Sesampainya Yudha di rumah sakit ia dan Agas segera berjalan masuk ke arah ruangan tempat dimana Tirta sedang di rawat inap disana Yasril dan Dendy sedang tertidur lelap di atas sofa yang berukuran sedang itu. Sementara itu Ferry sedang berbincang dengan seseorang di teleponnya dan terdengar serius.
"Assalamualaikum," Ucap Yudha dan Agas yang segera masuk ke dalam ruangan kamar rawat inap itu.
Melihat Ferry yang kini sedang menelepon di pojokkan kamar sontak Yudha dan Agas menunggu Ferry selesai menelepon terlebih dahulu sebelum membicarakan tentang Bisnis yang akan mau Yudha mulai. Beberapa menit berlalu kini Ferry telah selesai menelepon dan berjalan ke arah Yudha dan Agas.
"Bisa kita bertiga berbicara sebentar?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Tentu! Tapi lebih baik di luar kamar ini saja." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Agas.
Yudha dan Agas pun setuju pada ucapan Ferry itu yang mana mereka bertiga sontak berjalan ke luar ruangan untuk membicarakan Bisnis.
"Jadi, ada apa?" Tanya Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Agas.
"Aku ingin mempercepat pembukaan toko laundry." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry.
"Buka toko laundry?" Tanya Agas cepat dengan wajah terkejutnya itu.
Yudha seketika menganggukan kepalanya dengan cepat dan berkata "Iya, aku ingin memulai berbisnis Agas." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas.
"Akan aku jelaskan semuanya nanti." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu.
Setelah di jelaskan panjang kali lebar oleh Yudha dari awal, kink Agas sontak terdiam dan mengerti akan ucapan Yudha itu lalu tatapan kedua mata Yudha seketika menatap ke arah Ferry, Yudha pun berkata "Ferry, bagaimana apakah kau bisa membantu ku untuk menjalankan bisnis ini hanya dalam waktu beberapa hari ini?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Bisa, bagaimana kalau besok saja? Kebetulan aku hanya ada satu mata kuliahnya besok, bagaimana dengan mu Yudha, Agas?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya menatap bergantian ke arah Yudha dan Agas.
"Aku juga bisa, besok ngga ada mata kuliah.. bagaimana dengan mu, Dha." Ucap Agas cepat segera menatap lekat ke arah Yudha.
"Aku ada dua mata kuliah untuk besok dan siang harinya ada jam kerja hingga jam 6 sore nanti." Ucap Yudha cepat dengan wajah terlihat sedihnya itu.
"Maaf, kalau besok aku sama sekali tak memiliki waktu luang." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk sedihnya itu.
"Baiklah, bagaimana jika lusa? Lusa aku ada waktu luang." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Ferry.
"Maaf, lusa aku tidak bisa," Ucap Ferry cepat dengan wajah tak enak hatinya itu.
"Lalu kapan? Kita hampir sama sekali tak memiliki waktu luang yang berbarengan seperti ini." Ucap Agas cepat dengan wajah terlihat cemasnya itu.
"Hah, salah satu dari kita harus ada yang mengalah! Kalau tidak kita sama sekali tak akan bisa membuka bisnis itu." Ucap Agas kembali dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Ferry.
Yudha terdiam sesaat lalu menutup kedua matanya sesaat lalu ia pun segera berkata "Besok aku tidak akan berangkat kuliah." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas dan Ferry.
"Apa kau yakin?" Tanya Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
"Ya, semua awal perjuangan pasti akan ada sesuatu yang harus di korbankan! Dan aku akan mengorbankan jam mata kuliahnya besok." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Baiklah, bagaimna jika jam 8 pagi? Kita akan meninjau lokasi toko laundry dan membeli beberapa alat-alat laundry juga." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Ferry.
"Dan, tolong terima aku sebagai pegawai mu Pak Yudha." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu berusaha melemparkan candaan pada Yudha.
"Dengan senang hati aku akan menerima pegawai seperti mu, Pak Agas." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
Sontak saja Yudha, Agas dan Ferry tertawa bersama-sama lalu setelah selesai berbicara kini mereka bertiga segera berjalan masuk kembali ke arah ruangan kamar rawat inap Tirta secara bersama-sama.
Malam kini telah berlalu Tirta yang sudah baikan pun segera di bawa pulang ke rumahnya bersama dengan Yasril dan Dendy. Lalu setelah itu Yudha, Agas dan Ferry mereka bertiga segera pergi dari rumah Yasril dan adik-adik itu untuk meninjau lokasi yang akan menjadi tempat usaha Yudha nantinya.
Setelah meninjau dan memilih ruko yang sewanya perbulan lebih murah dari pada yang lain kini Yudha segera mencari dan membeli alat-alat laundry di berbagai toko hingga satu truk besar masih belum bisa membawa semua belanjaan Yudha untuk rukonya itu.
Setelah merapihkan dan membereskan semua sudut ruko yang ukuranya cukup besar seperti lantai bawah rumah kosan milik Agas itu kini saatnya Yudha, Agas, dan Ferry serta tukang bantu truk semuanya ikut bahu membahu untuk menurunkan barang-barang berat seperti mesin cucu berukuran besar tiga dan mesih cuci berukuran sedang dan kecil masing-masing dua dan bebarapa peralatan lainya.
4 jam telah berlalu kini semua barang-barang sudah di letakan di tempat yang semestinya, Yudha yang jam masuk kerjanya itu akan segera tiba memutuskan untuk pulang dahulu ke rumah lalu berangkat ke restorannya meninggalkan Agas dan Ferry yang masih menata sedikit-sedikit barang-barang kecil peralatan toko laundry itu.
Yudha memang sengaja masuk lebih awal agar ia tak menerima teguran lagi dari sang pemilik restoran itu, dan benar saja sang pemilik restoran itu sekarang terdengar lebih baik pada Yudha pemilik restoran itu bahkan sering mengajak Yudha berbicara di waktu kosong Yudha berkerja.
Yudha yang sangat optimis bahwa harinya kini akan berjalan baik-baik saja sontak semua itu sirna saat Yudha melihat Alya dan Vino sedang berjalan masuk ke dalam restoran.
"Selamat datang, dan selamat menikmati." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduknya.
"Ehh, Yudha ya? Jadi kau berkerja di restoran Ayah ku?" Tanya Vino cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Deg.. mendengar ucapan Vino seketika Yudha terkejut, selama ini ia tidak mengetahui bahwa Yudha telah berkerja di restoran milik keluarga Vino.
"Hai, Vino." Ucap Yudha cepat dengan wajah yang berusaha kuat untuk ia buat tersenyum di hadapan Vino dan Alya.
"Hai, juga tak menyangka ternyata kau berkerja disini ya?" Ucap Vino cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Ohh ya kenalkan ini, Alya." Ucap Vino cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Yudha mengerutkan kedua alis matanya dengan cepat merasa bingung mengapa Vino malah memperkenalkan Alya pada Yudha, bukankah Vino tau bahwa Alya dan Yudha sudah saling kenal.
"Maksudnya?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Vino.
"Hahaha, aku hanya bercanda! Maksudnya adalah, aku dan Alya kini sudah menjadi sepasang kekasih! Sekarang kami berdua telah resmi berpacaran." Ucap Vino cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu sambil memperlihatkan tangannya yang bergandengan tangan dengan tangan Alya.
"Apa?" Ucapan Yudha seketika lolos begitu saja yang mana membuat Yudha sangat terkejut dan juga syok.
"Kau pasti terkejut! Aku dan Alya kini telah berpacaran bukan? Aku juga sama! Setelah sekian lama aku menyembunyikan rasa cinta ku pada Alya yang bertameng dengan hubungan persahabatan kini akhirnya aku dan Alya telah resmi berpacaran! Dan kau tau, aku ingin mengadakan pesta besar di restoran ini besok aku harap kau akan mau menghadirinya." Ucap Vino cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Ehh, kau kan berkerja disini! Kau pasti bisa menghadarinya." Ucap Vino kembali dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Kalau begitu aku ke ruangan Ayah ku dulu ya, Yudha.. sampai ketemu lagi besok." Ucap Vino cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu segera mengajak Alya pergi mengikuti langkah kakinya menuju ke ruangan sang pemilik restoran itu yang ternyata adalah Ayah dari Vino.
"Kau kembali kalah selangkah, Yudha." Ucap Yudha lirih dengan wajah tertunduk sendunya itu.
Alya yang sedari tadi hanya diam kini ia sontak memalingkan wajahnya menatap ke arah Yudha sesaat sebelum ia masuk ke dalam ruangan Ayah Vino bersama dengan Vino.
"Hanya perasaan ku saja atau memang benar kalau tadi tatapan mata Yudha memunculkan kesedihan." Pikir Alya di dalam benaknya saat ini ketika Vino dan Ayahnya sedang mengobrol bersama seperti saat ini.
Sebelum pergi dari restoran Alya terus saja memperhatikan Yudha yang mana tatapan kedua mata Yudha kini telah berganti menjadi biasa-biasa saja dan tak terlihat ingin menangis yang mana membuat Alya meragukan pandangannya tadi yang sempat melihat Yudha bersedih.
Sesampainya di rumah Yudha segera ingin ke rukonya namun Ferry dan Agas melarang Yudha dengan keras untuk datang ke sana lagi, karna Agas dan Ferry tau bahwa kini Yudha sama sekali tak memiliki waktu istirahat untuk dirinya sendiri dan hanya terus sibuk berkerja dan kerja saja.
"Dha, besok adalah pembukaan toko laundry apa kau yakin masih ingin bekerja di restoran itu disaat kau sendiri sudah memiliki bisnis sendiri?" Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
"Aku akan tetap berkerja disana, Agas.. aku memiliki banyak tanggung jawab besar! Aku juga harus mengembalikan uang yang aku pinjam di Ferry, dan aku percaya pada mu.. kau pasti akan membantu ku untuk menjalankan usaha bisnis ku itu Agas karyawan ku yang pertama." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
"Dan tenang saja aku akan membantu kalian berdua menjalakan bisnis toko laundry itu di sela-sela waktu kosong kuliah ku." Ucap Ferry cepat segera langsung menimbrung ke dalam percakapan.
"Aku juga akan merekrut beberapa karyawan untuk toko laundry, pasalnya jika jam kuliah kita bertiga bertabrakan maka akan sulit untuk terus membuka usaha jika tak ada karyawan lainnya." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas dan Ferry.
"Kau benar, Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Ya, aku pun setuju." Timpal Agas dengan cepat.
Setelah selesai membicarakannya semua hal Yudha barulah berjalan ke arah kamarnya dan segera merebahkan dirinya di kasur yang sekarang terasa lebih empuk dari biasanya.
"Lelah sekali, sebaiknya aku segera tertidur saja." Ucap Yudha lirih dan segera memejamkan kedua matanya dengan cepat dan tertidur pulas ke alam mimpinya melupakan sejenak tentang Alya dan Vino juga tentang bisnisnya.