Episode 09

1504 Words
"Jika mereka adalah fans yang akan berbuat jahat kepada saya, berarti itu tanggung jawab kamu. Kenapa? Karena kamu satu-satunya orang yang tahu, saksi hidup yang akan dimintai keterangan." Brian kembali mengoceh. Airin kesal. Dia mencoba mengatur napas untuk mengurangi rasa kesalnya. "Mau kamu apa?" tanya Airin dengan sangat sabar. "Apa yang kamu ketahui tentang aku?" tanya Airin malas. "Duduk!" perintah Brian santai. Laki-laki itu sedang mempermainkan Airin sekarang. Ia sangat yakin Airin sangat kesal terhadapnya. Airin mengalah, ia kembali duduk dan menatap Brian kesal. "Apa?" tanya dia lagi. Saking penasarannya Airin sampai terus mencecar Brian dengan pertanyaan. "Apa kamu kenal aku sebelumnya? Apa kamu punya masalah sama aku sebelumnya? Apa kamu punya balas dendam sama aku?" tanya Airin beruntun. "Kamu," jawab Brian singkat. Sontak membuat Airin tertegun. Dia terkejut dengan jawaban singkat dari Brian. "Apa?" tanya Airin lirih. Brian menganggukkan kepala. Dia menatap Airin serius, terlihat perempuan itu gugup dan salah tingkah. "Datang ke acara fanmeeting saya tanpa undangan, sudah dipastikan kamu memiliki niat lain, iya, kan?" tanya Brian santai. Airin menghela napas mendengar itu. Dia berpikir Brian tahu niat sebenarnya. "Itu karena ..." Ucapan Airin terputus. "Apapun alasannya, saya nggak terima. Bisa saja kamu mau mencelakai saya, mau berbuat jahat kepada saya," ujar Brian. "Kenapa terus diulang-ulang pernyataan itu," kata Airin lirih. "Aku nggak punya niat lain!" tegasnya. "Apa?" Brian mencoba menegaskan. "Enggak," jawab Airin mengalah. Brian menatap Airin lekat. Terlihat sangat jelas jika sekarang Airin gugup. Dia menyembunyikan rasa gugupnya. Mencoba memainkan resleting tas yang digunakannya hari itu. "Kapan aku boleh pulang? Bukankah besok aku harus mulai bekerja?" tanya Airin mengalah. Brian mengangguk mengiyakan. "Jadi aku harus pulang sekarang, kan?" tanya Airin lagi. Dia tahu Brian tengah mengerjainya sekarang. Dia sengaja membuat Airin tertahan di sana. Laki-laki berparas tampan itu menggelengkan kepala. "Mungkin di luar sana sudah bertambah orang yang mengintai saya," ungkap Brian. Airin hanya mengembuskan napas. "Lalu, apa yang harus aku perbuat?" "Tetap di sini," ucap Brian santai. "Bukankah akan jadi semakin runyam jika mereka tahu aku ada di dalam sini bersamamu?" tanya Airin pasrah. "Please, aku ingin pulang," ucap Airin memohon. "Oke, tapi dengan satu syarat," tukas Brian. "Syarat?" Airin lagi-lagi dibuat kesal dengan kata syarat. "Syarat apa lagi? Semua permasalahan hidup kamu harus dengan syarat? Apa kamu gila! Mempermainkan seseorang seperti ini," ujar Airin kesal. "Sebelum pulang makan dulu, temani saya makan," ucap Brian. "Nggak, aku nggak lapar!" tolak Airin tegas. "Nggak lapar kok perutnya bunyi terus," ujar Brian. Dia beranjak dari duduknya. Berjalan menuju dapur tanpa persetujuan dari Airin. "Aish," gerutu Airin kesal. Ia memegangi perutnya yang memang sedari tadi sudah melakukan aksi demo. Dia menghela napas pasrah. Ingin pulang namun permintaan Brian juga tak ada salahnya diterima. Brian membuka lemari es. Mengambil bahan makanan di sana. Lemari es yang penuh dengan air mineral, dan juga bahan makanan yang ditata rapi di dalamnya. Mengambil sayuran segar dan telur ayam. Dia menyiapkan semuanya di atas meja dapur, entah apa yang akan dimasaknya, sesekali matanya melirik ke arah Airin. Tampak wanita itu sedang membaca majalah yang ada di meja. Membuka satu persatu halaman tanpa mempedulikan Brian di dapur. Diam-diam Brian tersenyum melihat pemandangan itu. Laki-laki itu melanjutkan aksi masaknya. Memperlihatkan keahliannya di dapur. Memotong semua sayuran dan bumbu. Ternyata dia membuat sebuah nasi goreng spesial. Mengambil dua piring nasi dia ambil dari alat penanak nasi. Hampir tiga puluh menit berkutat di dapur, akhirnya Brian kembali dengan dua piring nasi goreng. Tak langsung duduk, dia lantas mengambil dua botol minuman dingin di dalam lemari es. "Aku hanya punya air mineral. Aku nggak biasa minum-minuman bersoda atau beralkohol," ujar Brian kembali membuka pembicaraan. Airin tak menjawab, dia hanya menatap nanar nasi goreng dengan tampilan beda. Sangat rapi seperti di sebuah restoran mewah. "Ini kamu yang buat?" tanya Airin ragu. Brian mengangguk bangga. "Tunggu! Dari kemarin kamu manggil saya dengan sebutan kamu? Apa kita seumuran?" tanya Brian. "Heh!" Airin bingung. "Kamu lahir tahun berapa?" selidik Brian. "Ah, sebaiknya aku segera makan, aku lapar," ujar Airin. Dia mengambil piring dengan seporsi nasi goreng dan melahapnya. Brian lagi-lagi tersenyum tanpa diketahui oleh Airin. Nasi goreng adalah makanan favorit Airin. Dia merasakan ada rasa yang berbeda dari nasi goreng buatan Brian. Mendekati angka perfect. Airin menyembunyikan kekagumannya terhadap rasanya. "Gimana, enak?" tanya Brian. "Ah, kamu terlalu banyak bertanya. Itu membuat aku kesal," ucap Airin. Mulutnya penuh dengan makanan. Brian tertawa, dia mengangguk. "Oke, oke, maaf." Keduanya makan bersama malam itu. Tak bisa dipungkiri, rasa lapar membuat Airin menghabiskan makanan itu dengan cepat. Tanpa sisa satu butir nasi pun. "Makasih atas nasi gorengnya," ucap Airin tahu diri. Brian hanya mengangguk. "Sepertinya karena rasanya enak jadi kamu memakan semuanya, bukan karena lapar." Brian mencoba meledek. "Bukan, karena aku menghargai orang yang buat," ucap Airin. "Oke, aku harus pulang. Ini aku bawa," ucap Airin menunjukkan foto ayahnya Brian. "Nanti alamat kantornya saya kirim via chat. Besok kamu bisa ke sana. Tapi inget, apapun yang dia lakukan lapor dengan saya." Airin mengangguk. Belum juga Airin melangkah. Suara bel berbunyi. Alangkah terkejutnya Brian. Airin awalnya terkejut, namun, dia berusaha santai. Brian terlihat kalang kabut. "Maaf, sepertinya kamu nggak bisa pulang sekarang," ucap Brian. Dia meraih lengan Airin, dituntunnya ke dalam sebuah kamar. "Apaan, sih!" Airin menepis tangan Brian. Menolak dengan perlakuan laki-laki itu. "Please. Itu pasti manager saya. Nggak bisa kalau dia tahu ada orang lain di sini," ucapnya panik. "Sebentar saja, tunggu di sini. Oke," pinta Brian. "Tapi ..." Brian segera keluar. Dia kembali menutup pintu kamar itu. Ternyata itu adalah kamar pribadinya. Brian segera berjalan menuju pintu utama, namun belum juga ia membuka, pintu itu sudah terbuka. Sosok Dava muncul di depannya. "Lagi apa sih?" tanya Dava. "Ada apa malam-malam ke sini?" tanya Brian. Alih-alih menjawab pertanyaan Dava. "Besok pagi ada jadwal pembacaan naskah, tolong! Datang tepat waktu," ucap Dava menekankan. "Oke," jawab Brian. Tentu saja jawaban itu membuat Dava kaget. Biasnya Brian sangat banyak alasan jika ada jadwal, terlebih jika waktu di pagi hari. Dava tampak curiga dengan apartemen Brian. Terlihat jelas dari raut wajah Brian ada yang tengah dia sembunyikan karena terlalu panik. "Apa ada orang lain?" tanya Dava. Brian celingukan. Dia tertawa canggung. "Enggak ada lah, aku sendiri di sini," ucapnya gugup. "Kamu yakin?" Dava mencoba melangkah maju. Dia melihat ada dua botol minuman di meja. Dugaannya semakin kuat. Dia ingin menggeledah. Namun, dengan sigap Brian mencegahnya. "Kak, aku harus istirahat. Bisa pulang sekarang?" Dava mengangkat tangan. Semakin dekat langkahnya ke kamar Brian. Laki-laki itu semakin panik. Dia mencoba cara lain. Namun, belum juga membuka pintu, Dava menerima panggilan telepon. Hal itu membuat Brian lega. Dia mengembuskan napas lirih. Langkah Dava terhenti. Dia mengambil ponsel dari saku celana jeans-nya. "Kenapa?" tanya Dava tanpa mengucapkan kata halo. "Ah benar, oke, oke, aku ke sana sekarang." Brian merasa lega. Dava memutar tubuhnya, segera Brian menyembunyikan ekspresi leganya. "Aku akan meminta Desta untuk tidur di sini. Supaya besok kamu bisa tepat waktu datang," ucap Dava. Brian hanya mengangguk sekenanya. Dava pergi. Hal itu membuat Brian tenang. Setidaknya dia tak kena masalah karena menyembunyikan Airin di kamarnya. Cepat-cepat Brian kembali ke kamarnya. Dia mendapati Airin tertidur di sofa santai di dekat jendela. Tiupan angin membuat dia sangat terlelap. Brian lagi-lagi tersenyum melihat tingkah aneh Airin. Dia mendekat, menyeret kursi lain dan mendekatkannya ke arah Airin. Perempuan itu tertidur sangat pulas. Seperti sangat nyaman tidur si sofa itu. Brian menatap Airin lekat. Meneliti inchi demi inchi setiap pori-pori kulitnya. "Kamu seperti dia," ucapnya lirih tanpa membangunkan. "Cara kamu bicara juga sama dengan cewek itu," kata Brian lagi. Hal itu membuat Airin terkejut, dia lantas membuka matanya sempurna. Dia tersadar bahwa dia masih di apartemen sang artis. Sama-sama terkejut. Brian langsung menarik tubuhnya jauh dari Airin. Begitu pula Airin, dia langsung bangkit dari sofa santai itu dengan cepat. "Maaf, aku malah tidur," ucapnya malu. "Enggak apa-apa. Ah, sudah aman. Kamu boleh pulang," ucap Brian ragu. Airin mengangguk mengerti. Dia keluar dari kamar itu. Ternyata Brian mengikutinya. "Biar saya antar," ucap Brian. "Karena ini sudah hampir larut malam," ucap Brian. Airin melirik jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit. "Nggak perlu, masih ada bus yang beroperasi, kok," tolak Airin sopan. "Tapi, bahaya. Seorang perempuan naik bus sendiri," ucap Brian meyakinkan. "Atau saya perankan taksi," ucap Brian. Airin menatap Brian serius. Sepertinya kali ini dia memang tulus ingin membantunya. Lagipula memang sudah tak ada bus di jam sekarang. Mau tak mau, malu tak malu, Airin menerima tawaran Brian. "Oke, taksi," ujarnya setuju. "Ah, oke," jawab Brian. Dia segera mengambil ponselnya di meja. Menghubungi perusahaan taksi yang sudah menjadi langganannya. "Tunggu sebentar, lima belas menit lagi taksi sampai di bawah," ujar Brian. "Oke, aku akan menunggu di lobi,"jawab Airin. Airin melangkahkan kakinya. Namun, tepat di depan pintu ada seseorang menekan kode akses untuk masuk ke dalam. Ia terkejut, Brian pun ikut terkejut. Sudah kepalang tanggung berdiri mematung di depan pintu, pintu terbuka. Menampilkan sosok Desta di sana. Airin terkejut, Desta lebih terkejut. Kedua mata mereka bertemu. "Airin!" pekik Desta lirih. "Desta!" balas Airin. Keingin tahuan Brian semakin membuncah. Rasa penasarannya sudah tak bisa terbendung. Laki-laki itu tampak terkejut melihat keduanya saling kenal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD