Brian mengerutkan kening melihat ekspresi Airin. Dia mengangguk, lantas mengangkat naskah yang ada di tangannya.
"Itu bunyi kalimat pertama dalam naskah ini," ucap Brian.
Rasa malunya bercampur aduk. Airin bernapas lega. Dia tersenyum canggung.
"Ah iya, naskah ini," ucap Airin.
"Lagian dia juga kan selalu pakai kata saya," batin Airin. "Bodoh," batinnya bergelut. Dia melayangkan tangannya di kepala.
"Kenapa? Ada masalah? Atau ..."
"Enggak," jawab Airin segera. Dia tak ingin lebih malu dengan pikirannya yang super halu. "Ayo! Kita lanjutkan," ucap Airin.
Brian mengangguk.
Keduanya membaca naskah, saling bersautan hingga lupa waktu. Sakin asiknya baca dan saking menghayatinya. Airin tersadar, bukan seperti ini yang dia inginkan. Secepat kilat dia melihat arloji di tangannya.
"Aku harus pulang!" gumamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh menit.
"Aish," ujarnya bergegas. Brian mencegahnya dengan meraih lengan Airin.
"Biar saya antar," ucapnya. Airin menolak keras.
"Nggak perlu, jam segini masih ramai," ucapnya.
"Enggak," ujar Brian. Dia berdiri di samping Airin. "Itung-itung ini bayaran kamu udah bantuin saya baca naskah," kata Brian.
"Bayaran? Apa semua yang aku lakukan harus dapat bayaran atau imbalan? Tidak, aku ikhlas melakukannya," ucap Airin kesal.
"Bukan itu maksud saya." Brian ingin menjelaskan. "Bahaya di luar malam-malam sendirian," lanjut Brian khawatir.
"Udah tahu bahaya, dan kamu selalu undang aku malam hari," kata Airin tegas.
"Ayo! Lebih baik saya antar," ucap Brian. Dia mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja depan televisi. Berjalan keluar tanpa persetujuan Airin. Tentu saja perempuan itu hanya pasrah mengikuti.
"Seenak jidatnya aja," gerutu Airin lirih.
Keduanya sampai di lantai bawah tanah apartemen untuk mengambil mobilnya. Airin membuka pintu penumpang yang berada di bawah.
"Heh! Memangnya saya supir kamu?" protes Brian. "Di depan!" perintahnya.
Airin menghela napas. Lagi-lagi hanya menurut. Keduanya sudah siap, Brian segera menancapkan pedal gas mobilnya meninggalkan pelataran parkir itu.
"Apa ini aman? Untuk seorang selebritas mengantar seseorang?" tanya Airin tiba-tiba. Brian hanya mengedipkan bahu.
"Kalaupun nggak aman, juga bakalan jadi gosip, kan?" Brian berspekulasi. "Bukankah, kamu lebih faham dengan masalah seperti ini?" tanya Brian. "Secara kamu seorang wartawan, lebih tepatnya paparazzi," ujar Brian menyudutkan.
Airin terlihat kesal. Benar, dia kini tahu bahwa Brian tak sepenuhnya memaafkan atas tindakannya.
Airin lagi-lagi tertidur pulas di samping Brian. Melihat itu, Brian hanya tersenyum tipis. Dia mencoba mengatur kursi yang diduduki Airin sehingga sedikit ke belakang agar Airin nyaman.
"Bagaimana saya ngantar kamu, kalau kamu tidur seperti ini," ujar Brian lirih. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Tepat di mana mereka pertama kali bertemu bagi Brian saat pagi hari. Ketika dia menolong Airin yang hampir tertabrak kendaraan.
Brian memandang Airin lekat.
"Cara kamu berbicara, aku mengenalnya. Cara kamu berjalan juga sama dengan dia. Apa kamu adalah dia?" tanya Brian lirih. Ia terus menatap Airin. Sudah tiga puluh menit Brian memarkirkan mobilnya, namun Airin belum juga bangun. Brian memutuskan untuk keluar. Dia duduk di kap mobil, menghirup udara malam. Tampak beberapa toko di sekitarnya sudah tutup. Namun, masih ada juga toko yang masih buka. Brian membeli minuman dari mini market yang masih beroperasi. Dia menikmatinya sembari menikmati jalanan kota yang sudah tampak sepi. Wilayah itu masih terbilang aman untuk Brian. Karena dia tahu waktu keramaian di sekitar sana.
"Kalau Desta tahu aku ada di sini, mungkin dia akan ngamuk," ucap Brian lalu tersenyum tipis. Dia meneguk minuman kaleng yang sudah dibukanya.
"Ah ya," ujar Brian mengingat sesuatu. Dia melupakan ponselnya yang berada di dalam mobil. Laki-laki itu berniat mengambilnya. Namun, dia sudah mendapati Airin bangun.
"Oh, sudah bangun?" tanya Brian. Airin segera keluar dari mobil itu. Brian mengurungkan niatnya mengambil ponselnya dan kembali menutup pintu mobilnya.
"Masuklah, aku akan pulang." Airin berpamitan. Airin mengitari mobil.
"Terima kasih," ucap Airin. Ia membalikan badan. Namun kembali berbalik ke arah Brian.
"Tunggu! Bagaimana bisa kamu tahu aku tinggal di wilayah sini?" tanya Airin.
"Saya? Ah, waktu itu ..." Baru saja Brian akan menjelaskan. Airin sudah mengingat kejadian pagi hari tempo lalu.
"Ah iya, oke, oke. Aku tahu," ucap Airin. "Aku pulang," ucap Airin.
Brian mengangguk, dia melihat Airin berjalan hingga punggungnya semakin mengecil. Sampai akhirnya Airin berbelok dan menghilang dari pandangan Brian.
Setelah memastikan Airin sudah tidak ada, Brian kembali masuk ke dalam mobilnya. Kembali ke apartemen.
Sesampainya di apartemen, Brian langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Dia menatap langit-langit ruangan itu dengan penuh pertanyaan di otaknya.
"Apa kamu adalah Airin yang dulu?" tanya Brian.
"Senyum itu, cara berbicara kamu, sampai cara kamu berjalan sama persis dengan Airin. Tapi bagaimana bisa Desta nggak kenal sama dia," ucap Brian.
Pikiran Brian melayang jauh.
____
"Attar!" Seorang siswa perempuan memanggil nama itu dengan tegas. "Apa kamu bodoh! Kenapa nilai kamu selalu jadi yang terakhir?" Suara gadis itu tampak sangat kesal.
Siswa berkacamata dengan polos hanya menunduk.
"Lo gila! Oke, emang lo pintar! Tapi nggak gitu caranya sampai harus menghina yang bodoh," ujar siswa laki-laki bernama Desta.
"Iya temen kamu bodoh! Karena masih mau dijajah mereka!" Gadis itu menunjuk sekumpulan siswa yang tengah asik di pojokan. Tak terima dengan ucapan gadis itu, sang ketua geng langsung berdiri.
"Kalian! Please, belajar! Jangan cuma nyuri hasil ulangan orang!" teriak siswa perempuan itu dengan tegas. Sebelum dia kembali ke mejanya, ia menyerahkan lembaran kertas kepada siswa berkacamata tadi.
_____
Brian tersadar. Dia membuka matanya sempurna. Napasnya memburu dan keringatnya sangat banyak. Dia segera menarik tubuhnya agar berada di posisi duduk sempurna.
"Bagaimana bisa? Semakin aku memikirkan dia, semakin masa itu teringat sangat jelas," ucap Brian.
Bel berbunyi. Membuyarkan semua pikiran dia. Brian melihat jam dinding. Sudah hampir jam dua belas malam. Batu saja Brian akan bangun, tetapi sang tamu sudah membuka pintu itu.
Bukannya cemas, malah dia kesal. Karena dia tahu siapa yang datang. Benar, Desta muncul dari balik pintu masuk.
"Apa lo Cinderella? Udah mau jam dua belas datang?" tanya Brian kesal.
"Pusing! Bokap sama Nyokap lagi berantem!" Desta terlihat lesu. Dia menjatuhkan diri di samping Brian.
"Tinggal bikin anak lagi aja repot banget," ujarnya lagi.
"Anak?" Brian mengerutkan kening.
Desta mengangguk. "Mereka mau cerai," jawabnya datar.
"Apa?" Brian terkejut. Dia segera menatap Desta lekat. "Kok bisa? Bukankah hubungan mereka baik-baik saja?"
"Awalnya sih begitu. Nyokap nggak mau nambah anak lagi, mungkin dia mengurangi jatah Bokap di ranjang. Tapi, namanya laki-laki, mana bisa tahan. Bokap nyari daun muda," jelas Desta.
"Bukannya Bokap lo penurut banget? Kok bisa?" Brian masih tak mengerti.
"Senurut-nurutnya cowok, kalo ceweknya banyak jual mahal, bakalan kabur. Terlebih Nyokap selalu bahas soal Bokap yang selalu kehasut sama Nenek," ujar Desta jengkel. "Sebenarnya gue kasihan sama Nyokap, disalahin mulu, aduh! Pusing dah," ucap Desta.
Brian mengusap punggung sahabatnya. "Sabar ya," ucap Brian. "Tapi tetep aja, lo harus tidur di bawah," ujar Brian sedikit meledek. Sebelum Desta meninjunya, dia buru-buru kabur.
"Sialan lo!" gerutu Desta.
Keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur. Mana mungkin Brian tega melihat sahabatnya tidur di lantai dan hanya beralaskan badcover.
"Gue masih penasaran," ucap Brian tiba-tiba. Dia tau Desta belum tidur.
"Tentang apa?" Desta tak sedikitpun mengubah posisinya yang membelakangi Brian.
"Tentang Airin," jawab Brian singkat. Desta seolah terpanggil dan mengubah posisinya menjadi terlentang. Kepalanya menoleh ke arah Brian.
"Apa? Tentang apa?" tanya Brian.
"Tentang bagaimana cara dia bersikap. Itu terlalu familiar dalam pikiran gue. Apa lo nggak ngerasain?" tanya Brian. Desta seperti menghindar, dia kembali membelakangi Brian.
"Enggak," jawabnya ketus. "Tidur! Besok jadwal kamu padat," perintah Desta.
Sepersekian detik keduanya terdiam.
"Lalu, jika dia kembali, apa posisi kamu bakal sama seperti sekarang? Dipuja banyak orang, apa kamu nggak takut, jika nanti mereka datang lagi," ucap Desta tiba-tiba. Brian menoleh, dan menggelengkan kepala pelan.
Keduanya tertidur pulas. Hingga sinar matahari masuk melalui celah gorden. Desta membuka matanya lebih dulu. Sudah dipastikan Brian merenungi ucapannya terakhir kali.
Desta menyiapkan sarapan sebelum dia bergegas mandi. Belum juga selesai, Brian sudah bangun.
"Kopi!" Brian memberi isyarat agar Desta mengambilkan kopi yang berada di dalam lemari dapur. Desta menurut. Dia mengambil satu sachet kopi dan melemparkannya kepada Brian.
Pagi itu mereka harus menuju lokasi syuting. Pasalnya Brian sudah memulai syuting film barunya. Semua kru yang bertugas tampak sibuk menyiapkan tempat itu. Lawan main Brian juga sudah datang. Brian hari itu hanya membawa dua manager, satu stylish dan satu asisten.
"Nanti kamu harus minta maaf sama sutradara, karena udah berapa kali batal makan bareng," ujar Dava menginterupsi.
"Iya," jawab Brian singkat.
"Hai," sapa seorang perempuan cantik. Dia adalah orang yang akan menjadi lawan main Brian, Monica.
Brian hanya menganggukkan kepala tanpa senyum.
"Oh ya, sepertinya fans kamu terlalu banyak, mereka bahkan dari pagi menunggumu di sini," ucap Monica dengan nada dibuat-buat. Brian melihat ke sekeliling lokasi itu. Benar, banyak sekali banner bertuliskan namanya. Memberikan semangat atau bahkan hanya datang untuk melihat akting Brian.
"Sutradara datang," timpal Desta. Monica segera menoleh. Dia segera bergegas menghampiri Hardian.
"Tuh, artis tuh kayak gitu, biar dipake terus sama sutradara." Desta memprotes. Dava hanya tersenyum mendengar itu.
"Sialan lo," ucap Brian.
"Cepat, dekati, dia pasti kesal sama kamu," perintah Dava.
"Oke," jawab Brian tak ikhlas. Dia berjalan menghampiri orang yang akan memandu jalannya syuting itu.
Brian tampak tersenyum. Dia berbicara pada sang sutradara setelah Monica selesai menyapa.
"Saya minta maaf. Terlalu banyak yang saya harus urus, sampai membatalkan janji makan bersama kita," ujar Brian. Hardian tampak tersenyum dan tak apa-apa. Dia hanya menepuk bahu Brian.
"Maklum lah, artis papan atas, pasti sibuk banget. Sayanya aja yang kepengen deket-deket," ujar Hardian. Brian tersenyum.
"Enggak, saya pastikan setelah syuting selesai, saya traktir Anda makan," ucap Brian sopan. Hardian tampak bahagia mendengarnya.
"Wah, pasti orang tua kamu bangga banget, memiliki anak sebaik dan se-cute kamu," ujar Hardian memuji.
Brian lagi-lagi hanya tersenyum.
Syuting hari itu berjalan lancar. Walaupun banyak sekali kendala yang membuat Brian kesal. Bukan kendala dari fasilitas, namun dari sang lawan mainnya yang memiliki gangguan pencernaan.
Tepat pukul sepuluh malam, Brian keluar dari lokasi syuting. Ia meminta ponselnya yang dari pagi disita oleh Dava. Desta yang malam itu menyetir hanya terdiam karena mungkin dia juga lelah seharian menemani syuting dan membantu Brian menyiapkan semua hal.
Bukannya tidur, Brian malah memainkan ponselnya. Dia membuka pesan dari Airin yang berisikan.
-Ternyata sangat membantu jadwal yang kamu berikan kemarin. Tapi, sayangnya aku nggak menemukan kecurigaan.- Tulis Airin. Brian hanya menembuskan napas kasar.
Dia memejamkan matanya.
"Apa sudah ada kabar dari Nyokap?" tanya Brian. Desta menoleh sebentar.
Dia maksud tujuan pertanyaan Brian.
"Dia masih di Paris. Akan kembali akhir tahun ini." Desta menjelaskan.
"Kenapa Bokap membuangnya terlalu jauh, apa di Jakarta nggak ada dokter yang ahli buat nyembuhin penyakitnya?" tanya Brian menerawang.
"Mungkin dia hanya memilih dokter terbaik, jadi mengirimnya ke sana." Desta menengahi.
"Enggak, karena Ayah nggak mau hubungan gelapnya diganggu. Lo tau, kan. Kalau Nyokap tahu Ayah punya selingkuhan, dia bakal bisa gila dari saat kematian Sherin.
"Oh, I know," ucap Desta singkat.
Desta mengantar Brian hingga apartemen. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
Airin tengah duduk mematung di depan ponselnya. Sebuah foto menampilkan pesan dari Desta.
"Kenapa aku harus menjauhi Brian?" tanya Airin.
-Cari alasan supaya kamu keluar dari pekerjaan kamu sekarang. Ini demi kebaikan kamu dan Brian.- Itu adalah pesan Desta untuk Airin.