Siska : Aku berdiri, memandang wajah Andra di pintu kamar. Oma dan Tante seperti biasa, sudah berpamitan tidur. Sedang Andra lebih memilih menonton dulu acara televisi, sambil memeluk satu toples kue kering. Saat sedang fokus seperti itu, kadang aku merasa itu Andra yang sebenarnya. Dingin, dan seolah tak peduli pada yang lain. Namun, setelah mengingat kembali cerita Oma dan Tante Raisa, sepertinya aku salah. Selama ini aku hanya mengandalkan info dari Dicky untuk lebih mengenal Andra, tapi ternyata itu tidak cukup. Semua yang aku dengar dari Dicky hanya separuh tentangnya, selebihnya masih tanda tanya. Dan kini tanda tanya itu perlahan terbuka, dengan berbagai kisah yang aku dengar dari keluarganya. Andra menoleh ke arahku. "Diem aja. Kenapa, Sayang?" tegurnya. Lalu kembali fokus

