Airin memutuskan untuk menghubungi Desta. Ia penasaran kenapa laki-laki itu mengirimi pesan seperti itu.
"Halo," ucap Airin setelah tak lama Desta menerima panggilannya.
"Iya," jawab Desta singkat.
"Kenapa tiba-tiba kamu kirim pesan seperti itu? Apa Brian memiliki masalah?" tanya Airin.
"Bukankah kamu hanya balas dendam dengan dia?" tanya Desta to the poin.
"Apa?" Airin tampak terkejut. "Apa kamu mengetahuinya?" tanya Airin memastikan.
"Adik kamu bukan? Yang meninggal bunuh diri karena berita kencan Brian." Desta menjelaskan. "Please, itu bukan kesalahan Brian, jadi jangan coba-coba kamu menyakiti dia," ucap Desta. Dia memutuskan panggilan sepihak.
Airin seperti tertimpa tangga. Dia tak menyangka niatnya langsung dicium oleh Desta.
" Bagaimana dia bisa tahu?" tanya Airin terus menerus. "Aku harus menemuinya," ujarnya bertekad.
Keesokan harinya, Brian kembali beraktivitas seperti biasanya. Syuting dengan fokus dan menjalani step by step sesuai arahan sutradara. Hari ini kondisi Monic sudah membaik. Jadi tak perlu beberapa kali take untuk mendapatkan adegan yang maksimal. Semua kru bersorak ketika pukul tujuh malam syuting selesai. Seperti mendapat undian, mereka berbahagia mengemasi peralatan atau barang-barang di lokasi syuting. Jarang-jarang syuting berakhir di jam-jam terbilang sore.
"Oh ya, besok karena kamu hanya akan ada sedikit scane, jadi bisa berangkat siang," ujar Dava kepada Brian. Tentu saja Brian juga ikut kegirangan. Itu artinya dari pagi dia bebas.
"Ayo! Kita pulang." Brian mengajak Desta untuk segera pulang. Desta menurut saja. Dia segera menyiapkan mobil untuk Brian. Dava masih terlihat berbincang dengan sutradara dan staf yang lainnya.
"Ada orang yang harus gue temui," ujar Brian bersemangat.
"Siapa?" tanya Desta ragu.
"Ada," ucap Brian lalu tersenyum.
"Yan, sepertinya hari ini gue hanya bisa antar kamu. Karena gue juga punya urusan," ujar Desta. Seperti tak biasanya, hal itu membuat Brian mengerutkan kening.
"Ada masalah?" tanya Brian. Desta tertawa kecil.
"Enggak, cuma ketemu sama teman lama," ucap Desta.
"Ah," jawab Brian mengangguk mengerti.
Desta hanya terdiam di perjalanan. Membuat Brian benar-benar bingung.
"Kalau ada masalah cerita," ucap Brian tiba-tiba memecah keheningan. Desta yang tengah mengemudi menoleh sebentar dan tersenyum.
"Bukan masalah besar," ucap Desta.
"Masalah apa? Hutang? Atau masalah Cinta?" tanya Brian masih penasaran.
"Enggak, ini cuma salah faham aja," ujar Desta meyakinkan.
"Ah." Lagi-lagi Brian hanya mengangguk.
Desta mengantar Brian hingga lantai bawah tanah. Dia baru saja akan memarkirkan mobil itu, namun Brian meminta Desta untuk membawa mobilnya.
"Pakai mobil ini saja," ucap Brian.
"Tapi ..." Desta ingin menolak. Namun, Brian kembali memaksa.
"Pakai saja," ujarnya. Desta pun mengalah.
Desta kembali melajukan mobil itu dan meninggalkan pelataran apartemen. Desta menelepon seseorang.
"Hari ini pekerjaanku selesai lebih awal. Mau ketemu sekarang?" tanya Desta.
" Oke," jawab orang di seberang bersemangat.
"Aku kirim alamatnya," ucap Desta.
Dia mematikan panggilan dan mengirim pesan.
Alunan musik milik Agnes Monica diputar di kafe itu. Tampak Airin tengah menikmati suasana kafe yang tampak tak terlalu ramai, begitu juga minuman yang sudah dia pesan, berkali-kali dia seruput hingga hampir separuh. Dia seperti tengah menunggu seseorang di sana.
Sosok Desta muncul dan duduk di depannya.
"Sudah lama?" tanya Desta. Airin menggeleng cepat.
"Tadi kebetulan ada di wilayah ini, jadi langsung aja ke sini," jelasnya.
Desta sudah membawa minuman hasil tadi ia pesan di meja kasir.
"Bagaimana kamu tahu kalau dia adalah adikku?" tanya Airin langsung ke intinya. Sebelum Desta menjawab, dia meminum minumannya terlebih dahulu.
"Aku cari tahu," ucap Desta. "Itu bukan kesalahan Brian, jadi tolong jangan pernah balas dendam," kata Desta sedikit memohon.
"Apa kamu yakin? Kamu tahu? Apa yang buat aku benci sama Brian?" tanya Airin. Desta hanya menatapnya datar. Wajah Airin memang tengah sedang menahan amarah.
"Dia hidup bahagia, hidup tenang, dan juga hidup tanpa rasa bersalah, aku benci itu!" Airin berucap penuh penekanan.
"Rin, dia menderita!" Desta menyangkal. "Dia bahkan merasa bersalah hingga sekarang," lanjut Desta.
"Apa? Wah, sepertinya hidup orang lain seperti permainan dia," ucap Airin.
"Kamu nggak pernah berubah! Hanya menilai orang dari luar, keras kepala, dan selalu membuat kesal," kata Desta tegas. "Please, jauhi Brian," ucap Desta lagi.
Airin hampir tertawa, dia menahannya. "Apa kamu orang tua dia? Atau kamu memang penjaga dia. Tenang aja, aku nggak akan buat dia hancur kok, aku cuma mau dia membayar semuanya, ngerti?" tanya Airin.
Airin beranjak dari duduknya. Saat dia akan melangkah, Desta mengucapkan sesuatu yang membuat Airin terdiam.
"Setiap tanggal kematian adik kamu, dia selalu datang ke makam." Desta berucap tanpa menatap Airin. Perempuan itu menoleh.
"Apa kamu pernah datang? Enggak, kan? Kamu sibuk mencari tahu kelemahan Brian, kamu sibuk merencanakan balas dendam, dan kamu nggak tahu, bahwa adik kamu menginginkan kamu datang," jelas Desta. Ia kini menatap Airin lekat.
Airin terkejut. Dia kembali duduk.
"Apa dengan kedatangan dia ke makam adikku, adikku bakal kembali? Jangan bodoh! Dia melakukan hal yang enggak berguna." Airin kembali berdiri.
"Benar, itu adalah hal bodoh. Tapi, setidaknya di sana," ucap Desta menunjuk ke arah atas, yang dimaksud adalah langit tempat Irene sekarang. "Dia bahagia dengan kedatangan Brian. Dia tersenyum karena idolanya peduli sama dia, dia tenang karena masih ada orang yang mau mendoakannya," ucap Desta. Airin ingin menjawab. Namun ia memilih pergi karena menyembunyikan air mata yang jatuh menetes di pipi.
****
Berita gempar menampilkan bunuh diri siswa SMA. Penyebabnya sudah sangat jelas karena terkuaknya berita kencan dari selebriti papan atas yang sedang digilai remaja.
"Bagaimana ini?" Brian tampak khawatir. Dia hanya berdiri dan mondar-mandir memikirkan sesuatu. Terlihat Dava dan Desta hanya terdiam di tempatnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Brian lagi. "Aku udah katakan, ide kencan itu adalah hal buruk! Satu nyawa melayang karena berita itu," ucap Brian menyesal.
"Maaf, aku pikir jika kamu berkencan dengan Debby akan lebih membuat kamu terkenal." Dava menyesali.
"Tapi, apa mungkin anak itu bunuh diri karena berita itu?" tanya Desta menimpali. "Secara nyawa itu cuma satu, nggak mungkin dia relakan buat Brian yang hanya seorang idola dari dia. Bahkan Brian nggak kenal, kalian juga nggak pernah ketemu," ujar Desta.
"Des, perasaan seseorang nggak ada yang tau. Dia mungkin saja cemburu dengan kabar berita itu." Brian berspekulasi. "Aku harus ke rumah orang tuanya, aku akan meminta maaf," ujar Brian.
"Enggak, semuanya bakal aku urus. Kamu hanya diam, dan fokus sama projek baru nanti. Bila perlu aku bakal hapus semua berita tentang bunuh diri itu," kata Dava tegas. "Kamu nggak perlu datangi rumahnya."
"Tapi, Kak ..."
"Betul, kamu nggak perlu ke manapun. Kamu hanya harus fokus dengan karir kamu." Desta menimpali .
****
Dengan adanya kejadian itu membuat Brian merasa bersalah. Dia ingin menemui keluarga korban, tetapi Desta dan Dava selalu mencegahnya.
Dia meminta Desta merahasiakan kepada Dava, bahwa dirinya akan selalu datang ke makam korban setiap tanggal kematiannya. Desta dengan berat hati mengabulkannya. Dia tak tega melihat Brian selalu merasa bersalah.
Bahkan setelah kejadian itu, kabar kencan Brian menghilang dan dibanjiri kabar bunuh diri itu. Akan tetapi, dengan kekuatan, kecerdasan, dan koneksi Dava, berita itu muncul hanya dalam satu bulan. Setelah itu menghilang bagai dibawa badai.
Airin menangis. Dia mengingat perkataan Desta.
"Benar, aku terlalu sibuk dengan balas dendam, sampai aku nggak pernah ke makam kamu," ucap Airin. Ia berjalan menelusuri jalanan yang masih ramai.
"Aku bukan kakak yang baik," katanya lagi menyalahkan diri.
Tiba-tiba seseorang menarik lengannya dari belakang. Airin terkejut. Dia menoleh dan mendapati Ken di depannya. Hal itu membuat Ken terkejut, melihat Airin menangis. Dia panik.
"Apa ada masalah? Kenapa nangis?" tanya Ken khawatir. "Kenapa?" tanyanya lagi karena Airin hanya diam.
Airin langsung memeluk Ken erat, dia terisak.
Setelah tenang, Ken berhasil mengintrogasi Airin. Keduanya sudah duduk di sebuah taman kota yang tak terlalu ramai.
"Apa ada masalah?" tanya Ken. Dia membukakan tutup botol air mineral yang baru dia beli.
"Ken, Desta tau bahwa aku adalah kakak dari korban bunuh diri itu." Airin menjelaskan.
"Apa? Siapa? Desta?" Ken mengerutkan kening.
Airin mengangguk. "Dia adalah teman sekolahku dulu, dan sekarang sepertinya dia bekerja dengan Brian."
"Lalu?" Ken semakin penasaran.
Airin terdiam, hingga akhirnya kembali membuka suara. "Dia ingin aku menjauhi Brian. Dia bilang, Brian juga menderita sampai sekarang. Bahkan Brian sangat merasa bersalah." Airin menjelaskan.
"Dan kamu percaya? Karena dia teman sekolahmu dulu?" tanya Ken.
"Apa? Maksudnya?" Airin tak mengerti ucapan Brian.
"Rin, bisa saja dia berbohong. Dia adalah teman sekolah kamu, sudah kenal dong sama kamu, sama sifat kamu, dan kamu percaya sama ucapan dia?" tanya Ken lagi. "Dia tahu celah kamu, ini kesempatan buat dia kasih berita omong kosong. Karena dia nggak mau Brian dalam bahaya, secara dia bekerja sama Brian, tentu saja dia nggak mau kehilangan pekerjaan jika Brian hancur, betul?" ucap Ken dengan logika. Airin mencoba menyerap satu per satu kata yang dikeluarkan Ken.
Airin mengangguk. "Benar, itu pasti omong kosong," ucap Airin percaya. Dia mencoba mengatur napas untuk menahan emosinya.
"Aku udah bilang, kalau kamu nggak bisa balas dendam, aku yang akan balas dendam," ucap Ken.
Airin mengangguk.
Airin tak ingin usahanya gagal selama ini. Ini adalah kesempatan emas bahwa dia dekat dengan Brian. Membuat dirinya tahu apa kelemahan sang artis.
"Kenapa susah sekali dihubungi?" Brian membanting ponselnya. Pasalnya dia beberapa kali menelpon Airin tak juga dijawab.
"Tapi, kenapa Desta selalu menolak mencari tahu tentang Airin. Dia juga kan temannya, sudah pasti dia tahu siapa Airin." Brian menerawang langit-langit kamarnya.
Brian tertidur pulas malam itu. Pagi harinya, dia segera mengecek ponselnya tepat setelah dia membuka mata. Bahkan Airin tak membalas pesan atau panggilannya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Brian khawatir. Dengan malas dia bangun dari tempat tidurnya. Berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
Hampir tiga puluh menit dia di kamar mandi, akhirnya keluar. Melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh lima menit.
"Tumben Desta belum datang," ucapnya. Ia mengedipkan bahu. Syuting hari ini akan dimulai jam sepuluh pagi. Membuat Brian sedikit lebih santai. Setelah mengenakan kaos oblong dan celana kolor pendek, Brian menyeduh kopi.
Bel berbunyi. Dia berpikir bahwa Desta yang datang. Namun, sang tamu belum juga membuka pintu. Beberapa kali mengetuk pintu dan menekan belinya lagi. Brian pun memutuskan untuk membuka pintu.
Tamunya pagi ini adalah Airin. Terlihat wajah Brian bersemangat. Namun, dia berusaha menyembunyikannya.
"Masuk!" perintah Brian. Airin menurut.
Dia berjalan mengikuti langkah Brian.
"Aku akan berhenti bekerja," ucap Airin. Hal itu membuat Brian menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Menatap Airin tajam.
"Apa? Kenapa?" tanya Brian penasaran.
"Aku mau jadi asisten kamu," ucap Airin pasti.
"Heh?" Brian terkejut.