Adelio dan Adelia diantarkan oleh Rangga ke sebuah private room yang berada di lantai dua. Ruangan tersebut tidak terlalu besar dengan hanya sebuah meja bundar dan enam buah kursi yang mengelilingi meja tersebut. Adelio butuh privasi agar dia bisa menikmati makanannya dengan tenang. Jangan sampai jumpa fans dadakan terjadi di restoran tersebut.
“Ini menunya,” kata Rangga seraya meletakkan buku menu di hadapan Adelio dan Adelia.
Diambil buku menu yang diberikan oleh Rangga barusan lalu langsung dibuka serta dilihat gambar-gambar menu di dalam sana.
“Ada menu baru nggak?” tanya Adelio.
“Ada. Menu yang belum lama diiklankan oleh Arumi,” jawab Rangga.
Nama Arumi terlontar dari bibir Rangga. Adelia yang sebelumnya sempat merasakan bunga-bunga bermekaran dalam hatinya kini merasa seluruh bunga layu secara tiba-tiba. Entah kenapa Adelia merasa cemburu karena Rangga menyebut nama Arumi.
“Ya sudah pesan itu saya dua ya. Buat gue sama Lia,” kata Adelio seraya memberikan kembali buku menu pada Adelio.
“Oke!” balas Rangga. “Minumnya?” tanyanya kemudian.
“Ice lemon tea aja,” jawab Adelio cepat.
Setelah itu Rangga meninggalkan private room tersebut untuk menyiapkan pesanan Adelio dan Adelia.
“Lia, kamu serius bisa mengurus semua jadwalku?” Adelio memastikan hal tersebut setelah Adelia didapuk menjadi asisten pribadi Adelio oleh Ibu Shanum.
Tanpa mau membuka mulutnya yang terbungkam Adelia hanya mengendikkan bahu menjawab pertanyaan kakaknya itu.
“Kok malah begitu? Serius dulu dong, Lia. Kamu bisa mengatur jadwalku?” kesal Adelio.
“Nggak tahu. Aku hanya menerima tawaran dari Ibu Shanum karena dia bilang aku bisa bekerja di restoran ini bersama dengan Rangga nantinya.” Adelia mengungkap kebenarannya.
Sontak tatapan Adelio memincing pada sang adik. Lagi-lagi karena Rangga. Adelio memajukan tubuhnya hingga merapat ke meja. Meletakkan kedua tangannya di atas meja, lalu melekatkan pandangannya pada Adelia.
“Kamu masih suka sama Rangga? Cinta? Balikan saja gih sana,” titah Adelio yang gemas dengan sikap adiknya.
“Tapi aku masih suka cemburu kalau dia sebut nama Arumi. Padahal sebelumnya juga biasa saja, tetapi tadi dia sebut nama Arumi dan dadaku tiba-tiba merasa sakit.” Pengakuan secara mendadak itu terlontar begitu saja dari bibir Adelia. Membuat kakak kembarnya terperangah setelah mendengarnya.
“Kamu masih cemburu sama Arumi?” tanya Adelio tak percaya.
Dijawabnya pertanyaan tersebut oleh Adelia dengan mengendikkan bahunya lagi. Adelia sendiri masih belum bisa menebak dengan benar bagaimana perasaannya sendiri terhadap Rangga. Terkadang dia sama sekali tidak ingin melihat Rangga, kadang dia senang dan berbunga-bunga jika melihat senyuman Rangga, akan tetapi kadang juga ia merasa cemburu dan posesif jika Rangga menyebutkan nama wanita lain.
“Kamu nggak jelas ah, Lia!” celetuk Adelio.
Tidak lama kemudian Rangga kembali datang dengan membawakan menu pesanan Adelia dan Adelio. Meletakkannya dengan sangat perlahan ke atas meja hingga hampir tidak menimbulkan suara sama sekali.
“Silahkan dinikmati. Ini aku beri bonus es krim untuk kamu, Lia.” Rangga meletakkan semangkuk es krim di samping tangan Adelia.
Adelia tampak biasa saja, bahkan tidak mengucapkan terima kasih atau hanya sekedar tersenyum simpul pada Rangga atas pemberiannya tersebut.
Perubahan sikap Adelia tentu saja langsung dirasakan oleh Rangga. Entah dari mana datang keberanian dalam diri Rangga untuk mendekatkan bibirnya di telinga Adelia lalu berbisik, “Lia, pulang nanti aku yang antar ya.”
“Eh?” Bola mata Adelia membulat kemudian. Lama-lama bola matanya menjadi berbinar. Senyum yang tadi tidak mau muncul pun terukir dengan mudah di wajah cantik wanita itu.
“Oke, selamat menikmati ya!” Rangga beranjak dari tempatnya meninggalkan ruangan tersebut.
Adelio kembali menatap sang adik dengan mata memincing. “Lia, yang tadi dibisikkan sama Rangga apa?” tanyanya penasaran.
Bola mata yang tadi berbinar langsung berubah sinis menatap Adelio. Adelia mengernyitkan dahi dan mendekatkan tubuhnya merapat ke meja.
“Ra-ha-si-a.” Satu kata itu dieja sempurna oleh Adelia, sehingga sukses membuat kakak kembarnya merasa geram dan makan dengan sangat lahap setelahnya.
Adelia menyuruh Adelio untuk pulang terlebih dahulu dengan alasan dia masih ingin keliling kota menikmati sisa waktu menjadi pengangguran. Karena mulai besok dia sudah menjadi seorang asisten pribadi seorang selebriti ternama, yaitu kakaknya sendiri.
“Kamu yakin tidak apa-apa?” tanya Adelio dari balik jendela kaca mobil yang diturunkan.
“Iya, tidak apa-apa.” Adelia menjawab mantap.
“Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati ya. Jangan ragu langsung hubungi aku kalau ada apa-apa,” titah Adelio pada sang adik.
“Oke, siap!”
Mobil yang membawa Adelio pun melaju meninggalkan area restoran. Adelia melambaikan tangannya dari sisi jalan hingga mobil tersebut menghilang dari pandangannya.
“Bagus. Sekarang aku akan menunggu Rangga selesai bekerja di dalam,” ucap Adelia yang kemudian langsung melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam restoran.
Sementara itu di dalam mobil ponsel Adelio berdering. Dengan cepat ia menerima panggilan masuk di ponselnya itu karena nama yang tertera di sana adalah nama Arumi.
“Halo, Rumi!” sapa Adelio.
“Lio, apa kamu sudah sampai di rumah?” tanya Arumi di seberang sana.
Adelio pun menjawab, “Belum. Aku dan Lia baru selesai makan dan sekarang aku masih dalam perjalanan pulang. Ada apa?”
“Bisa kamu datang ke sini? Studio Kristal tempat kita biasa pemotretan untuk majalah Kristal itu,” pinta Arumi.
Adelio tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut mengingat Devandra sudah pasti tidak akan ada di sana. Jadi, Adelio mempunyai alasan untuk berlama-lama menemani Arumi di sana.
“Bisa! Kamu tunggu aku ya. Tidak sampai setengah jam lagi aku akan sampai sana,” jawab Adelio bersemangat.
Adelio pun kemudian mengakhiri panggilan telepon tersebut dan meminta supir untuk segera mengantarnya ke tempat yang dikatakan oleh Arumi tadi. Adelio tidak bisa menutupi senyum bahagianya karena diminta datang oleh Arumi.
Sayangnya, Arumi melakukan hal tersebut atas paksaan seseorang. Kini orang yang memaksa Arumi menghubungi Adelio sedang berdiri di hadapan Arumi dengan kedua tangan bersedekap.
“Wow! Dia langsung setuju untuk datang ke sini? Luar biasa sekali kamu,” sindir seorang wanita cantik di hadapan Arumi.
“Kenapa kamu tidak menghubungi Adelio sendiri? Kamu takut atau ….” Mata Arumi menyipit dan ia juga tidak melanjutkan kalimatnya.
Wanita di hadapan Arumi kemudian mengambil ponsel dari dalam tas kecil yang ia sangkutkan di bahu kirinya. Kemudian ditunjukkan layar ponsel tersebut setelah ia buka bagian perpesanan di sana.
“Lihat? Dia sama sekali tidak mau merespon pesan yang kukirimkan. Bahkan teleponku saja selalu ditolak langsung olehnya. Dia memegang teguh status perjaka seumur hidupnya,” ungkap wanita itu pada Arumi.
Belum sempat Arumi membaca semua pesan yang tertera di layar ponsel tersebut, wanita itu sudah menarik kembali ponselnya. Tetapi Arumi melihat satu pesan di mana wanita itu memohon dengan sangat untuk bertemu dengan Adelio.
“Kenapa juga dia masih lebih menuruti kata-katamu dibandingkan aku? Kamu kan sudah bersuami, sudah memiliki anak juga. Memangnya dia sudah siap menjadi perebut istri orang?” Wanita itu benar-benar tidak bisa menjaga perkataannya.
“Quinsha! Jaga mulutmu! Aku dan Lio sudah berteman sejak kami kecil. Lagipula jangan salahkan aku jika Adelio tidak lagi ingin menjadi kekasihmu.” Arumi memberi pembelaan dirinya.
“Huh!” dengkus wanita yang ternyata adalah Quinsha, mantan kekasih Adelio, seraya melangkah pergi dari hadapan Arumi.
Hubungan antara Adelio dengan Quinsha memang tidak berjalan dengan baik. Putus – nyambung. Quinsha terlalu naïf untuk mengakui jika dia sudah benar-benar jatuh cinta pada Adelio, dan Adelio masih belum sepenuhnya bisa menghapus nama Arumi dari hatinya.
“Oh, iya satu lagi.” Quinsha menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya. “Jika Adelio sudah tiba, bawa dia menemuiku di ruang ganti. Aku akan memaksanya berlutut meminta maaf,” pintanya dengan nada sinis.
Arumi tidak terlalu mengindahkan permintaan Quinsha yang dinilainya tidak memiliki sopan santun saat menyampaikannya. Arumi berjalan ke arah yang berlawanan dengan Quinsha dan bersiap untuk melakukan pemotretan.
“Non, ngapain si Quin?” tanya Ghani yang menemani Arumi di tempat pemotretan.
“Sudah, jangan banyak tanya. Daripada mood ku hancur dan tidak bisa tersenyum di depan kamera,” omel Arumi pada asisten pribadinya itu.
Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Quinsha? Apa dia benar-benar ingin Adelio berlutut di hadapannya?