IL. 27

1623 Words
Beberapa menit setelah sapaan itu terjadi keheningan antara Yudha dan Alya yang kini duduk bersebelahan dalam satu bangku yang terbuat dari kayu itu sontak saja membuat Alya terlebih dahulu membuka suaranya dan bertanya pada Yudha "Sudah selesai mata kuliahnya? Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Mm, sudah." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk kikuknya itu. "Apa kau selalu seperti ini, Yudha?" Tanya Alya cepat dengan wajah penasaran itu menatap lekat ke arah Yudha. "Maksudnya seperti ini? Itu apa." Tanya Yudha balik dengan wajah bingungnya itu. "Malu-malu, kau bahkan jika bicara dengan ku sangat jarang sekali menatap mata ku.. apa ini memang sifat mu sejak kecil?" Tanya Alya cepat bertambah penasaran pada sosok Yudha yang baru kali ia temui itu. "Ah, itu.. itu karna," Ucapan Yudha terhenti seketika saat Alya kembali berucap. "Karna aku cantik? Dan kau merasa berdebar jika menatap wajah ku?" Ucap Alya spontan dengan tawa kecilnya itu yang mana semakin membuat kesehatan jantung Yudha melemah dan ingin menyerah. "Benar, seperti itu." Ucap Yudha jujur dengan wajah tersipu malunya sendiri. Mendengar jawaban Yudha yang mengiyakan ucapan itu sontak saja Alya tambah tertawa kecil dan tersenyum lebar ke arah Yudha merasa gemas akan sikap Yudha yang terlalu jujur dan apa adanya itu. Tak berapa lama langkah kaki seseorang pria berjalan mendekati Alya dan Yudha, dan tentunya itu adalah Vino. "Hai, Alya dan Yudha." Ucap Vino cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu saat melihat ke arah Alya. "Hai, Vino.. sudah menyelesaikan hukumannya?" Tanya Alya cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu menatap lekat ke arah Vino. "Urgh! Menyebalkan sekali harus membersihkan toilet pria selama seminggu kedepan." Ucap Vino cepat dengan wajah yang seperti ingin muntahnya itu. "Kan sudah ku bilang, Vino.. jangan telat terus! Masih untung kau hanya membersihkan toilet bagaimana jika kau juga harus membersihkan koridor kampus!" Ucap Alya cepat memarahi Vino dan kebiasaan telatnya itu. "Hehehe, maaf.. lagi kan aku ada acara keluarga semalam jadi alhasil aku bangun ke siangan deh." Ucap Vino berkelit dengan menggaruk dahinya yang tak gatal itu merasa suka di ceramahi oleh Alya. "Eh, kau ingin kemana? Yudha." Ucap Vino cepat saat melihat Yudha yang ingin bangkit dari duduknya di samping Alya itu. "Jangan bilang kau ingin pergi dari kita berdua lagi seperti kemarin? Kau kemarin kan pergi begitu saja di saat kita berdua sedang asik mengobrol berdua saja." Ucap Vino kembali dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku urus dan lagi ini sudah mendekati jam kerja ku, jadi aku harus segera pulang dan berangkat kerja." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Ohh, kau sudah berkerja? Wah, di kantor mana? Yudha." Tanya Vino cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu menatap penasaran ke arah Yudha. "Bukan di kantor, lebih tepatnya di restoran." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Ohh, restoran.. kalau begitu semangat bekerjanya!" Ucap Vino cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Hahaha, iya.. kalau begitu aku pamit pergi ya Alya, Vino." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyumnya itu segera melangkah menjauh dari taman itu. Namun suara Alya berteriak tiba-tiba saja membuat Yudha yang sudah lumayan melangkah menjauh pub akhirnya menengok ke arah Alya dan Vino. Deg.. seketika Yudha merasa tak ada artinya apa pun di bandingkan dengan Vino. "Wah, terimakasih ya Vino." Ucap Alya cepat dengan wajah senang itu. "Sama-sama, coba di pakai dulu gelangnya Alya." Ucap Vino cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu setelah memberikan gelang kaki berwarna emas pada Alya. Ucapan mereka berdua sangat terdengar oleh pendengaran Yudha yang mana semakin membuat Yudha down dan ingin menyerah untuk mendapatkan Alya. "Kau sejak awal harusnya sadar diri, Yudha! Kau hanya anak kampung yang tak memiliki uang atau apa pun itu! Bagaimana bisa kau berpikiran untuk mencintai seorang wanita sesempurna, Alya." Ucap Yudha lirih dengan tersenyum mirisnya pada dirinya sendiri itu. "Lebih baik Alya bersama dengan Vino saja dari pada dirimu yang penuh dengan kekurangan ini, Yudha." Gumam Yudha lirih dengan wajah tertunduk sendunya itu segera berjalan pergi menuju ke pakiran motornya itu. Di restoran Yudha hanya terdiam dan tersenyum saja pada para pengunjung restoran selepas itu Yudha hanya terdiam dalam lamunannya sampai jam kerja usai, pukul 22:00 WIB Yudha baru pulang dari restoran tempat kerjanya itu. Dan begitu juga saat Yudha sampai di kosannya ia hanya terdiam dan langsung masuk ke dalam kamarnya tampa mengatakan satu kata pun pada Agas dan Ferry. "Ada apa dengan, Yudha?" Tanya Agas cepat merasa aneh melihat tingkah Yudha yang hanya diam tak seperti biasanya itu. "Entahlah, mungkin lagi capek kali." Ucap Ferry cepat dengan wajah datarnya itu saat memikirkan kalau Yudha memang baru saja pulang kerja dari restoran itu. "Kalau kata aku Yudha lagi galau karna, Alya." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Hah, kenapa Alya? Bukanya hubungan Yudha dan Alya baik-baik aja deh." Ucap Ferry epat dengan wajah bingungnya itu. "Yudha, itu orang yang perkerja keras sekali pun ia merasa capek dia ngga mungkin mengabaikan kita seperti ini.. hanya satu hal yang membuat Yudha bisa seperti ini yaitu karna, Alya! Secara Yudha baru pertama kali merasakan yang namanya jatuh cinta dan itu sama, Alya." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu berusaha menebak apa yang kini ada di pikiran Yudha. "Benar juga ya? Apa Yudha dan Alya sekarang semakin menjauh?" Tanya Ferry cepat dengan wajah penasarannya itu. "Coba kita tanyakan saja!" Ucap Agas cepat ingin segera berjalan ke arah tangga namun segera di cegah oleh Ferry. "Ngga baik kita langsung todong Yudha dengan pertanyaan seperti itu, besok saja ini juga sudah malam." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Ah, benar juga ya! Kalau begitu besok pagi saja." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Jangan selepas sholat subuh!" Ucap Ferry kembali dengan wajah seriusnya itu memperingatkan Agas yang memang orang yang super penasaran akan suatu hal. Agas tersenyum kecil lalu ia berkata "Bagaimana kau tau aku akan menanyai Yudha setelah sholat subuh?" Tanya Agas cepat dengan menggaruk dahinya yang tak gatal itu. "Entalah, aku langsung terpikirkan saja tentang hal itu." Ucap Ferry cepat dengan wajah datarnya itu. "Ah, begitu ya? Hahaha." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. Sementara itu di dalam kamar Yudha hanya terdiam memandangi atap kamarnya itu, rasanya ia benar-benar merasa sunyi dan kosong. Suara telepon di ponsel Yudha pun berbunyi yang mana panggilan telepon itu dari Ayah dan Ibunya di kampung. "Assalamualaikum," Ucap suara Ibu Yudha kini terdengar di telinga Yudha. "Waalaikumsalam," Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Bagaimana kabar mu, nak." Tanya sang Ibu Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Alhamdulilah baik, Bu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyumnya itu. "Ibu dan Ayah, bagaimana kabarnya?" Tanya Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. Kini suasana hati Yudha mulai kembali menghangat tak lagi terasa kosong dan sepi kembali berkat telepon sang Ibunya itu. Malam hari terlewati begitu saja dengan ucapan selamat malam dari Ayah dan Ibunya untuk Yudha. Pukul 04:10 WIB, kini Agas sudah berjalan menuju ke kamar Yudha berniat hati ingin membangunkan Yudha seperti biasanya namun alangkah terkejutnya saat Agas membuka pintu kamar Yudha justru sudah rapi dengan bajunya, sarung, dan peci yang dan siap untuk berangkat ke musholla. "Ehh, udah bangun Dha?" Tanya Agas cepat dengan wajah yang sedikit terkejutnya itu. "Udah dari tadi, Agas.. ayo kita ke musholla." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu ke arah Agas. "Ayo," Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. Mereka bertiga sontak berjalan ke arah musholla depan jalan sana dengan cepat, dan di sepanjang perjalanan terasa bagi Agas dan Ferry bahwa suasana hati Yudha telah membaik. "Dha, kamu jadi imam lagi? Subuh ini." Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Sepertinya begitu, Bapak-bapak yang suka jadi imam yang sepertinya hari ini juga ngga bisa sholat subuh berjamaah di musholla ini." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Nak Yudha, tolong jadi imam lagi ya subuh ini." Ucap seorang Bapak-bapak penjaga musholla itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Baik, Pak." Jawab Yudha sigap dengan wajah tersenyum kecilnya itu dan segera mengambil posisi imam di musholla untuk sebentar lagi Yudha mengkumandangkan azan. Setelah sholat subuh kini Yudha, Agas dan Ferry segera berjalan pulang kembali ke rumah kosannya mereka bertiga yang mana di sepanjang jalan mereka bertiga saling melemparkan candaan yang mana membuat mereka bertiga tertawa bersama-sama. "Dha, gimana hubungan mu dengan Alya?" Tanya Agas spontan yang mana membuat Ferry segera menepuk pundak Agas dengan cukup keras. "Ehh, kenapa si Ferry?" Tanya Agas cepat dengan wajah bingungnya itu. Bukan Ferry yang berbicara melainkan Yudha yang dengan cepat menjawab pertanyaan dari Agas itu "Kami berteman dengan baik." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Berteman? Masih teman?" Tanya Agas cepat dengan wajah terkejutnya itu. "Ya, memang apa lagi?" Tanya Yudha balik dengan senyuman kecilnya itu yang mana membuat Agas dan Ferry yakin bahwa Yudha sedang tak baik-baik saja. "Gimana kalau kita ke restoran mu, selepas pulang kuliah nanti?" Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Kok tiba-tiba ke restoran si, Ferry?" Tanya Agas cepat dengan wajah bingungnya itu. "Ngga apa-apa, lagi mau aja makan sushi." Ucap Ferry gamblang dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Dih, makanan doang yang kamu pikirin? Ferry.. teman kita ini lagi membutuhkan bantuan kita." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Sudah-sudah jangan bertengkar, kalau kau mau ke restoran hubungi aku dulu ya Ferry.. aku akan memberikan mu kupon gratisan 20 persen jika makan disana." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Oke, sip! kupon gratisan." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Ehh, aku mau juga dong Dha, kupon gratisannya! Ya." Rengek Agas cepat yang juga mengingkan kupon gratisan itu. "Hahaha, iya.. Agas." Ucap Yudha cepat dengan tawa kecilnya itu, Ferry pun ikut menertawakan Agas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD