Brian melangkah maju. Dia berdiri di antara Desta dan Airin.
"Apa kalian saling kenal?" tanya Brian penasaran.
"Kita ..." Belum sempat Airin memberi tahu, Desta mencegahnya.
"Kita dulu bekerja di tempat yang sama, iya, kan?" jawab Desta ragu. Ia mencoba menyembunyikan fakta. Wajahnya panik.
"Heh? Kita ..." Airin bingung. Ia menatap Desta penuh keanehan.
"Masa kamu lupa, kita di bagian yang sama waktu itu," ucap Desta mengalihkan pembicaraan. "Iya, kan?" Dia mencoba mengedipkan mata. Brian masih penasaran. Dia menatap Airin meminta jawaban.
"Ah, iya." Jawaban Airin ragu. Hal itu membuat Brian semakin penasaran.
"Bagian apa?" tanya Brian. Dia sangat tahu jika Desta tak melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi. Mana mungkin bisa bekerja dengan Airin yang sudah pasti seorang wartawan.
Keduanya terdiam. Hingga Airin membuka suara.
"Sepertinya taksi sudah sampai di bawah," ucap Airin. Dia buru-buru pergi.
Brian sangat menyayangkan hal itu. Padahal dia ingin mengintrogasi langsung dari kedua pihak.
"Yakin kalian rekan kerja?" tanya Brian pada Desta.
"Iya, serius!" jawab Desta pasti. Ada yang tak beres dengan wajah Desta. Dia terlihat sedang menyembunyikan sesuatu. Panik, dan juga penuh rasa khawatir.
Airin, di dalam taksi berpikir keras. Dia mencoba menebak dengan kedatangan Desta di sana.
"Kenapa Desta ke sana? Apa mungkin mereka berteman? Atau Desta bekerja dengan Brian?" tanya Airin pada dirinya sendiri. "Dulu dia hanya berteman sama Attar." Pikiran Airin melayang jauh.
Mengingat kejadian di mana teman sekelasnya selalu menjadi bulan-bulanan siswa lain. Benar, Attar namanya. Dia adalah siswa paling cupu yang pernah ada di kelas itu. Anak konglomerat yang selalu dipalak uang jajannya oleh siswa lain. Desta hanya memanfaatkan Attar dengan cara melindunginya, agar Attar menurut dengan ucapannya.
Lamunan Airin buyar ketika sang supir taksi menanyakan alamat rumahnya.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Airin. Ia benar-benar tak mendengar apa yang ditanyakan supir itu.
"Rumah Nona ada di mana?" tanya sang supir.
"Oh, lurus aja, Pak. Nanti saya turun di halte depan sana," kata Airin menjelaskan.
"Nggak sampai depan rumah?" tanya sang supir lagi ramah. "Ini sudah hampir larut, bahaya jika berjalan sendiri," ucapnya.
Pria paruh baya itu tampak tulis mengatakan hal itu kepada Airin. Airin pun berpikiran sama dengannya.
"Sudah biasa kok, Pak," jawab Airin.
"Tapi kali ini harus sampai depan rumah ya, Non," ujarnya lagi. Airin kembali berpikir. Ya sudah lah, toh itu lebih baik, pikirnya.
"Baik, Pak." Airin tersenyum tipis. Supir itu tersenyum.
Airin menghentikan sang supir tepat di depan gang rumahnya.
"Di sini, Non?" tanyanya.
"Iya, itu rumah saya juga sudah kelihatan, Pak. Makasih ya, Pak," ucap Airin sembari memberikan lembaran uang kertas sesuai dengan argo yang tertera.
"Iya, Non. Seneng ya Non, punya pacar yang perhatian." Supir taksi itu berucap. Airin mengurungkan niatnya turun, ia mengerutkan keningnya bingung.
"Maksud Bapak?" tanya Airin.
"Oh tidak," jawabnya gugup. Airin pun turun dan kembali menutup pintu taksi itu.
Supir itu mengingat tadi, sebelum dia membawa Airin. Brian meneleponnya. Entah dari mana dia memiliki nomor ponsel sang supir, namun sudah dipastikan dari perusahaan tempatnya bekerja.
"Pak, antar dia sampai di depan rumah ya, Pak." Ucapan Brian membuat supir itu menurut.
Airin masuk ke dalam rumahnya. Tampak rumah itu sudah sepi, mungkin karena ibunya sudah terlelap di kamar. Terlebih dia hanya tinggal berdua bersama ibunya.
Airin langsung menuju kamarnya. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya yang sudah kusam.
"Sepertinya senyum itu sangat familiar buat aku. Tapi aku lihat di mana?" tanya Airin pada dirinya sendiri. Benar, Brian sering kali tersenyum kepada Airin, walaupun perlakuannya menyebalkan.
"Ah, dia artis, dia sering masuk tv, dia sering tersenyum sama fansnya, kenapa aku bodoh." Airin melayangkan tangannya tepat di kepala.
"Aish, kenapa aku memikirkan itu," ujarnya lalu mencoba terlelap.
Airin tidur tanpa mengganti baju. Tak terasa sinar matahari sudah masuk melalui celah gorden kamar bernuansa warna hijau itu.
"Udah siang! Nggak kerja?" Suara ibunya menggema di kamar itu. Sang empunya langsung kalang kabut. Segera membuka matanya sempurna.
Dia melirik jam dinding karakter Winnie the Pooh. Waktu menunjukan pukul enam lewat empat puluh lima menit.
"Mama! Kenapa nggak bangunin dari tadi," ujar Airin. Dia segera bangkit dari tidurnya.
"Mama udah bangunin dari jam lima, tapi kayaknya capek banget," ucapnya lalu keluar kamar dan menghilang. Dia membiarkan putri sulungnya bergegas membersihkan diri. Airin segera menuju kamar mandi.
Keahliannya adalah mandi kurang dari lima menit. Hanya memakan waktu lima belas menit, dia sudah rapi dengan dandanan tipis di wajahnya.
"Mam, Aku langsung berangkat," ujar Airin yang melihat ibunya tengah sibuk di dapur.
"Nggak sarapan dulu?"
"Nanti!" Airin menghilang dari balik pintu rumahnya. Dia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.
Membuka aplikasi w******p untuk melihat pesan baru. Terutama pesan dari Brian.
Benar, laki-laki itu sudah mengiriminya pesan. Dia memberikan alamat rumah ayahnya dan kantor yang harus dia tuju.
Airin menghela napas. Kerjaan dia semakin berat sekarang. Lebih jauh dari tempat tinggalnya.
"Ah iya, Ken!" Dia mengingat partnernya itu. Bagaimana bisa dia kemarin hanya mengantarnya sampai di halte dekat kantor Secret. Entah sedang tidak fokus atau memang pikiran Airin sedang terpecah, dia setuju saja Ken menurunkannya di sana. Akhirnya dia terlalu penasaran dengan masalah Ken sekarang. Wanita itu yakin, Ken sedang tidak baik-baik saja.
Dia berinisiatif menelpon partnernya itu. Tak ada jawaban. Airin mengembuskan napas. Dia sampai pada halte bus. Menunggu bus yang akan mengantarkannya ke alamat tujuan.
"Ada apa sebenernya?" tanya Airin. Dia memikirkan Ken. Wanita itu bertekad akan menemui Ken nanti setelah pekerjaannya selesai.
Bus datang. Dia segera menaikinya. Cepat-cepat mencari tempat duduk.
Namun, saat matanya akan bergerak melirik semua tempat duduk yang kosong. Airin melihat sosok yang dia kenal.
"Kirana!" Airin mendekat. Ia melihat gadis itu tak berseragam sekolah. Untung saja di samping tempat duduk Kirana kosong, jadi Airin tak perlu repot mengusir orang atau berdiri di samping Kirana.
"Kamu mau ke mana? Nggak sekolah?" tanya Airin. Dia melihat Kirana yang tersenyum manis melihat sosok Airin. Kirana menggeleng cepat.
"Kak Ken nggak cerita?" tanya Kirana.
"Cerita? Cerita apa?" tanya Airin menarik garis pada dahinya. "Ada masalah?" tanya Airin penasaran.
Kirana menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak ada," jawabnya singkat.
"Ken aneh kemarin. Dia buru-buru waktu kamu nelpon," ucap Airin.
Kirana mengangguk.
"Mama harus dioperasi," jawab Kirana.
"Operasi?" Airin terkejut. "Tante sakit apa?"
"Kata dokter ada kista. Dan itu hidup, makanya harus cepat diambil." Kirana menjelaskan.
"Ken!" Airin malah menyayangkan sikap Ken yang menyembunyikannya.
"Oke, Tante dirawat dimana? Nanti sepulang kerja, aku bakal datang, aku bakal marahin Ken abis-abisan," kata Airin.
"Di Rumah Sakit Medical Sehat," jawab Kirana jujur. "Bukankah Kakak bekerja dengan Kak Ken?" tanya Kirana. Airin menggeleng cepat.
"Untuk sementara enggak. Ada urusan yang membuat aku harus pindah kerja dengan orang lain," jelas Airin.
"Apa?" Kirana penasaran. Airin tersenyum. Dia mengusap rambut remaja itu.
"Ada, ini urusan orang dewasa," jawab Airin sekenanya.
"Kakak, lagi nggak berantem, kan? Sama Kak Ken?" tanya Kirana penasaran. Airin lagi-lagi tersenyum, dia menggelengkan kepala pasti.
"Enggak, tenang aja." Airin tersenyum.
Kirana harus turun di depan halte rumah sakit.
"Aku duluan, Kak." Kirana segera bangkit dari duduknya.
"Bilang sama Tante, aku akan ke sana nanti," pungkas Kirana. Gadis itu mengangguk cepat. Ia turun melewati penumpang yang lain. Kirana juga melambaikan tangan saat sudah keluar dari bus. Airin tersenyum dan ikut melambaikan tangan.
"Ken! Nyebelin banget! Masalah disimpen sendiri!" gerutu Airin untuk Ken.
Airin sampai di tempat tujuan. Dia berdiri di depan sebuah gedung perusahaan. Benar, ayah dari Brian adalah pemilik perusahaan makanan yang sedang berkembang pesat. Dia juga merupakan seorang anggota dewan yang berniat akan mencalonkan diri menjadi presiden di tahun 2024 nanti.
Brian memerintahkan Airin untuk mendatangi perusahaan itu. Namun, sepertinya akan sia-sia. Karena tak ada satu satpam pun berjaga di depan. Gerbangnya tertutup rapat. Airin menghela napas. Dia berteduh di bawah pepohonan untuk menghindari sinar matahari langsung.
"Udah mau setengah sembilan. Apa aku terlambat?" Airin melirik jam tangannya. Dia menghela napas lirih.
Tak lama seseorang datang menghampiri. Dia memakai baju seragam scurity dengan atribut lengkap.
"Ada yang bisa dibantu, Non?" tanya scurity bernama Jajang itu. Airin menoleh. Sudah pasti akan ada orang yang menanyainya. Karena keberadaannya di bawah pohon saja sudah terasa aneh. Terlebih letaknya di depan perusahaan tanpa halte dan tanpa tempat tunggu.
"Oh, enggak Pak," jawab Airin ragu.
"Tapi kenapa Non berdiri di sini? Non bisa menunggu bus atau taksi di sebelah sana," ujar Jajang menunjuk sebuah halte yang letaknya lumayan jauh dari tempatnya kini berdiri.
"Ah iya," ucap Airin. Dia tampak malu.
"Silakan Non, sebentar lagi ada patroli dari keamanan wilayah sini. Jika Nona terus di sini, sudah pasti itu hal mencurigakan, daripada nanti Nona dibawa ke kantor, mendingan menunggu di halte saja." Jajang menyarankan. "Nona baru ke wilayah ini?" tanya Jajang penasaran.
Airin mengangguk. Jajang terbilang sopan sebagai seorang scurity, yang biasanya terkenal tegas dan galak.
"Pak, mau nanya," ucap Airin. Jajang yang masih berdiri di depannya langsung sigap menanggapi.
"Ada apa, Non?" tanya Jajang.
"Pemilik perusahaan ini biasanya datang jam berapa?" Mendengar pertanyaan Airin, tentu saja Jajang langsung memasang wajah curiga. Dia menarik garis di keningnya.
"Kenapa tiba-tiba Nona tanya bos besar? Apa Nona kenal?" Jajang lantas memperhatikan cara berpakaian Airin yang bebas. Dengan sepatu kets, jeans, kaos yang dimasukan kedalam celana dan kemeja flanel yang dibiarkan terbuka tanpa dikancing.
Airin lagi-lagi tersenyum canggung. "Enggak, cuma nanya. Teman saya katanya pemilik perusahaan ini," ucap Airin ragu. Dia bingung harus beralasan apa.
"Siapa? Setahu saya, anak Bos besar di luar negeri." Jajang memberi tahu.
"Ah, benarkah?" Airin tampak kecewa. Jajang tersenyum.
"Ya sudah, saya harus kembali bertugas. Hari ini Bos besar nggak datang ke kantor. Karena ada rapat di gedung dewan," ucap Jajang memberi tahu.
"Makasih Pak." Seperti mendapat jawaban. Jajang meninggalkan Airin. Terlihat wanita itu menyesal. Dia sia-sia datang jauh-jauh hanya untuk membuntuti ayah dari Brian.
Segera dia mengambil ponselnya di dalam tas. Menghubungi Brian segera.
"Halo," jawab Brian di seberang.
"Iya, hari ini ayah kamu nggak datang ke perusahaan. Ada rapat di gedung dewan," ucap Airin melaporkan.
"Lalu?" Brian terdengar penasaran. Penasaran dengan apa yang akan Airin lakukan setelah itu.
"Ya tentu aja, aku harus pulang sebelum scurity menangkapku," ujar Airin. Dia berjalan menuju halte.
"Oke, nanti sore temui saya di tempat biasa." Suara Brian tampak tegas.
"Untuk apa? Tempat biasa? Bisa nggak kalo nggak di dalam apartemen?" tanya Airin.
"Saya seorang selebriti. Mana bisa kita bertemu di luar, kalau memang kalau nanti ada gosip tentang kita, dan kamu nggak keberatan. It's oke, nggak masalah," ujar Brian.
"Aish," gumam Airin kesal.
Telepon terputus. Brian memutuskan panggilan itu sepihak. Membuat Airin tambah kesal. Dia mempercepat langkah kakinya menuju halte. Memutuskan menggunakan taksi sebagai alat transportasi untuk kembali pulang.
Ternyata Airin langsung ke rumah sakit. Dia ingin menemui ibu dari Ken. Untung saja Airin bertemu kembali dengan Kirana di lobi. Jadi dia tak perlu repot menanyakan kepada bagian resepsionis.
"Sedang apa?" tanya Airin. Kirana menoleh dan tersenyum.
"Pekerjaan Kakak sudah selesai?" tanya Kirana balik.
Airin hanya mengangguk sembari menebar senyum.
"Abis beli minuman tadi di kantin." Kirana mengangkat sebuah plastik putih berisi dua botol minuman.
"Apa Kak Ken ada di sana?" Kirana mengangguk cepat.
Keduanya lantas menuju lantai empat. Di mana di sana adalah ruang rawat inap untuk semua pasien.
Sesampainya di sana. Ternyata bukan hanya ibunya Ken yang berada di ruangan itu, tetapi ada satu pasien lagi yang juga tengah dirawat.
"Tante," ujar Airin menyapa. Ia sangat menyesal tak mengetahui keberadaan wanita paruh baya dengan gaya rambut bob. "Maaf, aku baru datang," ucapnya penuh penyesalan.
Matanya beralih kepada Ken yang tengah sibuk meminum minuman yang baru Kirana beli.
"Ken! Kenapa nggak bilang?" tanya Airin.
"Repot! Kalo kamu tahu, bisa-bisa panik semua!" jawab Ken sekenanya. Membuat Herlin tersenyum tipis.
"Tante gimana kabarnya?" Airin kembali menoleh ke arah Herlin.
"Baik," celetuk Ken lagi. Hal itu membuat Airin kesal.
"Ken!" protes Airin manja. Membuat semua orang tersenyum.
"Kalian ini, kenapa nggak menikah saja, klop banget satu sama lain," ucap Herlina pelan.
"Aku nikah sama dia? Enggak deh, laki-laki galak, nyebelin," jawab Airin. Ia menjulurkan lidahnya ke arah Ken.
"Eh, galak dan nyebelin itu bagian dari laki-laki sejati. Aslinya mah rasa sayangnya lebih gede dari samudra," jawab Ken.
"Alah, omong kosong, paling juga awal-awal doang," ujar Airin.
"Serius! Buktinya aku masih bertahan sama perasaan aku sampe sekarang," ucap Ken tegas.
"Perasaan yang mana? Untuk siapa?" tanya Airin. Seperti tengah keceplosan, Ken segera menutup mulutnya rapat. Dia gugup.