Cekrek!
“Satu … dua … tiga!”
Cekrek!
“Bagus, Rumi. Sekarang kamu menghadap belakang lalu kepalanya menoleh ke arah kamera.”
Cekrek!
“Yak, bagus! Seperti itu. Good, Rumi!”
Pemotretan di studio tampak berjalan lancar. Arumi juga tampak sangat menikmati pemotretan yang sedang dijalaninya. Sang fotografer juga terpuaskan oleh hasil jepretannya.
“Oke, kita break dulu selama satu jam. Setelah itu Rumi ganti kostum ya!” perintah sang fotografer pada Arumi dan seluruh kru di sana.
Plok … plok … plok …. “Luar biasa. Kamu cantik sekali, Arumi.” Adelio tiba-tiba muncul sambil bertepuk tangan.
“Lio? Kamu terlalu memuji ah!” Arumi berjalan menghampirinya.
“Nggak, Rumi. Aku nggak terlalu memuji, tetapi memang kamu sudah cantik sekali. Iya kan?” Adelio mengedipkan mata kirinya pada Arumi.
Sesaat kemudian Ghani menghampiri Arumi dan Adelio. Membentangkan kain panjang berwarna merah muda untuk menyelimuti bagian bahu dan lengan Arumi yang sedikit terekspos.
“Non, kita istirahat di ruang ganti saja yuk!” ajak Ghani.
“Oke,” jawab Arumi.
“Aku ikut ya, Rumi,” pinta Adelio sembari terus mengikuti Arumi dan Ghani dari belakang.
Namun, lengan Adelio ditarik dari samping oleh seorang wanita. “Kamu, ikut aku ke ruang gantiku saja!” perintah wanita itu pada Adelio.
Sontak Adelio, Arumi, dan Ghani menolehkan kepala mereka. Ternyata wanita yang menarik Adelio adalah Quinsha. Tampak Quinsha tersenyum menyeringai dan menatap tajam Adelio bak singa yang berhasil menerkam mangsanya.
Arumi pun bergerak satu langkah mendekati Adelio lalu berkata, “Sepertinya Quinsha ingin bicara sama kamu, Lio. Aku dan Ghani akan menunggu di ruang gantiku. Langsung hubungi aku jika ada apa-apa.”
“Loh, kamu kan yang memintaku datang ke sini. Masa aku ditinggal sama dia sih, Rumi?” protes Adelio.
“Maafin aku ya, Lio. Sebenarnya dia yang memaksaku untuk memintamu datang. Tetapi jangan khawatir. Jika wanita ini berani macam-macam sama kamu, aku akan menolongmu,” ujar Arumi menenangkan Adelio.
Masih ingin mengelak dari Quinsha, Adelio kemudian memasang raut wajah merajuk lalu mendekatkan bibirnya di telinga Arumi.
“Kalau tiba-tiba dia merenggut keperjakaan aku gimana? Kamu nggak mengkhawatirkan hal itu?” bisik Adelio.
Mata Arumi memincing tajam pada Adelio setelah telinganya mendengar sesuatu yang mungkin seharusnya tidak ia dengar. Keperjakaan? Mungkin Adelio ingin sedikit bergurau, tetapi justru membuat wajah Arumi memerah seperti kepiting rebus.
“Bisa-bisanya kamu bisikin aku hal kayak gitu sih, Lio! Kamu nggak malu?” cicit Arumi memarahi Adelio.
Tanpa beban Adelio menjawab, “Untuk apa malu? Aku serius takut diapa-apakan olehnya.”
“Ehem! Tidak sopan sekali kalian bisik-bisik di depanku!” Quinsha berdeham dan menyela pembicaraan Arumi dan Adelio.
“Tuh lihatlah, Rumi. Dia sudah marah-marah. Wajahnya sudah sangat menakutkan, mengalahkan karakter monster dalam game yang aku mainkan.” Adelio kembali berbisik di telinga Arumi.
Disamakannya wajah Quinsha yang sedang marah dengan monster dalam permainan online di ponsel Adelio. Antara memang Adelio ingin menghindari Quinsha atau hanya ingin memancing amarah yang semakin besar dari wanita tersebut.
“Hei, Lio! Kamu pikir aku tidak bisa mendengarmu? Kamu menyamakan wajahku dengan monster?” bentak Quinsha tak terima disamakan dengan monster.
Sigap Adelio menarik tubuh Arumi bersembunyi di belakang tubuh wanita tersebut. Berusaha membungkukkan tubuhnya agar kepalanya bisa tertutupi oleh punggung Arumi.
“Lio! Kamu jangan bercanda dong! Aku selama ini selalu menghubungimu tetapi kamu nggak pernah merespon sama sekali. Sekarang aku berhasil bertemu denganmu tetapi kamu malah sembunyi dariku. Kamu kenapa sih?” Quinsha memberondong Adelio dengan banyak pertanyaan.
“Arumi, ayo kita ke ruang ganti.” Nada suara Adelio mendadak berubah menjadi berat.
“Nggak, Lio. Quinsha ingin bicara sama kamu,” desak Arumi.
“Kita ke ruang ganti sekarang!” desis Adelio dengan suara beratnya, membuat jantung Arumi berdegup kencang dalam kebingungan.
Kemudian Arumi menolehkan kepala ke arah Ghani. Memberi kode dengan satu gerakan kepala yang dimiringkan ke arah kiri agar Ghani mengurus Quinsha. Setelah itu Arumi beranjak meninggalkan tempat itu bersama dengan Adelio.
“Loh, Lio! Kok kamu malah pergi sih? Hey, Adelio!” Quinsha tidak mau membiarkan Adelio pergi begitu saja setelah akhirnya bertemu.
Namun, sesuai dengan perintah Arumi, Ghani terus menghalanginya.
“Quin yang cantik, kita ngobrol di tempat lain saja yuk,” pinta Ghani.
“Tidak! Minggir kamu. Aku mau bicara dengan Lio!” Quinsha mendorong bahu Ghani agar pria itu menyingkir.
“Sama saya aja dulu bicaranya, nanti baru sama Lio ya. Yuk, saya beliin kopi.” Ghani terus berusaha menghalangi.
“Ghani, minggir! Lio dan Arumi makin jauh itu, Ghan. Adelio! Arumi!” Kini Quinsha meneriakkan nama Adelio dan Arumi.
“Quin cantik, nggak baik loh marah-marah begitu. Ayo ikut saya saja.” Ghani menarik lengan Quinsha mengajaknya pergi.
Pada akhirnya Quinsha pun menyerah dan pasrah dibawa pergi oleh Ghani, meski sebenarnya di dalam hati dia masih sangat kesal karena tak bisa mengajak Adelio bicara.
Kemudian di ruang ganti, Arumi berdiri melipat kedua tangannya di depan d**a serta menatap Adelio dengan mata memincing. Sedangkan Adelio duduk di kursi sambil menundukkan wajahnya menghindari tatap mata dengan Arumi.
“Lio,” panggil Arumi.
“Iya,” jawab Adelio tanpa mengangkat wajahnya.
“Sebenarnya ada apa antara kamu dan Quinsha?” tanya Arumi.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Adelio cepat agar tak lagi ada pertanyaan terlontar.
“Jangan bohong padaku. Kenapa kamu menghindari Quinsha? Padahal jika tidak terjadi apa-apa di antara kalian, maka kamu juga pasti tidak akan masalah jika bertemu dan bicara dengannya. Sekarang jujur sama aku. Ada apa dengan kamu dan Quinsha?” Arumi memaksa Adelio agar berkata jujur.
Mata yang tadinya menatap ke lantai pun perlahan naik hingga bisa melihat wajah cantik Arumi yang sedang menunggu penjelasan. Senyum di wajah tampan Adelio juga tersungging lembut.
“Karena Quinsha tahu dengan jelas kalau aku itu cuma mencintai kamu, Arumi. Aku tidak mau bertemu dengannya dan mendengar berbagai ancaman darinya hanya agar aku bertekuk lutut padanya. Quinsha pernah mengancam akan merusak rumah tangga kamu dan Devandra kalau aku tidak menurutinya. Aku cinta sama kamu, Rumi. Aku pun berjanji nggak akan tega jika melihat kamu sedih karena retaknya rumah tangga kamu. Jadi, aku memilih untuk menghindari monster itu,” ungkap Adelio akan hal yang tak pernah ia ceritakan sebelumnya.
Arumi tak bergeming mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Adelio. Inginnya Arumi tak mempercayai itu, tetapi melihat sorot mata Adelio serta raut wajahnya yang serius membuat Arumi sulit untuk tidak mempercayainya.
“Sekarang jangan pernah terlalu dekat dengan Quinsha. Jauhi dia kalau bisa. Karena, sekali saja dia menjadi penyebab air matamu jatuh, maka aku tidak akan tinggal diam begitu saja,” kata Adelio memperingatkan Arumi.
Rasa cinta di hati Adelio masih begitu besar untuk Arumi meski wanita itu sudah memiliki seorang anak. Rasa terbiasa selalu bersama dengan Arumi sejak kecil membuat Adelio sangat sulit menghapus perasaannya. Dia sudah pernah mencobanya, tetapi justru malah membuatnya semakin jatuh cinta dengan wanita tersebut.
Kemudian saat hari sudah larut, Adelio duduk di atas ranjangnya sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Pandangannya kosong lurus ke depan. Lampu kamarnya dipadamkan. Kejadian tadi di studio masih terngiang dalam ingatannya.
Sesaat kemudian terdengar suara pintu kamar Adelio terbuka perlahan. Siluet seorang wanita berambut panjang mengendap-endap masuk tanpa menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. Wanita itu terus melangkah mendekati lemari pakaian Adelio. Saat wanita itu hendak membuka lemari pakaian tersebut, Adelio menghentikannya.
“Mau apa kamu masuk ke kamarku seperti maling, Adelia?” Suara Adelio lantang menghentikan langkah Adelia.
“Ka-kamu belum tidur?” tanya Adelia terbata.
“Makanya kamu pastikan dulu aku sudah tidur atau belum. Jangan asal masuk tanpa melihat ke kiri atau kanan,” ketus Adelio.
Adelia menolehkan kepalanya lalu menyengir pada Adelio. Seolah tak melakukan apapun, Adelia memutar balik tubuhnya dan melangkahkan kaki ke arah pintu.
“Lia, temani aku sebentar. Aku ingin meminta pendapat kamu,” pinta Adelio sebelum sang adik keluar dari kamarnya.
Wajah Adelia dipenuhi oleh senyuman. Kemudian wanita itu bergerak mendekati ranjang sang kakak dan duduk di sisinya.
“Pendapat apa? Aku siap kasih pendapat terbaik untuk kamu,” kata Adelia pada kakak kembarnya tersebut.
“Kamu tahu kan aku masih punya hati pada Arumi?”
“Tahu kok!” jawab Adelia dalam hitungan sepersekian detik.
“Apa aku salah mencintai istri orang? Sedangkan mungkin akulah yang pertama kali jatuh cinta pada Arumi dibandingkan Devandra.” Nada suara Adelio saat menanyakan hal tersebut terdengar lirih dan sedikit bergetar.
Adelia mengamit tangan kakaknya. Menggenggamnya erat sebelum menjawab pertanyaan sang kakak.
“Kamu salah, Lio. Rumi sudah istrinya Devandra. Kamu harus segera move on. Cari wanita yang bisa membuat kamu melupakan Arumi. Karena meski kamu yang lebih dulu mencintai Arumi, tetapi pria yang menjadi garis jodoh Arumi bukan kamu. Devandra.” Adelia pun menjawab sesuai dengan kapasitasnya, bukan sebagai adik ataupun teman Arumi, tetapi sebagai orang lain yang menilai kisah cinta Adelio yang cukup rumit.
“Nggak bisa, Lia. Mungkin sampai rambut Arumi putih pun aku masih akan cinta setengah mati sama dia!”
“Kalau rambut aku yang putih, kamu masih sayang sama aku sebagai adik kamu nggak? Hehehe …,” gurau Adelia.
Mata Adelio pun mengerling tajam pada sang adik. “Serius, Lia! Aku nggak lagi bercanda!”
“Hahahaha …! Maafkan aku ya, Lio. Sudah ah, aku mau tidur. Kamu pikirkan baik-baik untuk move on. Jangan selalu melihat Arumi, tetapi coba lihat juga wanita-wanita lain di sekitar kamu,” ujar Adelia.
Adelia pun bangkit berdiri. Melirik ke lemari Adelio karena dia gagal membukanya. Kemudian Adelia melangkahkan kakinya lagi ke arah pintu.
“Lia, besok jangan lupa kita berangkat pagi ya. Sekalian bilang sama Rangga lain kali izin dulu sama aku kalau mau antar kamu pulang,” ucap Adelio.
“Oke, siap! Eehh?” Langkah Adelia terhenti. Wanita itu mematung dengan mata terbelalak. “Ka-kamu tahu?” tanyanya terbata.
“Tentu saja tahu, aku ini kakak kembarmu!” jawab Adelio dengan senyum usil tersungging di wajahnya.
Adelia terus mematung. Matanya mengerjap beberapa kali. Kakinya seakan terpaku tak bisa melangkah. Adelia tertangkap basah oleh sang kakak?