaku. Kita sama, Mas," ucap Ell. "Spesial?" "Iya, setahuku, bagi umat muslim yang laki-laki hari Jum'at ada ibadah khusus, kan?" "Bukan ibadah khusus, Ell. Itu namanya sholat Jum'at, sholat wajib bagi laki-laki yang sudah baligh," jelas Imam. "Ada haditsnya juga loh, Nabi yang memerintahkan untuk melaksanakan sholat Jumat adalah dari hadist Thariq bin Syihab yang bunyinya, ‘Jumatan adalah hak yang wajib atas setiap muslim dengan berjamaah, selain atas empat (golongan), yakni b***k sahaya, wanita, anak kecil, atau orang yang sakit.’," sambung Imam. "Nah, kan, berarti sama dengan kami," sambung Ell. "Sama apanya?" Imam semakin tak mengerti dengan jawaban Ell. "Begini loh, Mas, Taurat memang memberi satu perintah untuk beribadah pada hari Sabat. "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat"(Taurat, Kitab Keluaran 20:8). Perintah ini hanya terdapat dalam Taurat, tidak pernah disebut dalam Injil. Selain itu, Isa Al-Masih tidak memberikan perintah untuk beribadah pada hari Sabat. Bahkan dalam keseharian-Nya, Isa Al-Masih tidak hanya mengajar hari Sabat/Sabtu. Dia mengajar "tiap-tiap hari" (Injil, Rasul Besar Matius 26:55). Kebiasaan Isa Al-Masih tidak terletak pada hari, tetapi pada tindakan-Nya, yaitu mengajar di Bait Allah. Dia tidak memberi pengajaran untuk meninggikan satu hari dari hari lainnya," jelas Ell. "Intinya saja. Mengapa kamu hanya beribadah di gereja hanya hari Minggu?" "Jadi, alasan utama kami beribadah hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari kebangkitan Isa Al-Masih. Sebenarnya, setiap hari kami beribadah. Mau tidur beribadah, bangun tidur beribadah, mau makan kami beribadah, biar selamat dalam perjalanan kami beribadah. Everytime, everyday, everywhere we pray. We same like you," jelasnya. "Gitu toh, jadi Minggu hari spesialmu?" "Iya." "Jadi itu yang kitabmu ajarkan?" "Yes, baby," ucap Ell mantap. Imam tersenyum, walau dia dan Ell berbeda, akan tetapi dalam beribadah mereka tetap sama. Sama-sama tak mengenal waktu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Setelah Imam mengantarkan Ell ke gereja, dia mengemudikan mobilnya ke rumah maminya. Sebelum berangkat tadi, maminya sempat berpesan agar Imam menemani mami di rumah hari ini. Langkah kaki Imam terhenti tepat di ruang keluarga di mana maminya tengah memegang sebuah mushaf kecil. Lantunan lembut ayat suci Al-Qur'an mengalun dengan indah dari mulut mami. Wajah wanita yang sudah dimakan usia itu nampak serius membaca ayat demi ayat dalam mushaf itu. "Assalamu'alaikum, Mi." "Wa'alaikumsalam, Mas." Mami mengakhiri membaca ayat sucinya. Ditutupnya mushaf itu lalu diletakkan di atas meja. "Ell mana, Mas?" Tanya mami. "Ke gereja, Mami sendirian? Papi memangnya ada urusan apa? Sampai hari Minggu pun harus pergi?" keluh Imam sambil mengambil posisi duduk di samping maminya itu. "Katanya ada teman bisnisnya yang ingin ketemu," ucap mami. "Sabrin nggak ke sini, Mi? Harusnya dia kan yang temani Mami di rumah," ucap Imam. "Ya, Allah, Mas, jadi kamu nggak ikhlas temani Mami?" "Bukannya nggak ikhlas, Mi, tapi Imam nggak suka saja. Alasan dia waktu Mami minta dia ke rumah pasti karena dia repot dengan anaknya," kesal Imam. "Kamu harusnya maklum dong, Mas, dia kan baru jadi ibu. Nanti juga kalau Ell sudah seperti Sabrin kamu akan paham. Gimana perjuangan seorang ibu," jelas mami. Mendengar perkataan sang mami, Imam hanya mampu diam membisu. Memang sejak dulu, mami paling bisa membuat Imam menjadi serba salah. "Kenapa diam? Mami salah bicara?" Mami menatap Imam yang sedang memejamkan matanya. "Imam harus bicara apalagi, Mi? Kalau kata-kata Mami sudah bisa buat Imam bungkam," keluhnya. Mami tertawa mencibir putranya itu. "Ke mana perginya semangat Imam seperti di Jerman kemarin?" sindir mami. "Mami nggak pernah merasa melahirkan putra yang sangat ahli dalam membalikkan perkataan orang tuanya." "Mi, jadi Mami masih marah karena kata-kata Imam?" protesnya tidak suka. "Iya, Mami marah, tapi marah pada diri Mami sendiri. Karena Mami sudah salah mengajarkan anak-anak Mami. Kamu tahu, Mas, anak belajar bukan dari perkataan tapi dari teladanan," ujar mami. "Dulu waktu kamu masih kecil, saat kamu jatuh karena menabrak meja atau kursi, pasti yang Mami salahkan meja atau kursi karena sudah membuatmu menangis. Tapi setelah kamu dewasa, Mami sadar jika yang Mami lakukan adalah salah. Mami mengajarkan yang tidak baik padamu. Mami sudah mengatur pola pikirmu, jika terjadi suatu kekeliruan atau perbedaan apa pun itu, maka kamu berpikir jika dirimu tidak pernah salah. Mami lupa menanamkan rasa tanggung jawab ketika terjadi kekeliruan seperti itu hingga membuatmu menjadi seperti ini," sambungnya penuh rasa sedih. Imam merenung meresapi semua perkataan maminya. Memang sedikit banyak Imam merasa benar dengan apa yang maminya katakan. Saat dia beradu argumen dengan mami, dia selalu ingin menang. Dia selalu ingin mamilah yang mendengarkan argumennya, bukan dia yang mendengar argumen mami. Seperti peristiwa besar kemarin ini. Peristiwa yang membuat semua keluarganya tercengang kerena sebuah keputusan yang seharusnya bisa lebih dipikirkan untuk ke depannya. Karena sudah pasti cinta dengan dasar perbedaan akan banyak sekali menghadapi rintangan. "Kali ini Mami tanya lagi padamu, kamu lebih memilih semua orang miskin dan kamu kaya sendiri atau semua orang kaya dan kamu miskin sendiri?" tanya mami. "Kenapa Mami tiba-tiba tanya begini?" Imam memandang mami tak mengerti. "Mami hanya ingin memastikan semua yang kamu pilih selama ini tidak salah. Jika memilih hal mudah seperti ini saja kamu tidak mampu, apalagi dihadapkan dengan pilihan yang sulit," jelas mami. "Imam pilih kaya dan yang lain miskin." "Alasannya?" "Karena Imam nggak ingin hidup miskin. Untuk apa hidup miskin jika kita mampu untuk kaya? Tapi kaya dengan cara yang benar. Setelah kita kaya kita bisa berbagi dengan yang membutuhkan. Bukannya di salah satu haditsnya Rasulullah pernah berkata, Barang siapa yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Barang siapa yang melapangkan suatu kesulitan sesama muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan di hari kiamat. Dan barang siapa yang menutupi kejelekan orang lain maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat. (H.R Bukhari dan Muslim)," jelas Imam. "Tapi, Mas, kita harus waspada, tidak selamanya kebaikan yang kita berikan kepada orang lain dinilai baik. Terkadang, apa yang menurut kita baik, belum tentu menurut orang lain juga baik, malahan kadang oleh orang lain dinilai buruk, ada maunya, ada udang di balik batu. Terlebih jika kebaikan kita itu berkaitan dengan seorang wanita, tidak jarang dikait-kaitkan dengan masalah wayuh atau poligami. Bahkan, boleh jadi berlaku pribahasa lama, ‘Air s**u dibalas dengan air tuba’. Nah, bukankah berbagai masalah yang kita hadapi dalam hidup ini sesungguhnya bersumber dari ketidakmampuan kita untuk saling berbagi, dan kita tidak mampu melihat segala sesuatu dari kacamata pandang orang lain?" jelas mami. "Ya, begitulah, Mi, cara pandang manusia." "Sebenarnya saling berbagi merupakan rahasia kesuksesan yang terbesar. Orang yang mampu berbagi, ia mampu membaca pikiran orang lain. Ia akan selalu berusaha mendengar dari telinga orang lain dan melihat dari mata orang lain. Ini, tentu saja membuatnya mampu berkomunikasi dengan siapa saja. Bukan itu saja, saling berbagi juga merupakan rahasia kebahagiaan yang terbesar. Kemampuan berbagi akan melahirkan rasa kasih sayang yang luar biasa. Dan bukankah kasih sayang sejatinya merupakan inti kebahagiaan? Pantaslah kalau Rosulullohi Shollallohu 'Alaihi Wasallam, bersabda, ‘Tidak masuk surga sehingga beriman, dan tidak beriman sehingga saling menyayangi’, "sambung mami. Imam hanya tersenyum mendengar perkataan maminya. Dia kembali bungkam, tak tahu harus berkata apalagi. "Ingat loh, saling berbagi tidak selalu berarti mengalami nasib yang sama dengan orang lain. Justru saling berbagi adalah kemampuan kita untuk 'ikut merasakan' tanpa benar-benar harus mengalaminya sendiri. Dan berbagi tidak hanya dari kekayaan, tapi dari ilmu yang bermanfaat kita bisa juga berbagi dengan yang lain," nasihat mami pada Imam. "Dan sekarang bila Mami tanya, kamu lebih memilih semua orang menyukaimu atau semua orang membencimu?" "Mi, kok jadi main tebak pilih begini?" keluh Imam. Biasanya yang Imam tahu maminya melakukan hal ini dengan Sabrin. Dalam setiap pertanyaan dan pilihan ini terdapat makna yang tersimpan di dalamnya. Untuk itu Imam seperti menerka-nerka apa yang ingin maminya sampaikan. "Sudah, jawab saja." "Imam pilih disukai orang banyak. Karena saat Imam disukai, Imam bisa memberikan banyak kebaikkan kepada mereka. Seperti memberikan ilmu. Sebuah ilmu akan mudah dipahami jika yang menjelaskannya adalah orang yang disukai," jelas Imam. Tetapi yang maminya lakukan hanya diam memantap wajah putranya itu. "Kenapa, Mi? Imam salah lagi?" "Tidak, Mas, semua penjelasan Mas benar." "Kenapa diam kalau Mas benar?" "Karena semua jawaban yang Mas berikan merupakan cerminan dari diri Mas," jelas mami. "Maksud Mami?" Imam semakin penasaran apa yang sebenarnya mami ingin sampaikan. "Jawabanmu yang pertama, kamu hanya merepotkan dirimu sendiri untuk menjadi kaya sedangkan yang lain miskin. Dengar, Mas, jika kamu mau menolong orang lain tidak harus menjadi kaya terlebih dahulu. Menolong orang itu bukan hanya dengan uang, kamu bisa menggunakan tenaga dan pikiranmu," jawab mami. "Dan untuk yang kedua, jika semua orang menyukaimu, jelas kamu bukan menyampaikan kebaikan yang lurus. Kamu akan berganti topeng dan terus berganti topeng agar semua orang tetap menyukaimu. Sungguh, Mas, tidak masalah jika semua orang membencimu. Karena ketahuilah, dalam kitab suci pun golongan yang lurus hanya sedikit, mereka tidak disukai, dibenci, dihina, dan jumlahnya sungguh sedikit. Ingat, Mas, dalam menyampaikan kebaikan tidak peduli dengan orang suka atau tidak pada kita. Karena satu yang pasti, kita selalu menyayangi mereka. Siapa pun mereka. Kebenaran harus terus disampaikan, bila akhirnya akan ada keributan yang mengikuti namun setidaknya kamu sudah bisa menjalankan apa yang Allah perintahkan," jelas mami panjang lebar. Imam mengusap wajahnya, dia merasa telah terjebak dengan jawabannya sendiri. Semua yang maminya bilang seharusnya yang dia ambil. "Entah kenapa, Mas, Mami sangat takut kamu salah melangkah. Mami takut bukan keridhoan Allah lah yang kamu tuju. Melainkan hal lain yang tak sepatutnya kamu tiru," ujar mami. "Tenang saja, Mi, Allah selalu ada di hati Imam. Pasti Mami memikirkan perbedaan Imam dan Ell, kan?" "Iya, Mas, Mami selalu kepikiran." "Mami nggak usah pusing. Waktu Imam mau nikahin Ell, Imam yakin Ell lah pendamping hidup Imam. Dia wanita yang tercipta dari tulang rusuk Imam. Makanya Imam pilih Ell," jelasnya. "Mas ... Mas, kamu itu, hati-hati loh, Mas, bisa jadi itu nafsu." "Mulai kan Mami bilang itu nafsu?" kesal Imam. "Orang zaman dulu itu kalau mau menikah memilih dulu baru meyakini. Contohnya seperti Sabrin dengan Fatah." "Jadi Sabrin sama Fatah Mami maksud orang zaman dulu? Sabrin dengar bisa marah loh, Mi." "Hus, bukan begitu. Dalam pernikahan itu kita 'memilih' seseorang untuk kemudian kita percaya dan kita 'meyakini' bahwa memang dialah yang selama-lamanya menjadi pilihan terbaik kita," jelas mami. "Jadi menurut Mami Imam salah? Karena yakin dulu baru pilih?" "Mas, penikahan itu bukan seperti memilih baju yang kalau tidak suka bisa dibuang dan cari yang baru. Atau bukan sebuah tempat makan, jika makanan yang tersaji tidak sesuai selera bisa pindah ke restoran lain. Dalam hal ini kita memilih lantas untuk kita yakini. Maksud meyakini di sini adalah pilihan tersebutlah yang sangat serius. Pernikahan itu tidak bisa cuti, tidak bisa istirahat, tidak bisa seenaknya seperti apa kemauanmu. Coba bayangkan bagi pasangan yang menikah sudah lama seperti Mami dan Papi, kami menikah sudah lewat dari seperempat abad. Yang ditemui setiap hari, dia lagi, dia lagi. Makan bersama dia lagi, dia lagi, tidur bersama dia lagi, dia lagi. Bagaimana kalau bosan? Mau bilang apa?" Mami menunggu reaksi Imam untuk merespon perkataannya, namun Imam seperti termenung. Matanya terfokus pada satu titik. Tapi pikirannya entah ke mana. "Mas sudah dewasa, Mas pasti tahu mana yang menurutmu baik, mana yang tidak. Mana yang Allah ridhoi, mana yang tidak. Dan jika Mas sudah salah memilih di awal, Mami harap Mas bisa memperbaiki di akhir. Manusia itu gudangnya kesalahan, munafik jika ada manusia yang bilang tak punya salah. Tapi yang membuat manusia satu dengan lainnya berbeda adalah bagaimana cara mereka memperbaiki kesalahannya itu," nasihat mami kembali. Percakapan panjang mereka tak terasa telah memakan banyak waktu. Padahal Mami masih banyak yang ingin disampaikan pada putranya itu. Namun mungkin di lain waktu ia sampaikan kembali. "Mi, Imam ke masjid dulu, ya," ucapnya. Mami hanya mengangguk menyetujui, dalam hati mami berharap semoga Imam diberikan pemikiran yang bijak dalam menyelesaikan semua masalahnya. ꭃ Selepas dzuhur tadi, Imam langsung pamit untuk menjemput Ell di gereja. Dia mengemudikan mobilnya dengan pelan. Imam takut dalam keadaan tidak fokus seperti ini, dia melakukan hal fatal. "Mas," panggil Ell. "Ya, Ell, ada apa?" tanya Imam pada Ell yang sedang duduk di kursi sampingnya. "Ada apa? Mukamu seperti melihat hantu." "Aku nggak papa, Ell. Cuma lelah," bohongnya. "Jangan bohong sama aku, Mas," ucap Ell kembali. Dia sangat yakin banyak pikiran yang mengganggu diri Imam. Rasanya tadi pagi Imam tidak seperti ini. "Ell, apa kita mampu melewati ini semua? Maksud Mas, apa tidak ada cara lain yang membuat ikatan kita semakin kuat?" "Maksud Mas, melewati apa? Pernikahan kita?" "Iya, Ell. Memang tidak ada yang mencaci kita dengan pernikahan beda agama ini. Tapi buka matamu, Ell, orang-orang di samping kita mengingatkan dengan perkataan baik. Menurut Mas ini lebih menyakitkan dibandingkan Mas harus dimaki-maki," jelas Imam. "Jadi mau Mas kita seperti apa?" tanya Ell tak paham maksud Imam. "Apa kamu tidak bisa sejalan denganku? Apa kamu tidak bisa melantunkan doa yang sama untuk Tuhan kita?" Mohon Imam. Ell menarik napas dalam, pembicaraan seperti ini yang selalu dia hindarkan. Bukannya dia tidak ingin menjadi sama seperti Imam. Tapi jika belum yakin, apa harus dipaksakan? Bukannya dalam memilih dan menjalankan agama tidak boleh ada paksaan? "Mas, perbedaan agama bukanlah penyebab seseorang menjadi tidak bisa menyatukan perasaannya dengan orang yang ia sayangi. Bukankah jika Tuhan telah menakdirkan ‘kita’ bersama, manusia pun tak dapat untuk mengubahnya. Dan sekarang buktinya, kita sudah bersama dalam satu ikatan pernikahan. Aku masih belum paham, mengapa perbedaan agama mengharuskan dua orang yang saling menyayangi untuk saling berpisah? Bukankah kita menyembah Tuhan yang sama? Bukankah Tuhan itu hanya satu? Hanya keyakinan kita yang berbeda. Aku masih belum paham, mengapa dua orang yang sudah ditakdirkan untuk bersama harus dipisahkan oleh orang-orang di sekelilingnya hanya karena perbedaan agama. Bukankah kita pantas merasakan cinta? Bukankah kita juga berhak untuk mendapat kebahagiaan dengan cara kita sendiri? Kita bukan pasangan bodoh, Mas! Kita memperjuangkan cinta kita demi kebahagiaan satu sama lain. Kita berbeda. Kita punya cinta. Agama tidak harus memisahkan kita. Bukankah semboyan negara Indonesia berbeda-beda tetapi tetap satu? Perbedaan agama, perbedaan agama, perbedaan agama. Perbedaan bukan segalanya yang harus diakhiri begitu saja. Perbedaan adalah sesuatu yang indah. Apakah harus semua yang berbeda dipisahkan begitu saja meski Tuhan sudah menakdirkan untuk bersama?" jerit Ell. Dia sudah tidak tahan untuk orang yang merasa dirinya benar tanpa memedulikan posisi dirinya dan Imam. Ell tahu benar, orang memang sangat gampang memberikan komentar dan juga nasihat. Tapi bagi yang menjalankan merupakan sesuatu yang sangat sulit. Jika Ell bisa, dia ingin bertukar posisi dengan orang yang menganggap sampah hubungan mereka. Ell ingin tahu apa komentar mereka jika sudah merasakan bagaimana yang Ell rasakan. "Mas, tolonglah tetap berjuang, sayang. Kita tidak harus mengakhiri ini semua. Aku tahu kamu seseorang yang pantas kuperjuangkan. Kuatlah. Aku tahu ini akan berhasil! Kita berbeda dari siapa pun," lirih Ell yang berusaha menahan air matanya. Dia ingin tetap kuat di samping Imam. Bukannya cinta memang menguatkan satu sama lain. "Ya, Ell. Tetaplah berjuang bersamaku. Kita memang berbeda, tetapi kita memiliki kesamaan. Yaitu cinta," ucap Imam mantap. Diusapnya rambut Ell dengan penuh kasih sayang. Berbeda bukan berarti tidak bisa berjuang untuk sesuatu yang sama .... ----- Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD