"Ayo!" Ken segera menarik lengan Airin. Belum juga ia bertanya bahkan bertegur sapa dengan Desta. Namun, urusan Ken hari itu tampak terlihat lebih gawat.
Airin melewati Desta dengan sebuah senyum. Desta hanya menjawabnya dengan senyum canggung dan lega. Setelah Airin menghilang dari pandangannya. Sosok Brian muncul.
"Ada masalah?" tanya Brian. Desta segera bersigap. Dia memastikan aman. Memastikan Airin sudah menghilang dari pandangannya. Tentu saja hali itu membuat Brian sedikit curiga. Dia juga mengikuti gerak bola mata Desta.
"Enggak. Ayo!" Desta mendekat ke arah meja kasir. Keduanya lantas memesan makanan di meja kasir. Memesan dua buah minuman dan satu makanan berat.
Kedatangan Brian tentu saja mengundang mata publik. Apalagi hari itu Brian tak menggunakan topi atau kaca mata yang bisa menyembunyikan kehadirannya. Pengunjung lain heboh melihat sosok Brian yang hari itu masih terlihat tampan. Terlebih saat Brian mengambil posisi duduk di meja paling pojok. Perhatian mereka hanya pada satu titik itu. Bahkan ada yang terang-terangan meminta foto. Ada juga yang hanya di mejanya memfoto Brian dari jarak jauh. Namun, tetap wajah Brian terpampang jelas di ponselnya.
"Ganteng banget!"
"Serius, dia kayak bukan manusia!"
"Nggak nyangka bisa ketemu dia di sini!"
"Ingin rasanya aku yang melayani. Dia tampan hari ini!"
Kata-kata itu terus menggema dengan antusias. Brian hanya tersenyum mendengarnya. Sedangkan Desta sangat cuek. Dia memainkan ponselnya sibuk.
Kedua pria itu menghabiskan waktu makan siang di sana. Menikmati paket ayam dan nasi dengan minuman ice coffee jelly yang memang jadi andalan menu restoran itu.
"Jadi nanti malam ada acara makan malam? Yang kemarin sempat tertunda," ujar Brian. Desta hanya mengangguk. Ia tengah sibuk menghabiskan makanan di dalam mulutnya yang penuh.
Sebua panggilan masuk ke telepon Brian. Dia terkejut, bahkan sangat antusias melihat nama Airin di sana.
Namun, melihat itu Desta tak tinggal diam. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Membuat Brian berusaha merebutnya.
"Apaan, sih!" Brian memekik. "Lo kenal?" tanyanya penuh selidik.
"Yan, lo nggak boleh sembarangan nerima panggilan telepon." Desta berasalan.
"Ini bukan sembarangan. Dia punya hutang sama gue," ucap Brian. Dia berhasil merebut ponselnya. Menjawab panggilan Airin dengan cepat.
"Iya," jawabnya singkat.
"Oke, aku terima tawaran kamu. Kapan aku mulai bekerja?" tanya Airin.
Brian berdehem. "Nanti malam," ucap Brian sekenanya.
"Apa? Malam?" Suara Airin sedikit meninggi tak percaya.
"Kenapa? Temui aku di tempat biasa," ujar Brian.
Sontak ucapan Brian membuat pengunjung lain berkasak-kusuk.
"Apa dia akan menemui pacarnya?"
"Apa dia berkencan?"
"Wah, ini akan jadi berita panas! Apa ada lagi korban bunuh diri?"
Ucapan-ucapan itu mengusik gendang telinga Brian dan Desta.
"Ayo!" Desta malas mendengarkan ocehan orang-orang di sekitarnya. Dia lebih memilih pergi. Brian hanya mengikutinya.
Desta sudah kenyang dengan ucapan netizen yang mengandung banyak makna, diantara mereka mungkin memang sangat menggilai Brian, atau bahkan ada juga yang hanya bisa nyinyir dari mulutnya.
"Lo bisa, kan? Jaga ucapan lo di depan umum," ucap Desta kesal. Keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Apa? Apa yang gue ucapin salah?" tanya Brian polos.
Desta hanya mengembuskan napas kasar. Terkadang Brian memang tak mengerti keadaan, atau tempat yang seharusnya dia jaga image sebagai seorang selebriti.
"Oh ya, nanti malam batalkan semua jadwal gue," ucap Brian santai.
"Brian! Aish, enak banget batalin! nggak bisa!" Desta tak setuju. "Dava bakal nyerang gue, gue bisa aja dipecat kalo ikutin terus kemauan konyol lo itu," ujar Desta.
"Gue ada perlu." Brian tak mau kalah.
"Sama Airin? Dia bahaya buat lo, lo harus jauhin dia, please!" pinta Desta.
"Apa? Apa lo kenal sama dia? Kenapa lo tau kalo dia bahaya. Apa lo tau niat dia?" pancing Brian.
"Heh, e_ enggak! Dia itu wartawan. Sejak kapan seorang artis berteman dengan wartawan. Yang bisa kapan saja menguak tentang kepribadian lo," ucap Desta tegas. Brian tersenyum tipis.
"Tenang aja, gue bakal taklukan dia. Gue bakal buat dia bungkam tentang masalah pribadi gue," ucap Brian percaya diri. Desta hanya menggelengkan kepala tak percaya. Dia tahu betul sifat Brian. Memiliki hati yang lemah adalah kekurangannya.
____
Dava geram. Mendapat kabar bahwa Brian membatalkan kembali janjinya bertemu dengan seorang sutradara membuat dia kini naik pitam. Desta yang sedang duduk menunduk di depannya hanya pasrah mendapat Omelan dan cacian dari seniornya itu.
"Apa ada masalah yang nggak aku ketahui?" tanya Dava. Ia menatap tajam Desta penuh kekesalan.
Desta menggelengkan kepala. "Dia cuma harus banyak istirahat. Karena jadwal syutingnya bakal sangat padat akhir bulan ini." Desta beralasan.
"Apa? Ini cuma acara makan malam, enggak disuruh maraton! Apa nggak bisa menyempatkan waktu satu jam, tidak setengah jam saja?" ujar Dava gusar. Desta hanya diam. Dia tak mungkin mencari alasan lagi, sebelum amarah Dava benar-benar meledak di depan wajahnya.
Dava mengembuskan napas kasar. Memijat keningnya yang tampak sangat pusing. "Pergi!" perintah Dava ketus.
Sudah Desta duga. Bahwa Dava akan kesal. Benar, bukan kali pertama Brian memainkan jadwal. Watak Brian memang sangat susah ditebak. Ia tak bisa bertemu dan basa-basi dengan orang yang memang tak dia sukai. Bukannya Brian membenci sang sutradara, tetapi dia pasti lebih memilih Airin untuk mengisi jadwal malamnya.
Desta menghela napas lega keluar dari ruangan Dava. Setidaknya pipi dan anggota tubuh yang lain miliknya masih aman. Tak ada lebam dan tak ada percikan darah yang keluar. Memang Dava tak akan melukainya. Tetapi dia sangat tempramental. Dia bisa saja membanting kursi dan mengenai tubuh Desta.
Dava yang harus memikirkan cara untuk membatalkan jadwal itu tanpa menyinggung perasaan yang mengundang atau tamu yang akan diundang. Dia harus tetap melindungi Brian dan karirnya walaupun sudah sangat kesal.
Malam itu gerimis kecil. Padahal belum waktunya musim hujan. Airin menadahkan tangannya tepat di bawah atap halte.
"Kenapa gerimis?" tanyanya datar. Dia melirik arloji yang bertengger manis di lengan kiri. "Padahal baru setengah tujuh. Kenapa sangat sepi jalanan sini," ujarnya. Netra coklat itu melirik ke sekitar ruas jalan. Benar, tak ada satupun orang yang melintas. Padahal itu adalah komplek pertokoan dan kafe yang masih beroperasi. Untung saja bus datang di saat yang tepat. Airin segera naik.
Duduk di samping jendela adalah kesukaannya. Ia membuka sedikit kaca jendela, langsung saja angin menyapanya malam itu. Sangat sejuk ditambah tetesan air gerimis yang menerpa wajahnya.
Airin memejamkan matanya, dia menghela napas dalam-dalam lalu membuangnya. Tiba-tiba pikirannya melayang pada masalah tadi siang dengan Ken.
Benar, Ken tak menyetujui bahwa Airin bekerja sama dengan Brian. Dia sangat mengkhawatirkan perempuan itu. Terjadi perdebatan kecil yang akhirnya membuat Ken mengalah.
"Oke, kalau memang niat dia jahat! Aku bakal ngambil tindakan tegas. Tenang aja, aksi balas dendamku, nggak akan pernah gagal. Ini kesempatan aku nyari kelemahan dia. Aku bersumpah, nggak akan ngebiarin dia hidup tenang." Airin bertekad.
"Tapi aku nggak yakin!" Ken tak setuju.
"Ken! Please, percaya sama aku!" Airin memaksa. "Orang yang pertama akan aku hubungi jika aku dalam bahaya adalah kamu," ujar Airin. "Tolong mengerti."
"Aku khawatir!" Ken berbicara dengan nada tegas.
"Enggak, kamu hanya nggak ingin aku keluar dari Secret. Iya, kan?"
"Rin ..."
"Maaf, kali ini aku nggak dengerin omongan kamu. Ini demi kebaikan kita," kata Airin pasti. Dia beranjak dari duduknya.
"Oke, tapi janji, jangan pernah iba dengan dia. Jangan pernah kasih hati untuk dia. Pastiin, tujuan utama kamu adalah balas dendam." Ken berucap. Airin mengangguk.
Mengingat kejadian itu Airin hanya mengembuskan napas lirih. Perjalanan malam itu terasa sangat cepat. Mungkin karena jalanan sepi. Lebih dari tiga puluh menit, Airin sampai di depan gedung apartemen milik Brian.
Kali ini tak ada scurity yang berjaga. Mungkin karena pergantian shift atau memang sedang sibuk dengan pekerjaan lain. Airin menuju elevator. Ini adalah apartemen mewah jadi tak banyak orang yang mondar-mandir tanpa tujuan atau tanpa perjanjian. Hanya beberapa orang mengenakan fasilitas apartemen di waktu malam, seperti elevator, kafe yang berada di samping lobi, bahkan tak jarang orang berseliweran di sana selain petugas.
Sesampainya di depan pintu apartemen Brian. Airin mengetuk pintu, tak ada jawaban, dia menekan tombol bel. Tak lama pintu terbuka. Sepertinya Brian sudah menunggu dan sengaja tak langsung membukanya.
"Masuk!" perintahnya. Airin menurut. Dia kembali memasuki ruangan yang sudah dia datangi.
"Duduk!" Layaknya bos yang menyuruh anak buahnya. "Mau minum apa?" tanya Brian.
"Nggak perlu. Cepat, katakan apa tugasku," ucap Airin ketus. Brian tersenyum. Dia lantas mengambil posisi duduk di depan Airin.
Wajah Airin terlihat kesal. Namun, Brian tetap santai.
"Ah, sebelum kamu mengerjakan tugas kamu, apa kamu punya kamera?" tanya Brian.
"Aku hanya akan memfoto dengan ponselku," ucap Airin.
Brian mengangguk. "Ah, rupanya kamu tahu tugasmu," ucapnya santai.
Brian mengeluarkan sebuah foto dari saku celana pendeknya.
"Ikuti semua kegiatan dia, dan laporkan sama saya," ujar Brian. Airin meraih foto itu. Ia sedikit terkejut, foto itu seperti tidak asing baginya.
"Oke," ucap Airin. Dia berusaha mengingat siapa orang yang berada di foto itu.
"Saya akan bayar kamu setiap tanggal sepuluh. Bonus diberikan jika memang kamu membawa bukti yang real, dan juga selain mengawasi ayah saya, kamu juga harus mengikuti aturan saya," ujar Brian.
"Apa? Aturan? Aturan apa?" Airin tak percaya. Brian tak bodoh. Dia pasti memiliki niat lain selain menjadikannya mata-mata.
"Jika kamu tahu satu masalah pribadi saya, kamu harus bungkam." Brian menatap Airin serius. "Jika kamu melanggar, itu artinya kamu jadi milik saya," lanjutnya lagi.
"Apa?" Airin benar-benar tak mengerti jalan pikiran Brian. "Gila!" pekiknya lirih. Airin beranjak dari duduknya. Dia tak ingin berlama-lama duduk bersama Brian.
"Ah, tunggu!" ujarnya menghentikan langkah Airin.
"Di luar ada wartawan yang mengintai. Sudah pasti ini bakal jadi berita hot di televisi, jika kamu keluar sekarang." Airin. Segera menoleh.
"Lalu? Apa yang harus aku lakukan? Itu derita kamu jika ada pemberitaan. Wajar, seorang artis diterpa gosip," ujar Airin tegas.
"Tetap di sini, sampai wartawan itu pergi!" ujar Brian.
"Apa?" Airin tertawa. "Aku seorang wartawan, apa kamu meragukan kemampuanku dalam membuat berita. Wartawan nggak akan terang-terangan mengikuti seorang artis. Dia nggak mungkin mengorbankan karirnya hanya untuk mengikuti artis sampai ke rumahnya. Jangan bodoh, di luar adalah fans kamu yang kepo sama kehidupan pribadi kamu." Airin menjelaskan.
Brian mencerna ucapan perempuan itu. Banyak benarnya. Tak mungkin seorang wartawan terang-terangan mengikuti seorang artis. Mereka tak mau dituntut jika itu mengganggu kenyamanan sang artis itu sendiri.
"Lalu aku harus bagaimana?" Dengan bodohnya Brian bertanya. Membuat Airin kembali terbahak.
"Ya itu terserah kamu! Dasar gila!" Airin kembali melangkah.
"Airin! Aku, tahu sesuatu tentang kamu," ucap Brian. Airin lagi-lagi menghentikan langkahnya. Dia penasaran, tetapi dia malas mendengarkan omong kosong Brian. Namun, rasa penasaran itu mengalahkan gengsinya.
Dia menoleh, membuat Brian tersenyum licik. Hal itu sangat membuat perempuan itu sangat penasaran.
"Sial!" gerutunya kesal.