IL. 32

2535 Words
Karna tertidur di sore hari membut Yudha terbangun lebih cepat sebelum subuh yang mana ia kini sudah siap menjalankan rutinitas sebagai seorang muslim yaitu sholat. Setelah sholat subuh berjamaah di musholla kini Yudha, Agas dan Ferry kembali lagi ke rumah kosan mereka bertiga. "Dha, sepertinya kita harus membelikan sebuah ponsel bagi Yasril dan adik-adiknya.. soalnya kita semua ngga bisa terus bolak-balik ke rumah mereka hanya untuk memastikan keadaan mereka." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Ferry yang saat ini sedang duduk mengobrol di sofa ruang tamu. "Menurut ku juga lebih baik begitu, kalau terjadi apa pun pada mereka.. mereka pasti akan cepat memberitahu pada kita kalau mereka memiliki ponsel." Timpal Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Agas. "Kalau begitu biar aku yang belikan nanti sebelum berangkat kuliah." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya. "Oke, dan nanti pagi aku juga akan ke ruko untuk membereskan sisa-sisa plastik dan kerdus yang belum di rapihkan." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Ferry. "Aku juga akan ke ruko," Ucap Yudha sigap. "Maaf, kalau pagi ini aku tidak bisa.. karna ada mata kuliah dan aku juga harus ke toko kue." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu. "Tidak apa-apa, Ferry.. kami mengerti." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Iya, kita ini orang-orang sibuk jadi mari saling mengerti." Timpal Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Ohh, sudah jam 6.. aku akan beli nasi uduk deh." Ucap Yudha cepat segera bangkit dari duduknya di sofa. "Aku juga ikut," Ucap Agas cepat segera sigap ikut bangkit dari duduknya. "Aku nitip saja deh." Ucap Ferry cepat segera memberikan uang pecahan dua puluh ribu pada Agas. "Oke, nasi uduk yang spesial akan segera di pesankan." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu dan tawa kecilnya. Yang mana ucapan Agas itu sukses membuat Yudha dan Ferry ikut tertawa kecil bersama-sama. Yudha pun mulai melakah masuk ke kamarnya untuk mengganti sarung dengan celana panjang untuk pergi sebentar ke warung nasi uduk namun teleponnya yang memang sengaja Yudha tinggal di dalam kamarnya kini telah berdering dengan cepat yang mana banyak sekali panggilan tak terjawab yang Yudha lewatkan oleh nomer yang belum ada namanya itu atau nomer asing. Ponsel Yudha kembali berdering dan Yudha pun segera mengangkat telepon itu dengan cepat "Halo, maaf ini siapa?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu merasa aneh kenapa nomer asing itu terus saja menelepon ke ponsel Yudha tampa henti. "Saya, adalah Vino." Ucap seseorang di sebrang telepon sana terdengar tertawa kecil. "Vino? Dapat darimana nomer ponsel saya." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu merasa sedikit aneh akan Vino yang memiliki nomer ponsel Yudha. "Dapat dari restoran Ayah ku, sangat mudah menemukan nomer mu karna kau berkerja di restoran milik keluarga ku! Aku ingin meminta satu hal pada mu, Yudha." Ucap Vino cepat terdengar seriusnya itu. "Dari restoran ya? Kau ingin meminta bantuan apa, Vino." Ucap Yudha cepat dengan nada seriusnya itu. "Aku ingin kau yang mengajak Alya untuk datang kesini, karna aku mau mempersiapkan semuanya di restoran dan aku sudah bilang pada Ayah ku hari ini kau bebas berkerja karna alasan kau yang akan menjadi pendamping Alya untuk datang ke restoran ini." Ucap Vino cepat dengan nada suara tegasnya itu. Deg.. mendengar semua itu membuat hati Yudha seketika bertambah sakit, seketika Yudha menatap nanar lantai bawah kamarnya itu. "Halo, apa kau masih disana? Yudha." Ucap Vino cepat terdengar kebingungan karna beberapa m3nit sudah Yudha tak mengatakan satu kata pun. "Ya, masih." Ucap Yudha singkat segera mengepalkan kedua tangannya dengan kuat-kuat. "Apa kau mendengar apa yang ku katakan tadi? Aku ingin kau membawa Alya ke restoran milik keluarga ku." Ucap Vino kembali suaranya terdengar bahagia. "Bisa, tenang saja aku akan membantu mu Vino." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk sendunya itu. "Terimakasih, Yudha.. kau memang seorang teman yang baik." Ucap Vino cepat segera mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Tut.. suara samhungan telepon terputus. Tau kah kalian rasa sakit hati karna merasa tak mampu untuk bersanding dengan kekasih pujaan hati kita? Sakit dan tak berdaya itulah yang kini Yudha rasakan, kisah cintanya pada Alya membuat Yudha seketika kehilangan rasa percaya dirinya. Apa artinya cinta bagi Yudha yang hanya seorang pria miskin dan tak berdaya ini? Cintanya terasa bagitu tak berguna pada Alya yang derajatnya lebih besar dan dari keluarga kaya terpandang. Sementara itu di lain pihak kini Vino sedang tertawa geli dan tersenyum lebar dengan penuh arti, ia merasa puas karna sudah dapat mengerjai Yudha. "Siapa suruh kau membuat awal pertemuan kita menjadi awal pertempuran kita! Kau yang berlaga sok tau aturan keselamatan berkendara berusaha menceramahi ku, Yudha! Benar-benar bodoh, kau telah memilih lawan yang salah Yudha." Ucap Vino cepat dengan tawa gelinya itu. "Ah, kau yang miskin itu memiliki nasib yang sangat malang karna telah menyukai Alya wanita incaran ku selama ini.. huh! Benar-benar menjengkelkan! Aku akan membuat mu melihat dimana tempat yang pas dan cocok untuk mu sebenarnya, Yudha." Ucap Vino cepat dengan wajah seriusnya itu seolah-olah telah merencanakan sesuatu yang matang. Di rumah kosan, kini Agas memutuskan untuk ke amar Yudha dari pada hanya menunggu di lantai bawah karna meras Yudha yang sudah lama tak nampak batang hidungnya itu "Dha, kanapa lama sekali sih?" Tanya Agas cepat yang masuk begitu saja tampa permisi terlebih dahulu ke kamar Yudha. "Ah, maaf.. ayo kita berangkat ke warung." Ucap Yudha cepat segera melangkah pergi keluar dari dalam kamarnya setelah memasukan ponselnya ke dalam salah satu saku celananya itu. "Dha, kamu kenapa? Kok, terlihat sedih begitu?" Tanya Agas cepat di sela-sela langkah kakinya itu. "Biasa saja, cuma tadi mata kena debu Agas jadinya seperti berair begitu." Ucap Yudha cepat segera menjawab dengan asal pertanyaan dari Agas itu. "Dha, kalau memang kamu terlalu berat menjalakan semuanya sendiri.. lebih baik kau mengikhlaskan salah satunya." Ucap Agas cepat di sela-sela melangkahnya menuruni satu persatu anak tangga itu. Iklhas? Haruskah Yudha mengikhlaskan, Alya? Bisakah ia melakukan itu, ah tidak! Mampukah ia melupakannya cinta dan rasa sayangnya itu pada Alya. "Dha, kau kenapa terbengong seperti itu." Ucap Agas cepat dengan segera menatap lekat ke arah Yudha. "Aku tadi sedang memikirkan sesuatu." Ucap Yudha cepat dengan menatap lekat ke arah Agas. "Sesuatu? Apa itu, beritahu aku cepat." Ucap Agas cepat dengan wajah penasaran itu. "Hanya tentang acara pembukaan toko laundry nanti." Ucap Yudha asal dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Itu saja? Tapi kenapa kau terbengong lama sekali." Ucap Agas cepat dengan tatapan kedua matanya yang penyelidik ke arah Yudha. Yudha sontak segera berjalan cepat menuruni satu persatu anak tangga dan berjalan cepat ke luar rumah yang mana membuat Agas tambah penasaran dan mengikuti langkah kaki Yudha yang begitu cepat itu. "Dha, tunggu!" Ucap Agas cepat sedikit berteriak pada Yudha. Sementara itu Ferry yang masih duduk di ruang tamu hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata "Mereka selalu saja berisik dan aneh satu sama lain." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu. Setelah membeli tiga bungkus nasi uduk Yudha dan Agas pun segera pulang kembali ke kosan mereka namun dengan cepat Yudha berlari menju ke kamarnya setelah mengambil sebungkus nasi uduk miliknya sendiri bahkan Yudha pun sengaja mengunci pintu kamarnya agar Agas tak bisa masuk begitu saja ke dalam kamarnya. "Sial!" Gerutu Agas kesal saat ia sudah kembali menuruni satu oersatu anak tangga menuju ke ruangan tamu yang mana disana sedang ada Ferry yang lagi asik sarapan. "Kenapa?" Tanya Ferry cepat, singkat, dan jelas pada Agas. "Itu, si Yudha aneh banget deh.. masa dia ke menghindari aku setelah aku tanya kenapa ia kelihatan sedih." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Bukannya sudah jelas ya? Kalian berdua tuh memang aneh!" Ucap Ferry cepat dengan wajah datarnya itu. "Ngga! Keanehan ini berbeda Ferry.. sepertinya Yudha sedang menyembunyikan sesuatu dari kita." Ucap Agas cepat dengan nad suara seriusnya itu. "Kalau pun ada ya sudahlah, itu berarti sebuah rahasia.. dan yang namanya rahasia mana mungkin Yudha ceritakan pada kita." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Aku tak memiliki rahasia, aku selalu menceritakan semuanya pada kalian berdua." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu. "Itu namanya kamu ngga bisa menjaga satu hal pun tampa membicarakan hal itu pada orang lain, Agas.. lagi pula di dunia ini semua orang memiliki rahasia, kalau kau tak memiliki rahasia berarti kau lebih aneh dari Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah datarnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Asem! Kau Ferry." Ucap Agas cepat dengan wajah terlihat kesalnya itu. Sementara itu kini Yudha tengah membuka ponselnya dan benar saja tugas materi kuliahnya hari demi hari terus berdatangan dan menumpuk yang mana membuat Yudha merasa sangat letih walau baru saja melihatnya. "Aku harus menyelesaikan semua ini sebelum bulan depan." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. Setelah jam setengah delapan pagi kini Yudha barulah membuka pintu kamarnya dan segera berjalan turun ke lantai bawah disana sudah tak ada Ferry dan hanya ada Agas yang sedang menonton acara televisi. "Ferry, sudah berangkat kuliah.. Agas?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Hooh, kayanya jam mata kuliahnya di majukan 2 jam lebih awal." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu masih menatap ke arah televisi yang kini sedang menayangkan sebuah acara balapan motor. "Agas, aku akan segera pergi ke toko apa kau ingin ikut." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Ya, ikut! Tunggu," Ucap Agas cepat segera mematikan televisinya dan segera bangkit dari duduknya di sofa lalu berjalan ke arah Yudha. "Dha, kau masih menghutang satu penjelasan dengan ku! Kau harus menceritakan rahasia mu itu." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Ehh, rahasia? Rahasia apa, Agas." Ucap Yudha cepat merasa bingung mengapa ia di todong satu penjelasan akan rahasia yang bahkan ia tak mengerti. "Kata Ferry kau memiliki rahasia, Dha." Ucap Agas cepat dengan wajah yang sama bingungnya itu dengan Yudha. "Aku tak memiliki rahasia apa pun! Coba kau tanya Ferry kenapa dia bilang kalau aku ada rahasia." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. Setelah perdebatan yang tak jelas mengarah kemana membuat Yudha dan Agas segera memutuskan untuk pergi ke toko laundry saja. Disana Yudha dan Agas saling bahu-membahu untuk merapihkan toko laundry dan setelah itu Yudha segera berangkat ke kampus bersama dengan Agas. Sesampainya di kampus Yudha dan Agas segera berjalan ke gendung fakultas ekonomi secara bersama-sama. Dan dimana hal itu membuat perhatian para mahasiswa dan mahasiswi kampus lainya tertuju pada Yudha dan Agas. Tak lain juga Citra sang teman Alya yang melihat Agas dan Yudha dengan pandangan matanya yang tajam seperti ingin menusuk. "Yudha, kenapa kau datang bersama dengan pria bodoh sepertinya!" Ucap Citra cepat segera menghampiri Yudha sembari memberikan tatapan tajam pada Agas yang kini sedang berdiri di sampingnya itu. "Maksud mu, Agas teman ku? Citra." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Apa? Kalian berdua berteman?" Tanya Citra cepat dengan wajah terlihat terkejutnya itu. "Ya," "Tidak," Jawaban Yudha dan Agas saling bertabrakan yang mana membuat Citra semakin curiga pada Yudha. "Tidak, kami berdua tidak berteman, Citra.. kami tadi secara kebetulan bertemu di jalan dan aku meminta tumpangan pada Yudha untuk ke kampus bersama." Ucap Agas cepat masih berusaha menutupi kebohongannya itu. "Itu semua tidaklah benar! Aku dan Agas memang berteman, sejak awal sebelum aku mengenal Alya." Ucap Yudha cepat dan berbicara dengan jujur itu pada Citra. "Dasar semua lelaki itu sama saja! Mulai sekarang menajulah dari Alya sahabatku, Yudha! Kau tak lagi menjadi teman kami." Ucap Citra cepat dengan wajah kesalnya itu menatap tajam ke arah Yudha dan Agas. "Citra, masalah kita berdua tak ada sangkut pautnya dengan Yudha yang mau berteman dan dekat dengan siapa pun termaksud Alya teman mu.. ayolah, masalah kita sudah lama berlalu! Tolong jangan sangkut pautkan dengan Yudha dan Alya." Ucap Agas cepat dengan wajah memohonya itu pada Citra. "Lama? Kau bilang masalah kita sudah lama berlalu? Agas, asal kau tau sampai detik ini aku masih mengingatnya dengan jelas! Aku masih teringat akan kenangan janji manis mu dan perselingkuhan mu! Kau adalah pria terjahat yang pernah aku temui." Ucap Citra cepat dengan wajah sedihnya itu meneteskan air matanya dengan cepat dan tak dapat ia tahan kembali. "Aku minta maaf," Ucap Agas cepat dengan wajah tertunduk bersalahnya itu memohon maaf pada Citra. "Maaf, kau kira maaf bisa menghapus semua ingatan ku apa!" Ucap Citra cepat dengan wajah marahnya itu menatap lekat ke arah Agas. Tap.. tap.. tap.. langkah kaki seseorang semakin mendekati ke arah Yudha, Agas dan Citra yang mana itu adalah langkah kaki dari Alya. "Ada apa ini, kenapa kau lagi dan lagi membuat Citra menangis Agas!" Ucap Alya marah dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Alya, jangan menyalahkan orang terlebih dahulu lebih baik kau tanyakan apa yang terjadi dari awal." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu berusaha membuat Alya untuk tak langsung menyalahkan Agas. "Kau tau apa? Kau adalah pria yang langsung memutuskan pertemanan dengan ku dengan kata-kata yang menyakitkan! Aku membenci mu, Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah marahnya itu segera membawa pergi Citra dari hadapan Yudha dan Agas. "Apa maksud Alya, Dha? Kalian sudah tak berteman, sejak kapan?" Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu. "Sudah sejak kemarin, ceritanya panjang Agas.. aku akan menceritakannya nanti." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Kali ini kau benar-benar harus menjelaskan semuanya pada ku, Dha." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Ya, aku mengerti." Ucap Yudha pelan tertunduk dan terlihat sendu. Yudha dan Agas masuk ke dalam ruangan kelas mereka masing-masing yang mana Agas adalah kating di jurusan ekonomi yang sama dengan Yudha. Setelah selesai pelajaran Yudha teringat akan pesan Vino yang memintanya untuk datang ke restoran tepatnya berkerja dengan Alya secara bersama-sama itu. "Hah, aku harus bagaimana sekarang." Ucap Yudha frustasi dengan wajah tertunduk bingungnya itu. Yudha kembali teringat akan ucapan Alya tadi pagi kalau Alya membencinya yang mana membuat Yudha bertambah frustasi dan sedih. Yudha pun memutuskan untuk keluar dari ruangan kelasnya dan segera berjalan ke arah taman yang dimana saat ini Alya sedang duduk sendirian di taman itu. Dengan menguatkan tekatnya Yudha berjalan ke arah Alya yang tengah terduduk sendiri di taman itu. "Alya," Panggil Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. "Kau? Mau apa kau disini," Ucap Alya ketus dengan wajah yang seketika berubah menjadi marah saat menatap lekat ke arah Yudha. "Bolehkah aku berbicara sebentar dengan mu?" Tanya Yudha cepat dengan wajah tertunduk bersalahnya itu. "Mau membicarakan apa? Kalau kau mau meminta maaf sebaiknya jangan lakukan itu! Sebab, aku tak akan mau memaafkan mu." Ucap Alya cepat dengan wajah serta tatapan matanya yang tak bersahabat itu. "Aku tau kau marah dan bahkan membenci ku Alya, tapi aku saat ini ingin berbicara pada mu bukan karna ingin meminta maaf pada mu.. aku tau kesalahan ku pada mu mungkin tak ada di maafkan! Karna itu aku disini hanya akan membicarakan hal yang penting saja mengenai acara kau dan Vino di restoran, Vino meminta ku untuk membawa mu kesana selepas jam kuliah selesai.. aku harap kau mau bersama ku sebentar saja untuk datang bersama ke restoran itu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk sendunya itu merasa tak berdaya untuk bisa bersanding dengan Alya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD