IL. 28

2619 Words
Yudha, Agas dan Ferry pun pulang ke rumah kosannya mereka yang mana setelah sesampai di rumah Yudha segera berjalan ke arah kamarnya untuk bersiap-siap berangkat kuliah. Tok.. tok.. tok.. terdengar suara ketukan pintu kamar yang mana membuat Yudha dengan cepat segera membukakan pintu kamarnya itu, dan ternyata sosok Ferry lah yang mengetuk pintu kamarnya tadi. "Ada apa, Ferry." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Aku memiliki sebuah informasi yang penting! Aku menemukan sebuah ruko yang lumayan murah, di tempat yang strategis dan bagus untuk usaha mu juga." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Ehh, beneran?" Tanya Yudha cepat dengan wajah kaget bahagianya itu. "Yaps! Dan kau tau, biaya ruko itu murah." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Apa kau punya waktu hari ini untuk melihat ruko itu?" Tanya Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu. "Hari ini aku tak ada waktu luang yang lama, kalau besok mungkin aku bisa melihat ruko itu." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Ohh, oke.. kalau begitu besok saja lihat ruko itu." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. Yudha segera menganggukan kepalanya setuju lalu pandangan Yudha tertuju pada tangan Ferry yang kini sedang membawa kresek besar berwarna putih yang banyak sekali isi di dalamnya. "Apa isi keresek itu?" Tanya Yudha cepat dengan wajah penasarannya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Ohh ini, isinya kue-kue kering udah ngga terjual tapi masih enak dan aku sengaja membawanya kesini untuk jadi stok makanan kita." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu memperlihatkan kue-kue kering itu pada Yudha. Yudha seketika mengingat janjinya oada ketiga anak-anak pengamen kecil itu yang mana Yudha segera berkata "Boleh aku membelinya?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Buat apa beli, Yudha? Ini memang aku bawa kesini untuk jadi stok makanan kita." Ucap Ferry cepat merasa bingung pada Yudha yang ingin membeli kue miliknya itu. "Bukan, aku ingin membelinya untuk anak-anak pengamen kecil.. aku teringat kalau aku sudah janji pada mereka untuk datang kesana! Tapi, karna kemarin sibuk aku melupakan janji itu." Ucap Yudha cepat dengan wajah terlihat menyesalnya itu. "Ehh? Kau tau dimana tempat anak-anak itu?" Tanya Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu. "Aku kemarin sempat kerumah mereka, Ferry." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Aku juga ingin kesana," Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Ehh, beneran? Kalau begitu sekarang saja, sebelum kita pergi ke kampus." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. "Oke, kebetulan aku tak memiliki jam kuliah hari ini." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Sip, aku akan segera siap-siap dulu." Ucap Yudha cepat segera mengambil hoodienya yang berwarna coklat muda dan memakainya dengan cepat. "Naik, motor sendiri-sendiri atau boncengn saja?" Ucap Yudha cepat dengan menatap lekat ke arah Yudha. "Naik motor sendiri-sendiri saja." Ucap Ferry cepat, segera melangkah turun ke lantai bawah bersama dengan Yudha. Agas yang baru saja selesai menelepon temanya itu sontak mengalihkan pandangannya ke arah Yudha dan Ferry yang berbarengan menuruni anak tangga dari lantai atas rumahnya itu. "Kalian berdua mau kemana?" Tanya Agas cepat dengan wajah penasaranya itu. "Kami ingin ke rumah pengamen anak-anak kecil yang waktu itu Yudha sempat mampir di rumah mereka." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu segera berjalan menuju ke arah Agas. "Ohh! Aku ikut," Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Ferry. "Ayo, mau naik motor bareng atau sendiri Agas?" Tanya Yudha cepat dengan menatap lekat ke arah Yudha. "Bareng kamu aja, Dha.. lagi males bawa motor sendiri." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Oke, ayo." Ucap Yudha cepat segera berjalan ke luar rumah berbarengan bersama-sama. Dari rumah kosan memakan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di rumah ketiga anak mengamen itu yang mana baru saja Yudha tiba disana sosok Tirta anak terakhir di rumah itu segera berlari menuju ke arah Yudha dan memeluk kaki panjang Yudha dengan cepat. "Kak Yudha," Ucap Tirta cepat dengan penuh semangatnya itu. "Tirta, dimana kakak-kakak mu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Di dalam rumah, sedang masak." Ucap Tirta anak termuda di rumah itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Ohh begitu ya, kalau begitu boleh Kakak ajak teman-temanya Kakak ini masuk ke dalam rumah mu Tirta." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Boleh, Ka Yasril dan Kak Dendy lagi masak bakwan dan nasi goreng.. rasanya enak tau." Ucap Tirta cepat segera menarik lengan tangan Yudha untuk berjalan mengikuti langkah kakinya masuk ke dalam rumah. Yudha pun segera mengajak masuk Agas dan Ferry ke dalam rumah itu, dan benar saja kedua anak yang lebih besar dari Tirta sedang sibuk memasak dengan kompor kecil milik mereka bertiga. "Ini rumah?" Ucapan Ferry seketika lolos begitu saja saat melihat bangunan rumah tua milik ketiga anak pengamen itu sangat memperhatikan. "Sttt, anak kedua Dendy sangat sensitif jadi sebisa mungkin jangan mengatakan apa pun yang membuat hati mereka terluka." Ucap Yudha pelan seperti berbisik kecil pada Ferry dan Agas. "Oke, sip! Maaf tadi keceplosan." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum canggungnya itu merasa tak enak pada Yudha dan ketiga anak pengamen itu. "Kakak Yasril, Kakak Dendy.. sini, Kakak Yudha dan teman-temanya datang untuk main disini." Ucap anak bernama Tirta itu cepat dengan wajah tersenyum cerianya itu. "Ehh, Kak Yudha.. senang rasanya bisa bertemu dengan Kakak Yudha lagi." Ucap Yasril cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Iya, maaf Kakak tidak sempat datang kesini kemarin karna kemarin Kakak sangat sibuk sekali." Ucap Yudha cepat dengan wajah tak enak hatinya itu oada Yasril dan kedua adiknya. "Iya, Kak Yudha.. Yasril tau Kakak pasti orang yang sibuk." Ucap Yasril cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Kakak Yasril, ini bakwanya sudah matang." Ucap anak kedua bernama Dendy dengan cepat yang mana membuat Yasril segera berjalan kembali ke arah dapur. Beberapa menit berlalu saat Yudha, Agas, dan Ferry kini sedang duduk di ruang tengah lebih tepatnya ruangan yang kosong akan barang-barang rumah. Yasril dan Dendy pun segera menghidangkan beberapa bakwan hasil gorengan mereka pada Yudha dan teman-temanya. "Maaf, suguhan bertemunya cuma bakwan ini saja." Ucap Yasril cepat dengan wajah tak enak hatinya itu pada Yudha dan teman-temanya. "Ohh, ngga apa-apa.. kami kesini hanya ingin berkenalan dengan kalian bertiga saja." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu pada Yasril, Dendy dan Tirta. "Kalian bersekolah dimana?" Tanya Ferry cepat karna jujur saat pertama kali ia melihat Yasril dan Dendy seharusnya mereka berdua sedang berada di bangku Sd untuk saat ini. Yasril dan Dendy sontak saling memandang satu sama lainya yang mana membuat Yudha segera menjawab pertanyan dari Ferry itu. "Mereka putus sekolah sudah setahun yang lalu, Ferry.. karna Ibu mereka meninggalkan mereka bertiga di rumah ini setelah Ayah mereka tiada." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap kasihan pada Yasril dan adik-adiknya. "Jahat, sekali." Gumam Agas lirih dengan wajah syok karna terkejutnya itu. "Miris." Gumam Ferry lirih dengan wajah tertunduk sendunya itu. "Jadi kau lah Yasril, anak pertama sekaligus kepala rumah tangga di rumah ini?" Tanya Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap sendu ke arah Yasril dan kedua adiknya itu. "Iya, Kak." Ucap Yasril cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Yasril, harus sekolah! Untuk bisa berkerja di tempat yang nyaman dan dapat membiayai kedua adik Yasril!" Aku Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yasril. "Ehh, Yasril ngga punya uang Kak.. lagi pula jika Yasril lanjut sekolah siapa yang akan mencari uang untuk kami bertiga." Ucap Yasril cepat dengan wajah tertunduk sendunya itu. "Aku akan menyekolahkan kalian bertiga." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Aku juga akan membiayai hidup kalian bertiga." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah ketiga anak pengamen yang telah di tinggal oleh kedua orang tuanya itu. "Dan aku juga akan membantu membiayai sekolah dan kebutuhan kalian bertiga." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Ehh, yang benar Kak? Kami akan sekolah kembali tampa perlu memikirkan tentang biaya hidup dan uang?" Tanya Dendy cepat dengan wajah yang terlihat terkejutnya itu. "Benar, Dendy.. kami bertiga telah sepakat membantu sekolah dan membiayai hidup kalian bertiga hingga beranjak dewasa dan cukup mampu untuk mencari perkerjaan di dunia ini." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Terimakasih bayak, Kak Yudha, Kak Agas, dan Kak Ferry, kami benar-benar merasa bersyukur atas bantuan yang akan kalian berikan pada kami bertiga." Ucap Yasril cepat dengan tangis haru yang keluar dari kedua matanya begitu saja yang diikuti oleh Dendy dan Tirta yang ikut menangis. "Ehh, kalian jangan menangis! Kami merasa tak enak hati jika kalian menangis seperti ini, jadi laki-laki itu harus kuat! Jadi jangan menangis ya, kalian harus kuat untuk menjaga diri kalian bertiga." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu seger memeluk ketiga anak kecil itu dengan erat yang kini sedang menangis karna merasa bersyukur dan terharu. Beberapa menit kemudian, Yudha, Agas, dan Ferry kembali pulang ke rumah kosannya mereka bertiga yang mana mereka bertiga pulang dengan sangat ribut karna harus mempersiapkan beberapa macam hal untuk membiayai dan menyekolahkan ketiga anak kecil itu. "Menurut mu sekolah Sd mana yang akan bagus untuk mereka bertiga?" Ucap Agas cepat dengan wajah bingungnya itu. "Yang dekat saja, biar mereka bertiga bisa pulang ke rumah dengan cepat." Timpal Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. "Setuju! Dan aku mulai sekarang harus belanja dua kali lipat untuk kebutuhan kita di sini dan untuk ketiga anak itu." Ucap Ferry cepat segera langsung memeriksa beberapa makanan yang di sukai oleh anak-anak di Google. Agas yanh secara tak sengaja melihat ke arah jam dinding sontak saja berkata "Dha, bukanya jam 11 siang kamu ada kelas ya?" Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu. "Iya, memangnya kenapa?" Tanya Yudha cepat merasa biasa saja karna kinj ia sedang mereview sekolah-sekolah yang terbaik di sekitaran tempat tinggal Yasril dan adik-adiknya itu. "Ini sudah jam setengah 11, Dha! Kamu bisa telat." Ucap Agas cepat dengan wajah khawatirnya itu. Yudha dengan cepat segera bangkit dari duduknya di sofa dan segera berlari menuju ke anak tangga dan ke arah kamarnya itu untuk mengambil tas kuliah dan mengganti pakaiannya itu "Ohh tidak! Aku harus berangkat sekarang." Ucap Yudha cepat dengan wajah paniknya itu. Beberapa saat kemudian setelah Yudha selesai merapihkan dirinya dan membawa tas kuliahnya Yudha segera berjalan turun ke lantai bahwa dan menuju ke arah motor metic untuk ia kendarai menju ke kampus itu. Yudha mengendarai motornya dengan kecepatan sedang walau saat ini ia sedang terburu-buru namun Yudha tak mau mengambil resiko yang tinggi hanya karna ia ingin segera sampai di kampus dan agar tak telat masuk jam mata kuliahnya itu. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit agar Yudha sampai di kampusnya itu, sesudah Yudha sampai ia pun segera memakaikan motornya dengan rapi terlebih dahulu sebelum berlarian masuk menuju ke ruang kelasnya itu. Baru saja Yudha sampai di ruangab kelasnya sosok dosen pria bertubuh tinggi namun sedikit kurus itu kink menatap lekat ke arah Yudha. "Siapa nama mu, kenapa telat?" Tanya dosen pria itu cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Saya Yudha, Pak." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk bersalahnya itu karna sudah telat akan jam masuk kuliahnya. "Kamu tau kamu sekarang sudah telat masuk? Sekarang keluar dari berdiri di depan pintu masuk ruangan ini sampai jam pelajaran saya selesai!" Ucap Pak dosen itu cepat dengan sedikit meneriaki Yudha. "Baik, Pak." Ucap Yudha cepat segera berjalan ke luar ruangan kembali akibat hukuman yang harus ia terima itu. Yudha menghela napasnya dengan begitu berat kini ia terpaksa harus mendengarkan materi pelajaran dari luar ruangan yang mana membuat Yudha sangat kesusahan untuk mendengarkan materi yang di sampaikan oleh sang dosen itu. Disela-sela Yudha yang tengah serius mendengarkan ucapan sang dosen kini malah Alya datang ke arahnya dengan tatapan imutnya itu ke arah Yudha yang mana membuat Yudha kebingungan dan langsung menundukkan wajahnya ke bawah menatap lantai. Alya terlihat seperti sedang mengendap-endap agar tak ketahuan oleh dosen yang sedang menghukum Yudha, karna kini Alya akan menemani Yudha untuk berdiri di luar ruangan kelas. "Alya, sedang apa kamu disini?" Tanya Yudha cepat dengan wajah bingungnya itu. "Menemani mu," Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. Yudha menghela napasnya dengan berat lalu ia segera berkata "Alya, nanti kau akan ketahuan! Aku tak ingin kau kena masalah karna ini." Ucap Yudha cepat dengan wajah khawatirnya itu. "Tidak akan! Aku akan tetap menemani mu disini, Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Alya," Gumam Yudha cepat namun ucapannya terhenti saat sang dosen pria itu berkata dan menegur Yudha itu. "Ada apa di luar! Kenapa kau berisik sekali, Yudha?" Tegur sang dosen pria itu cepat dengan nada suara marahnya itu. "Tidak ada, Pak.. maaf, saya akan berusaha tidak berisik." Ucap Yudha cepat dengan nada suara bersalahnya itu. Tatapan Yudha seketika mengarah pada Alya dan Yudha pun berkata "Alya, pergilah.. aku tak ingin kau mendapatkan masalah." Ucap Yudha pelan dengan wajah khawatirnya itu. "Aku itu pintar besembunyi Yudha, kau tenang saja." Ucap Alya pelan dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Aku lagi tak ada kelas, dan aku ingin menemani mu disini." Ucap Alya kembali dengan wajah tersenyum kecilnya itu. Yudha menundukan pandangan ke bawah menatap lantai lalu Yudha kembali berkata "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini semua, Alya? Apa untungnya untuk mu terus dekat dengan orang yang tak sesempurna diri ku ini." Ucap Yudha pelan dengan wajah terlihat sedihnya itu. "Kenapa kau berkata seperti itu, Yudha?" Tanya Alya balik dengan wajah tak mengertinya itu akan pertanyaan Yudha itu. "Tidak, hanya saja.. aku ini bukan orang kaya dan aku tak sempurna alias banyak kekurangan! Kenapa kau mau berteman dengan ku?" Tanya Yudha cepat dengan wajah terlihat sedihnya itu saat mengingat kembali moment dimana Yudha melihat wakah kebahagiaan Alya saat menerima gelang kaki emas dari Vino. "Ahh, aku lupa ternyata aku yang duluan mengajak mu berteman ya? Kalau begitu bagaimana kalau kita hentikan saja pertemanan kita ini." Ucap Yudha kembali dengan wajah sedihnya itu. Alya tertawa kecil lalu ia berkata "Yudha, stop membuat lelucon seperti itu! Aku akan tetap disini dana menemani mu." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Lelucon? Aku tak sedang membuat mu terawa, Alya! Sejak awal aku ingin berkenalan dengan mu karna menurut ku kau adalah wanita yang sedikit menarik perhatian ku! Namun ternyata tidak, kau sama saja dengan wanita yang lain." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu menatap mengejek ke arah Alya. Plak.. satu tamparan mendarat dengan cepat di pipi kiri Yudha dengan cukup keras dan terasa sakit, Alya lah yang melayangkan tamparan itu pada Yudha. "Kau ini kenapa si, Yudha? Kenapa kau mengatakan hak-hal tak berguna seperti itu? Aku benar-benar tak mengerti, kalau kau ingin memutuskan pertemanan kita tinggal bilang saja! Jangan banyak alasan tentang diri mu yang tak sempurna! Kau pikir aku akan merasa bahagia akan kata-kata pemutus pertemanan kita itu." Ucap Alya cepat terlihat sedih dan kesal akan ucapan Yudha yang baru saja ia dengar itu. "Ya, aku memang ingin memutuskan hubungan pertemanan kita! Menurut ku kau tak begitu menarik lagi." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Alya. "Tak menarik? Kau benar-benar jahat, Yudha! Aku membenci mu." Ucap Alya cepat dengan wajah sedihnya itu menatap lekat ke arah Yudha, Alya pun segera berjalan ke lain arah menjauh dari Yudha. Akibat keributan antara Yudha dan Alya tadi seketika membuat dosen pria di dalam ruangan kelas itu marah dan berjalan ke luar sembari berbicara pada Yudha "Sudah, Bapak bilang jangan berisik! Ayo ikut Bapak ke ruangan sekarang." Ucap Pak dosen itu cepat dengan wajah marahnya itu. "Baik, Pak." Ucap Yudha cepat mengiyakan ucapan Bapak-bapak dosen itu dengan patuh. "Lebih baik kau membenci ku, Alya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk sedihnya itu segera berjalan menuju ke ruangan sang dosen pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD