TWINS 7 - Menjadi Asisten Selebriti

1661 Words
Pagi ini Adelio dan Adelia tiba di kantor agensi tempat Adelio bernaung. Mereka berdua dijemput langsung dengan mobil agensi serta dikendarai oleh seorang supir. Biasanya Ghani ikut menjemput, tetapi hari ini Ghani harus bersama dengan Arumi untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum datang ke kantor agensi. “Wah … makin besar ya kantor agensi milik Devandra ini,” kagum Adelia. Dia memutar kepalanya serta mengedarkan pandangannya ke sekeliling mengagumi betapa besar dan megahnya kantor agensi S&E Entertainment tersebut. “Bukan milik Devandra, tapi milik Ibu Shanum!” celetuk Adelio. “Sama saja, Lio. Devandra kan anaknya Tante Shanum,” sahut Adelia. “Beda. Nggak bisa disamakan gitu aja,” Adelio tak mau kalah. “Terserah kamu saja!” pungkas Adelia seraya melangkah pergi. Adelia ingin menaiki lift. Dia ikut berbaris di depan pintu lift bersama dengan beberapa orang lainnya. Namun, Adelio tiba-tiba menarik lengannya. “Memang kamu tahu kita mau ke lantai berapa?” tanya Adelio. Adelia menggeleng dan menjawab, “Nggak tahu sih! He … he … he ….” Bahkan kini dia menyengir seperti kuda. “Ikut aku!” ajak Adelio. Adelia pun menganggukkan kepala dan mengikuti kakak kembarnya tersebut. Adelia sempat mengernyitkan dahi karena Adelio berjalan menjauhi lift. Kakak kembarnya itu berjalan semakin masuk ke dalam gedung kantor agensi dan membuka sebuah pintu ruangan yang terbuat dari kaca yang tebal. “Hai, Lio! Kamu baru datang?” Ternyata di dalam ruangan sudah ada Ibu Shanum dan beberapa orang lain yang menunggu Adelio. “Iya, saya baru datang. Maaf kalau saya telat.” Adelio menundukkan kepalanya, Adelia mengikuti. “Belum telat kok. Arumi saja belum datang. Tapi dia dan Ghani sudah dalam perjalanan ke sini kok. Ayo duduk dulu sambil baca berkas yang ada di atas meja.” Ibu Shanum mempersilahkan Adelio dan Adelia untuk duduk. Tidak lama kemudian Arumi dan Ghani pun tiba di ruangan tersebut. Arumi terlihat sangat cantik dengan make up yang belum dihapusnya. “Rumi, gimana pemotretan tadi? Ada kendala?” tanya Ibu Shanum pada menantu tercintanya itu. “Lancar kok,” jawab Arumi seraya menarik kursi dan duduk di sebelah Adelio. Ghani melihat dua kursi yang kosong. Satu di sebelah Ibu Shanum, dan satu lagi di sebelah Adelia. Ghani berpikir sejenak ingin duduk di mana. Tetapi pada akhirnya dia memutuskan duduk di sebelah Adelia. “Baiklah, karena semua sudah kumpul maka kita mulai saja meeting hari ini ya,” kata Ibu Shanum memimpin pertemuan. “Bos Dave belum datang, Bu!” celetuk Ghani. Karena tidak biasanya mereka mengadakan pertemuan tanpa Devandra. Senyum di bibir Ibu Shanum terukir lebar. Wanita itu meletakkan tangannya di samping bibirnya. “Devandra lagi urus Viola di rumah hehehe …,” ungkap Ibu Shanum sambil terkekeh. “Pfftt!” Adelio menahan tawanya. Sama seperti beberapa orang di dalam ruangan tersebut. “Sudah, ayo kita mulai meetingnya!” seru Ibu Shanum. Dalam pertemuan tersebut Ibu Shanum mengembalikan pekerjaan yang ditolak oleh Devandra untuk Arumi hanya karena Devandra tidak mau ada yang semakin banyak melihat kecantikan istrinya itu. Ibu Shanum juga tidak membiarkan Adelio untuk menjadi model sepatu high heels. Arumi dan Adelio pun akan menjadi brand ambassador untuk produk perawatan wajah dan kulit yang diperuntukkan untuk kaum remaja. “Ghani, kamu harus fokus pada Arumi. Atur semua jadwal dia dengan baik. Jangan sampai Arumi kelelahan meski jadwalnya menumpuk. Beri dia istirahat minimal dua hari dalam satu minggu. Kamu mengerti?” Ibu Shanum melempar tatapannya ke arah Ghani. “Saya mengerti,” jawab Ghani. “Lalu Adelia ….” Ibu Shanum menggeser arah pandangnya pada Adelia yang duduk bersebelahan dengan Ghani. “Kamu belajar dari Ghani bagaimana mengatur jadwal Adelio. Mulai hari ini kamu menjadi asistennya Adelio. Sama seperti Arumi, berikan libur dua hari dalam satu minggu untuk kakakmu ya!” titahnya. “Eeehhh???” Kedua mata Adelia terbelalak seperti ingin keluar. “Eeehhh???” Adelio, Arumi, dan Ghani juga ikut terbelalak sambil menolehkan kepala mereka ke arah Adelia. Ibu Shanum menaikkan alisnya. Memasang raut wajah bingung ke arah mereka berempat. “Kenapa? Ada yang salah? Kamu nggak mau ya, Lia?” tanya Ibu Shanum dengan polosnya. “Loh, kok aku yang jadi asistennya Lio? Tante nggak salah kan?” Adelia menunjuk dirinya sendiri. “Nggak salah kok. Kamu datang ke sini, ikut pertemuan bareng Adelio juga, memangnya bukan karena kamu mau jadi asistennya Lio?” Ibu Shanum memastikan. Adelia menggeleng cepat menjawab pertanyaan tersebut. Dia hanya belum punya pekerjaan saja dan bosan di rumah, jadi dia memilih ikut dengan kakaknya ke kantor agensi tersebut. Namun, kemudian Ibu Shanum tetap memaksa Adelia agar menjadi asisten kakak kembarnya sampai Adelia menemukan pekerjaan yang ia inginkan. “Kamu belum punya pekerjaan kan, Lia? Kamu dampingi kakak kembar kamu ya. Kamu kan tinggal serumah, jadi lebih gampang kalau bangunin Adelio biar nggak telat. Mau ya, ya, ya, ya!” “Tapi kan ….” Adelia bingung harus menjawab apa. “Tenang saja, saya akan jamin gaji kamu sesuai dengan pekerjaan kamu. Saya juga akan carikan kamu pekerjaan yang bagus. Hmm … sepertinya di restoran juga butuh orang untuk bantu Rangga deh. Tapi masih menunggu sedikit waktu sampai Rangga siap menempati posisi baru sih.” Tatapan mata Ibu Shanum menyipit. Senyumnya berubah misterius. Pipi Adelia merona seperti biasa jika menyangkut Rangga. Kepalanya menoleh ke arah kanan. Tampak Ghani yang mengendikkan bahu padanya. Lalu kepalanya berputar menoleh ke arah kiri. Tampak Adelio memincingkan mata padanya menunggu jawaban darinya. Sementara Arumi di samping Adelio ikut menatapnya lurus sama-sama menunggu jawaban. “Jadi bagaimana?” Ibu Shanum meminta jawaban Adelia. “Kalau begitu … b-boleh,” jawab Adelia dengan suara pelan dan kepala tertunduk malu. “GOOD!” seru Ibu Shanum senang. “Oke, meeting kita akhiri sampai di sini. Selamat siang semuanya!” lanjutnya menutup pertemuan. *** “Duuhh … kok aku gampang banget terbujuk sama Ibu Shanum sih! Duuhh … nama Rangga itu sudah kayak mantra saja deh bikin aku langsung bilang iya,” sesal Adelia. Kini di dalam mobil Adelia tampak menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil sambil mengetuk-ngetuk pelan keningnya. “Butuh bantuan nggak? Siapa tahu tanganku bisa memukul lebih kuat.” Adelio menunjukkan tangan terkepalnya ke depan wajah sang adik. “Ih, kamu apaan sih!” Disingkirkan tangan sang kakak oleh Adelia. “Kamu nggak bisa bantu aku mikir ya?” “Mikirin apa lagi sih? Kamu sendiri yang menerima tawaran Ibu Shanum tadi!” Adelio membela dirinya. Benar juga. Adelia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang. Dia hanya bisa menyesal tanpa bisa membatalkan semuanya. “Aku lapar. Mau makan?” tanya Adelio, dan hanya dijawab oleh sebuah anggukkan kepala. Adelio pun meminta supir untuk membawanya ke restoran terdekat, dan restoran terdekat dari jalan yang dilalui oleh mobil mereka adalah restoran tempat Rangga bekerja. Hanya saja Adelia terlalu tenggelam dalam rasa sesalnya sehingga ia hanya melempar tatapan kosong ke luar jendela tanpa memperhatikan jalan. Namun, saat mobil sudah berhenti di parkiran restoran barulah Adelia tersadar. “Loh, kok kita ke sini?” tanya Adelia panik. “Kita kan mau makan, Lia. Kamu pikun ya? Tadi di jalan sudah aku tanya loh!” jawab Adelio gemas. “Tapi kenapa harus ke sini? Memang nggak ada restoran lain apa?” “Nggak ada! Restoran ini yang paling dekat. Sudah, ayo kita makan di dalam sana!” Kemudian Adelio menarik tangan sang adik dan membawanya turun dari mobil. Tak lupa Adelio memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya agar tidak dikenali oleh banyak orang. Tetapi Adelio lupa, jika dia membawa adik yang wajahnya cukup mirip dengannya. Hanya rambut dan tinggi mereka yang berbeda. “Selamat datang!” seru pelayan yang berdiri di depan pintu. Adelio menundukkan wajahnya, sedangkan Adelia melempar senyum. Pelayan tersebut tampak mengernyitkan dahi dan memperhatikan wajah Adelia. “Mbak, mukanya mirip banget sama selebriti yang lagi naik daun,” kata pelayan tersebut. “Eh? Siapa?” balik Adelia bertanya. “Itu loh, Lio. Tau kan? Lagi naik daun banget dia,” jawab si pelayan restoran. Adelio sudah menundukkan wajahnya agar si pelayan tidak melihat wajahnya yang tertutup masker. “Oh … Lio! Itu sih kembaran saya, Mbak!” seru Adelia tanpa berpikir panjang. “Kembaran???” Pelayan tersebut terkejut mendengarnya. Matanya langsung melirik ke arah Adelio. “Jangan-jangan ini ….” tunjuknya ke arah Adelio. “Ya ini Lio yang tadi Mbak bilang selebriti tadi,” Adelia melanjutkan. “LIOOO …! ADA LIOOO …!” Pelayan tersebut berteriak histeris kegirangan sambil melompat-lompat di tempat. Adelio mengerling tajam pada sang adik. “Kenapa kamu kasih tahu sih!” Adelia mengendikkan bahu. “Aku beneran nggak tahu kalau kamu setenar itu.” Lama di luar negeri membuat Adelia ketinggalan berita tentang ketenaran kakak kembarnya. Ini adalah kali kedua dia melihat orang lain meneriaki nama Adelio setelah sebelumnya di bandara. “LIOOO …!” “LIOOO …!” Kini dari dalam restoran beberapa gadis penggemar Adelio berbondong-bondong keluar restoran untuk bisa melihat Adelio. Hal itu membuat Adelio benar-benar kesulitan. Beruntungnya Rangga langsung keluar untuk menenangkan situasi. Beberapa satpam yang berjaga di restoran juga langsung memberi penjagaan ketat pada Adelio dan juga sang adik, hingga akhirnya mereka berdua bisa masuk ke dalam restoran. Mereka dibawa ke private room yang ada di lantai dua agar mendapatkan privasi tanpa gangguan dari para penggemar di sana. “Huff! Beruntung ada Rangga yang menolong kita. Kamu itu kalau ngomong jangan ceplas-ceplos gitu dong, Lia!” gusar Adelio. “Maafin aku, Lio. Aku benar-benar mana tahu kalau kamu sangat terkenal di Indonesia.” Adelia menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah pada sang kakak. Tiba-tiba Rangga mengusap kepala Adelia dengan lembut dan berkata, “Jangan merasa bersalah. Wajar saja, karena kamu belum lama pulang dari luar negeri. Lain kali lebih hati-hati saja.” “I-iya,” balas Adelia gugup. Wanita itu kini tidak bisa mengangkat wajahnya. Dia tidak mungkin menunjukkan wajah yang kini semerah kepiting rebus. Ditambah degupan jantungnya selalu seperti berkejaran dengan sikap Rangga padanya. “Ternyata aku masih menyukaimu,” ucap Adelia berbisik. Tatapan Rangga berubah seketika. Apakah Rangga mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Adelia barusan? Apakah Rangga akan membalas perasaan Adelia seperti dulu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD