Episode 07

1909 Words
Seorang siswa berkacamata sedang berdiri di tengah-tengah siswa lain. Wajahnya tak bisa berbohong bahwa dia sedang ketakutan dan gelisah. Langkahnya terus mundur hingga menabrak sang tembok gedung belakang sekolah. "Gaya-gayaan lo mau nolak perintah gue! Lo siapa?" bentak siswa laki-laki yang menggunakan hoodie berwarna hitam, dia berdiri tepat di depan siswa yang ketakutan itu. Tangannya sudah mendarat di bahu orang di depannya. Teman-temannya yang lain hanya tertawa melihat satu siswa itu ketakutan. "Lo itu jongos!" Remaja berhoodie hitam itu mendorong kepala si cowok hingga terbentur tembok. "Gila aja! Apa lo bilang? Lo nggak mau?" Suaranya semakin meninggi. Semua orang tertawa kecuali dia, si anak malang bernama Attar Kaylendra. ____ Brian terbangun dari mimpinya. Mimpi buruk yang selama ini dia alami. Tubuhnya basah oleh keringat. Wajahnya yang mulus juga turut serta dibasahi air yang keluar dari pori-pori kulit. Napasnya memburu. Dia segera menyalakan lampu yang terletak tepat di samping tempat tidurnya. Dia duduk, mencoba mengatur napasnya. Dia menelungkupkan kepalanya di sela-sela kaki yang ia tekuk di depan tubuh. "Ada apa? Kenapa harus hadir lagi?" ujar Brian dengan suara bergetar. Dia mencoba menegakkan kepala, melirik jam dinding. Waktu itu menunjukkan pukul dua dini hari. Sudah dipastikan Brian tak akan bisa tidur nyenyak lagi melanjutkan tidurnya. Dia menyalakan lampu ruangan kamarnya. Napasnya perlahan membaik. Dia mengelap keringat yang sudah membasahi kaos kuntung yang digunakan. Malam itu Brian tak bisa kembali tidur dengan nyenyak. Dia menghabiskannya dengan menonton televisi bahkan bermain game di dalam ponselnya. Saat menjelang pagi tiba. Barulah dia terlelap. Dering telepon mengagetkan Brian. Ia perlahan membuka matanya. Ternyata sinar matahari sudah muncul menyinari bumi. Terasa silau, sehingga dia kembali menutup mata. "Argh," keluhnya dengan suara serak. Posisinya yang tengkurep di sofa panjang, membuat kakinya terjatuh saat dia mengubah posisi. Dia meraba meja di depannya. Meraih sebuah smartphone kesayangannya. Tanpa ingin tahu siapa penelepon hari itu, dia hanya dengan lihai menyeret tombol hijau, dan mendekatkan ponsel dengan telinganya. "Iya," ucapnya dengan datar. "Baru bangun?" Suara Desta berkicau pagi itu. "He-eh," jawab Brian singkat. "Hari ini ada jadwal cek lokasi syuting! Dan pembacaan naskah juga setelahnya. Cepat! Kita akan terlambat nanti!" perintah Desta tegas. "Lo di mana?" tanya Brian. "Ini lagi beli sarapan buat lo," ucap Desta lalu mematikan ponselnya. Brian tersenyum. Dia memang teman paling baik dan pengertian. Memang sudah menjadi tugasnya menyiapkan segala sesuatunya untuk sang artis. Namun, di luar itu Desta juga sangat perhatian dari hal-hal terkecil kepada Brian. Brian bergegas membersihkan diri. Mungkin, dia sudah memenjarakan rasa malas dalam hidupnya. Dia adalah Brian yang penuh semangat. Hampir tiga puluh menit di dalam kamar mandi, akhirnya Brian keluar. Dia mendapati Desta tengah menyantap satu bungkus nasi kuning dengan lahap. "Lapar?" tanya Brian, tangannya masih menggosok handuk di kepalanya yang basah. "Tuh! Sarapan, cepet abisin, dan kita berangkat!" ujar Desta tak kentara karena mulutnya penuh dengan makanan. "Tanpa pakai baju?" ledek Brian yang memang saat itu hanya memakai handuk setengah tubuhnya. "Gila lo!" Desta menatap Brian sinis. Membuat laki-laki itu tertawa puas membuat Desta kesal. Brian masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Desta kembali dengan aktivitas makan. Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan kurang sepuluh menit. Kedua laki-laki tampan itu sudah siap untuk berangkat bekerja. Saat sudah berada di lantai basemen di mana mobil Brian diparkirkan, tanpa menunggu waktu lama menemukan keberadaan mobil Alphard berwarna hitam. Seperti biasa Brian memilih duduk di bangku depan. Baru saja menyalakan mesin mobil. Sebuah telepon masuk kepada Desta. Sudah dipastikan panggilan itu dari Dava. "Iya Bos," jawab Desta santai. "Sudah di mana? Aku udah di lokasi." Suara Dava tampak tegas dan berat. "Ini lagi otewe," ucap Desta santai. "Tunggu ya," ujarnya lalu mematikan ponsel. Brian hanya tersenyum melihat kelakuan Desta yang memang tak ada takutnya pada Dava. Padahal laki-laki itu sangat tegas dan juga terbilang kasar. "Bos lo, tuh. Mungkin hidup dia bakal tenang kalo gue dipecat." Desta menggerutu. "Makanya lo kalo kerja yang bener," jawab Brian sekenanya. "Eh, gue kan ngikutin perintah lo, mana berani gue ngambil keputusan sendiri tentang apa yang lo lakuin. Satu langkah saja, bisa aja membahayakan lo," kata Desta tegas. Brian hanya tersenyum. Dia tak masalah panggilan Desta terhadap dirinya. "Thanks, ya. Selalu ada di samping gue," ucap Brian. Desta menatap Brian sesaat hingga akhirnya pandangannya kembali ke jalanan. "Iya," jawab Desta. *** Airin menaiki anak tangga studio Secret. Langkahnya tak pasti. Dia sama sekali tak bersemangat hari ini. Mendorong pintu kaca yang berada di lantai dua. Matanya langsung menemukan sosok Ken yang sudah fokus pada pekerjaan. Laki-laki itu menyadari kedatangan Airin. Menarik garis kening saat melihat wanita itu terlalu murung. "Good Morning!" sapanya dengan ceria. "Pagi," jawab Airin lemas. Mendengar jawaban dari partnernya dia langsung kepo. "Apa ini? Apa pertemuan kemarin gagal? Apa dia nggak mau berdamai?" Ken segera meninggalkan laptopnya. Dia beranjak dan duduk bersama Airin di sofa. Netra coklat itu menatap wanita di depannya nanar. "Pasti kabar buruk," ucap Ken. Airin menoleh. Dia mengangguk tak semangat. "Sepertinya aku harus mengundurkan diri," ucapnya lemah. "Apa? Mengundurkan diri? Kenapa?" Ken berusaha tenang. "Tuh artis lebih pintar. Dia nggak lapor polisi atas kita yang ikut acara kemarin tanpa undangan. Tapi, satu syaratnya adalah aku harus kerja sama dengan dia. Gila, kan?" Airin menjelaskan. "Apa?" Ken tak percaya. Dia hampir saja tertawa. Namun, menahannya. Bagaimana bisa Airin diajak kerja sama oleh musuh yang selama ini ingin dia hancurkan. "Tunggu, tunggu," ujar Ken menelaah ucapan Airin. "Jadi kamu setuju, kerja sama dengan dia?" tanya Ken penasaran. "Ya mau gimana lagi? Daripada lapor polisi, kita bakal hancur." Airin pasrah. Ken mengembuskan napas kasar. Membanting tubuhnya bersandar pada sofa cokelat itu. "Kok bisa?" Ken mencoba meraba-raba rencana dari Brian. "Kenapa harus kerja sama?" Dia menerawang. Airin hanya mengangkat bahu. "Karena aku menyelamatkan karir kita, jadi hari ini undang aku makan malam ke rumah kamu," ucap Airin. "Aku udah kangen banget masakan Tante Herlin," pungkas Airin. Ken sedikit terkejut. Dia tak mungkin mengiyakan permintaan Airin hari itu. "Kenapa tiba-tiba? Nyokap nggak bisa," jawab Ken segera. "Kenapa? Aku telpon coba," ucap Airin mengeluarkan ponselnya. "Oke, oke, aku traktir makan enak nanti malam. Oke," ujar Ken bernegosiasi. Airin mengerutkan kening. Melihat Ken panik dan tersenyum aneh. "Oke," ucap Ken lagi. Airin pun mengangguk akhirnya. Seperti biasa, rutinitas mereka berdua adalah mencari berita hangat selebriti yang diduga tengah menjalin hubungan dengan selebriti lain. Selain membuntuti selebriti itu, mereka juga menghabiskan waktu untuk mencari informasi luar dan referensi makanan untuk blog yang Ken buat. "Itu dia!" Airin menangkap sosok perempuan berkacamata hitam. Terlihat perempuan itu buru-buru masuk ke dalam mobil. "Ayo!" perintah Airin. Ken segera men-stater mobilnya. Mengikuti jalannya sebuah mobil BMW berwarna hitam. Ken fokus pada jalanan di depannya sembari mengawasi gerak mobil di depannya itu. Sedangkan Airin fokus penuh pada mobil BMW hitam itu. "Jadi kamu bakal setuju dengan ajakan Brian?" tanya Ken. Airin menoleh. "Iya," jawabnya singkat. "Nggak mungkin aku tolak. Bisa-bisa nama Secret tercoreng." Airin kembali fokus pada mobil intaiannya. "Jadi mulai kapan?" Ken bertanya tanpa menghadap wajah Airin. Sangat jelas jika Ken tak menyetujuinya. "Secepatnya." Airin menjawab dengan pasti. Ken menghela napas. "Jika nanti usaha balas dendam kamu gagal, hubungi aku. Aku yang akan membalaskan dendam kamu," ucap Ken. Airin kini menatap lekat wajah Ken dari samping. "Nggak mungkin gagal. Ini kesempatan emas buat aku cari kelemahan dia secara langsung." Airin bertekad. "Aku, ingin Irene bahagia di Surga, dan laki-laki itu wajib hidup menderita seumur hidup!" ucap Airin. Ken mengangguk perlahan. Mereka sampai di pelataran hotel berbintang lima. Airin heran dengan tempat itu. "Kenapa masih pagi harus ke hotel? Artis gila! Atau jangan-jangan prostitusi?" Airin menebak. Ken tertawa. "Kamu yang gila! Ngaco aja, kamu nggak inget gosip yang beredar. Arumi jadi simpanan seorang anggota DPR, pengusaha kaya!" "Serius?" Airin tak percaya. "Oh jadi, kemarin kamu cari tahu tentang dia?" tanya Airin lagi. Ken terkejut. Dia hanya menjawab dengan anggukan kepala, berbohong. "Wah! Dia kan lagi laris manis banget, gosip yang beredar pasti belum akurat. Tapi, Secret bakal menguaknya lebih detail," ucap Airin bersemangat. Ken tersenyum. "Terus kita harus nunggu di sini?" tanya Airin. Ken menggelengkan kepala cepat. "Kita masuk," ucap Ken. "Apa?" Airin terkejut. "Tapi, bagaimana caranya? Ini hotel sangat mahal. Orang kayak kita nggak bakal diterima bahkan sampai pintu lobi itu," ujar Airin. "Tenang aja, yang berjaga di pintu lobi adalah temen aku," kata Ken percaya diri. Airin tersenyum. Benar, Ken bisa saja merekrut teman sebanyak yang dia inginkan. Dia selalu mencari cara agar dekat dengan orang yang akan dia manfaatkan. Entah itu staff produksi film, staff event-event keartisan. Bahkan dia juga berteman dengan stylish artis. Terlebih orangnya sangat pandai dalam berbicara dan bergaul. Ken orang paling hebat dan bisa mendapat lima teman baru dalam satu hari. "Oke," jawab Airin mengerlingkan mata. Keduanya masuk dengan percaya diri. Petugas keamanan yang berjaga di pintu hotel tersenyum ramah pada Ken. Tas ransel berisi kamera itu terlihat sangat berat. Ken langsung menuju ruang tunggu, diikuti dengan Airin. Keduanya duduk di meja tamu. Berpura-pura membaca majalah yang ada di meja. Tetapi, matanya masih mengawasi Arumi yang masih duduk menunggu seseorang di seberang kursinya. "Datang," bisik Ken. Airin dengan sigap langsung melirik tajam. Terlihat tiga orang ber jas hitam. Kedua orang yang mengawal satu bosnya di depan. Meraka saling menebar senyum. Salah satu pengawal itu mempersilakan bosnya untuk menuju elevator. Arumi mengangguk dan mengikutinya. Walaupun mereka tak jalan bersama. Tak mau melewatkan kesempatan. Ken langsung memotret pemandangan itu dengan ponsel pribadinya. Tak mungkin dia mengeluarkan kamera yang besarnya bisa mengalihkan pandangan orang. "Kita ngapain lagi?" tanya Airin lagi. "Tunggu! Pasti nanti dua orang itu akan meninggalkan hotel." Ken terus memperhatikan koridor yang dilewati Arumi dan orang-orang tadi. Tak menunggu waktu hingga lima menit, dua orang berjas hitam tadi kembali keluar. "Benar, kan? Mereka hanya mengantar," tukas Ken. Dia tersenyum kecut. Airin segera menoleh. Benar-benar tepat dugaan Ken. "Wah, hebat banget!" puji Airin. Tak lupa Ken kembali mengambil foto mereka berdua. Setelah selesai. Mereka langsung meninggalkan tempat itu. Tak lupa Ken memberikan ucapan terima kasih pada teman barunya dengan bahasa isyarat. Tak terasa waktu sudah menjelang makan siang. Airin yang sudah lapar ingin segera melahap makanan besar. Ken mengambil inisiatif untuk mencari warung makan dekat hotel. Namun, sayangnya hanya restoran mewah yang dia jumpai di sana. Hanya ada satu restoran sepat saji yang hanya menyediakan ayam goreng. Mereka sepakat untuk mengobati rasa laparnya di sana. Tak perlu menunggu waktu lama, pesanan mereka sudah bisa dinikmati. "Oh ya ..." Belum sempat Airin melanjutkan ucapannya. Telepon genggam Ken berdering. Menampakkan nama Kirana di sana. Airin mengerutkan kening. "Ada apa?" tanya Airin lirih. Tak biasanya adik kandung Ken menelepon kakaknya siang bolong. Biasanya anak itu akan menelepon di sore hari. Itupun jika dia meminta Ken menjemputnya di sekolah. "Iya," jawab Ken ragu. "Kak, Dokter bilang Mama harus operasi hari ini," kata Kirana. Mimik wajah Ken langsung berubah. Dia panik. "Kenapa?" Ken khawatir. "Kata Dokter, ada kista di rahim Mama. Aku udah hubungi Papa, tapi dia masih di luar kota." Kirana menjelaskan. "Cuma Kakak satu-satunya wali yang bisa menyetujui sekarang. Kata dokter lebih cepat lebih baik." "Oke, kamu tenang. Kakak segera ke sana," ucap Ken dan memutuskan panggilan. Belum juga menghabiskan makanan, Ken segera mengambil tasnya. "Aku harus pergi," ujar Ken. "Ada masalah apa? Kenapa Kirana ..." Belum juga selesai. Ken mengambil langkah. "Nanti aku jelasin, kamu bisa pulang sendiri naik taksi," ucap Ken. Namun Airin tak mau mengalah sekarang. Dia mengejar Ken. "Enggak, aku harus tau apa masalahnya." Suara Airin membuat Ken menoleh sebentar tanpa menghentikan langkahnya. Belum sampai di pintu utama restoran itu. Langkah Airin terhenti. "Desta?" tanya Airin ragu. Sosok Desta membulatkan matanya. Ia tak menyangka akan bertemu Airin di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD