Episode 14

1635 Words
Brian mempersilakan Airin duduk. Dia bahkan lupa membuatkan minum apalagi menawarkan. Wajahnya sangat serius menatap wanita di depannya itu. Terlalu penasaran dengan ucapan Airin tadi. "Maksud kamu apa?" tanya Brian memastikan. Airin mengangguk. "Aku nggak bisa buntutin Ayah kamu, dan aku ingin jadi asisten kamu," ucap Airin pasti. "Aku akan mempekerjakan seseorang untuk mengikuti Ayahmu," ucap Airin. "Apa?" Brian masih tak mengerti. "Ken?" tanya Brian. "Heh?" Airin terkejut. "Bagaiman bisa tahu?" tanyanya. Brian tersenyum. "Koneksi saya banyak, mana mungkin saya nggak tahu seberapa detailnya Secret. Blog yang digilai penggemar artis. Blog yang hanya menampilkan berita kencan artis, blog yang selalu jadi nomor satu di situs pencarian internet, dan blog yang didirikan oleh wartawan-wartawan yang sudah dipecat oleh perusahaan. Benar, kan?" Brian menjelaskan panjang lebar. Fakta bahwa Secret memang seperti itu. "Aish," umpat Airin lirih. Walaupun dengan jelas Brian mendengarnya. "Oke, saya terima kamu sebagai asisten saya. Apa nggak masalah kamu bekerja hingga larut malam?" tanya Brian. Airin mengangguk pasti. Dia setuju dengan peraturan pekerjaannya yang baru. "Apa nggak masalah kamu datang terlalu pagi, dan menyiapkan semua yang harus saya bawa dan memastikan saya sarapan?" tanya Brian lagi. Airin hanya mengangguk sebagai jawaban. "Oke," ujar Brian. "Saya akan bilang ke manager saya." Brian mengambil ponsel miliknya. Dia ternyata langsung menghubungi Dava. "Kak! Aku udah punya asisten baru," ucap Brian tanpa basa-basi. "Apa? Kamu yakin? Kamu kenal? Tidak, kamu pilih sendiri tanpa meminta pendapatku atau Desta?" tanya Dava bertubi-tubi. "Aku kenal, dan dia setuju dengan permintaanku," ucap Brian. "Yan!" Sebelum Dava mengeluarkan dalilnya, Brian lebih dulu mematikan ponselnya. "Oke, saya terima. Kamu bisa mulai bekerja hari ini," ucapnya. "Oke," ucap Airin. Brian memainkan ponselnya. Dia ternyata juga menghubungi Desta. "Halo," jawab Desta di seberang. "Lo nggak perlu jemput gue," ucap Brian. "Kenapa?" Desta kepo. "Mau nyetir sendiri ke tempat syuting?" "Enggak, gue punya asisten baru," ucap Brian. "Apa? Asisten?" Belum juga menjawab pertanyaan Desta, Brian lagi-lagi mematikan panggilanya seenak jidat. "Gila juga nih orang," pikir Airin. "Bahasanya aneh, ada saya, gue, aku, stress!" batinnya. Hari pertama Airin sebagai asisten Brian adalah memasak untuk sarapan. Dia hanya menyediakan sebuah sandwich dengan lapis selai coklat. "Hanya ini?" tanya Brian. Dia sudah duduk di meja makan. "Apa? Hanya itu yang aku temukan di dapur," ucap Airin. Mana mungkin dua buah roti bisa membuat kenyang perut. Namun, hanya itu yang dia temukan di meja dapur. Di kulkas ada daging, sayuran segar, dan Airin nggak bisa memasaknya. Brian tersenyum. "Manager saya bakal langsung pecat kamu, kalau tahu bosnya hanya dikasih dua buah roti dan selai," ucap Brian. Namun, dia tetap memakannya. Setelah sarapan selesai, Brian bergegas untuk menuju lokasi syuting. Ia meminta Airin membawakan semua apa yang dia perlukan. Tentu saja Airin menyanggupinya. Tangannya sibuk memegangi tas tas berisikan barang-barang Brian. Dia sedikit kewalahan, tetapi mencoba untuk menyanggupinya. Sesampainya di lantai bawah tanah, Airin hanya terdiam. "Bisa nyetir?" tanya Brian. Dia sudah berdiri di depan mobil sport berwarna merah milik Brian. Airin menggeleng. "Nggak pernah pakai mobil sport kayak gini," jawabnya jujur. Brian lagi-lagi tersenyum kecut. "Sudah pasti kamu akan dipecat," ucap Brian lagi. Dia mengambil posisi di balik kemudi. Sedangkan Airin berada di sampingnya. Brian melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir bawah tanah itu. Menelusuri jalanan kota Jakarta yang tak terlalu padat. Karena itu bukannya jam sibuk kantor. Jadi, Brian melajukan mobilnya dengan kencang tanpa halangan. Empat puluh lima menit dia sampai di lokasi syuting. Tentu saja tempat itu sudah ramai oleh kru yang bertugas, dan artis-artis yang main dalam film itu. Tampak Dava dan Desta sudah menunggu. "Apa? Dia asisten barunya?" tanya Desta yang melihat Airin berjalan di belakang Brian. "Mungkin, kamu kenal?" tanya Dava, dia menoleh menunggu jawaban dari Desta. "Eh, mmm ... Eng ... Enggak," jawab Desta ragu. Brian melambaikan tangannya. Dia tersenyum sumringah ke arah Dava dan Desta. "Gila!" pekik Desta lirih. "Kenalin, ini asisten pribadiku, dia yang akan menyiapkan semua yang aku butuhkan," ucap Brian memperkenalkan Airin. "Yan!" Desta akan berucap, namun gagal saat Brian mengangkat tangannya. "Kamu bisa fokus menjadi managerku," ucap Brian. "Iya, tapi ..." Desta tak bisa berkata apapun. Sikap keras kepala Brian datang lagi. "Oh, dia manager!" batin Airin. Ia menatap serius Desta hingga wajahnya menampilkan senyum kemenangan. Desta tahu arti senyum itu. Senyum yang akan membuat Brian hancur. Syuting dimulai. Brian sudah berada di arena beradu akting dengan artis lain. Sedangkan Dava masih memantau di dekat sutradara. Agar lebih gampang tahu saat sang sutradara tak puas dengan akting Brian. Desta berdiri di samping Airin yang sedang menikmati minuman dingin yang memang disediakan di sana. "Maksud kamu apa? Menjadi asisten Brian?" tanya Desta. "Bukankah perkataanku kemarin jelas?" "Untuk menjauhi Brian?" tanya Airin memastikan. "Benar, tapi, aku harus membuktikan perkatanmu kemarin," ucap Airin. "Rin!" Desta ingin kembali berceramah, namun Airin memberikan isyarat untuk diam. "Brian yang menerimaku, kamu bukan Brian, kamu hanya seorang manager, apa hubungan kalian sangat dekat sampai kamu juga mengatur kehidupan pribadi dia? Mengatur semua keinginan dia?" tanya Airin. Dia kini lebih berani menyampaikan pikirannya. "Bukan begitu," jawab Desta. "Kamu akan menghancurkan Brian nantinya, bukan karena balas dendam," ucap Desta. "Lalu? Apa Brian juga mengetahui rencana balas dendamku? Dia pintar, dia mencari tahu tentang seluk beluk Secret. Hebat," puji Airin. "Kamu mau apa sebenarnya?" Desta terus bertanya. "Aku hanya ingin, dia membayar semuanya. Sudah cukup," ucap Airin tegas. Desta tampak menghela napas kasar. Dia tak ingin membuat keributan di sana. Jika Dava tahu Airin adalah kakak dari gadis bunuh diri itu, sudah dipastikan Dava akan menyingkirkannya dengan cara apapun. Dia tak segan menyingkirkan orang yang akan menghancurkan Brian dan karirnya. Break, Brian tengah duduk di kursi malas, sembari membaca naskah filmnya. Satu tangannya memegangi coffe cup favoritnya. Seseorang stylish rambut masih menata rambut Brian yang sedikit berantakan. "Sepertinya syuting hari ini akan sampai malam," ujar Desta menghampiri. Brian menoleh sejenak, dia celingukan mencari seseorang. "Kak Dava mana? Airin juga?" Dava ikut celingukan. "Nggak tau, dari tadi nggak ada," jawab Desta santai. Dia mengambil posisi duduk di samping Brian. "Lo yakin, bakal jadiin Airin asisten? Dia itu wartawan, kalau punya niat terselubung gimana?" tanya Desta. "Niat apa? Mau hancurin gue?" tanya Brian. Desta hanya mengangguk. "Dia itu hanya cewek ceroboh yang masuk ke kehidupan gue." Brian tersenyum. Di tempat lain, tampak Airin tengah bersama Dava. "Jadi, kamu kerja dengan Brian tanpa CV? Apa kalian berteman?" tanya Dava. Airin menggelengkan kepala. "Lalu, karena apa kamu mau bekerja dengan dia?" tanya Dava lagi. "Brian itu sangat pemilih terhadap orang asing. Dia punya trauma akan interaksi dengan orang luar. Makanya paling ketat untuk masalah asisten bahkan stylish pun dia yang memilihnya. Tapi, kenapa kamu dengan mudahnya masuk?" tanya Dava. Airin hanya terdiam. Belum juga menjawab, seseorang menjawab pertanyaan Dava. "Karena dia adalah Airin Arunika." Suara Brian mengalihkan pandangan keduanya. Desta yang berdiri di belakang Brian hanya pasrah. "Kamu kenal dia?" tanya Dava. "Enggak biasanya, kamu mengambil keputusan sendiri, mencari asisten sendiri, kenapa?" Dava masih sangat penasaran dengan hubungan antara Airin dan Brian. "Aku suka sama dia," jawab Brian santai. "Yan!" timpal Desta tegas. Brian menoleh dan tersenyum. Sedangkan Airin terlihat terkejut dengan apa yang diucapkan Brian. Laki-laki itu mengangguk. "Suka sama keberanian dia," ucap Brian. "Keberanian? Maksud dia apa?" batin Airin penasaran. "Aku pikir, dia bisa melindungi aku nantinya." Brian menarik lengan Airin. "Aku membutuhkan setelan jas yang tadi pagi udah kamu siapkan," ucap Brian. Airin mengangguk. Dia segera berlari ke arah mobil Brian. Dava masih tak mengerti dan tak percaya dengan jawaban Brian. "Kamu yakin? Dia bisa melindungi kamu?" tanya Dava menyelidik. "Dia sudah sangat berani datang ke acara fanmeeting-ku tanpa undangan. Sudah jelas dia punya maksud lain. Sebelum dia memiliki rencana jahat, aku dulu yang akan menghancurkan dia," ucap Brian memastikan. "Apa?" Dava berusaha mengerti ucapan Brian. Benar, dia hanya akan melindungi dirinya sendiri. "Yan!" Desta akan memberikan pendapat, namun Brian mengangkat tangannya. Isyarat agar dia diam. "Sebaiknya kita kembali ke lokasi, sebelum break selesai, dan aku ingin menyelesaikan syuting hari ini lebih cepat," ucap Brian membalikkan badan. Sikapnya yang keras kepala dan seenaknya sendiri, membuat Dava hanya melongo tanpa komentar. Syuting kembali dimulai. Semuanya harus berkali-kali melakukan take karena kurangnya pencahayaan. Tepat pukul sebelas malam, sang sutradara mengakhiri kegiatan hari itu. "Oke, cut!" ucapnya lalu berdiri dari kursinya. Ia bertepuk tangan dan mengucapkan terima kasih pada semua staf dan artis yang terlibat. Semua orang sibuk mengemasi barang mereka. Begitu juga kru yang bertugas di bagian masing-masing. "Brian biar aku yang antar," ucap Desta tiba-tiba. Brian menoleh, bergantian menatap Airin. "Lalu bagaimana dengan mobilku?" tanya Brian. Dia mengkhawatirkan mobil yang dipakai oleh Desta. "Aku bisa minta tolong ke ..." Belum sempat menjawab, Brian menggeleng cepat. "Enggak, kamu bisa bawa mobilku sampai apartemen." Brian berucap. "Yan!" Desta akan memprotes. Brian memerintahkan Desta untuk menuju mobilnya. Desta mengalah. Dava tampak berpikir aneh dengan jalan pikiran Brian. Namun, laki-laki itu hanya diam. Brian membawa kembali mobilnya, hanya berdua dengan Airin. "Apa kamu selalu seperti itu sama mereka?" tanya Airin. Brian menoleh sebentar hingga akhirnya kembali fokus. "Tidak," jawabnya singkat. "Sepertinya mereka kewalahan mengurus satu artis yang keras kepala," kata Airin lagi. Brian tersenyum mendengar itu. "Benar," jawab Brian. "Mungkin juga kamu nanti akan merasakannya," ujar Brian ketus. Airin menghela napas. Dia lantas terdiam, sampai akhirnya tertidur. Bagaimana bisa dia selalu tertidur, iya benar, karena dia tak bisa menahan kantuk saat tubuhnya merasa kelelahan. Brian menggelengkan kepala. "Selalu seperti itu," protesnya. Satu jam lebih di perjalanan, Brian sampai pada tempat di mana kemarin dia mengantar Airin. Dia juga menghentikan mobilnya di tempat yang sama. Baru saja dia ingin keluar, namun dia merasa ada yang mengikuti dan mengintainya. Brian celingukan, hingga akhirnya dia menemukan ada dua wartawan yang sedang mengintainya. Brian menghela napas. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi. Dia tersenyum kecut, memanfaatkan situasi yang akan membuat jagat hiburan heboh. Brian lantas mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Airin, dan tepat sekali saat itu Airin membuka matanya. Keduanya lantas terkejut, dengan jarak antara wajah hanya berkisar lima centimeter.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD