Siska : Terdengar langkah kaki memasuki kamar. Pasti itu Andra. Segera kubilas tubuhku. Meraih piyama handuk, keluar dari kamar mandi. Tampak sosok itu sedang berbicara lewat ponselnya. "Ya, saya mengerti, Pak." Andra berkata dengan mimik serius. Aku menghampirinya. Memberi senyum manis, lalu mencium pipinya. Namun, dia malah menarik tanganku. Jelas tubuhku masuk ke dalam dekapannya. Segera aku melepas diri, memberi isyarat ke dalam kamar. Setelah berpakaian aku duduk di kursi, menghadap cermin. Melepas jepitan rambut dan mulai menyisir. Tahu-tahu tangan Andra sudah melingkar di leherku, dia menyimpan kepalanya di atas kepala. Kuusap lembut pipinya. "Mau makan sekarang?" "Boleh, aku udah lapar. Tadi makan siang cuma dikit," sahutnya. Lalu menurunkan kepala menelusuri leher, b

