Satu hal yang membuat Putri sangat was-was, yaitu Gio. Dia tak ingin, jika Gio sampai tahu keberadaannya saat ini. Pertemuannya tadi dengan Gio, membuatnya yakin bahwa mereka berada di dalam tempat yang sangat dekat dan kemungkinan mereka bertemu, bisa lebih banyak lagi.
Untungnya, tadi Gio tak menyadari keberadaannya tadi, membuat Putri merasa sangat bersyukur sekali, karena dengan begitu, tak ada interaksi yang perlu mereka lakukan.
"Semoga saja, aku tak bertemu lagi dengan pria b******k itu." Kali ini, Putri hanya bisa berharap pada Tuhan akan keinginan yang sangat besar itu.
Dia menghembuskan napasnya dengan kasar. Matanya menatap ke arah langit yang tampak akan gelap saat ini, dan pastinya saat sore hari seperti akan ini. Dia harus cepat pulang sekarang juga.
Ada banyak pekerjaan yang harus diurusnya, belum lagi tadi Putri harus beradaptasi langsung dengan pekerjaannya itu, tentu saja Putri tak mau ada kesalahan yang dilakukannya.
Dia kembali menaiki motor nya, menjelajahi jalanan Jakarta yang selalu ramai kapan saja. Telinga nya mendengar adzan Maghrib berkumandang, sebentar lagu dia harus cepat sampai di rumahnya.
Rasanya tentu tak tega jika dia harus meninggalkan Cinta jauh lebih lama. Bagaimana juga, Cinta masihlah anak kecil, tentu gadis itu akan merasa kesepian jika dia sendirian di rumahnya.
Setelah sampai di rumahnya, dia langsung memasuki rumah minimalis itu. Saat pintu sudah dibuka, telinga nya mendengar suara teriakan yang membuat bagian pendengarannya itu terasa nyeri.
"Ibu!" Cinta berlari kencang ke arahnya dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat sekali, membuat Putri yang merasakan pelukan itu tak bisa bergerak banyak.
Putri tertawa pelan, dia mengusap rambut Cinta dan mengusapnya dengan pelan, membuat gadis yang ada di depannya ini berdecak kesal.
"Ibu, aku baru saja sisiran rambut." Cinta berucap dengan kesal nya. Tangannya kembali berusaha merapikan tatanan rambutnya itu.
Putri menaruh tas kerjanya itu ke atas sofa. Dia mengajak Cinta untuk duduk di sampingnya. "Apakah kau sudah makan malam?" tanya Putri.
Cinta menggelengkan kepalanya. "Aku ingin masakan Ibu, nasi goreng dengan tambahan kornet, telur juga ayam." Gadis kecil itu berucap dengan penuh semangat, rela dia menahan rasa lapar nya hanya demi ingin makanan masakan tangan dari ibunya itu.
Baginya, masakan dari ibunya itu rasanya sangat lezat sekali, bahkan kalah dengan restoran-restoran yang pernah dia kunjungi.
"Kau tunggu sini, ya. Ibu akan memasak dulu." Saat Putri akan membangunkan tubuhnya, dia mendengar ponselnya berdering dengan sangat kencang, membuat pandangannya teralihkan, dia melihat ke arah ponselnya itu.
Rey, adik iparnya itu menghubungi dia.
Lantas, Putri menggunakan headset tanpa kabel untuk berbincang dengan Rey, seraya dia menyiapkan makanan untuk Cinta.
"Halo, ada apa Rey?" tanya Putri seraya membuka kulkas nya, dia mencari beberapa bahan makanan yang sangat dibutuhkannya untuk membuat sepiring nasi goreng.
'Kakak tadi cerita pada ku, kalau dia sempat melihat seseorang yang mirip denganmu. Apakah kau sempat bertemu dengannya tadi?'
Putri terdiam. Apakah tadi Gio menyadari keberadaannya? Padahal, Putri sangat yakin sekali kalau Gio tak sekalipun menatap ke arahnya dan tak mungkin juga, pria itu melihatnya.
"Ya, tadi aku sempat melihatnya di restoran tempat aku bekerja. Namun, aku pastikan dia tak menyadari keberadaan ku. Tapi, bagaimana dia tahu kalau aku ada di sana tadi?"
Terdengar suara hembusan nafas Rey dari seberang sana. 'Kakak hanya menduga keberadaan mu saja, tadi. Namun, dia belum sepenuhnya yakin bahwa itu kau atau bukan."
Putri menganggukkan kepalanya. Setidaknya, dengan begitu Gio tak akan mencari tahu tentang tadi siang. "Rey, jika aku bertemu dengannya, apa yang akan dia lakukan pada ku?" tanya Putri. Pandangannya teralihkan, dia melihat sebuah cabai yang mulai dipotongnya menjadi beberapa bagian itu.
'I don't know, dia begitu banyak rahasia dalam hidupnya dan sepertinya. Namun, jika aku menduganya, aku yakin dia tak akan menceraikanmu dan mungkin, dia akan mempertahankan kedua istrinya saat ini.'
Putri berdecak kesal saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Rey baru saja. Dia tak akan pernah sudah memiliki suami yang sudah punya dua istri, apalagi madu nya adalah seorang babu.
"Aku lihat wajah babu itu yang sangat bahagia, membuat ku sangat tertarik untuk menghancurkannya," ucap Putri, seraya mengingat lagi bagaimana wajah Enzy yang sangat menjijikan di matanya.
Rey tertawa pelan. Bahkan, sampai saat ini, Putri masih saja memanggil Enzy dengan sebutan 'babu' wanita itu memang benar-benar sangat garang sekali.
'Ya dia sangat bahagia. Bahagia menghabiskan harta Kak Gio dan sungguh, aku hanya bisa geleng-geleng kepala nya saja melihat dia terus shopping.' Rey berucap dengan gamblang nya. Selama ini, dia terus mengawasi kehidupan kakak ipar siri nya itu, ternyata Enzy sangat buruk sekali kepribadiannya dibanding dengan Putri.
"Mendengarnya bahagia, membuatku ingin cepat-cepat menghancurkan hidupnya," ucap Putri dengan tawa yang mengiringinya. Mungkin ucapannya tadi terdengar seperti sebuah candaan biasa, tapi Rey sangat menyadari bahwa saat ini, Putri berucap dengan sungguh-sungguh.
'Jika kau ingin membalaskan rasa sakit mu, maka aku mendukung. Kau tak perlu takut, Putri.' Rey berucap. Dia adalah sahabat sekaligus adik ipar dari Putri, dia akan selalu membantu sahabatnya itu kapan saja.
Itulah janji yang pernah Rey tanamkan pada dirinya.
Putri menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia menaruh nasi goreng yang telah selesai masaknya ke atas piring yang berwarna putih polos itu.
Sambungan telepon telah terputus.
Dia membalikkan tubuhnya dan melihat ada Cinta yang ternyata sedari tadi asik menonton sinetron.
Putri menuju ke tempat Cinta berada dan memberikan sepiring nasi goreng itu kepada Cinta.
"Mengapa Cinta menonton sinetron aneh ini?" tanya Putri seraya matanya menatap ke arah layar televisi itu, di mana dia menyaksikan seorang wanita yang tengah menangis tersedu-sedu dengan sosok pria di dekatnya.
"Ini film nya seru, Bu. Aku sangat tak suka dengan pria itu, dia memperlakukan istrinya dengan buruk."
Putri membuka mulutnya tak percaya. Apakah Cinta sudah mengerti dengan sinetron ini?
"Apakah Ibu juga diperlakukan oleh Ayah seperti itu, dulu?" tanya Cinta dengan sungguh-sungguh.
Saat itu, Putri hanya bisa terdiam. Apakah dia harus mengakui atau berdalih? Namun, untuk apa dia berdalih dan memilih untuk membela suami yang telah menyakiti hatinya?
Buang-buang waktu nya saja.
"Ibu, jawab pertanyaan aku." Cinta menggoyangkan tangan Putri, berusaha membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.
Putri mengedipkan matanya beberapa kali, lalu dia mulai menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Sepertinya tak ada salahnya jika dia jujur.
"Ya, ayah mu tak kalah jauh seperti pria itu. Sering menyakiti hati Ibu, hanya saja Ibu tak seperti wanita yang ada di dalam sinetron itu, Ibu tak lemah dan membiarkan harga diri Ibu terinjak-injak."