IL. 34

2360 Words
Alya yang tau kalau Yudha ingin menanyakan kenapa ia memangis pun sontak menundukan pandangan ke bawah menatap tanah yang kini tengah menjadi pijakkannya itu. "Yudha, maaf aku tadi tidak bisa datang ke restoran.. kau pasti marah pada ku sekarang, maaf aku telah melewatkan janji ku pada mu untuk dtang ke restoran tepat waktu." Ucap Alya cepat dengan wajah tertunduknya itu. "Kau pasti tadi sempat terkena masalah ya karna aku, Yudha?" Tanya Alya cepat segera menatap ke arah wajah Yudha dengan cepat. Yudha menghela napasnya dengan berat "Tidak ada, aku malah bisa pulang kerja lebih awal." Ucap Yudha cepat menjawab dengan jujur pertanyaan Alya itu. Alya yang mendengar hal itu sontak memukul bahu Yudha dengan cepat dan berkata "Yudha, kau sama sekali tak memiliki perasaan sedih sama sekali." Ucap Alya cepat dengan wajah kesalnya menatap tajam ke arah Yudha. "Mau bagaimana lagi, Alya.. kau bertanya dan aku pun berusaha untuk menjawabnya dengan jujur." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Ck, menyebalkan." Ucap Alya kesal dengan wajah marahnya itu sengaja ia tunjukan ke arah Yudha agar Yudha melihatnya dengan jelas bahwa dirinya kini sedang marah. Yudha yang peka sontak segera mengelus pelan dan lembut puncuk kepala Alya dan berkata "Aku minta maaf Alya, aku salah." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Apa permintaan maaf mu ini juga tentang perkataan mu kemarin? Di depan kelas waktu itu, Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Kalau soal itu tentu saja tidak, Alya.. karna bagi ku kau wajar ingin memaafkan ku atau tidak, ucapan ku waktu itu pasti sangat menyakiti mu.. aku tidak akan meminta maaf karna aku pantas untuk kau benci." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Alya. "Bagaimana bisa di dunia ini ada orang yang ingin di benci oleh orang lain, Yudha? Dan kenapa orang itu adalah diri mu? Apa kau berfikir kalau aku ini wanita yang jahat? Sehingga tidak akan memaafkan mu, Yudha." Ucap Alya cepat panjang kali lebar yang mana membuat Yudha terdiam sesaat. "Aku tak pernah memiliki pikirkan kau adalah wanita yang jahat, Alya.. hanya saja aku tau kalau kesalahan ku waktu itu pantas untuk membuat mu membenci ku." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. "Bagaimana kau tau tentang aku akan membenci siapa dan karna berbuat hal apa, Yudha? Apa perkataan mu waktu itu sudah sengaja kau atur untuk aku supaya membenci mu?" Tanya Alya cepat dengan tatapan menyelidikinya itu menatap lekat ke arah Yudha. Yudha seketika mengalihkan pandangannya ke arah yang lain yang mana semakin membuat Alya lebih mencurinya, Alya pun berkata "Yudha, kau sudah merencanakannya? Maksudnya, kau sengaja membuat ku membenci mu?" Tanya Alya cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Apa maksud mu, Alya.. mana mungkin aku merencanakan hal itu! Sekarang sudah sore lebih baik kita pulang." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Alya sembari bangkit dari duduk di bangku taman itu. "Aku akan tetap disini saja sebelum kau menjawab pertanyaan ku, Yudha." Ucap Alya cepat dengan keras kepalanya itu. "Kau ingin tetap disini? Baiklah kalau begitu, Alya." Ucap Yudha cepat dengan wajah datarnya itu. "Hanya asal kau tau saja, taman bermain akan nampak berbeda di malam hari.. semoga kau tak keberatan jika di sini akan lebih ramai di malam hari, Alya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. Alya sonta bergidik ngeri akan ucapan Yudha itu ia pun segera berkata "Aku mengerti, tolong antarkan aku pulang Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah memohonya itu. "Ayo," Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. Namun siapa sangka saat menuju ke arah pakir motor Yudha kini sosok Vino malah berada di depan pintu masuk taman dan menatap tajam ke arah Yudha yang kini sedang berjalan di samping Alya. "Aku kira kau ingin menenangkan dirimu sendiri setelah kita berantem tadi, Alya.. ternyata ada orang lain yang sengaja kau tunggu di taman ini ya?" Tanya Vino cepat dengan wajah marahnya itu menatap sinis ke arah Yudha. "Ini tak seperti apa yang kau pikirkan, Vino.. aku dan Yudha kebetulan bertemu di taman." Ucap Alya cepat dengan wajah takutnya itu pada Vino. "Halah! Sudah ketahuan selingkuh masih saja menyangkal! Tak ku kira ternyata kau adalah w************n, Alya." Ucap Vino cepat dengan wajah yang menampilkan ekspresi jijiknya itu pada Alya. "Tutup mulut mu, Vino!" Ucap Yudha cepat dengan wajah marahnya itu menatap menantang pada Vino. "Kau yang seharusnya jaga kelakukan mu, Yudha! Kau hanya seorang kasir di restoran milik keluarga ku! Tak sepantasnya kau berselingkuh dengan pasangan tuan mu." Ucap Vino cepat dengan wajah marahnya itu. "Aku dan Alya sama sekali tak berselingkuh! Aku disini hanya merasa khwatir saat melihat Alya menangis seorang diri di taman!" Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Vino. "Ucapan Yudha benar, Vino.. Yudha tadi kesini untuk membuat ku tenang karna menangis sedari tadi." Ucap Alya cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Vino. "Aku tidak bisa percaya! Dan kau Alya, ayo kita pulang bersama sekarang." Ucap Vino cepat segera menarik pergelangan tangan Alya dengan cepat berjalan menjauh dari Yudha. Yudha yang tak bisa dan tak mampu berbuat apa pun sontak hanya bisa menggenggam kedua tanganya dengan kuat-kuat, ia marasa marah pada Vino yang memperlakukan Alya dengan begitu kasar seperti tadi namun apa yang bisa ia lakukan? Yudha hanyalah seorang teman bagi Alya bukan pacar atau pun saudaranya,walau pun Yudha bersih keras ingin mempertahankan Alya ia sekarang ini masih kurang mampu untuk bisa bersanding dengan Alya karna berapa faktor yang tak mendukung. "Bersabarlah Alya, mungkin sesaat lagi aku akan mengambil mu dari tangan Vino! Awalnya aku ingin mencoba mengikhlaskan mu dengan Vino namun saat aku sudah tau watak dan sifatnya yang seperti itu, aku jadi berubah pikiran! Aku akan berjuang lebih keras lagi agar kita akan segera bersama." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat mobil Vino yang kini sudah menjauh dari jangkauan pengheliatanya itu. Yudha segera menjalakan motornya menuju ke kosan tak berapa lama kemudian Yudha sudah tiba di kosan, setelah memarkirkan motornya Yudha segara masuk dan di sana Agas dan Ferry sedang akur dengan menonton film romansa karya anak negri bersama-sama bahkan Yudha sempat melihat air mata Agas menetes ke luar karn menonton film romansa mengharukan itu. "Apa sebagus itu, filmnya?" Tanya Yudha cepat dengan wajah penasarannya itu. "Banget!" Jawab Agas cepat dengan segera menutupi wajahnya yang kini berlinang air mata harunya itu sehabis menonton film itu. "Kisahnya menceritakan perjuangan seorang pria yang dengan kuat dan percaya pada dirinya sendiri ia akan dapat bisa bersama dengan kekasihnya wanita yang sejak dulu ia cintai, kau harus menonton juga Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu, di bandingkan dengan Agas Ferry lebih terlihat tak begitu mengambil hati akan peran yang di mainkan beberapa aktor di film itu. "Iya filmnya cocok buat mu yang sedang memperjuangkan Alya, Yudha." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Aku memang sedang memperjuangkan Alya, tapi aku tak mau ikut seperti alur cerita film.. karna apa yang ku perlukan saat ini tak bisa begitu saja ku dapatkan." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Memangnya apa yang kau perlukan, Yudha? Maksudku, Alya pasti tak akan meminta apa pun pada mu." Ucap Ferry cepat dan segera menatap lekat ke arah Yudha. "Aku ingin berjuang dan memiliki beberapa hal yang masih belum aku punya, Ferry.. seperti kendaraan, rumah dan uang! Aku ingin memilikinya terlebih dahulu, aku ingin ia pun tak merasa kesusahan saat sudah dekat dengan ku." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. "Alya, di besarkan dan menjadi anak yang terlahir dengan keluarga yang kaya dan serba kecukupan! Aku tak mau dia merasa susah jika ia dekat dengan ku yang hanya orang desa ini dan tak memiliki apa pun." Ucap Yudha kembali dengan wajah seriusnya itu menundukkan wajahnya le bawah menatap lantai yang kini sedang ia pijak itu. "Aku mengerti perasaan mu itu sob, aku dulu pernah merasakanya saat aku mencintai seorang wanita yang lebih kaya dan lebih segalanya dari diri ku." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu. "Kalau memang itu yang kau ingin lakukan dulu sebelum bersama dengan Alya, maka akan aku dukung, Yudha! Aku dan Agas akan selalu membantu mu menjalakan bisnis mu itu." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Agas. "Benar!" Timpal Agas cepat dengan tawa kecilnya itu. "Bisnis ya, kalau begitu kapan rencananya kita akan membuka toko itu?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas dan Ferry. "Kalau menurutku ya secepatnya, karna semua telah siap dan aku juga telah membuat selembaran tiket promosi untuk orang laundry ke 20 orang yang paling awal." Ucap Yudha kembali dengan wajah seriusnya itu menatap. "Boleh juga tuh, nanti akan aku bantu sebar luaskan." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu. "Setuju! Karna semuanya telah siap." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu. "Baiklah, dan oh ya.. nanti aku juga akan membuat selembaran pengumuman pencarian pegawai toko laundry kita, menurut kalian kita perlu berapa pegawai tambahan?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas dan Ferry. "Ku kira kita hanya memerlukan dua pegawai saja untuk awal-awal ini, jika memang sudah lancar dan berjalan signifikan kita akan menambahnya lagi." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Kau benar sekali, Ferry.. bagaimana bisa kau ahli di bidang bisnis selain ahli di bidang kedokteran? Kasih tau aku rahasianya dong." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Aku akan memberikan mu rahasianya tapi kau harus membayar ku dua juta dollar dulu, Agas." Canda Ferry ceoat yang mana membuat Yudha dan Agas tertawa bersama-sama. Setelah pembicaraan itu selesai kini Yudha segera berjalan ke arah kamarnya dan segera membersihkan dirinya sebelum pergi tidur di dalam yang cukup melelahkan hari ini. Beberapa menit kemudian saat Yudha telah selesai membersihkan dirinya kini Yudha segera berjalan ke arah tempat tidurnya namun sebuah notif pesan di ponselnya membuat Yudha berjalan kembali ke arah meja belajarnya dan mulai mengecek dari siapakah notif pesan itu muncul. Deg.. Yudha terkejut saat mengetahui bahwa notif pesan itu dari Alya yang mana membuatnya dengan cepat segera duduk di kursi karna kini kedua kakinya hampir tak bertenaga saat melihat notif pesan itu dari Alya. Setelah sekian lamanya menunggu kini ia baru mendapatkan pesan pertama kali dari Alya. "Yudha, apa kau sudah sampai di rumah?" Isi pesan yang Alya kirimkan itu yang mana kini sedang di baca dengan seksama dan serius oleh Yudha. "Sudah, bagaimana dengan mu Alya?" Balas pesan Yudha dengan cepat terkirim. Karna kini Alya sedang online Alya pun membalas cepat pesan dari Yudha itu "Sudah juga, aku mau minta maaf atas ucapan Vino tadi pada mu Yudha." Isi pesan Alya yang kini Yudha baca setelah beberapa detik baru saja masuk ke ponselnya itu. "Tidak apa-apa, Alya. Aku mengerti." Balas Yudha cepat. "Tetap saja aku merasa tak enak pada mu, Yudha. Lain kali aku akan meneraktir mu makan." Isi pesan Alya cepat. "Ah, tidak perlu Alya." Balas pesan Yudha setelah Alya sudah tak lagi online yang mana kini pesan Yudha sangat lama sekali tak terbalaskan. Yudha menghela napasnya dengan berat lalu menatap ke atas atap kamarnya yang berwarna putih itu, ia kini merasa sangat merindukan Alya. "Jika saja aku terlahir di keluarga yang kaya mungkin sekarang aku sudah bersama dengan Alya." Gumam Yudha lirih dengan wajah sendunya. Plak.. satu tepukan dengan cepat mendarat di pipi Yudha yang mana Yudha sendirilah yang menampar dirinya sendiri. "Apa yang kau bicarakan, Yudha? Apa begini cara balas budi mu pada kedua orang tua yang selama ini telah merawat dan menjaga mu? Dimana hati nurani mu." Isi benak hati Yudha yang menolak keras akan pemikiran Yudha sesaat itu. "Benar, Ayah dan Ibu sudah merawat dan menjaga ku dengan baik selama ini bahkan mereka sama sekali tak meminta imbalan apa pun dari ku.. dari oada menyalahkan takdir dan berdosa pada kedua orang tua ku lebih baik aku tidur saja! Ini lebih baik aku lakukan agar besok pagi aku akan tambah semangat berkerja!" Gumam Yudha lirih dengan wajah tersenyum kecilnya itu. Mencoba menerima takdir lebih baik dari pada mengeluh! Itulah yang kini sedang Yudha lakukan, mungkin ia merasa kurang mampu karna terlahir dari keluarga yang miskin namun Yudha berpikiran kembali kalau dirinya akan lebih keras lagi berjuang agar bisa bersama dengan Alya sang kekasih pujaan hatinya itu. Pagi hari terasa begitu cepat berlalu kini Yudha segera menjalakan tugasnya sebagai seorang muslim yaitu sholat, dan selepas sholat subuh berjamaah kini Yudha segera berjalan pulang dan di tengah-tengah perjalanan pulang kini ia bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang sedang kesusahan membawa beberapa keresek belanjaan. "Permisi Bu, perlu bantuan? Saya bisa membantu." Ucap Yudha cepat menawarkan bantuan pada wanita paruh baya itu. "Boleh, Nak.. tolong bantu Ibu bawa belanjaan ini pulang ke rumah ya." Ucap Ibu-Ibu itu cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Baik, Bu.. dimana rumah Ibu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Rumah saya di gang depan sana, mohon bantuannya ya, Nak." Ucap Ibu-Ibu itu cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu pada Yudha. "Baik, Bu." Sahut Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. Sesampainya di depan rumah Ibu paruh baya itu kini Yudha segera membawa masuk belanjaan Ibu itu ke halaman depan teras rumah yang mana Yudha ingin segera pulang ke kosan dengan cepat setelah selesai membantu Ibu-Ibu itu. "Terimakasih ya, nak.. kamu anak yang baik." Ucap Ibu paruh baya itu cepat dengan wajah tersenyum ramahnya itu. "Sama-sama, Bu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Mau main dulu? Atau langsung pulang nak," Tanya Ibu-Ibu paruh baya itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Langsung pulang, Bu.. ada hal yang harus saya kerjakan lagi." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum ramahnya itu. "Kalau begitu saya pulang dulu ya, Bu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Iya, nak.. hati-hati di jalan ya." Ucap Ibu paruh baya itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. Yudha hanya bisa menganggukan kepalanya dengan cepat dan tersenyum ramah pada Ibu-Ibu itu sebelum ia melangkah pulang ke rumah kosannya itu. "Pria baik dan budi pekerti saat ini sangat susah untuk di temukan." Ucap Ibu-Ibu paruh baya itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu, setelah menatap lekat ke arah punggung Yudha yang kini sedang berjalan menjauh dari rumahnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD