Part 1
Kedua mataku memanas, dua orang di hadapanku menatapku tanpa rasa bersalah sedikitpun. Bahkan, mereka tersenyum sinis padaku. Ini salah, harusnya aku marah saat laki laki yang aku cintai menggenggam erat tangan perempuan lain. Dan apa yang aku lakukan? hanya diam.
Aku masih berusaha untuk menahan amarahku. Walaupun rasanya sangat sulit, aku tidak boleh menangis.
"Kamu selingkuh?" tanyaku pada laki laki jangkung dihadapanku ini.
Laki laki itu menggeleng, mana mungkin orang yang selingkuh mau mengakui perbuatannya?
"Tapi kamu selingkuhin aku!"
"Lo selingkuhan gue."
Aku merasakan dadaku semakin sesak, ini sakit. Jadi sebenarnya siapa yang jadi selingkuhan?
"Hubungan kita baru dua bulan, dan gue sama Anya udah dua tahun."
Aku menatap laki laki itu dengan penuh kebencian. Aku benci saat seseorang berhasil mendapatkan hatiku, di saat yang sama laki laki itu juga menghancurkan hatiku.
Aku benci di selingkuhi dan ternyata aku yang menjadi selingkuhan.
Pandanganku beralih pada perempuan yang bernama Anya, yang sialnya adalah pacar pertama dari Arya. Satu kata yang mungkin mampu mengungkapkan bahwa Anya cantik. Dan aku terlalu biasa saja untuk bersaing dengannya.
"Kenapa kamu mau di selingkuhin?" aku berusaha menguatkan hatiku, harusnya disini Anya yang marah kan?
Anya menatapku sinis.
"Gue yang nyuruh Arya deketin lo, gue tau selama ini enggak ada yang mau kan sama lo!"
"Gue cuma kasian aja," sela Arya dengan cepat.
Mereka berdua lalu pergi meninggalkan aku yang terdiam kaku. Perkataan mereka memang benar, tidak ada yang mau berteman denganku. Selama ini aku menjalani hari-hari dengan kesendirian. Miris.
Aku memilih diam dan meratapi nasibku. Andai saja waktu itu aku tidak menerimanya, mungkin aku tidak akan merasakan sakit hati. Namun, semuanya sudah terjadi bukankah setiap keputusan yang kita ambil selalu memiliki resiko? dan inilah resikonya.
Tuhan selalu memberikan cobaan sesuai kemampuan hambanya, aku akui aku memang masih sangat mencintainya. Tapi untuk kembali, aku tidak akan pernah berharap lebih. Lagipula dia hanya kasihan padaku, bukan cinta.
"Patah hati kok nangis."
Suara seseorang membuatku tersadar dengan keadaanku, apa katanya? apa dia tidak pernah merasakan sakit hati? aku tidak berniat menoleh kearah laki laki di sebelahku, aku juga tidak mengenalnya.
"Selagi dia bukan oksigen buat lo, hidup akan tetap berlanjut."
Apa yang laki laki asing ini katakan memang benar, Arya bukan segalanya. Bahkan sebelum aku mengenalnya aku sudah terbiasa sendiri. Terpaksa aku menoleh untuk sekedar mengetahui siapa yang sudah berhasil menenangkanku.
Tampan,Itulah yang ada di fikiranku. Apa dia manusia? bahkan dia lebih tampan dari Arya. Oh ayolah kenapa aku masih mengingat wajah laki laki yang sudah menyakitiku.
"Makasih." ucapku padanya, aku memang tidak mengenalnya. Tapi laki laki ini terlihat baik.
Kami saling diam. Tidak ada percakapan diantara kami, bahkan kami tidak berkenalan. Kata orang tak kenal maka tak sayang, tapi bagiku itu tidak benar. Karena yang sering terjadi adalah di tinggal ketika seseorang sedang sayang sayangnya. Miris, aku malah membicarakan kisahku sendiri.
Aku melangkahkan kakiku pelan, setelah kejadian kemarin aku seperti kehilangan semangat. Tidak ada lagi alasanku untuk bersemangat setiap pagi, memang tidak ada yang tahu jika aku dan Arya berpacaran. Karena Arya yang meminta merahasiakan hubungan kami, aku tidak tahu apa yang ada di fikirannya kenapa mudah sekali mengatakan cinta padahal tidak memiliki rasa?
Mungkin karena Ayra merasa tampan, baginya mendapatkan perempuan sangatlah mudah. Aku juga tidak habis pikir dengan Anya, apa tidak ada rasa cemburu saat Arya bersamaku beberapa bulan yang lalu?
Aku baru ingat, jika mereka adalah pasangan yang serasi. Sama sama gila!
Langkahku terhenti saat di depanku ada sepasang sepatu, ya sejak tadi aku menunduk. Dengan ragu, aku menatap pemilik sepatu yang sudah lancang menghalangi langkahku.
Aku langsung mengalihkan pandanganku, aku sudah berniat move on mulai hari ini. Tapi dengan mudahnya kami bertemu, jangan lupakan satu fakta kalau kami masih satu sekolah yang sama. Apa perlu aku pindah sekolah?
"Selamat pagi mantan,"
Aku menatapnya sinis, untuk apa dia menyapaku seperti ini? padahal dulu sejak kami masih berpacaran dia tidak pernah menyapaku.
Aku tidak berniat menanggapi Arya, anggap saja dua bulan kebersamaan kami adalah sebuah kesalahan.
"Minggir." jujur saja. Aku ingin pergi dari hadapannya, karena sekolah mulai ramai dan aku tidak suka diperhatikan seperti ini.
"Buru buru amat, takut gagal move on ya?" aku mendengar ejekan Arya, aku memang belum move on. Tapi akan secepatnya.
Baru saja aku ingin membalas ucapannya, Anya sudah bergelayut manja di lengan Arya. Aku menghela nafas pelan. Jujur ada rasa cemburu saat ini, tapi aku tidak berhak untuk cemburu.
"Ngapain lo deketin Arya lagi? dasar pelakor!"
Kini semua orang memperhatikan kami, atau mungkin lebih tepatnya memperhatikan aku. Aku benci menjadi pusat perhatian, terlebih mereka menatapku dengan sinis.
"Jaga bicara kamu, percuma cantik tapi enggak punya attitude."
Aku pergi meninggalkan pasangan gila, aku yakin mereka sedang membicarakan keburukanku pada semua orang di sekolah ini. Aku tidak peduli.
Tanpa sengaja aku menabrak punggung seseorang. Tolong, ingatkan aku untuk tidak jalan menunduk.
Dalam hati aku berdoa, aku tidak menabrak orang jahat pagi ini.
"Ngapain nunduk gitu, duit lo jatuh?"
Suara itu tidak asing. Tapi kenapa dia ada di sini? aku menggeleng pelan belum berani menatap siapa yang ada di hadapanku saat ini. Di sekolah aku memang menjadi siswi pendiam, bahkan ada yang menganggapku tidak bisa bicara karena aku selalu diam.
Aku diam bukan tanpa alasan, lagipula aku mau bicara dengan siapa? sudah ku katakan kemarin kalau aku tidak memiliki teman.
Laki laki di hadapanku sengaja berdehem keras, membuat aku tersentak lalu mendongakkan kepalaku tanpa sengaja.
Sial, kenapa aku bertemu dengannya lagi? apa dia juga sekolah di sini? kenapa aku tidak pernah melihatnya? banyak pertanyaan yang tersimpan dalam benakku, mungkin aku akan bertanya.
"Kamu ngapain?" tanyaku padanya.
"Sekolah." jawabnya singkat.
Aku menghela nafas pelan, aku juga tahu dia sekolah. Apa dia juga bersekolah disini?
"Gue sekolah di sini, XII IPA 2." sepertinya dia ada bakat menjadi cenayang. Buktinya pertanyaanku sudah di jawab.
Aku hanya mengangguk, jika dia XII IPA 2 berarti kelas kami bersebelahan. Tapi kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya?
"Kamu anak baru?" tanyaku lagi, rasa penasaranku harus selesai hari ini.
Bukannya menjawab laki laki itu malah bersedekap d**a, memperhatikanku dengan malas. Aku yakin dia menyesal sudah bertemu denganku pagi ini. Karena tidak ada yang berteman denganku, mereka bilang aku ini terlalu lemot. Padahal kami hanya berbeda frekuensi.
"Bisa bisanya lo enggak tahu gue!"
Aku masih memperhatikannya, aku tahu dia orang yang kemarin membantuku bangkit dari rasa rasa terpuruk.
"Kamu orang yang kemarin kan?" tanyaku lagi.
Akhirnya dia mengangguk, membuatku bisa bernafas lega.
"Kata orang lo polos banget ya? emang lo sepolos apa?"
Aku tidak tahu, apa itu sebuah ejekan?
"Jangan terlalu percaya apa kata orang. Mereka aja enggak tahu diri mereka sendiri, tapi pinter banget menilai orang lain."
"Lo menarik,"
"Jadi pacar gue mau?"
Aku tidak bisa berfikir, apa laki laki itu baru saja menembakku untuk menjadi pacarnya? Apa ini hanya sebuah prank?
Aku harus menjawab apa? dia memang terlihat baik. Tapi aku tidak mau menjadikannya sebagai pelampiasan. Karena aku tahu, bagaimana rasanya di gunakan seseorang untuk melupakan seseorang.
Aku merasakan tepukan di pundakku cukup keras.
"Iya!" jawabku sekenanya.
Entah kenapa laki laki itu tersenyum penuh kemenangan, refleks aku menutup mulutku saat menyadari kebodohanku.
"Sorry, aku salah ngomong," aku berharap duniaku masih baik baik saja.
Laki laki itu menggeleng, membuatku terdiam menunggu apa yang akan ia katakan.
"Gue cuma menerima jawaban pertama." ucapnya penuh percaya diri, membuatku semakin lemas. Apa yang akan terjadi setelah ini?
Aku menahan nafas saat tangannya, mengusap pelan kepalaku. Untuk pertama kalinya, ada yang memperlakukanku seperti ini.
"Lo nggak usah takut. Gue bukan Arya, gue pernah di khianati makanya gue enggak bakalan khianatin lo."
Aku hanya mengangguk, aku tidak bisa berfikir lagi. Katakan saja aku bodoh, hanya karena di perlakukan dengan baik langsung menerimanya sebagai kekasih.
"Sana masuk kelas, belajar yang bener."
Sekali lagi, aku hanya mengangguk.
Aku melangkahkan kakiku pelan, berharap laki laki itu memanggilku dan mengatakan ini semua hanyalah prank atau mungkin taruhan.
"Stevi."
Benarkan? dugaanku tidak akan salah. Lebih baik drama pagi ini segera usai.
Aku menghentikan langkahku, tidak berniat bertanya kenapa. Aku sudah siap, jika ini hanyalah bahan taruhan.
Laki laki itu menghampiriku, tidak apa. Aku sudah siap kecewa.
"Stevi."
Aku mendongak menatap laki laki itu. Sekali lagi aku mengakui, ciptaan Tuhan yang satu ini memang berbeda.
"Iya." kenapa dia menatapku seperti itu?
"Inget lo di sekolah itu belajar, jangan deket deket sama cowok lain. Sekarang lo itu pacar gue."
Aku menatapnya tidak percaya. Kenapa dia melarangku? Apa dia tidak tahu, kalau aku tidak memiliki teman?
"Apa perlu, gue buat pengumuman kalau lo itu pacar gue?"
Aku melongo mendengar pertanyaannya. Untuk apa dia mengumumkan hubungan gila ini?
"Jangan." jawabku cepat.
Aku tidak mau mencari masalah, aku sudah kelas XII. Aku hanya ingin lulus sekolah tanpa ada masalah.
"Kenapa?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi lebih baik tidak ada yang tahu tentang hubungan ini. Aku yakin ini hanyalah sebuah taruhan.
"Nanti kamu malu," aku hanya tidak ingin dia di bully karena mempunyai pacar taruhan sepertiku.
Laki laki itu malah tertawa, gila memang apa ini sebuah lelucon?
"Bagian mananya yang buat gue malu? lo itu cantik, lo juga pinter. Tapi bener sih, sedikit lemot." Ucapnya tanpa rasa malu sedikitpun.
Aku tidak akan marah jika hanya dikatakan lemot, bagiku jika itu tidak benar kenapa harus marah?
"Jadi diri sendiri ya, jangan dengerin omongan orang."
"Gue duluan."
Dengan mudahnya, laki laki itu meninggalkanku. Tidak masalah, karena memang semua orang akan datang dan pergi sesuka hatinya.