Di dalam mobil yang tengah melintasi jalanan Ibukota pagi hari, Adelio dan Adelia menyantap roti lapis isi telur, selada, dan tomat karena keduanya tidak sempat menikmati sarapan mereka di rumah. Adelio memiliki jadwal syuting pagi ini, sehingga mereka harus berangkat pagi-pagi sekali dari rumah.
“Lio, lawan main kamu nanti Rumi?” tanya Adelia dengan mulut penuh.
Adelio mengangguk kemudian menjawab, “Iya. Wah, bahkan aku dan Rumi tak bisa dipisahkan dan selalu dipasangkan.”
“Ingat apa yang aku katakan padamu semalam ya! Move on, Lio. Move on!” tegas Adelia.
“Nanti saja aku move on kalau sudah selesai syuting filmnya. Aku kan harus memiliki chemistry yang kuat dengan Arumi, agar hubungan tokoh yang kami perankan lebih tersampaikan ke penonton,” jawab Adelio dengan alasannya.
Adelia mengerlingkan matanya tajam pada kakak kembarnya itu. “Alasan saja. Bilang saja kamu mencari kesempatan karena dipasangkan dengan Arumi. Semoga Devandra akan ikut ke lokasi syuting.”
“Bukannya bagus kalau Devandra datang ke lokasi syuting? Jadi, dia bisa melihat betapa romantisnya aku dan Arumi nanti,” sahut Adelio terkekeh.
Sontak Adelia menjewer telinga sang kakak. Kemudian gadis itu berkata lantang, “Hei, Lio! Sadar dong! Arumi itu sudah menikah dengan Devandra, sudah punya anak juga. Kamu nggak boleh jadi perusak rumah tangga orang!”
“Aduh, duh, duh! Sakit, Lia!” Adelio mengaduh seraya melepaskan tangan sang adik dari telinganya. “Aku bercanda, Lia. Bercanda. Lagipula kalau Arumi mau jadikan aku suami keduanya juga aku nggak akan menolak,” sambungnya.
“Apa?!” Bola mata Adelia membulat seakan ingin keluar. “Beraninya kamu bilang begitu, Lio! Sepulang syuting nanti kamu ikut denganku!” ajak Adelia kemudian.
“Ikut ke mana?” tanya Adelio penasaran.
“Mau ke orang pintar. Mau minta air yang sudah dijampi-jampi biar kamu bisa move on dari Arumi,” jawab Adelia.
“Sembarangan kamu!” Adelio mendorong pelan lengan sang adik. “Kalau ke orang pintar untuk buat Arumi jadi milikku sih nggak apa-apa,” guraunya.
“Mau kamu datangi puluhan orang pintar, Arumi tetap istri Devandra. Nggak akan ada yang berubah, Lio. Ayo sadar!” tegas Adelia.
“Ah, sudahlah!” Adelio tidak ingin melanjutkan perdebatan antara dirinya dengan adik kembarnya. Dia pun memalingkan wajahnya, melempar pandangannya ke luar jendela.
Namun, Adelia masih memperhatikan Adelio dengan seksama. Kemudian Adelia menengadahkan kedua tangannya di bawah dagu. Bibirnya komat-kamit entah merapalkan apa. Setelah itu Adelia mendekati sang kakak dan mengusap kasar wajah kakak kembarnya itu.
“Move on! Ayo move on! Semoga nama Arumi cepat hilang dari hati Adelio. Fuuhhh ….” Adelia bahkan meniup pucuk kepala Adelio setelah mengusap wajah pria itu.
Adelio terkesiap. “Ya ampun, Lia! Kamu kira aku kerasukan?” geramnya.
“Sstt … diam ya! Aku sudah doain kamu biar move on. Jangan membantah. Sstt …!” Jari telunjuk tangan kanan Adelia diletakkan di depan bibir, meminta Adelio untuk bungkam.
Kemudian setelah itu Adelia menggeser bokongnya menjauh. Memalingkan wajahnya dan menatap ke luar jendela yang berada di sebelahnya. Sementara Adelio hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung dengan sikap adik kembarnya.
Setibanya mereka di lokasi syuting, Adelio dan Adelia langsung menuju ke ruang ganti. Adelio harus mengganti pakaiannya dengan yang sudah disediakan di sana. Wajahnya juga butuh polesan bedak, bibirnya juga butuh lip balm, agar tampak fresh di sorotan kamera.
“Lio! Lia! Kalian sudah datang?” Tiba-tiba saja dari arah berlawanan Arumi yang berjalan didampingi Ghani menyapa saudara kembar tersebut.
Senyum merekah mengalahkan mekarnya bunga di taman tercetak jelas di wajah Adelio. “Arumi …!” Dia bahkan melambaikan tangannya seraya berlari kecil menghampiri Arumi.
Arumi pun berlari ke arahnya. Riasan wajah natural dengan rambut yang dikuncir kuda selalu menjadi favorit Adelio darinya. Balasan senyum dari Arumi membuat Adelio merentangkan kedua tangannya, bersiap menangkap wanita itu ke dalam pelukannya.
Jika Arumi masuk ke dalam pelukanku, maka aku tak akan menyerah mencintai dia. Akan kutunggu jandanya Arumi, tekad Adelio di dalam hatinya.
Namun, sangat disayangkan Arumi terus berlari melewatinya dan memberikan pelukan pada Adelia yang berada di belakang Adelio.
“Lia, aku senang ada kamu di lokasi syuting,” kata Arumi.
Eh? Aku dilewati begitu saja? batin Adelio. Langkahnya pun terhenti seketika.
“Iya aku juga senang bisa lihat kamu syuting,” balas Adelia.
Jadi, aku benar-benar dilewati begitu saja? Arumi tidak sedang menguji kesabaranku kan? batin Adelio lagi.
Sementara itu Ghani yang berada tidak jauh dari Adelio kemudian menghampirinya lalu melambaikan tangannya di wajah Adelio. “Lio, kok bengong? Sini saya peluk,” kata Ghani seraya menyambut pelukan Adelio. Bagaimana tidak, kedua tangan Adelio masih terentang meski langkahnya sudah berhenti.
Dengan sigap Adelio melepaskan pelukan Ghani lalu memutar tubuhnya. “Rumi, kamu nggak menyapa aku?” Adelio merajuk.
“Kan tadi sudah disapa,” sanggah Adelia.
“Tapi masa cuma kamu yang dipeluk sih, Lia!” Adelio melayangkan protes. Kedua tangannya bahkan bersedakap, bibirnya dibuat cemberut, serta wajah yang berpaling ke arah kanan.
“Bukan muhrim!” tegas Adelia pada sang kakak. “Rumi, yuk kita ke ruang ganti. Seharusnya aku jadi asisten kamu saja, jangan Adelio,” katanya kemudian pada Arumi.
Sungguh Adelio merasa geram terhadap adiknya. Kedua tangan yang bersedekap itu kemudian diturunkan dan mengepal. Alisnya bertautan. Tatapannya mengerikan. Kilat seolah menyambar di sekitar Adelio hingga aura hitam menyeruak dari tubuhnya. Adelio siap meledakkan amarahnya pada sang adik.
“Adelio, ayo kita ke ruang ganti.” Arumi mengajak Adelio ke ruang ganti bersamanya dan juga Adelia.
“Eh? I-iya ayo,” jawab Adelio dengan senyum serta tatapan lembut.
Ke mana perginya kemarahan Adelio tadi? Hanya satu ajakan dari Arumi saja sudah mampu menyingkirkan aura gelap dari Adelio, dan digantikan dengan bunga-bunga yang bermekaran di hatinya.
Semuanya berjalan beriringan menuju ke ruang ganti untuk bersiap-siap.
Sementara itu di tempat lain, di perusahaan agensi S&E Entertainment kini Devandra yang baru saja tiba di ruangannya langsung melempar bokongnya ke kursi di balik meja kerjanya. Mengeluarkan ponsel dari saku jas yang dikenakannya, lalu mengetikkan sesuatu di sana.
Devandra : Rumi Sayang, aku sudah sampai di kantor. Semangat syutingnya ya. Jangan telat makan.
Pesan tersebut dikirimkan pada istri tercintanya. Kemudian Devandra tampak terdiam beberapa saat dengan mata memandang lurus ke depan.
“Kayaknya sudah lama aku nggak pernah kirim pesan romantis begitu deh. Hmm … terakhir kapan ya? Sebulan lalu? Nggak deh kayaknya. Tiga bulan lalu? Nggak juga deh, lebih lama lagi. Saat Viola baru lahir? Itu malah aku setiap hari nemenin Arumi. Saat Arumi hamil? HAH! SAAT DIA HAMIL?” Devandra bangkit berdiri setelah mengingat kapan terakhir kali dia mengirim pesan romantis pada istrinya.
Dilihat lagi oleh Devandra layar ponsel yang masih terpampang pesan yang baru saja ia kirimkan pada sang istri. Matanya lekat menatap layar ponsel tersebut. Wajahnya pucat pasi.
“Apa segitu nggak romantisnya aku sama Arumi?” tanya Devandra pada dirinya sendiri. “Kalau begini terus kira-kira cintanya Arumi berkurang nggak ya?” tanyanya lagi.
Kemudian Devandra terduduk lemas di kursinya. Terbayang setelah sekian lama ia tak pernah mengirim pesan romantis nantinya cinta Arumi akan berkurang atau terbagi pada pria lain. Tiba-tiba terbayang wajah Adelio tersenyum menyeringai padanya.
“Nggak!” Devandra menggelengkan kepalanya cepat. “Gue nggak bisa biarin Adelio dekat-dekat sama Arumi lagi! Harus gue batalin semua proyek yang mereka bintangi bersama-sama!” Devandra benar-benar tak bisa membiarkan jika Adelio dan Arumi sering dipasangkan untuk membintangi sesuatu.
Devandra bahkan kembali bangkit berdiri dan melangkah pergi dari ruangannya dengan tergesa. Tempat yang ingin ditujunya kini adalah lokasi syuting Arumi dan Adelio.
Akan tetapi syuting sudah berlangsung. Adelio berdiri di hadapan Arumi. Menatap Arumi dengan penuh cinta. Menggamit tangan Arumi lalu mengecupnya lembut.
“Aku menyukaimu, bahkan sejak kita masih duduk di bangku SMA.” Adelio mengucapkan dialognya dengan penghayatan sempurna.
“A-aku ….” Arumi menggantung kalimatnya.
Apakah yang akan terjadi nantinya saat Devandra melihat Adelio sedang berakting mesra dengan Arumi yang menjadi pasangannya dalam film? Apakah akan terjadi pertikaian antara kedua pria tersebut?