Di Bandara Internasional Soekarno – Hatta tampak seorang pemuda mengenakan pakaian serba hitam; sweater hitam, celana panjang hitam, topi hitam, masker hitam, hingga kacamata juga hitam, tengah berdiri dengan wajah tertunduk dan gelisah di pintu kedatangan. Nampaknya pria itu sedang menunggu kedatangan seseorang di sana.
“Mana sih dia? Katanya mendarat jam sebelas siang, ini sudah jam satu masih belum juga terlihat batang hidungnya!” gerutu pemuda itu.
Sesekali pemuda itu menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan seperti memeriksa situasi di dalam bandara tersebut. Jika ada orang yang melihat ke arahnya, pemuda itu langsung memalingkan wajahnya menghindar dari tatapan orang tersebut seolah takut dikenali.
“Makin ramai di sini, aku takut ada orang lain yang mengenaliku di sini,” gumam pemuda itu.
Selang sepuluh menit kemudian para penumpang berhamburan keluar dari pintu kedatangan tempat pemuda itu menunggu. Dari balik kacamata hitam yang dipakainya pemuda itu tampak melempar pandangannya mencari orang yang sudah lama ditunggunya. Seorang wanita berambut lurus panjang sepunggung, berpakaian casual, ditambah dengan jaket kulit berwarna coklat berjalan keluar dari pintu kedatangan sambil menarik dua buah koper besar.
“Itu dia,” celetuk pemuda tersebut.
Pemuda itu kemudian mengangkat tangan kanannya ke udara, dilambaikan tangannya beberapa kali sampai wanita yang mengenakan jaket kulit itu melihat ke arahnya.
“Sstt! Adelia, di sini!” panggil pemuda itu dengan sedikit lantang.
Wanita yang bernama Adelia itu menoleh ke arah pemuda yang memanggilnya. Disipitkan mata wanita itu berusaha mengenali pemuda yang terbalut pakaian serba hitam tersebut. Namun, kemudian mata wanita itu terbuka lebar dan tersungging senyum sumringah saat ia mengenali pemuda yang melambaikan tangan padanya.
“LIO …!” teriak Adelia yang mengenali pemuda tersebut. Pemuda itu adalah kakak kembarnya yang bernama Adelio.
Namun, teriakan Adelia mengundang mata para pengunjung untuk menatap ke arah Adelio dengan pakaian serba hitamnya. Tak lama kemudian terdengar seruan hingga jeritan para gadis memanggil Adelio.
“LIIOOO …! Aku ngefans sama kamu!”
“Lio, sapa aku! Aku fans kamu juga!”
“KYAAA … LIOOO ….”
“Cih! Gara-gara dia aku jadi dikerubungi sekarang!” gerutu Adelio yang sudah berada di tengah kerumunan para penggemarnya.
Inginnya dia segera terbebas dari kerumunan tersebut, tetapi apa daya dia masih harus memasang senyum terbaiknya untuk semua penggemarnya yang ada di bandara tersebut.
Beruntungnya tidak lama kemudian beberapa petugas keamanan di bandara tersebut datang dan membantu Adelio mengurai kerumuman penggemarnya. Petugas keamanan itu juga mendampingi Adelio dan Adelia sampai mereka masuk ke mobil jemputan mereka.
“Semua gara-gara kamu, Lia! Kalau saja tadi kamu tidak meneriaki namaku, mungkin mereka tidak akan mengerubungiku!” Adelio memarahi adik kembarnya karena kesal penyamarannya terbongkar.
“Ha … ha … ha … ha …! Ternyata kamu benar-benar sangat terkenal di Indonesia. Rumi berhasil membuatmu terkenal, Lio. Ha … ha … ha ….” Adelia malah menertawai kakaknya itu.
“Diam kamu! Jangan tertawa lagi. Aku menyesal sudah menjemput kamu, Lia,” ucap Adelio sedikit ketus.
“Jangan marah dong, Lio. Kita baru ketemu lagi setelah sekian lama loh. Masa kamu malah ngambek gitu sih! Nggak seru ah kamu ini.” Adelia melayangkan protesnya pada sang kakak. “Eh, tapi kok bisa penggemar kamu ada di bandara juga ya? Mana tadi aku lihat juga ada pramugari yang ikut di kerumunan,” tambah Adelia bertanya.
“Mana aku tahu. Mungkin karena baru-baru ini film yang aku bintangi bersama Rumi meledak di pasaran,” jawab Adelio.
Kepala Adelia mengangguk-angguk mendengar jawaban Adelio. Kemudian Adelia menolehkan kepalanya pada sang kakak. Menatap sang kakak dengan intens hingga membuat kakaknya itu sedikit merasa tidak nyaman.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Adelio yang merasa risih dengan tatapan Adelia.
“Aku hanya tidak menyangka jika kamu benar-benar menjadi selebriti. Apa kamu menjalani profesi ini sampai sekarang karena keinginanmu? Atau hanya karena kamu belum move on dari Arumi?”
Pertanyaan sang adik yang terlalu to the point itu tentu membuat Adelio sedikit tergugu dan sulit menjawabnya. Pemuda itu langsung memalingkan wajahnya dan melemparkan pandangannya ke luar jendela, arah yang berlawanan dengan posisi adiknya duduk.
“Hey, Lio! Jangan kamu mengabaikan pertanyaanku itu ya!” Adelia menarik bahu sang kakak agar kakaknya itu kembali melihat ke arahnya.
Akan tetapi, Adelio menyingkirkan tangan sang adik di bahunya dan kembali memalingkan wajahnya.
“Baiklah kalau memang mau kamu seperti itu. Akan kutanyakan langsung pada Arumi dan Devandra!” ancam Adelia.
“Jangan!” Adelio langsung memberikan respon. “Kamu apaan sih, Lia? Jangan iseng deh nanya-nanya sama mereka,” cicitnya.
Membalas perlakuan sang kakak sebelumnya, Adelia juga memalingkan wajahnya ke arah jendela. Membuat Adelio sedikit kesal karenanya.
“Hei, Lia. Kamu mau membalas aku ya?” tanya Adelio.
“Tentu saja,” jawab Adelia sambil menahan tawa.
“Ya sudah jangan begitu lagi. Aku akan menjawab pertanyaan kamu yang tadi kapan-kapan, karena sekarang aku masih tidak ingin membicarakannya,” ucap Adelio pada sang adik.
Sejujurnya, pemuda itu bukannya belum move on, hanya saja ia merasa sulit untuk meninggalkan agensi yang membesarkan namanya itu. Agensi S&E Entertainment yang kini dikelola oleh Devandra bersama dengan orang tuanya. Adelio merasa diberikan tanggung jawab penuh oleh Arumi dan Devandra untuk menggantikan Devandra bersinar sebagai selebriti. Apalagi skandal yang pernah terjadi di antara mereka bertiga malah membuat karir Adelio naik dengan cepat. Tidak mungkin juga Adelio mengecewakan penggemarnya jika meninggalkan status selebritinya begitu saja.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam, Adelio dan Adelia akhirnya tiba di sebuah rumah bergaya minimalis dengan cat yang didominasi warna putih. Dari luar sama terlihat sebuah mobil mewah berjenis MPV berwarna putih sudah terparkir di dalam halaman rumah tersebut.
“Itu mobil siapa?” tanya Adelia pada sang kakak sebelum turun dari mobil yang ditumpanginya.
Adelio melihat ke luar jendela lalu menjawab, “Mobil Arumi dan Devandra. Sepertinya mereka sudah menunggu kita di dalam rumah.”
“Sebelum aku pergi meninggalkan Indonesia, mobil mereja bukannya berwarna hitam?”
“Kamu itu jangan banyak tanya ya, Lia. Mereka sudah menggantinya dengan yang itu,” jawab Adelio sambil mengarahkan dagunya ke arah jendela.
Kakak beradik kembar itu kemudian keluar dari mobil dan memasuki rumah mereka. Mereka langsung disambut dengan oleh Arumi dan Devandra serta kedua orang tuanya.
“Adelia …!” seru Arumi seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan melompat memeluk sahabatnya itu.
“Rumi … aku kangen sama kamu,” ucap Adelia.
“Aku juga kangen banget sama kamu, Lia,” balas Arumi.
Adelio melirik ke arah Devandra, kemudian dia melangkah cepat mendekat pada Arumi dan Adelia dan memeluk mereka berdua dengan manja.
“Kalau Arumi kangen sama Adelia, aku juga kangen sama kamu,” katanya dengan nada bicara dibuat manja.
Pemandangan itu membuat alis kiri Devandra bergerak naik. Tangannya juga terkepal. Tetapi melihat ada kedua orang tua Adelia dan Adelio membuat Devandra hanya bisa menahan rasa kesalnya pada Adelio yang berani memeluk Arumi di sana.
“Ih, Lio apaan sih! Sok manja kamu! Padahal ya, Rumi, tadi itu dia marah-marah sama aku karena – emph … emph!” Bibir Adelia langsung dibungkam oleh sang kakak sehingga tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi.
Arumi tampak sedikit bingung, tetapi kemudian wanita itu tertawa melihat pertengkaran saudara kembar itu setelah sekian lama.
Kemudian Adelia berusaha melepaskan tangan Adelio yang membungkam mulutnya. Lalu wanita itu menatap sang kakak dengan mata yang memincing.
“Kenapa kamu melihatku begjtu, Lia? Jangan galak-galak, nanti kamu makin sulit mendapatkan pacar,” Adelio menggoda sang adik.
“Tidak mungkin, aku masih lebih mudah mendapatkn pacar dibanding kamu, Lio. Karena kamu satu-satunya orang yang bersumpah untuk menjadi perjaka seumur hidup!” Adelia membalas ucapan kakaknya.
Refleks saja tangan Adelio kembali membungkam mulut Adelia karena sudah mengungkit sumpahnya yang dulu. Dilihatnya Arumi kini menertawainya, tetapi di belakangnya ada Devandra yang menatapnya dengan mata berkilat.
Nampaknya sepasang saudara kembar itu masih belum menemukan tambatan hati mereka setelah sekian lama. Mungkin karena mereka pernah merasakan sakit hati, atau mungkin memang belum ada yang cocok di hati mereka.
Kisah cinta mereka akan menjadi kisah cinta yang penuh warna.