TWINS 11 – Orang Misterius

1556 Words
Sedikit jauh dari lokasi syuting Arumi dan Adelio tampak seseorang mengenakan pakaian serba hitam; jaket hitam, celana jeans hitam, topi hitam, serta masker hitam menutupi sebagian wajahnya dari bawah mata hingga dagu, bersembunyi di balik pohon seraya memegang sebuah kamera di depan wajahnya. Matanya mengintip di lubang kecil pada kamera tersebut yang membuatnya bisa melihat Adelio dan Arumi lebih dekat dan jelas. Dari kamera yang digenggam oleh orang tersebut tampak cahaya berkilat berulang kali, mengabadikan momen antara Arumi dan Adelio di kejauhan sana. “Sepertinya ada hubungan lain di antara keduanya. Aku harus mencari tahu hubungan mereka, dan akan kubuat karir mereka hancur!” kata orang tersebut setelah melihat betapa Adelio sangat menghayati perannya sebagai pasangan Arumi seolah memang itulah perasaan yang dimiliki oleh Adelio sebenarnya. Orang yang masih belum diketahui identitasnya tersebut kembali mengumpulkan banyak foto. Dia benar-benar lihai bersembunyi, bahkan petugas keamanan pun mampu ia lewati dengan mudah. “CUT!” Di lokasi syuting tersebut sutradara mengakhiri adegan Arumi dan Adelio. “Kita istirahat dulu dan kita lanjut lagi sore nanti,” sambungnya kemudian. “Oke!” seru Adelio menjawab sang sutradara. Kemudian Adelio langsung meraih tangan Arumi lalu menariknya pergi dari sana. Sempat Arumi terkesiap, tetapi kemudian wanita itu mengikuti langkah Adelio tanpa beban. “Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Arumi. Adelio pun menjawab, “Kita makan enak di restoran dekat sini.” “Adelia dan Ghani nggak diajak?” tanya Arumi lagi. “Kita berdua saja ya!” Adelio mempercepat langkahnya. Sayangnya, usaha Adelio membawa Arumi pergi sia-sia. Adelia dan Ghani langsung pasang badan menghalangi jalan mereka. “Mau ke mana? Kok buru-buru sih?” tanya Adelia dengan mata memincing. Langkah Adelio pun terhenti seketika. Namun, tangan Arumi masih digenggamnya erat. “Aku sama Arumi mau makan dulu. Kalian berdua sebagai asisten yang baik tunggu di sini saja ya!” jawab Adelio bernada perintah. Mata Adelia semakin memincing. Kakinya maju selangkah demi selangkah menghampiri Adelio. Ghani mengikuti di belakang Adelia. “Kenapa hanya berduaan saja? Kalian nggak mau ajak kita berdua? Kalian kira asisten nggak butuh makan dan istirahat? Kalian makan enak di restoran dan kami berdua menunggu kelaparan di sini?” cecar Adelia yang tak rela keduanya pergi meninggalkan dirinya bersama Ghani di lokasi syuting. “Ka-kalian kan bisa delivery order, a-atau kamu bisa hubungi Rangga agar mengirimkan makanan ke sini, Lia.” Terbata Adelio membujuk adik kembarnya. “Ya sudah kalian ikut saja makan bareng di restoran,” celetuk Arumi, membuat mata memincing Adelia berbinar-binar dalam sekejap. “Beneran nih?” Adelia merampas tangan Arumi yang berada dalam genggaman Adelio lalu menggenggamnya di depan wajah. “Loh? Kenapa kamu malah ajak mereka sih, Rumi? Kan aku maunya makan berdua sama kamu!” protes Adelio. “Lebih banyak orang kan lebih seru, Lio. Lagipula Lia dan Ghani bisa menjaga kita dari jika bertemu dengan fans nakal di sana,” jawab Arumi. “Tapi kan ….” Belum selesai Adelio berbicara tiba-tiba Adelia langsung menarik tangan Arumi dan membawanya pergi seraya berseru, “Let’s go!” Ghani hanya bisa menatap prihatin ke arah Adelio karena rencana pria itu digagalkan oleh adik kembarnya sendiri. Ghani mendekati Adelio. Menepuk bahunya lalu berlalu meninggalkan Adelio demi menyusul Adelia dan Arumi yang sudah semakin jauh di depab mereka. “Argh, sial! Seharusnya Adelia jangan jadi asistenku. Aku akan minta Ibu Shanum untuk mengganti asistenku,” gerutu Adelio. Meski hatinya merasa jengkel karena rencana berduaan dengan Arumi gagal, tetapi Adelio tetap menyusul mereka semua. Pria itu berjalan sambil mengusap leher belakangnya tanpa alasan. Situasi barusan tak luput dari lensa kamera milik orang yang sampai saat ini masih bersembunyi di balik pohon. Tersungging senyum miring di balik masker hitam yang digunakannya. “Lio menarik Rumi pergi? Mungkin jika dua orang tadi tidak menghentikan Lio, mereka pasti akan kencan di suatu tempat. Ah … sayang sekali aku kehilangan bahan gosip karena dua orang tadi,” ucap orang tersebut. Sementara itu, Devandra yang baru saja tiba di parkiran lokasi syuting dan turun dari mobilnya berpapasan dengan Arumi, Adelia, Adelio, dan Ghani ketika mereka hendak menaiki mobil milik Adelio. “Rumi Sayang!” seru Devandra memanggil istrinya. Arumi pun menolehkan kepalanya ke sumber suara. Senyum di wajahnya terkembang saat melihat suaminya berjalan menghampiri. “Dev!” balas Arumi seraya melambaikan tangannya. “Cih! Ngapain juga sih dia pakai datang ke sini!” gerutu Adelio pelan. “Sstt!” Adelia menyenggol lengan kakak kembarnya. Devandra disambut oleh Arumi dengan sebuah pelukan hangat. Devandra pun mengecup pucuk kepala istrinya itu dengan lembut. “Mau ke mana?” tanya kemudian pada sang istri. “Aku dan yang lain mau makan di restoran dekat sini. Kata Adelio makanan di sana enak,” jawab Arumi. “Kebetulan sekali aku juga lapar. Aku ikut ya,” pinta Devandra. “Nggak boleh!” tolak Adelio. “Boleh!” Adelia mengizinkan. Kemudian kedua saudara tersebut saling menatap dengan dahi berkernyit. Adelia seolah mengatakan pada kakak kembarnya agar tidak lagi mencintai istri orang melalui tatapan matanya. Namun, tatapan mata Adelio menjawab jika dia tidak bisa melakukan itu jika yang dimaksud istri orang itu adalah Arumi. “Ya sudah begini saja, kalian bertiga makan bareng-bareng saja ya. Aku dan Devandra makan di tempat lain saja,” ujar Arumi. “Loh kok gitu? Kamu harus makan bareng kita!” paksa Adelio. “Eh, nggak apa-apa kalian mau berduaan ya? Kita nggak akan ganggu kok. Iya kan, Ghan?” Adelia melirik ke arah Ghani. “Iya dong! Masa Bos Dave sama Non Rumi mau berduaan saya larang. Bisa dipecat ditempat kalau saya larang hehehe,” timpal Ghani terkekeh. Adelio tak bisa menerimanya. “Lia, Ghani, kalian kenapa begitu? Kan aku yang duluan ajak Arumi makan di restoran.” Sigap Adelia membungkam mulut kakaknya. Ghani pun memegangi kedua lengan Adelio tanpa diperintah. “Nggak apa-apa, sudah sana kalian makan. Bye …!” perintah Adelia yang kemudian berlalu dari hadapan Arumi dan Devandra membawa kakak kembarnya. Setelah berhasil membawa Adelio pergi, Adelia pun melepaskan tangan yang membungkam mulut sang kakak. Ghani juga melepaskan kedua lengan Adelio. “Fyuuhh … syukurlah kita bisa bawa si gamon ini pergi dari hadapan Arumi dan Devandra,” celetuk Adelia. “Gamon? Gamon itu apa, Lia?” tanya Ghani. “Gamon itu gagal move on. Adelio kan gagal move on dari Arumi, ya pantas dong aku panggil dia gamon,” jawab Adelia membuat Ghani tertawa terbahak-bahak. “Kalian berdua kenapa sih? Hobi kok gangguin aku terus!” Adelio geram. Adelia menolehkan kepalanya pada sang kakak. “Kita nggak gangguin, kita menyelamatkan kamu dari label perebut istri orang.” “Ah, sudahlah! Kalian nggak tahu bagaimana perasaanku sama Arumi. Memang gampang nyuruh move on, tapi aku yang menjalaninya susah. Arumi terlalu sempurna untuk aku, dan nggak ada yang bisa menggantikannya.” Nampaknya Adelio tersulut emosi. Pria itu memilih pergi seorang diri meninggalkan Adelia dan Ghani agar bisa menenangkan dirinya. Sosok Adelio semakin jauh dari pandangan. Adelia hanya bisa menghela napas karena sang kakak yang sulit diajaknya melupakan cinta yang sudah dimiliki oleh orang lain. “Ghan, memangnya aku salah ya?” tanya Adelia pada Ghani. “Nggak kok, Lia. Memang seharusnya Adelio move on, karena Non Rumi sudah punya suami,” jawab Ghani. “Apa Adelio benar-benar harus aku bawa ke orang pintar ya?” Adelia melirik Ghani dan menunjukkan raut wajah menunggu jawaban. “Kamu juga sekalian gih ke orang pintar, biar bisa move on dari Rangga. Eh, salah deh! Biar kamu cepat balikan sama Rangga. Hehehe,” jawab Ghani sekaligus meledek Adelia. Sontak saja Adelia memukul lengan Ghani. Wanita itu juga kemudian melangkah pergi meninggalkan Ghani sambil menunjukkan wajah kesal serta alis yang bertautan. “Adelia … Adelia …. Kakak sama adik kok sama saja. Sama-sama nggak bisa move on.” Ghani menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mengikuti Adelia di belakangnya dengan jarak tiga meter. *** Malam telah tiba. Langit tampak polos tanpa taburan bintang. Bulan pun seolah enggan mengintip. Di bawah langit tak berbintang itu seseorang menunggu di dalam mobil bertipe hatcback berwarna merah yang terparkir tak jauh dari rumah Adelio dan Adelia. Dia adalah orang yang sama dengan yang tadi mengambil gambar secara sembunyi-sembunyi di lokasi syuting Adelio dan Arumi. Kini di dalam mobilnya, orang misterius itu mengecek hasil jepretannya setelah menguntit Adelio seharian. “Gimana ya kalau aku sebarkan foto ini ke media? Pasti akan menjadi berita hangat. Pastinya juga nama mereka langsung jadi trending kan?” Orang misterius tersebut tersenyum menyeringai sambil melihat foto Adelio yang menarik tangan Arumi dan membawanya pergi. Kemudian orang misterius itu merogoh saku celananya. Dikeluarkan ponsel dari dalam sana. Orang itu pun segera masuk ke akun media sosial miliknya dengan nama pengguna Hate Lio – Rumi. Akun tersebut berisikan banyak foto-foto Adelio dan Arumi saat sedang bersama, serta membubuhkan caption dengan kalimat kebencian pada setiap fotonya. “Aku harus terus menguntit mereka sampai aku bisa menemukan bukti kalau Rumi memang selingkuh dengan Lio. Akan kubuat fans mereka marah dan melontarkan sumpah serapah pada mereka,” cetus orang misterius tersebut. Dengan senyum menyeringai yang masih tersungging di wajahnya, orang misterius itu membuat sebuah postingan dengan latar belakang hitam dan bertuliskan kalimat ancaman di tengahnya yang sangat jelas ditujukan untuk Arumi dan Adelio. [Rumi dan Lio, aib kalian akan segera terungkap. Mundur dari dunia hiburan atau hidup kalian akan menderita.] Entah apa tujuan orang misterius tersebut menguntit Arumi dan Adelio. Namun, yang pasti dia tak akan berhenti sampai tujuannya tercapai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD