IL. 35

2120 Words
Yudha segera berjalan pulang menuju ke arah rumah kosanya itu, Agas dan Ferry yang sebelumnya sudah pulang duluan membuat Yudha kini hanya berjalan seorang diri menuju ke arah kosan. Sesampainya di kosan Yudha segera berjalan ke arah kamarnya, karna masih banyak tugas kuliah yang belum ia selesaikan membuat Yudha tak bisa berleha-leha dan menunda-nunda lagi tugas kuliahnya itu. Sudah dua jam berlalu dari saat Yudha telah selesai mengerjakan tugasnya itu, kini Yudha yang sudah merasa lelah dan letih pun memilih untuk istirahat dan memejamkan kedua matanya dengan cepat hingga beberapa menit lalu satu ketukan pintu kamarnya membuat Yudha seketika membuka kedua matanya dengan cepat dan segera melihat ke arah pintu kamarnya itu. "Agas," Ucap Yudha cepat saat melihat sosok Agas tengah berdiri di ambang pintu masuk kamarnya itu. "Dha, gawat!" Ucap Agas cepat dengan wajah terlihat paniknya itu. "Ada apa, Agas? Apakah ada sesuatu yang darurat sedang terjadi." Ucap Yudha cepat dengan segera bangkit dari duduknya di kursi itu. "Ya! Rumah Yasril dan adik-adiknya itu baru saja roboh bagian belakang." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Apa? Terus bagaimana keadaan mereka bertiga?" Tanya Yudha cepat dengan wajah paniknya itu. "Mereka baik-baik saja karna sempat ke luar dari rumah sebelum rumah itu roboh, Dha.. ayo kita kesana sekarang." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Oke, Ayo." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu segera berjalan ke arah luar kamarnya itu dengan bergegas melangkah menuju ke arah pintu rumah kosannya itu. Saat Yudha dan Agas ingin berjalan ke luar rumah kosan mereka kini bertepatan dengan datangnya Ferry yang baru saja kembali setelah selesai mengecek toko-toko bisnisnya sendiri itu. "Kalian mau kemana?" Tanya Ferry cepat dengan wajah bingungnya itu saat melihat Agas yang sedang mengunci pintu masuk kosan. "Rumah Yasril dan adik-adiknya roboh! Aku dan Agas ingin pergi kesana sekarang." Ucap Yudha dengan cepat dan menjawab pertanyaan Ferry itu dengan sigap. "Roboh? Kalau begitu aku juga akan kesana." Ucap Ferry cepat dengan wajah terkejut dan terlihat paniknya itu. Mereka bertiga pun segera melanjukan motornya ke arah rumah Yasril memakan waktu hampir 20 menit kini Yudha dan teman-temanya sudah sampai di rumah Yasril dan adik-adiknya itu. Dan benar saja bangunan rumah tua itu telah roboh sebagian yang mana membuat Yudha, Agas dan Ferry menatap nanar ke arah bangunan rumah tua itu. Di halaman depan yang berukuran kecil kini ketiga anak kecil itu terduduk di tanah tampa alas sedang melihat ke arah rumah mereka yang kini sebagian telah roboh itu. "Yasril, Dendy, Tirta." Panggil Yudha cepat dengan wajah sedihnya itu menatap ke arah ketiga anak kecil yang kini sedang duduk di tanah tampa alas satu pun. "Kak Yudha," Ucap Tirta anak paling terakhir itu cepat dengan segera menghampiri Yudha dan memeluk Yudha dengan erat sambil terisak tangis itu. "Ngga apa-apa, Tirta.. Kakak sudah ada disini." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya memeluk tubuh kecil Tirta kembali agar membuat Tirta tenang dan berhenti menangis. "Bagaimana bisa rumah kalian roboh? Yasril." Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yasril anak tertua di antara Dendy dan Tirta. "Yasril, juga ngga tau Kak Agas.. rumah roboh dengan tiba-tiba." Ucap Yasril cepat menjawab pertanyaan dari Agas itu. "Yang penting kalian bertiga ngga luka, masalah rumah roboh kita pikirkan nanti dulu." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. "Benar, dan mari kita bahu membahu mengeluarkan barang-barang yang kalian perlukan dari rumah itu." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Agas. "Iya, barang-barang sekolah kalian sangat di perlukan saat ini.. kita harus keluarkan segera sebelum rumah ini roboh lagi." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu. "Baiklah, ayo kita keluarkan barang-barang di dalam Agas, Ferry." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya segera mengajak Agas dan Ferry untuk membantunya mengeluarkan barang-barang yang masih bisa di selamatkan dari dalam rumah yang kondisinya sebagian sudah roboh itu. "Kalian bertiga di sini saja, biar Kakak-kakak aja yang mengeluarkan barang-barang kalian." Ucap Yudha memperingatkan saat Yasril dan Dendy ingin membantu Yudha dan teman-temanya itu. "Iya, Kak Yudha." Ucap Yasril cepat dengan wajah sedihnya itu. "Hati-hati, Kakak-kakak semua." Ucap Dendy cepat. Yudha, Agas dan Ferry hanya bisa menganggukan kepalanya dengan cepat tanda mengiyakan ucapan Dendy sebelum mereka memutuskan untuk masuk ke rumah dan mengelurkan barang-barang penting dari dalam rumah itu. Yudha mengeluarkan barang-barang di dalam rumah itu dengan hati-hati, karna takut bangunan rumah akan semakin roboh dan membuat ia dan teman-temanya bisa saja terluka. Setelah sekitar setengah jam berlalu kini Yudha dan kawan-kawannya telah selesai memindahkan semua barang-barangnya di dalam rumah itu untuk mereka bawa dan letakkan di luar rumah. Wajah Yudha yang berkeringat membuat Dendy segera memberikan tisu kepada Yudha dan teman-temanya. "Terimakasih, Kak Yudha, Kak Agas, dan Kak Ferry." Ucap anak kecil bernama Dendy itu cepat dengan wajah seriusnya itu menatap penuh rasa berterimakasih pada Yudha dan teman-temanya. "Sama-sama," Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. Setelah menyelesaikan tugasnya memindahkan barang kini Yudha, Agas, Ferry merasa bingung akan Yasril dan kedua adiknya itu yang akan tinggal dimana karna tak mungkin mereka bertiga dapat tinggal lagi di bangunan rumah tua itu yang sebagian rumahnya sudah roboh seperti itu. "Dimana mereka bertiga bisa tinggal?" Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Ferry. "Yang pasti mereka tidak dapat tinggal disini lagi, apa lagi bangunan rumah tua itu sangat membahayakan mereka bertiga kalau terjadi lagi roboh tambah terduga." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu. "Kalau di kosan aku takut Ibu ku akan datang sewaktu-waktu, dan ia akan memancing amarah lagi jika dia melihat mereka bertiga." Ucap Agas cepat dengan wajah tak enak hatinya itu. "Bagaimana kalau Yasril dan kedua adiknya tinggal di toko laundry saja." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas dan Ferry. "Toko laundry?" Tanya Agas cepat dengan wajah terkejutnya itu. "Ya, luas toko lumayan besar dan ada dua kamar kecil serta ada dapur kecil dan kamar mandi juga.. mereka semantara bisa tinggal disana dulu sebelum kita menemukan rumah untuk mereka." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas dan Ferry. "Benar juga, kita pun dapat mengawasi kegiatan mereka bertiga jika mereka tinggal di toko laundry itu." Ucap Ferry cepat segera setuju akan ucapan Yudha itu. "Aku juga setuju, kalau sekarang kita mencarikan rumah sewa untuk ketiga anak itu aku tak memiliki cukup uang untuk membantu, lebih baik mereka tinggal di toko laundry untuk sesaat." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu. "Kalau begitu sudah di putuskan bahwa mereka akan menempati salah satu ruangan kamar kecil di toko laundry." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas dan Ferry. "Kalau begitu ayo kita bawa mereka dan barang-barang ini pindah ke toko laundry sekarang, aku takut tak bisa mengejar waktu karna jam masuk mata kuliah ku nanti jam sebelas siang." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Agas. "Oke, Ayo." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. Memakan waktu sekitar 10 menit dari jarak rumah Yasril dan adik-adiknya itu untuk sampai di toko laundry milik Yudha. Yudha dan teman-temanya segera membawa dan membereskan semua barang-barang Yasril dan adik-adiknya di salah satu kamar di toko itu. "Semoga kalian betah ya tinggal disini untuk sementara waktu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Iya, Kak Yudha.. tempat ini sudah sangat nyaman dan bersih, kami sangat senang karna dapat memiliki temoat tinggal sebesar ini." Ucap Yasril cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Tempat ini nantinya mau di jadikan sebagai toko laundry, jadi Kakak minta tolong jaga alat-alat ini dan barang-barang ini ya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Baik, Kak Yudha." Ucap Dendy cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Ya, kami akan menjaganya! Tirta, akan jadi Pak satpam yang keren." Ucap Titra cepat dan lantang yang mana membuat Yudha, Agas, dan Ferry tertawa dengan lebarnya itu. Setelah semua tersusun rapih Yudha dan Ferry memutuskan untuk pergi berangkat kuliah sementera itu Agas hari ini tak ada jam mata pelajaran yang mana membuat Agas memutuskan untuk tinggal di toko dan menemani Yasril dan adik-adiknya itu. Selama di perjalanan ke kampus Yudha dan Ferry berangkat memakai motor yang berbeda dan Yudha pun sengaja berangkat duluan karna Ferry ingin ke rumah pacarnya dulu dan berangkat bareng bersama ke kampus. Tak berapa lama kemudian Yudha segera memarkirkan motonya di pakiran motor khusus di kampus, dan siapa yang akan menyangka kalau Alya malah sedari tadi sudah menunggunya disana. "Hai, Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Oh, hai Alya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Sudah lama disini." Tanya Yudha cepat dengan wajah kikuknya itu. "Ya, lumayan." Jawab Alya cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Berarti kau menunggu ku, Alya?" Tanya Yudha cepat dengan wajah bersemu merahnya itu menatap Alya dengan kedua mata berbinarnya itu. "Tidak! Mana mungkin," Jawab Alya cepat segera menyangkal ucapan Yudha itu. Yudha sontak tertawa kecil yang mana semakin membuat wajah Alya bersemu dengan merah itu, tak berapa lama langkah kaki seseorang segera mendekat ke arah Yudha dan Alya. "Sedang apa kalian berdua disini?" Tanya Vino cepat dengan wajah marahnya itu. "Cukup, Vino! Aku tidak mau bertemu dan berbicara dengan mu lagi." Ucap Alya cepat dengan wajah marahnya itu. "Hey, Alya.. aku tak bermaksud memulai pertengkaran lagi, tapi pria di samping mu itu benar-benar membuat ku gerah!apa dia mencoba untuk mendekati mu lagi?" Ucap Vino cepat dengan tatapan kedua mata sinisnya ke arah Yudha. "Jangan menyalahkan Yudha terus, Vino! Aku lah yang menunggu Yudha disini sedari tadi." Ucap Alya cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Vino. "Kau Alya? Kau menunggu Yudha sedari tadi di pakiran motor ini?" Tanya Vino cepat dengan wajah tak percayanya itu. "Iya, iya dan iya Vino! Jadi tolong jangan menyalakan Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Vino. Vino tersenyum getir ia pun segera berkata "Jadi benar kalian berdua itu selingkuh di belakang ku? Dan pria seperti ini yang kau pilih menjadi pengganti diri ku, Alya?" Tanya Vino cepat dengan wajah marahnya itu menatap lekat ke arah Alya. "Kau selalu saja menyimpulkan semuanya semau mu, Vino! Kau tak pernah bertanya pada ku terlebih dahulu! Aku kesini dan menunggu Yudha untuk meminta maaf atas kelakuan dan ucapan mu kemarin padanya! Aku ingin mengajak Yudha makan bersama dengan kita agar tak ada lagi kesalah pahaman di antara kita bertiga! Dan kau dengan mudahnya menyimpulkan kalau aku berselingkuh dengan Yudha hanya karna melihat ku bersama dengan Yudha saja, dimana hati mu? Kenapa kau tak pernah percaya pada ku, Vino." Ucap Alya cepat menumpahkan semua rasa dan perasaan hatinya selama ini yang sedari kemarin ia pendam seorang diri. "Alya, maaf aku tak menyangka kalau kau sudah berbuat banyak untuk mengembalikan hubungan kita ini." Ucap Vino cepat dengan wajah memohonya permintaan maaf dari Alya itu. "Cukup, Vino.. berikan aku waktu." Ucap Alya cepat segera berjalan menjauh dari tempat Yudha dan Vino yang kini sedang berada. Yudha menundukan pandangan ke bawah menatap jalanan pakiran motor sebelum ia kembali menegakkan wajahnya dan menatap ke depan. "Puas?" Ucap Vino cepat dengan wajah marahnya itu menatap tajam ke arah Yudha. Yudha tak ingin menghiraukan Vino ia pun dengan cepat melangkah pergi namun Vino segera menghadang langkah kaki Yudha yang mana membuat kesabaran Yudha teruji. "Tolong, minggir." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Vino. "Lu tuh cuma tukang kasir di restoran Ayah gua! Jadi jangan harap lu bisa dapetin Alya." Ucap Vino cepat dengan nada suara mengancamnya itu. "Kalau aku memang tukang kasir yang tak ada apa-apanya kenapa kau saat ini terlihat panik dan ketakutan seperti ini, Vino? Apa kau takut aku bisa merebut Alya dari mu walau hanya sebagai tukang kasir saja?" Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Vino. "Hahaha, mana mungkin aku terlihat takut pada seorang pria miskin seperti mu? Yang benar saja! Aku berbicara seperti ini agar kau mengerti dan memahami kalau kau tak pantas untuk, Alya." Ucap Vino cepat dengan wajah tersenyum mengejeknya itu ke arah Yudha. "Kalau sekarang aku tak pantas untuk Alya maka aku akan berjuang keras agar menjadi pantas untuk bersamanya! Namun kau malah yang sudah terlihat pantas untuk Alya, kau sendiri yang membuat dirimu terlihat tak pantas buatnya.. aku terkadang meras kasihan pada mu, Vino." Ucap Yudha ketus dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Vino sebelum berjalan menjauh dari Vino setelah mengatakan semua itu. "Sial! Dasar pria miskin tak tau diri! Kita lihat saja, kau akan segera menerima imbasnya karna telah mengibarkan bendera peperangan dengan ku." Ucap Vino cepat menatap lekat ke arah punggung Yudha yang semakin menjauh dari tempatnya berada. "Aku akan membuat mu melihat betapa menyedihkannya dirimu, Yudha!" Ucap Vino cepat dengan mengepalkan kedua tangan kuat-kuat merasa amat marah akan perkataan Yudha tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD