IL. 29

1606 Words
Selama 25 menit Yudha mendengarkan omelan serta ceramah dari dosen pria di hadapannya kini namun entah mengapa Yudha malah sama sekali tak bisa mendengarkannya karna kini di benaknya hanya ada bayangan Alya yang sedang menangis dan bersedih itu. "Kamu itu mendengarkan Bapak, atau tidak sih?" Tanya dosen pria itu cepat dengan wajah marahnya itu menatap tajam ke arah Yudha. "Saya mendengarkan, Pak." Ucap Yudha cepat masih tertunduk bersalah. "Kalau begitu apa yang baru saja Bapak katakan pada mu, Yudha?" Tanya sang dosen pria itu menyelidik dengan menatap lekat ke arah Yudha. "Saya tidak boleh datang terlambat lagi, saya tidak boleh berbisik, saya harus menjadi contoh yang baik untuk mahasiswa dan mahasiswi kampus." Ucap Yudha cepat menirukan semua ucapan Pak dosen itu yang memang benar seperti itu kalimat yang Pak dosen itu katakan padanya. Pak dosen itu terlihat terkejut akan Yudha yang ternyata mendengarkan semua ucapannya itu, Pak dosen pun segera berkata "Baiklah, kau boleh pulang hari ini dan apa yang tadi saya ajarkan di kelas kau pun harus mengetahuinya di minggu besok yang akan datang pelajaran Bapak kembali, Bapak akan mengetes mu dengan materi itu." Ucap Pak dosen itu cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Baik, Pak." Ucap Yudha cepat segera bangkit dari duduknya. "Saya, permisi dulu." Ucap Yudha kembali dan segera melangkah pergi ke luar dari raungan dosen pria itu setelah mendapatkan izin anggukan kepala tanda di setujui oleh sang dosen pria itu. Setelah keluar dari ruangan Yudha pun segera berjalan ke area pakir namun sebelum sampai disana ia melihat Agas yang tengah berkelahi dengan seorang pria mahasiswa lainya di halaman depan pintu masuk gedung universitas. "Agas!" Panggil Yudha cepat segera melerai perkelahian Agas dan seseorang mahasiwa itu. "Ada apa, ini?" Tanya Pak penjaga gedung universitas segera menghampiri tempat perkelahian Agas dan seorang mahasiswa itu. "Ikuti saya!" Ucap penjaga gedung itu cepat segera menyuruh Agas dan seorang mahasiswa yang sempat berkelahi dengan Agas itu untuk segera mengikuti langkah kaki penjaga gedung itu. Yudha yang tak bisa meninggalkan Agas seorang diri sontak mengikuti juga langkah kaki penjaga gedung dan Agas menuju ke arah ruangan bimbingan konseling di kampus. Setelah sekian lama Agas dan seorang mahasiswa yang berkelahi dengan Agas berada di dalam ruangan itu, membuat Yudha yang kini sedang menunggu di luar ruangan itu menjadi cemas. Cklek.. suara pintu ruangan terbuka dan benar saja Agas dan seorang mahasiswa segera keluar dari dalam ruangan itu. "Kamu ngga apa-apa, Agas?" Tanya Yudha cepat setelah keluar dari ruangan itu. "Iya, cuma lebam sedikit doang di muka." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Seharusnya yang kamu tanyai kaya gitu tuh dia! Soalnya aku mukul dia lebih banyak dari pada pukulan dia yang mengenai aku." Ucap Agas cepat dengan nada mengejeknya itu. "Sorry, Agas!" Ucap mahasiswa itu cepat dan singkat setelah itu ia langsung melangkah pergi begitu saja dari tempat Yudha dan Agas yang kini sedang berdiri di depan ruangan bimbingan konseling itu. Setelah melihat mahasiswa itu pergi seketika tatapan Yudha tertuju pada Agas dengan penuh pertanyaan itu. "Dia duluan yang ngajak berkelahi! Dan aku sebagai orang yang baik maka aku kabulkan permintaannya." Ucap Agas cepat dengan wajah sedikit kesalnya itu. Yudha hanya mampu menggelengkan kepalanya saja dengan cepat lalu ia berkata "Sudahlah, apa kau masih ada kelas? Agas." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Iya, masih ada satu lagi.. kenapa memangnya? Dha." Tanya Agas cepat dengan wajah penasarannya itu. "Tidak ada hanya ingin bertanya saja, kalau begitu aku pergi kerja deh.. sampai jumpa lagi." Ucap Yudha cepat seperti sedang menghindari Agas dengan pertanyaan itu. "Ada apa dengannya? Pasti telah terjadi sesuatu! Akau harus pastikan nanti saat jam mata kuliah telah selesai." Ucap Agas cepat terdengar begitu penasaran akan Yudha. Setelah sampai di pakiran motor yang ada restoran itu kini Yudha segera berjalan masuk ke dalam restoran dengan wajah tertunduk dan tak seperti biasanya namun Yudha masih tetap perfeksionis dalam hal kerjanya di restoran. Semua tugasnya Yudha kerjakan dengan baik, Yudha pun mulai berfikiran ingin membuka sebuah usaha untuknya sendiri. Agas dan Ferry pun berdatangan ke restoran Yudha sebagai pengunjung restoran itu dan mereka berdua memesan hampir setiap hidangan makanan di restoran itu yang mana karna mereka sangat yakin kalau mereka dapat berhemat karna akan ada kupon gratisan yang Yudha berikan pada mereka nantinya. Beberapa jam terlewati kini Yudha pun segera melanjukan motornya ke arah rumah kosan, namun di perjalanan pulang Yudha bertemu dengan sosok Alya yang baru saja masuk ke dalam mobil milik Vino dari depan rumah besar yang Yudha yakini ini adalah rumah Alya. Melihat itu Yudha seketika menjadi down dan galau kembali ia pun memutuskan untuk melanjukan kendaraan motornya dengan kecepatan cepat agar segera tiba di rumah kosanya. Ferry yang melihat Yudha datang dengan wajah dan aura yang kalut sontak hanya bisa menunggu emosi Yudha reda baru ia akan menanyakan hal apa yang sudah terjadi. Tak di sangka Ferry yang mau ke kamar Yudha malah terkejut akan suara ketukan pintu di kamarnya yang di ketuk oleh Yudha. "Ferry, aku ingin membicarakan sesutu tentang bisnis." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry setelah Ferry membuka pintu kamarnya itu. "Bisa aja, yuk masuk ngobrol di dalam sekaligus aku ingin menunjukan sesutu pada mu.. Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu mempersilahkan Yudha untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah Yudha masuk ke dalam kamar Ferry kini Ferry pun segera duduk di kursi kecil sepasang dengan kursi yang sedang di duduki oleh Yudha itu. "Jadi apa yang mau kita bahas kali ini, Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Aku mau membahas dari awal tentang mulainya berbisnis! Aku ingin mempelajari semuanya." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap intens ke arah Ferry. "Tapi, ngomong-ngomong kenapa kau sangat ahli berbisnis Ferry? Bukanya jurusan mu adalah kedokteran?" Tanya Yudha kembali dengan wajah penasaranya itu. "Aku sedari kecil memang suka berbisnis Yudha, tapi kedua orang tua ku menginginkan ku menjadi seorang Dokter yang hebat! Mereka tidak mau melihat ku menjadi seorang pebisnis, itulah alasan ku tak mau begitu memajukan usaha ku selama ini.. aku tidak mau mereka mengetahuinya kalau aku malah terjun ke dunia bisnis dan menghiraukan kuliah kedokteran ku." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Kenapa mereka tak mau kalau kau menjadi pebisnis, Ferry?" Tanya Yudha cepat dengan wajah tak mengertinya itu. "Karna kedua Kakak ku tersandung khasus penggelapan dana perusahan keluarga kami sendiri dan membuat nama keluarga baik ku menjadi sirna, Ayah waktu itu marah besar dan sangat membenci bisnis karna ulah memalukan kedua Kakak ku itu yang malah mengkorupsi uang perusahaan untuk bisnis yang mereka dirikan sendiri." Ucap Ferry cepat dengan wajah tertunduk sendunya itu. "Aku terkadang bingung, Yudha.. aku sangat suka berbisnis namun semua itu tidak dapat aku lakukan sebab Ayah sangat membenci itu dan aku tak mampu melawan ucapan Ayah, karna itu aku diam-diam membuka usaha sendiri tampa ada satu pun keluarga ku yang mengetahuinya." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu. "Lalu bagaimana dengan mu? Yudha, apa alasan mu ingin berbisnis?" Tanya Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Aku ingin kaya! Aku ingin mempunyai banyak uang." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. Ferry yang mendengarkan ucapan Yudha itu sontak tertawa geli dan membuat Yudha merasa sedikit malu. "Kau ingin kaya? Dalam bisnis yang baru saja mau di mulai, Yudha?" Tanya Ferry cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Ya, aku ingin mempunyai banyak uang agar aku bisa melakukan hal yang belum bisa aku lakukan saat ini." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. "Apa ini bersangkutan dengan Alya, Yudha?" Tanya Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. Yudha tak bisa menjawab pertanyaan dari Ferry itu sontak saja membuat Ferry menarik kesimpulan sendiri bahwa memang tekat untuk mendapatkan uang banyak ini adalah dari Yudha yang merasa tak sebanding dengan Alya. "Yudha, kalau kau serius dan mau mendapatkan keuntungan.. kau benar-benar harus berkerja keras! Sebab tak ada yang instan di dunia ini." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Aku akan berusaha! Aku pasti bisa." Ucap Yudha cepat dengan wajah serius dan penuh rasa percaya dirinya itu. "Oke, kalau begitu bisnis apa yang ingin kau jalankan? Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu. "Toko laundry!" Jawab Yudha sigap dengan penuh percaya diri itu. "Apa? Toko laundry?" Tanya Ferry kembali dengan wajah terkejutnya itu. "Ya! Aku ingin membuka bisnis itu karna jika di lihat belakangan ini orang-orang suka sekali malas mencuci baju mereka dan beberapa barang lainnya juga karna itu aku ingin membuka bisnis itu di Jakarta dimana orang-orang sibuk dengan perkerjaan mereka dan itu semua adalah peluang usaha yang besar bukan?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Kau benar, Yudha! Bagaimana bisa selama ini aku tak memikirkan hal itu? Semangat! Aku yakin kau pasti akan sukses, firasat ku selalu benar dan tak pernah salah." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Pertama-tama kita akan mencari tempat yang strategis! Dan aku juga akan mencarikan mesih pencuci baju yang harganya murah namun kualitasnya bagus untuk mu, Yudha!" Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Aku sudah mendapatkan mesin pencuci bajunya, Ferry dan rukonya.. aku hanya membutuhkan arahan tentang bisnis dari mu dan aku ingin meminjam sejumlah uang untuk bisa memulai bisnis ini." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Ohh sudah dapat ya? Kalau begitu mari kita siapkan kontraknya! Dan ayo kita buat kontrak kerja samanya." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha sembari mulai mengetik susunan kalimat kontrak kerja samanya dengan Yudha itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD