Episode 11

1750 Words
Airin mengerutkan kening. "Untuk siapa?" desak Airin. "Ada, kamu nggak perlu tahu," jawab Ken ketus. "Dih, gak jelas," timpal Airin. Kirana hanya tersenyum melihat kegaduhan itu. Terlebih Herlin yang menatap putra sulungnya dengan senyum tipis. Sepertinya wanita itu tahu apa yang ada di dalam pikiran Ken. Airin lebih memilih mengobrol dengan Herlin. Kirana sibuk dengan ponselnya, sedangkan Ken seperti biasa, ia sibuk dengan pekerjaan. "Kenapa tiba-tiba kamu keluar dari pekerjaan kamu? Apa sudah nggak betah sama Ken?" tanya Herlin. Ken mendengarnya, namun dia memilih untuk diam. "Enggak kok Tan, ada urusan yang harus aku urus dulu. Setelah selesai nanti, aku bakal kembali kerja sama Ken," jawab Airin lalu tersenyum. "Ken nggak mau bantu urusan kamu?" tanya Herlin. "Ma, itu urusan pribadi dia. Nggak bisa Ken bantu gitu aja," celetuk Ken. Keduanya menoleh, menatap Ken serius. "Kamu juga bisa bantu, kok," ucap Airin. Ken menatap Airin serius. "Bantu apa?" tanya Ken penasaran. Dia tampak antusias dengan apa yang diucapkan Airin. "Bantu doa, supaya cepet kelar," jawab Airin. Ia tertawa, membuat Ken kesal. "Tapi serius, nanti aku bakal minta bantuan kamu," ucap Airin lagi. "Tapi nggak sekarang," lanjutnya. "Karena kamu ahlinya buntutin orang, kan?" "Sialan!" gumam Ken. Airin lagi-lagi tertawa. Tak terasa waktu sudah hampir mendekati jam makan siang. Herlin yang keasikan ngobrol akhirnya tertidur lelap. "Kak, ajak Kak Airin makan, dia pasti belum makan dari tadi." Kirana memerintah. Ngomongin soal makan, benar Airin sampai lupa sarapan dan ini sudah waktunya makan siang. Ken menoleh ke arah Airin. "Ayo!" ajaknya. Airin mengangguk. "Aku pesan yang biasa," timpal Kirana. Ken hanya mengangkat jari jempolnya tanda setuju. Ken mengajak Airin makan di kantin rumah sakit. Wanita itu tampak tak masalah. Karena menu di sana terbatas, jadi keduanya hanya memesan nasi dengan lauk seadanya. Es teh manis menemani makan siang mereka. "Jadi lancar kerjaannya?" tanya Ken membuka perbincangan. "Lancar apanya! Tambah jauh aja sekarang," jawab Airin kesal. Airin teringat sesuatu. Dia lantas merogoh saku celana jeans-nya. Mengambil foto dan memberikannya kepada Ken. "Aku nggak asing deh sama orang ini," ucap Airin. Dia menyodorkan foto ayah kandung Brian. "Wiratayudha? Ini anggota DPR yang waktu itu kita ikuti!" Ken menjelaskan. Airin mencoba mengingat. Ia membulatkan dua bola matanya sempurna. "Ah, iya!" jawabnya bersemangat. "Yang selingkuhannya ..." Ucapannya terhenti. Dia memelankan suaranya. Celingukan memastikan di sekitarnya aman. Ken sudah mengangguk duluan menjawab pertanyaan Airin. "Aku tahu sekarang!" Airin tersenyum. "Ada apa emang? Ada hubungannya dengan Brian?" tanya Ken penasaran. Airin mengangguk cepat. "Dia Bokapnya Brian!" bisik Airin. Ia sedikit mendekatkan kepalanya ke arah Ken. Dengan tujuan supaya tak ada yang mendengarkannya. "Apa?" Ken tampak terkejut. Dia lantas menutup mulutnya ketika Airin memerintahkannya untuk diam. "Serius?" tanya Ken berbisik. Airin mengangguk cepat. "Aku diperintahkan buat jadi mata-mata," ujar Airin. Dia mengembuskan napas kesal. "Udah, makan dulu." Ken memerintah. Airin mengangguk dan langsung melahap makanan yang sudah tersaji di depannya. Tak sampai lima belas menit, keduanya menghabiskan makanan mereka sampai hanya tersisa piring dan sendok. Airin tersenyum, ia merasa kenyang. Dia sampai lupa tak melakukan sarapan pagi tadi. "Aku pesan buat Kirana dulu," ucap Ken. Dia berdiri dan kembali ke meja kasir. Memesan makanan untuk adik semata wayangnya. Sembari menunggu Ken, Airin memainkan ponselnya. Dia melihat beranda i********: yang penuh dengan berita-berita artis dan juga postingan artis yang dia ikuti. Tentu saja dengan menggunakan akun fake miliknya. Wajahnya tersenyum kecut. "Orang paling menyebalkan di dunia," ucap Airin lirih. Dia melihat foto Brian yang tersenyum lebar di depan kamera. "Ah, sial! Kenapa aku memperhatikan dia," gerutunya lagi. Dia segera menutup aplikasi i********: itu dengan cepat. Dia membuka pesan w******p, tak ada satu pun pesan masuk di sana. "Ayo!" Suara Ken membuyarkan pandangan Airin. Ia segera berdiri meraih tasnya dan mengikuti Ken. Siang itu Airin menemani Herlin hingga waktu menjelang petang. "Aku pulang," ucap Airin berpamitan. Dia tampak masih ingin menemani ibu dari Ken. "Besok aku akan kembali," ujarnya lagi. Herlin tersenyum dia menggelengkan kepala. "Kamu pasti sibuk, sudah ada Ken dan Kirana yang menjaga Tante," ucap Herlin pelan. "Tante, kalaupun aku sibuk, aku sempetin datang ke sini," ujar Airin tegas. Herlin tersenyum. "Nggak perlu, besok udah bisa pulang, kok," celetuk Ken. Airin segera menoleh. "Serius? Emang kamu dokter?" tanya Airin tak percaya. "Serius! Aku prediksi, karena kondisi Mama membaik, dan memang kemungkinan besok bisa pulang." Ken menjelaskan. "Tuh! Kayak dukun," protes Airin. Semua orang tersenyum. Kini Airin kembali ke arah Herlin. "Tante, aku pulang dulu. Nanti aku temui Tante lagi." Airin berpamitan. Herlin hanya tersenyum dan mengangguk pasrah. "Ken, antar Airin dulu sampai rumah. Kasian, jauh banget," ucap Herlin pelan. "Enggak, Tan. Aku masih ada urusan. Lagipula Ken harus jaga Tante di sini, biar aku pulang sendiri aja." Airin menolak secara halus. "Kalo nggak sampe lobi, atau sampai Kak Airin naik taksi," timpal Kirana. Airin menoleh dan tersenyum. "Siap Bu Bos," jawab Ken sembari memberikan tanda hormat kepada adiknya itu. "Ayo!" Ken mulai bangkit dari duduknya. Membuat Airin kembali memandang Herlin. "Tante cepet pulih, biar bisa masakin makan malam buat aku," ujar Airin bercanda. Ken mengantar Airin ke lantai bawah. Keduanya hanya menikmati perjalanan mereka masing-masing. "Jadi ..." Ken membuka pembicaraan. Airin segera menoleh cepat. "Apa?" Sepertinya Airin juga menunggu Ken mengucapkan sesuatu. "Besok kamu pergi lagi mengikuti kegiatan Wiratayudha?" tanya Ken. Airin mengangguk malas. "Mungkin jika aku dapat bukti nyata,"jawabnya datar. Ken mengangguk mengerti. "Kalau butuh bantuan, hubungi aku aja. Dan ingat, kamu nggak akan kamu ganti. Jadi, jika pekerjaan kamu sudah selesai, balik lagi ke Secret. Anggap aja, ini cuti buat kamu." Ken berbicara panjang lebar. Airin tak langsung menjawab karena tepat dengan terbukanya pintu elevator. Keduanya keluar dan berjalan bersama. "Makasih, ya. Kamu baik banget sama aku. Selalu ada di saat masa-masa aku terpuruk," ucap Airin. "Sudah, aku harus pulang. Kamu kembali saja ke atas," kata Airin menghentikan langkah. Ken ikut berhenti. "Lain kali jangan main rahasia-rahasiaan. Coba tadi aku nggak ketemu Kirana. Mana mungkin aku tahu jika Tante ada di sini," ujar Airin berceramah. Ken tersenyum. "Aku malas lihat kamu panik, lihat kamu kalang kabut sendiri, pasti aku juga yang kena marah sama kamu," ucap Ken. "Kena marah gimana? Daripada kayak gini," kata Airin tak terima. "Kamu sudah pasti ngomel, karena udah tau Mama sakit kenapa nggak di jagain!" Ken mengungkapkan. Airin tersenyum. "Ya udah, aku balik. Besok kabarin kalau Tante udah bisa pulang. Aku bakal ajak Mama buat jenguk," ujar Airin. "Wah, ketemu calon mertua, nih," ledek Ken. Airin melayangkan tangannya di lengan Ken. "Udah ah, mau balik." Airin membalikkan badannya. Ia berjalan menjauh dari Ken. Menuju pintu utama untuk keluar dari sana. "Kalau pulang tanggung," ucap Airin melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit. "Ah." Dia seolah memiliki ide untuk melakukan suatu hal. Ternyata dia mengambil ponselnya di saku celana. Dia menghubungi nama Brian di sana. Berkali-kali, sayangnya tak ada jawaban. Airin pun menyerah. Dia kembali memasukan ponselnya dan mempercepat langkahnya. Airin memilih bus untuk transportasi kali ini. Selain mengirit biaya, dia juga ingin menikmati perjalanan agar terulur waktunya. Hampir setengah jam dia duduk, akhirnya berhenti di salah satu halte. Halte di mana letaknya tak jauh dari sebuah apartemen mewah. "Semoga aja dia udah balik," ucap Airin. Dia berjalan dengan percaya diri. Kini scurity yang berjaga tak lagi menyapa. Mungkin sudah beberapa kali melihat Airin bolak-balik ke sana. Airin segera menuju lantai di mana Brian tinggal. Apartemen itu tak terlalu ramai, terbilang sepi untuk ukuran tempat tinggal. Bagaimana tidak, mungkin semua yang tinggal di sana adalah orang kaya yang memiliki kesibukan yang tak terbatas. Airin berdiri di depan pintu apartemen Brian. Ia menekan tombol bel dan menunggu jawaban. Tak ada jawaban. Airin tak menyerah, dia mengetuk dan juga menekan tombol. Hampir lima menit berdiri akhirnya seseorang membukakan pintu. Menampilkan seorang Brian yang setengah telanjang. Dia hanya menutupi tubuh bagian pusar hingga atas lutut dengan menggunakan handuk. Tentu saja Airin terkejut. Ia segera menutup matanya dengan kedua tangan. "Gila!" gumam Airin. Brian hanya tersenyum. "Masuk!" perintahnya tegas. "Jarang-jarang liat tubuh artis yang vulgar," ujarnya meledek. Airin masih tak mau memandang tubuh Brian walaupun hanya dari belakang. "Ah," ujar Brian. "Sembilan satu dua enam kosong tiga," kata Brian mengucapkan angka-angka itu dengan jelas. Airin mengerutkan kening. "Maksudnya?" tanya Airin. "Itu pasword supaya kamu bisa masuk ke sini," ucap Brian. "Ngaco! Buruan pakai baju," perintah Airin. Brian malah sengaja berjalan lambat. Membuat Airin melewatinya. Dia segera duduk di sofa. Sedangkan Brian menuju kamarnya. Airin menunggu yang punya rumah keluar dengan pakaian wajar. Tak menunggu lama, Brian keluar dengan pakaian santai. "Sepertinya akan susah mengikuti kegiatan Ayahmu," ucap Airin membuka perbincangan. "Susah bagaimana?" tanya Brian penasaran. "Secara dia orang sibuk, terlebih aku juga nggak tau jadwal dia." Airin beralasan. "Cari tahu! Itu kenapa saya bayar kamu," ucap Brian ketus. "Iya tapi, aku nggak punya akses buat cari tahu tentang Ayahmu," ucap Airin. "Kamu ingat dengan Desta?" tanya Brian. Airin mengerutkan kening, dia mengangguk. "Tanya dia tentang jadwal Ayah saya." Brian memberi tahu. "Ah, oke." Airin mengerti. "Tapi bagaimana aku menghubungi dia?" "Bukankah kalian berteman?" tanya Brian. "Kita nggak sedekat itu, sampai harus bertukar nomor telepon," jawab Airin sinis. "Ah," ucap Brian mengangguk. "Nanti saya kirim nomornya," katanya lagi. "Oke, aku harus pulang," ujar Airin. "Nggak ada lagi yang perlu dibahas bukan?" tanya Airin. "Tunggu! Saya harus membaca naskah untuk sebuah film," ucap Brian. "Lalu?" tanya Airin. "Bantu saya," pinta Brian. "Apa? Gila! Artis paling gila!" Airin kesal. "Nggak bisa, aku harus pulang. "Oke, saya kasih tau tempat yang biasa Ayah saya datangi di setiap harinya." Airi. Tertarik, dia menatap Brian serius. Laki-laki itu hanya menanggapinya santai. "Oke," ujar Airin mengalah. Dia bukannya menyerah, namun jadwal penting Wiratayudha memang dia butuhkan agar lebih mudah untuk mengikuti kegiatannya. "Sebentar," ucap Brian. Dia berjalan menuju kamarnya. Mengambil dua buah naskah yang dia bawa dari hasil tadi siang. Memberikannya kepada Airin satu naskah. "Kamu bertindak sebagai Andara," ujar Brian. Airin mengangguk menurut. "Tunggu!" Airin menghentikan aktivitas Brian yang sudah siap membaca naskah dari awal. "Kasih tahu dulu jadwal ayah kamu, baru aku akan bantu baca naskah ini," ucap Airin. Dia tak kalah pintar dari Brian. Laki-laki itu tersenyum menanggapinya. "Oke," ucap Brian. Dia mengambil ponselnya. Entah apa yang dia cari. Hampir tiga menit berkutat pada layar ponselnya. "Udah," ucap Brian. Airin belum sempat menjawab, tetapi sudah mendapat pesan dari Brian. Pesan yang berisi serentetan jadwal dari Wiratayudha. "Yes!" gumam Airin. Hal itu akan sangat membantu pekerjaannya. "Oke kita mulai," ucap Airin. Dia membuka naskah di halaman pertama. Membaca semua tokoh yang akan terlibat dalam film itu. "Aku cinta kamu," ucap Brian tiba-tiba. Jantung Airin terasa akan lepas dari tempatnya. Dia mematung, matanya membulat. Menatap Brian dengan serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD