TWINS 6 - Rasa Yang Masih Ada

1581 Words
“ADELIO!” Devandra meneriakkan nama pemuda tersebut untuk menghentikan langkahnya. Namun, Adelio tidak mengindahkannya. Dia malah mempercepat langkah kakinya menghampiri Ibu Shanum. “Ibu Shanum, boleh kita berbicara sebentar?” Adelio mengajak Ibu Shanum untuk berbicara. “Cih, sial!” Devandra kesal. Dia pun hendak menghampiri Adelio untuk menghentikannya. “Kamu mau ke mana?” Arumi menghentikan langkah Devandra dengan menarik tangan suaminya tersebut. “Aku mau menghentikan Adelio agar tidak mengatakan hal yang tidak-tidak,” jawab Adelio. “Hal yang tidak-tidak? Bukannya kamu yang memberikan dia job yang tidak-tidak?” Arumi membela sahabatnya. “Tapi kan itu demi kamu, Rumi sayang,” kata Devandra. “Ehem … ehem …!” Adelia yang berada di dekat Arumi berdeham mendengar ucapan Devandra pada Arumi. “Oh … sekarang sudah berani sayang-sayangan ya hehehe …,” goda Adelia kemudian. Belum sempat Devandra membalas ucapan Adelia, kakak kembarnya – Adelio menyampaikan protesnya pada Ibu Shanum yang masih menggendong cucu kesayangannya. “Bu, masa si Devandra kasih saya job sepatu high heels! Saya kan cowok, masa pakai sepatu perempuan!” ucap Adelio. Ibu Shanum mengernyitkan dahinya dan melemparkan tatapan matanya pada Devandra. “Apa benar begitu, Dev?” tanya Ibu Shanum pada putranya. “I-itu … nggak benar, Ma! Jangan fitnah lo, Adelio!” sangkal Devandra. “Rumi, apa yang dikatakan oleh Adelio benar? Mama tidak percaya pada Devandra,” Ibu Shanum kemudian menanyakan pada menantunya tercinta. “Itu be-“ “Tidak benar!” Devandra memotong ucapan Arumi. Adelio langsung tersenyum menyeringai melihat sikap Devandra yang menjadi panik karena takut Ibu Shanum marah padanya. Adelio bahkan melipat kedua tangannya bersedekap sambil menunjukkan raut wajah senang. “Arumi? Benar atau tidak?” Ibu Shanum kembali bertanya pada Arumi. “Be- hmph! Hmph!” Mulut Arumi langsung dibungkam oleh Devandra dengan tangannya. “Akan kuhukum nanti di kamar kalau kamu berani membela Adelio,” ancam Devandra berbisik di telinga sang istri. Arumi menyingkirkan tangan Devandra lalu membalas, “Akan kubuat kamu tidur di luar kalau tidak mau mengaku.” Sontak Devandra langsung mengangkat kedua tangannya yang terkepal tinggi-tinggi ke udara. Kemudian Devandra berlutut sambil berkata, “Maafin Devandra ya, Ma! Devandra ngaku salah. Jangan buat Devandra tidur di luar. Bisa masuk angin kalau nggak peluk-pelukan sama Rumi tidurnya.” “HAHAHAHA …!” Pernyataan Devandra sukses menghadirkan gelak tawa bagi semua orang yang berada di ruangan tersebut, terkecuali Arumi dan Adelio. Arumi tidak tertawa karena dia malu Devandra mengungkapkan hal tersebut. Meski sudah suami istri dan sudah memiliki buah hati, Arumi masihlah malu-malu, hingga kini wajah Arumi merah padam. Sedangkan Adelio tidak tertawa karena hatinya terbakar cemburu mendengar Devandra yang harus memeluk Arumi saat tidur. “Ya sudah kalau begitu, besok Mama akan datang ke kantor agensi mengurus job untuk Adelio dan Arumi. Lalu kamu, Devandra, jaga Viola di rumah!” titah Ibu Shanum pada putranya. “Yaahh … kok Devandra nggak ikutan ke kantor agensi sih, Ma? Devandra kan mau urus job yang lain,” protes Devandra. Akan tetapi protes tersebut dijawab oleh Ibu Shanum dengan sebuah tatapan mata yang tajam, yang mengartikan jika Ibu Shanum menolak protes yang dilontarkan oleh Devandra barusan. “Adelia, Adelio, Rangga, Ghani, kalian belum boleh pulang sebelum makan malam di sini ya! Arumi, kamu bantu Mama urus Viola. Mama beli baju banyak buat dia. Lalu kamu Devandra, temani teman-teman kamu!” titah Ibu Shanum pada satu per satu orang yang ada di sana. Kemudian saat malam sudah tiba, sesuai permintaan Ibu Shanum kini semuanya berkumpul di meja makan untuk menyantap makan malam bersama. Menu makan malam kali ini di kediaman Ibu Shanum adalah sirloin steak dengan saus jamur. Harumnya yang menyeruak membuat perut mereka mendadak keroncongan. “Huwaaa ... aku tidak sabar memakannya,” ucap Adelia dengan mata berbinar dan air liur yang hampir menetes melihat steak yang sudah ada di depan matanya. Rangga yang duduk di samping Adelia terlebih dahulu mengambil garpu dan pisau lalu memotong-motong steak miliknya. Nampaknya Rangga juga sudah tidak sabar menyantap steak yang tampak lezat itu. “Ayo silahkan dimakan! Tak perlu menunggu suami saya, karena dia masih sibuk bekerja. Ayo makan!” Ibu Shanum mempersilahkan semuanya untuk mulai makan. Adelia langsung mengambil garpu dan pisau lalu tersenyum sumringah menatap steak miliknya. “Akhirnya aku bisa menikmatimu wahai steak,” gumamnya dengan sorot mata lurus menatap steak miliknya. Namun, tiba-tiba saja Rangga mengangkat piring Adelia dan menukarnya dengan piring miliknya. “Silahkan dimakan ya, Lia. Sudah aku potong-potong steaknya, jadi kamu tinggal menyuapnya saja,” kata Rangga kemudian. Semburat merah jambu langsung terlihat di pipi Adelia. “Terima kasih.” Adelia pun mengucapkan terima kasih dengan suara yang kecil. Rangga menusuk satu potong daging steak yang sudah dipotongnya tadi dengan garpu lalu dibawanya ke depan bibir Adelia. “Buka mulutnya,” pinta Rangga. “Aku bisa sendiri kok.” Adelia mengambil garpu dari tangan Rangga dan menyuap potongan daging steak tersebut ke dalam mulutnya sendiri. Ternyata tadi Rangga memotong-motong daging steak di piringnya memang sengaja untuk Adelia. Sikap manis Rangga tersebut membuat Adelio dan Devandra juga ingin mencontohnya. “Rumi, sini aku potong-potong steak kamu,” ucap Devandra bersiap memotong daging steak milik Arumi. “Ini saja, Rumi. Aku sudah memotong-motong steak milikku. Ayo tukar dengan punya kamu.” Adelio tidak mau kalah. “Jangan, Rumi. Sini terima suapanku,” paksa Devandra sambil menyodorkan garpunya ke depan bibir Arumi. “Dave! Lo nggak bisa maksa-maksa Arumi!” tentang Adelio. “Arumi kan istri gue!” geram Devandra. “Arumi sahabat gue dari kecil!” Adelio kembali tidak mau kalah. “STOP! Berhenti kalian berdua! Aku kan mau makan dengan tenang. Kalau kalian tidak bisa tenang sebaiknya kalian makan di luar saja!” pekik Arumi meminta kedua pria itu untuk membungkam mulut mereka dan makan dengan tenang. Sementara itu Ibu Shanum justru tersenyum senang melihat pertengkaran antara Adelio dan Devandra. “Masa muda memang penuh semangat ya, Ghani,” ucap Ibu Shanum pada Ghani. “Hehehe … iya, Bu!” kekeh Ghani. “Kalau saja Devandra dan Adelio tidak bertengkar demi memperebutkan Arumi, mungkin Devandra tidak akan pernah mau mengakui pernikahannya dengan Arumi ke publik. Pernikahan mereka mungkin masih jadi rahasia sampai sekarang,” ungkap Ibu Shanum. “Iya sih, Bu. Tapi apa nggak masalah kalau mereka terus-terusan merebutkan Arumi?” Ghani tampak sedikit khawatir. Ibu Shanum menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa. Saya suka melihat putra saya cemburu. Hehehe …. Jadi dia akan semakin menjaga Arumi,” jawabnya. Ghani hanya bisa tersenyum lalu melanjutkan kegiatan makan malamnya. Ghani tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Ibu Shanum. Tetapi satu hal yang Ghani tahu, Ibu Shanum sangatlah menyayangi Arumi. Setelah mereka menghabiskan makan malam mereka, Adelia bersama kakak kembarnya serta Rangga berpamitan untuk pulang. Karena mereka datang bersama dengan Arumi dengan menumpang mobilnya, maka mereka pulang dengan diantarkan oleh supir. Rangga diantarkan ke restoran karena motonya masih berada di sana, sementara Adelia dan Adelio diantarkan sampai ke rumah mereka. “Lio, jawab jujur. Kamu masih mau merebut Arumi?” tanya Adelia pada sang kakak saat mereka sudah tiba di rumah. “Apa sih, Lia! Berisik tahu!” Adelio menghindar dan melangkah cepat menuju kamarnya. Namun, Adelia terus mengikutinya di belakang sambil tetap memberondongnya dengan pertanyaan yang sama. “Lio, ayo jawab aku. Kamu masih mau merebut Arumi?” “Nggak, Lia. Aku nggak ngerebutin Arumi. Kecuali ya kalau ….” “Kalau apa?” Adelia menarik lengan Adelio. “Ah, sudah ah jangan dibicarakan lagi! Kamu urus saja Rangga yang kayaknya masih cinta sama kamu. Kenapa juga sih kamu mutusin dia dulu?” Kini balas Adelio menanyakan tentang Adelia dengan Rangga. Adelia melepaskan tangan Adelio lalu membalikkan tubuhnya membelakangi kakak kembarnya tersebut. “Kenapa kamu malah balik menanyaiku sih!” protes Adelia. “Aku kan kakakmu, Lia. Jadi, wajar saja aku mau tahu tentang hubunganmu dengan Rangga. Siapa tahu aku bisa membantumu,” jawab Adelio. “Aku tidak tahu!” seru Adelia seraya melarikan diri. “Loh, Lia! Adelia! Jangan kabur kamu!” Suara lantang Adelio tidak menghentikan langkah Adelia. Adelia terus berlari hingga masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu menutup pintu dan menguncinya agar Adelio tidak bisa masuk dan mengusiknya. “Dasar si Lia, masa dia mau tahu tentang perasaanku tetapi tidak mau mengatakan perasaannya. Itu kan curang,” gerutu Adelio sambil membuka pintu kamarnya. Adelio kemudian masuk ke dalam kamar. Lalu dia melompat ke ranjang yang seperti melambai padanya. “Aahh … akhirnya istirahat juga,” kata Adelio melepaskan lelahnya. Namun, tiba-tiba Adelio bangkit dan melempar pandangannya ke lemari pakaiannya. “Harus gue pindahin nih kayaknya harta karun gue. Si Adelia nggak bisa dijaga mulutnya. Bahaya kalau sampai Arumi dan Devandra tahu apa isi harta karun gue itu,” ungkap Adelio yang mulai bersikap waspada. Adelio beranjak dari tempat tidurnya mendekat ke lemari pakaian. Dibukanya lemari tersebut dan dikeluarkan sebuah kotak besar yang ia simpan di dalam sana. Kotak yang berisi harta karun miliknya yang pastinya ada hubungannya dengan Arumi. Nampaknya Adelio memang benar-benar belum bisa menghapus perasaannya pada Arumi. Padahal pemuda itu sudah tahu jika wanita yang dicintainya sudah mempunyai suami, bahkan juga seorang anak. Namun, perasaan untuk Arumi yang tumbuh karena sudah terbiasa bersama sejak kecil membuat Adelio tidak bisa melihat wanita lain selain Arumi. Quinsha yang pernah dipacarinya saja harus sering menahan cemburu karena Adelio selalu membandingkannya dengan Arumi. Oleh karena itu hubungan mereka tidak bertahan lama. Sementara kini Adelia harus menahan gejolak dalam hatinya akan cinta lamanya yang bersemi kembali. Masih belum jelas apa alasan Adelia memutuskan hubungannya dengan Rangga. Tetapi apakah kini Adelia akan berpikir untuk kembali pada Rangga?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD