Episode 15

1743 Words
"Ngapain?" tanya Airin tertahan. "Heh." Brian juga terkejut. "Mmm," ujar Brian ragu. "Ada wartawan," katanya terbata. "Heh," jawab Airin. "Apa kamu gila! Mereka akan mengunggah berita yang bakal bikin heboh! Menjauh!" perintah Airin tegas. Dia sedikit mendorong tubuh Brian. Brian menarik tubuhnya, ia bersandar pada kursi kemudi lagi. Menghela napas. Airin ke luar dari mobil itu dan langsung pergi. "Padahal saya cuma mau nutupi wajah kamu supaya nggak terekspos kamera," ujar Brian sembari matanya menatap kepergian Airin. Lalu matanya mengarah pada wartawan yang sedang berpura-pura duduk sembari menikmati kopi. Brian memutar mobilnya, dia menelusuri jalanan kota yang sudah sangat lengang. Jam malam kota Jakarta hanya berlaku sampai jam dua belas. Maka dari itu sebelum jam dua belas, orang atau pedagang memilih untuk pulang sebelum ada razia dari satpol PP. Brian menelepon seseorang. Tak lama panggilannya dijawab. "Ada apa?" Suara Dava menggema di telinga Brian. "Siap-siap, besok bakal ada berita heboh," ujar Brian. "Apa? Apa ada yang mengikutimu?" tanya Dava. "Iya," jawab Brian singkat. Dava, terdengar sangat jelas menghela napas. "Oke. Cepat pulang, istirahat," perintah Dava pasrah. "Oh," jawab Brian singkat. Dia menutup panggilan tanpa pamit. Mobil melaju dengan kencang. Sesampainya di apartemen, Brian menjatuhkan tubuhnya. Dia mengambil kesempatan untuk meregangkan ototnya yang tegas sedari pagi. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan jelas. "Benar, kehidupan artis memang nggak biasa. Gue harus berhati-hati. Tapi, dia akan diserang sama fans gue kalau wajahnya terekspos," ucapnya datar. ____ Sinar matahari pagi itu begitu cerah. Airin masih enggan membuka matanya. Tubuhnya terlalu lelah kemarin. Menunggu sang artis syuting hingga malam hari. "Rin! Sudah jam tujuh!" Suara ibunya yang nyaring tak membuat Airin membuka matanya sesenti pun. "Rin!" Panggil ibunya lagi. Sebelum orang tua semata wayangnya berpidato dan berdakwah di kamar itu, Airin memilih mengalah, membuka sedikit matanya. "Iya," ucapnya. "Anak perawan itu bangun subuh! Nggak siang begini!" protes wanita paruh baya berambut bob itu. "Iya Ma," jawab Airin. Dengan malas, dia bangun dan memeluk ibunya. Memang wanita itu duduk di tepi ranjang milik Airin. "Selamat pagi!" Airin menciumi pipi Hilda. "Mama tunggu sarapan," ucapnya lalu memilih melepaskan tangan anak perawan ya dan keluar dari kamar itu. Airin bergegas membersihkan diri. Hari ini dia harus ke tempat Brian jam sembilan. Setelah selesai berganti baju dan memoles wajahnya tipis. Dia duduk di meja makan. Ada dua piring nasi goreng sudah siap untuk disajikan. "Tumben Mama juga sarapan," ucap Airin. "Memangnya nggak boleh? Mama sengaja nunggu kamu," ujarnya lembut. Airin mengangguk. Dia segera melahap masakan ibunya. "Rin!" Sang mama membuka percakapan. "Hmm," jawab Airin. Mulutnya penuh dengan makanan. "Berhenti balas dendam ke artis itu," ucapan Hilda tentu saja membuat Airin terkejut. "Ma," jawabnya. "Mama sudah ikhlas dengan kematian Irene. Dia pasti sudah bahagia di sana, kamu harus fokus dengan masa depan kamu," kata Hilda serius. "Ma, Brian hidup dengan nyaman, tenang, dan bahagia! Airin nggak suka itu. Dia yang menyebabkan Irene bunuh diri!" jawab Airin tegas. "Mama yakin, bukan hanya itu penyebabnya. Pasti ada sesuatu sama Irene," ucap Hilda lembut. "Ma! Mama tau kan, Irene nggak ada masalah apa-apa di sekolah." Airin berbicara tegas. "Aku udah tanya semua teman-teman dia, dan mereka jawab Irene anak yang supel, baik, dan juga ramah. Please jangan halangi aku buat balas dendam sama orang yang sudah menyebabkan dia bunuh diri." Hilda terdiam. Dia menelan nasi gorengnya tak bersemangat. "Apa Ken memberitahu Mama, bahwa aku sekarang bekerja dengan Brian?" tanya Airin. Hilda menoleh. Dia menatap anaknya serius. "Mama nggak mau kamu dalam bahaya," ucap Hilda. "Ma! Ada Ken yang akan menolongku nanti," ucap Airin. Kemarin Hilda memang bertemu dengan Ken. Saat dirinya tengah menjenguk Herlin di rumahnya. Kebetulan Ken masih bersantai di rumah. Mereka berbincang banyak, sampai diketahui bahwa Airin sudah keluar dari pekerjaannya. "Aku berangkat," ujar Airin. Padahal dia belum menghabiskan makanannya. Dia terlihat kesal. Bukan kesal terhadap ibunya. Dia kesal pada dirinya sendiri. Penyesalan atas meninggalnya Irene membuat Airin tak bisa ikhlas begitu saja menerima kepergiannya. "Semuanya salah aku," ucap Airin berjalan keluar rumahnya. Benar, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas meninggalnya Irene. Dia berpikir, dia bukan kakak yang baik, dan mengerti sikap adiknya. **** "Kak! Nanti kalau aku udah sukses, aku bakal bawa Kakak sama Mama keliling dunia." Ucapan Irene hari itu masih tertancap di pikiran Airin. "Kalau aku punya uang banyak, apapun permintaan Kakak dan Mama, bakal aku kabulkan!" "Kak, aku pengen pergi yang jauh, tapi nggak mau ajak Kakak sama Mama," ucap Irene polos. "Mau ninggalin kita? Mau ke luar negeri sendirian?" tanya Airin waktu itu. "Aku mau nyari kebahagiaanku sendiri." Itu adalah ucapan terakhir dari Irene saat perbincangannya di malam terakhir bersama Airin. *** Airin terisak. Dia menyeka air matanya segera. Berjalan menuju halte. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah mobil BMW berwarna hitam mengkilap terparkir manis di sana. "Siapa?" tanya Airin penasaran. Tak biasanya ada mobil mewah di komplek itu. Langkah Airin semakin mendekat. Tiba-tiba kaca pintu mobil itu turun. Sang empunya mendongakkan kepala. "Ayo!" Brian memberi isyarat Airin untuk masuk. "Gila juga nih orang," pekik Airin. Airin masuk tanpa beralasan lagi. Dia duduk di samping Brian. "Ada apa tiba-tiba jemput?" tanya Airin. "Sepertinya hari ini nggak ada bus yang datang," jawab Brian. Hal itu membuat Airin tertawa. "Kamu yang punya perusahaan bus? Sampai tau mereka nggak beroperasi?" tanya Airin setengah meledek. Brian tak menjawab, dia fokus pada jalanan di depannya. Baru beberapa menit melakukan mobilnya, macet sudah panjang. "Ada apa? Nggak biasanya macet," ucap Airin penasaran. "Ada demo," jawab Brian singkat. "Demo buruh? Kenapa harus di jalan raya? Kenapa nggak di kawasan industri?" Airin terlalu penasaran. "Demo supir bus. Ada yang bilang mereka sudah tak dibayar tiga bulan. Kasian, yang harus menghidupi keluarganya," ucap Brian. "Heh," kata Airin terkejut. Supir bus hari itu melakukan aksi demo. Jadi tak mungkin ada yang beroperasi. Perkataan Brian benar. Airin jadi malu dan memilih diam. "Oh ya, hari ini syuting di tempat lain. Kayak di puncak gitu," ucap Brian. "Sepertinya akan menginap," ujar Brian. "Apa? Kenapa nggak bilang?" Airin tampak tak setuju. "Desta yang akan minta izin sama orang tua kamu, dia juga yang akan membawakan barang milik kamu nanti," pungkas Brian. Airin lagi-lagi mengembuskan napas. Brian melajukan mobilnya masuk ke dalam tol dalam kota. Dia menuju kota Bogor. ____ Ken tengah sibuk dengan kameranya. Dia masih bersiap di dalam mobil. Setelah targetnya muncul, dia langsung mengambil gambar. "Wiratayudha, calon presiden yang selingkuh terang-terangan," ucap Ken tampak senang melihat hasil jepretannya. "Airin bakal seneng banget liat ini," ucap Ken lagi. Terlihat Wiratayudha tengah merangkul seorang gadis muda. Sesekali bibirnya mendarat di kening. Mereka tak terlihat canggung keluar dari sebuah perusahaan. Dengan kecerdasan Ken, dia bisa memarkirkan mobilnya di pelataran perusahaan milik Wiratayudha. Dia berpura-pura menjadi tamu yang akan bertemu dengan bagian marketing. "Tua-tua keladi!" umpat Ken. Terlihat Wiratayudha meninggalkan perusahaan itu dengan mobil mewah miliknya. Bersama dengan gadis muda itu. Tak ingin kehilangan kesempatan, dia mengikuti mobilnya. "Hidupnya terlalu bebas. Dia pasti membuang istrinya ke luar negeri. Bahkan anaknya saja seperti tak mau mengakui, mereka saling menutupi rahasia bahwa mereka adalah sedarah." Ken berucap, sambil matanya menatap serius mobil di depannya. Ponselnya berdering. Ternyata Airin menelepon. Dia memasang hetset tanpa kabel ditelinga ya lalu menjawab panggilan itu. "Ada apa?" tanya Ken tanpa basa-basi. "Ken, kamu tahu siapa penyebar gosip tentang Brian?" tanya Airin. "Apa? Gosip?" Sepertinya Ken belum mengetahui tentang sang artis. "Gosip apa?" "Cepat buka internet, dan tolong cari tahu tentang pengunggahnya," perintah Airin. "Tapi ..." Ken ingin menolak. Namun, Airin tak menerima penolakan Ken. "Please, kali ini aja," pinta Airin memohon. "Aku yakin dia mengenalku," ucap Airin. "Apa?" Ken semakin tak mengerti. "Makanya buka internet, atau sosial media manapun," perintah Airin lagi. "Oke," jawab Ken tak ikhlas. Pengintaian Ken berakhir. Dia mengingat maksud ucapan Airin. Dia menepikan mobilnya ke bahu jalan. Memilih membuka internet sesuai perintah Airin. "Apa, sih?" Ken terlalu penasaran. Nada bicara Airin terlalu meyakinkan dia untuk menuruti semua ucapannya. "Rumor kencan Brian?" Ken membulatkan matanya. Tak lama ponselnya bergetar. Menerima pesan w******p masuk. -Aku nggak pengen ada korban lain selain Irene- Tulis Airin. Ken mencoba tenang, dia membaca artikel itu dari awal hingga akhir. "Inisial A? Airin?" Ken bertanya. Dia melihat sumber artikel itu. Ken sangat tau pasti bagian itu adalah paling penting. Jika si pengunggah adalah dari perusahaan besar, mereka hanya mencantumkan nama alamat web perusahaan itu. Namun, jika si pengunggah adalah seperti dirinya, yaitu wartawan yang tak terikat dengan sebuah perusahaan, sudah dipastikan mereka menggunakan kode khusus sang pengunggah. "Ini gila! Suatu kebetulan?" ujar Ken lalu tersenyum pahit. Dia meletakkan iPad nya dan mengambil ponselnya lagi. Menghubungi seseorang yang ada di kontak ponselnya. "Apa kamu gila?" tanya Ken begitu panggilan itu dijawab. "Apa?" Suara seorang laki-laki begitu berat dan tegas. "Airin? Maksud dari postingan kamu," tanya Ken. Orang itu tertawa. Dia mengangguk tanpa diketahui Ken. "Cepat banget bisa tahu aku," ujarnya tanpa malu. "Seru, kan? Artis papan atas pacaran sama wartawan," ucapnya percaya diri. "Kamu hapus atau aku lapor polisi," ujar Ken menawarkan pilihan. "Ken! Ini seru!" Ikbal tak terima. "Aku juga mau jadi nomor satu!" "Bal! Kalau kamu nggak hapus. Maaf, aku nggak bisa jaga rahasia kamu lagi," ancam Ken. "Oke, oke," jawab Ikbal akhirnya setuju. "Aish, nggak asik banget! Kenapa harus kamu yang tahu rahasiaku!" gerutu Ikbal kesal. Nyatanya Ken bisa mengubah nasib seseorang hanya dengan ucapannya. Ken si serba tahu yang punya koneksi di manapun. -Beres- tulisnya dan mengirimkannya untuk Airin. Di dalam mobil Airin yang menerima pesan itu langsung tenang. "Gimana?" tanya Brian. Airin mengangguk. "Beres," jawab Airin. "Kok bisa? Apa semua wartawan mengenal wartawan lain, dan mereka bisa bernegosiasi tentang pembawaan berita?" tanya Brian penasaran. "Tidak, itu rahasia kita," ucap Airin. Brian menghela napas. Jalanan menuju puncak ramai lancar, mungkin karena bukan akhir pekan. Jadi, tak ada macet di sana-sini. Sudah hampir tiga jam mereka belum sampai juga. "Kenapa syuting harus sejauh ini?" tanya Airin kesal. Brian hanya tersenyum. "Namanya juga film. Bukan hanya satu tempat yang kita pakai, tapi kita juga mengenalkan tempat lain supaya penontonnya nggak bosen," ujar Brian. Airin mengangguk setuju. Dia bukan penggila film apalagi sinetron. Selama ini dia menghabiskan waktu luangnya untuk membaca berita dan tidur. Sesampainya di lokasi yang sudah ditentukan. Airin keluar, dia menghirup udara segar pegunungan. Tak pernah dirinya datang ke tempat seperti sekarang. Yang dia tahu adalah sibuk bekerja. "Di mana yang lain?" tanya Airin penasaran. "Mungkin masih dalam perjalanan," jawab Brian sekenanya. Keduanya menatap pemandangan yang tidak mereka jumpai di Jakarta. "Apa kamu dulu paling pintar di sekolah?" tanya Brian tiba-tiba. "Iya!" jawab Airin tegas. "Aku selalu nomor satu di kelas," jawab Airin. Hal itu membuat Brian menoleh dan menatap Airin lekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD