Adelia menyusup masuk ke kamar kakaknya dan berjalan mengendap-endap mendekati ranjang. Kakaknya itu masih terlelap tidur dengan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya. Kemudian Adelia memindai wajah kakak kembarnya yang terlihat lelah dalam tidurnya.
“Memangnya secapek itu ya jadi selebriti?” tanya Adelia pelan pada sang kakak yang masih memejamkan kedua matanya.
Kemudian Adelia menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuh Adelio. Niat gadis itu awalnya hanya ingin mengisengi kakaknya agar terkejut dan langsung terbangun dari tidurnya. Tetapi yang didapat Adelia adalah dia menemukan kakaknya tidur hanya mengenakan celana yang super pendek dan sangat ketat.
“KYAA …!!” teriak Adelia karena dia yang terkejut atas aksinya sendiri.
Sontak suara Adelia yang memekik telinga membuat kedua mata Adelio langsung terbuka, bahkan pemuda itu terperanjat menemukan Adelia yang semakin berteriak histeris karena Adelio terbangun dari tidurnya. Loh, bukankah memang itu niat Adelia?
“Kenapa kamu teriak-teriak? Ada apa?” Adelio sedikit panik dan langsung bangkit lalu menghampiri Adelia.
“Jangan dekat-dekat! Sana jauh-jauh!” Adelia justru mengusir sang kakak dan memintanya menjauh.
“Eh? Kenapa memangnya? Kamu kenapa sih, Lia?” Adelio menjadi sangat bingung dengan perilaku sang adik saat ini.
Adelia kemudian langsung mengulurkan tangannya ke depan dan membuka kedua telapak tangannya lebar-lebar ke hadapan Adelio.
“Jangan dekat-dekat! Jauh-jauh dari aku! Kamu itu ya gimana nggak masuk angin tidur tanpa pakai celana yang lebih panjang,” tegur Adelia menyadarkan sang kakak jika saat ini dia hanya mengenakan celana pendek dan ketat yang biasa digunakan di balik celana jeans panjangnya.
Mata Adelio perlahan bergerak turun melihat ke arah bawah, memastikan apa yang sedang dikenakannya saat ini.
“AARRRGGGHHH!!” Adelio berteriak lebih histeris dibandingkan sang adik.
Setelah itu dia mengusir Adelia keluar dari dalam kamarnya. Betapa dia merasa dipermalukan oleh sang adik pagi ini.
Sekitar dua jam kemudian Ghani – asisten pribadi Adelio yang dulunya adalah asisten pribadinya Devandra – datang menjemput Adelio di kediamannya.
“Lio, ayo cepat kita ada pemotretan!” seru Ghani memanggil Adelio dari ruang tamu.
Adelia yang baru keluar dari kamarnya langsung berlari menghampiri sumber suara.
“Ghani!” sapa Adelia yang sangat senang bisa bertemu kembali dengan Ghani setelah sekian lama.
Begitu juga dengan Ghani yang tampak senang dengan kehadiran Adelia. Ghani langsung menghampiri Adelia lalu memberikan sebuah pelukan hangat dan singkat sebagai tanda ia merindukan gadis itu.
“Padahal kemarin aku mau ikut jemput ke bandara, tapi nggak dibolehin sama Lio.” Ghani mengadu pada Adelia. “Aku sampai ditinggal di lokasi syuting kemarin,” tambahnya.
“Kamu ditinggal sama Lio? Hahaha ….” Adelia menertawakan Ghani.
“Kok kamu malah ngetawain aku sih? Nanti aku aduin sama non Rumi baru tahu rasa kamu. Tahu sendiri gimana non Rumi kalau marah, singa saja kalah. Hihihi ...,” balas Ghani yang kemudian terkikik setelahnya.
Tak lama kemudian Lio pun hadir di antara mereka berdua. “Ngomongin apa kalian berdua? Ngegosipin gue pastinya ini sih,” tuduh Adelio dengan sangat percaya diri.
Adelia dan Ghani kemudian saling melempar pandang lalu tertawa bersama karena rasa percaya diri yang terlalu tinggi dari Adelio.
“Kalian kok malah ketawa lagi sih? Sudah deh jangan ketawa terus, nanti malah dilihatnya kalian tuh kayak orang gila,” sindir Adelio pada sang adik dan juga asisten pribadinya sambil menyunggingkan senyum usil.
“Lio, aku boleh ikut ya. Aku belum ada kegiatan apa-apa jadi aku takut bosan,” pinta Adelia pada sang kakak.
Adelio membalas, “Memangnya kalau ikut aku kamu nggak bosan?”
Kepala Adelia menggeleng dengan mantap agar sang kakak mengizinkannya untuk dapat ikut bersamanya. Adelio melirik Ghani, meminta persetujuan dari asistennya tersebut. Lalu Ghani mengangguk memperbolehkan Adelia ikut dengan mereka.
“Asyiikkk aku bisa sekalian cuci mata! Siapa tau ada selebriti baru yang nyantol sama aku. Hehehe ….” Adelia bersorak kegirangan hanya karena diizinkan ikut menemani pemotretan sang kakak.
Gadis itu kemudian langsung berlari kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian yang ia kenakan. Dia akan memilih pakaian yang lebih pantas untuk mendatangi sebuah tempat pemotretan. Sebuah kemeja lengan panjang berwarna putih yang ia gulung bagian lengannya dengan bawahan celana jeans panjang berwarna biru terang. Adelia ingin terlihat sedikit bergaya dengan mengenakan sepatu high heels bertali warna putih.
“Tarraaa …!” Adelia kembali menghampiri Adelio dan Ghani sambil menunjukkan pakaiannya. “Gimana? Sudah oke kan?” tanyanya kemudian pada dua pria di sana.
Dengan cepat Adelio menjawab, “Kamu masih kalah oke dari Arumi, Lia. Dia sudah mempunyai anak tetapi masih tetap awet muda seperti anak sekolah. Penampilannya juga simple, tetapi entah kenapa selalu terlihat berkelas.”
Tangan kanan Adelia melayang dan mendarat kencang di lengan sang kakak.
PLAK!
“Kamu tuh masih saja sedikit-sedikit Arumi, sedikit-sedikit Arumi. Kapan gitu sedikit-sedikit Adelia, atau sedikit-sedikit Quinsha!” gusar Adelia yang selalu dibandingkan dengan Arumi.
“Ssttt!! Jangan bawa-bawa nama Quinsha deh!” Dibungkamnya mulut sang adik karena menyebut nama mantan terindah Adelio.
Tiba-tiba melihat kelakuan saudara kembar itu membuat Ghani sakit kepala. “Sudah, sudah! Jangan ribut-ribut lagi! Lio, Lia, sudah rapi kalian berdua? Ayo kita berangkat sebelum terjebak macet!” titah Ghani pada keduanya.
Masih sambil memasang raut wajah meledek dan juga saling berbalas menyiku satu sama lain, Adelio dan Adelia mengikuti Ghani keluar dari rumah mereka. Saat Ghani menolehkan kepalanya ke belakang, baik Adelia maupun Adelio langsung terdiam dan tersenyum pada Ghani. Namun, saat Ghani kembali menghadap ke depan Adelia dan Adelio kembali saling menyiku dan memasang wajah meledek.
Di dalam mobil saja mereka berdua harus duduk mengapit Ghani. Adelia di sisi kanan dan Adelio di sisi kiri. Jika Ghani tidak duduk di antara mereka, bisa-bisa akan terjadi adu mulut lagi sepanjang perjalanan.
Sebenarnya mereka berdua bukan bertengkar, tetapi begitulah cara mereka menunjukkan kasih sayang mereka, juga saling mengisi kekosongan di hati mereka. Bagi Adelia, tak ada tempat lain untuk bersandar selain bahu Adelio. Begitu pun dengan Adelio, tak ada tempat lain untuk menceritakan segala sesuatunya kecuali pada Adelia.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dan menembus kemacetan di Jakarta akhirnya Adelia, Adelio, dan juga Ghani tiba di lokasi pemotretan. Tema pemotretan kali ini adalah “Taman Surga”, jadi lokasi yang dipilih adalah sebuah taman berbunga dengan dekorasi gerbang-gerbang yang terbuat dari dedaunan dan juga bunga-bunga.
“Waahh … segar sekali udara di sini.” Adelia merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara segar di sana.
“Ghan, Arumi sudah sampai?” tanya Adelio pada asistennya.
Pertanyaan tersebut langsung di jawab oleh Ghani, “Sudah. Non Rumi juga sudah ganti baju malah. Saya habis chatting sama dia.”
Baru saja Ghani selesai berkata demikian, dari arah utara, tempat dimana ruang ganti disediakan, Arumi berjalan mengenakan baju terusan panjang tanpa lengan berwarna putih, dengan ikat pinggang yang seperti terbuat dari ranting pepohonan dan juga mahkota yang terbuat dari bunga-bunga berwarna putih.
Cantik. Satu kata yang tepat untuk mengekspresikan pesona yang terpancar dari Arumi saat ini. Adelio pun kini menatap Arumi yang berjalan ke arahnya dengan bola mata berbinar-binar. Sepertinya Adelio jatuh cinta lagi untuk yang ke-sekian kalinya pada orang yang sama.
“Adelio, kamu baru sampai?” tanya Arumi.
Adelio tidak menjawab. Dia masih terpana oleh pesona Arumi yang seperti dewi kahyangan.
Dari samping Adelia menyiku lengan sang kakak agar jiwanya kembali memijak bumi. “Lio, jangan bengong!” seru Adelia kemudian.
“E-eh? Be-bengong? Ng-nggak kok,” elak Adelio.
“Bohong! Bilang saja kamu terpesona sama Arumi,” Adelia menggoda sang kakak. “Rumiii … kamu cantik banget sih,” puji Adelia pada Arumi setelahnya.
“Kamu bisa saja sih, Lia. Ini cuma karena make up saja,” balas Arumi mencoba merendah.
“Tuh, si Adelio saja sampai nggak berkata-kata melihat kecantikan kamu. Makin susah move on dia jadinya. Hahaha ….” Adelia tertawa setelah meledek Adelio.
Namun, Arumi hanya membalas ucapan Adelia dengan sebuah senyuman. Bukan Arumi tidak tahu perasaan Adelio, hanya saja dia sudah nyaman dengan persahabatan mereka bertiga dan jangan sampai ada lagi yang namanya cinta yang akan merusak persahabatan mereka.
Sesaat kemudian sang fotografer memanggil Arumi untuk melakukan pemotretan terlebih dahulu sambil menunggu Adelio berganti pakaian. Sambil melihat Arumi yang berlalu, Adelio terus menahan gejolak di dalam hatinya agar tidak lagi tumbuh perasaan cinta pada Arumi.
“Jangan Arumi lagi dong, Lio. Kamu cari yang lain saja. Balikan sama Quinsha juga nggak apa-apa asalkan kamu tidak mencoba jatuh cinta pada Arumi seperti dulu,” pesan Adelia pada saudara kembarnya.
Adelio mengangguk pelan. Tanpa Adelia mengatakannya pun Adelio sudah tahu. Tetapi sesuatu di dalam hatinya kadang sangat sulit untuk diajak bekerja sama.