TWINS 5 - Mengadukan Job High Heels

1443 Words
“Hey, Lia. Kok kamu malah bengong?” Rangga menggoyangkan tangannya di depan wajah Adelia. Adelia pun menggelengkan kepalanya cepat. Mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Adelia tidak sanggup bertatapan dengan Rangga. “Tunggulah di sini, aku akan membawakan makanan dan minuman yang sudah kamu pesan,” pinta Rangga. Namun, tubuh Adelia bergerak sendiri. Dia beranjak dari kursi lalu melangkah pergi meninggalkan Rangga. “Adelia! Adelia!” Rangga menyerukan nama Adelia, tetapi gadis itu tidak menoleh sedikit pun. Sementara itu dalam langkahnya Adelia menggerutu kesal pada dirinya sendiri. “Duh … kamu tuh gimana sih, Lia! Datang ke sini kan mau melihat Rangga. Nah orangnya sudah di depan mata malah kamu kabur sih, Lia! Duh … payah, payah, payah!” Tiba-tiba lengan Adelia ditarik dari belakang. Langkah kakinya terhenti seketika. Adelia menoleh ke belakang dan dilihatnya Rangga sudah berdiri tegak sambil memegang lengannya. “Kamu mau ke mana, Adelia? Jangan selalu menghilang begitu saja,” pinta Rangga dengan suara beratnya. Adelia kembali memalingkan wajahnya. Gadis itu bisa merasakan pipinya menghangat hanya karena satu sentuhan tangan Rangga di lengannya. Bisa dipastikan pipinya sudah bersemu kemerahan. Sehingga Adelia semakin tidak bisa menunjukkan wajahnya pada Rangga. “Aku antar kamu pulang. Tetapi kamu ikut aku sebentar ke dalam. Aku harus bilang dulu pada pegawai lainnya.” Rangga kemudian menggenggam tangan Adelia dengan erat lalu menuntunnya agar gadis itu ikut bersamanya. Tidak melarikan diri lagi. Rangga menemui pelayan wanita yang berdiri di dekat meja kasir. Melepaskan apron lalu memberikannya pada si pelayan wanita tersebut. “Saya titip restoran ya. Saya ada perlu dengan gadis ini,” kata Rangga pada si pelayan wanita tersebut. Pelayan wanita tersebut tampak terkejut melihat manager restorannya itu menuntun seorang gadis. Ternyata di restoran tersebut Rangga sudah terkenal sebagai seorang pemuda jomblo yang enggan mencari pacar atau didekati oleh perempuan. Oleh karena itu si pelayan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ayo aku antar pulang kamu, Lia!” Segera Rangga membawa Adelia keluar dari restoran. Saat langkah keduanya sudah hampir sampai di tempat motor Rangga terparkir, Adelia menarik tangannya dan menghentikan langkahnya. “Rangga, lepaskan tanganku!” pintanya lantang. “Kenapa?” tanya Rangga. “Aku bisa pulang sendiri kok,” ucap Adelia yang kemudian hendak melangkah pergi. Lagi, Rangga menahan tangan Adelia agar gadis itu tidak kabur darinya. “Kita boleh bicara dulu?” pintanya kemudian. “Nggak. Aku nggak mau bicara apa-apa sama kamu,” jawab Adelia cepat. “Liaaa …! Ranggaaa …!” Tiba-tiba terdengar seruan panjang memanggil Adelia dan Rangga. Keduanya kemudian menolehkan kepala ke sumber suara. Arumi dan Adelio melambaikan tangan mereka keluar dari jendela mobil yang terbuka. “Rumi? Lio?” Adelia memasang raut wajah tak percaya dengan kehadiran Arumi dan Adelio. Mobil tersebut berhenti tak jauh dari tempat Adelia dan Rangga berdiri. Kemudian Arumi membuka pintu lalu berlari menghampiri mereka. Tangan kanan Arumi memegang pergelangan tangan Adelia, sedangkan yang kiri memegang pergelangan tangan Rangga. “Kalian berdua harus ikut denganku!” pintanya seraya menarik Adelia dan Rangga agar mengikutinya. Arumi kemudian meminta Adelia dan Rangga masuk ke dalam mobil. Mereka berdua duduk di kursi paling belakang. Berdua. Bersebelahan. “Pak, antar kita ke rumah sekarang ya,” pinta Arumi pada supir pribadinya. “Rumi, mau apa kita ke rumah kamu?” tanya Adelia. “Mau ajak kalian main sama Viola. Sekalian mau minta persetujuan Mama Shanum biar kamu jadi manager aku, karena Ghani sudah lebih sibuk mengurusi Adelio,” jawab Arumi. “Aku juga sekalian mau mengadu sama Ibu Shanum. Masa aku yang lelaki tulen ini dikasih job sepatu high heels sih!” Adelio menambahkan. Adelia menarik bahu Adelio agar kakak kembarnya itu menoleh ke belakang. “Apa tadi kamu bilang? Sepatu high heels? Memang siapa yang memberi job itu padamu, Lio?” tanya Adelia penasaran. “Siapa lagi kalau bukan kerjaannya Devandra!” jawab Adelio menggebu. “HAHAHAHA ….” Tawa Adelia pecah seketika. Entah kenapa dia merasa lucu dengan perselisihan antara Adelio dengan Devandra yang ternyata masih terus berlanjut. Namun, saat dia tidak sengaja menolehkan kepalanya ke arah Rangga. Mulutnya yang terbuka lebar langsung mengatup. Memalingkan wajahnya ke luar jendela menghindari kontak mata dengan pemuda tersebut. Aduuhh … Adelia, kenapa malah ketawa lebar begitu sih! Malu kan dilihat sama Rangga! gumamnya dalam hati. Adelio yang masih mengarahkan pandangannya ke belakang langsung memincingkan kedua matanya melihat perubahan sikap sang adik yang tiba-tiba. Kemudian Adelio menyunggingkan senyum menyeringai di wajahnya. “Ternyata begitu ya. Wah … adikku ini ternyata lebih tidak pandai menyembunyikan perasaannya,” ucap Adelio dengan nada menggoda. Mata Adelia mengerling tajam. “Perlu kubongkar rahasiamu? Aku sudah memeriksa isi lemari kamu loh, Lio,” ancam Adelia jikalau sang kakak mengusiknya. Sontak ancaman Adelia berhasil membungkam mulut Adelio. Pemuda itu langsung memutar kepalanya menghadap depan. Namun, Arumi yang duduk di sebelahnya malah menjadi penasaran. “Adelio ada rahasia apa sih?” tanya Arumi dengan polosnya seraya menoleh ke belakang. “Jadi, Adelio itu ….” “STOP!” pekik Adelio. “Awas saja ya kalau kamu lanjutkan!” Adelio mengancam balik. “Bodo amat! Jadi gini, Rumi. Adelio itu menyimpan hhmmpph …! Hhmmpphh …!” Adelia tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Rangga langsung membungkam mulut Adelia dengan tangannya. “Tidak baik membongkar rahasia seseorang,” celetuk Rangga kemudian. Rahasia Adelio terselamatkan. Pemuda itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke belakang. Rangga menyambut uluran tangan Adelio. Kedua pemuda tersebut berjabat tangan ala lelaki. *** “Arumi! Arumi, kamu di mana?” Devandra memanggil nama istrinya. Devandra dan Ghani baru saja tiba di rumah tempat tinggal Devandra beserta keluarganya. Ghani yang sempat diperintahkan oleh Devandra untuk mengejar Arumi dan Adelio malah dimarahi oleh Arumi dan ditinggal di loby kantor agensi. Oleh karena itu Ghani bisa kembali ke rumah bersama Devandra. Namun, ternyata Arumi belum tiba di sana. “Ghan, kok Arumi nggak ada ya? Dia masih ada jadwal lagi nggak?” tanya Devandra. “Harusnya sih sudah nggak ada, Bos!” jawab Ghani. “Tapi kok dia nggak ada di rumah ya? Apa dia pergi sama mama dan Viola ya?” Devandra mengira-ngira. Tidak lama kemudian Ibu Shanum pun tiba di rumahnya sambil menggendong cucu kesayangannya. Di belakang Ibu Shanum terlihat seorang wanita berpakaian seragam pengasuh anak sedang menenteng beberapa tas belanjaan. “Baju dan mainan Viola langsung kamu taruh di kamarnya ya. Viola biarkan di sini sama saya,” perintah Ibu Shanum pada wanita tersebut. “Baik, Nyonya,” jawab wanita pengasuh tersebut. Kemudian Devandra dan Ghani menghampiri Ibu Shanum. “Ma, habis dari mana?” tanya Devandra. “Eh, kamu sudah pulang. Kok tumben masih jam segini sudah pulang? Kamu nggak kabur-kaburan kan, Dev?” Ibu Shanum melempar pandangannya ke arah jam yang menempel di dinding. “Ghani yang ngajakin pulang, Ma,” jawab Devandra dengan menjadikan Ghani sebagai kambing hitam. “Loh, kok saya yang ….” Kalimat sangkalan Ghani terhenti karena melihat Devandra yang memelototinya. “Mama nggak yakin kalau Ghani yang ajak kamu pulang, Dev. Kamu kan sering kabur-kaburan,” celetuk Ibu Shanum. Pembelaan dari Ibu Shanum tadi membuat Ghani tersenyum senang. Akan tetapi senyumnya kembali pudar karena Devandra mengerling tajam padanya. Kerlingannya sangat tajam seperti seekor elang yang siap menerkam mangsanya. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki beberapa orang memasuki rumah mewah tempat tinggal Devandra tersebut. Terdengar pula suara pria dan wanita yang sedang berbincang-bincang. Devandra menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk lalu mendapati Arumi, Adelio, Adelia, dan juga Rangga datang bersama-sama. “Arumi! Dari mana saja kamu?” teriak Devandra membuat mereka terkejut. “Loh, kamu sudah sampai duluan?” Dengan santai Arumi malah balik bertanya. “Duh, bakal ada perang-perangan lagi ini sih!” celetuk Adelia pelan. Devandra melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Arumi. Lalu dia menarik tangan sang istri agar menjauh dari Adelio. Tetapi hal yang mengejutkan terjadi. Adelio menarik tangan Arumi yang satunya, menahan wanita itu agar tidak mengikuti suaminya. “Kenapa lo narik-narik tangan Arumi?” tanya Devandra dengan tatapan tajam. “Karena lo main narik dia,” jawab Adelio tanpa segan. “Lepasin! Dia istri gue,” geram Devandra. Mata Adelio kemudian melihat Ibu Shanum yang berdiri tak jauh di belakang Devandra sambil menggendong seorang balita perempuan yang sangat lucu dan menggemaskan. “Nah, itu dia Ibu Shanum,” kata Adelio sambil menyunggingkan senyum di wajahnya. “Memangnya kenapa?” Devandra mengernyit heran. Tangan Adelio yang memegang tangan Arumi pun dilepaskan. Kemudian Adelio melangkahkan kaki mendekati Devandra. “Gue mau mengadukan masalah job high heels sama Ibu Shanum,” bisik Adelio. Kedua mata Devandra terbelalak mendengar hal tersebut. Devandra ingin menghentikan Adelio, tetapi pemuda itu melangkah dengan cepat menghampiri Ibu Shanum. Hanya ada satu cara bagi Devandra untuk menghentikannya, yaitu meneriaki nama Adelio dan memaksanya pergi “ADELIO!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD