"Apa umur kamu dua puluh sembilan?" tanya Brian lagi. Airin menarik garis keningnya. Dia tak mengerti obrolannya dengan Brian yang tak berarah.
"Kenapa tiba-tiba nanya umur? Apa ada masalah?" tanya Airin bingung. Dia berpikir bahwa Brian sedang meng-interview dirinya yang dulu tak sempat waktu mendaftar sebagai asisten.
"Ah, maaf. Kenapa pertanyaan saya sangat bodoh," ucap Brian lalu segera menyadarkan dirinya sendiri.
"Iya benar, aku dua puluh sembilan." Airin menjawab. Ia tersenyum. Dia melihat Brian sangat polos. Dia terlihat malu.
Brian tampak terkejut, namun menyembunyikannya. Keduanya sempat terdiam hingga akhirnya Brian mengajak masuk.
"Ayo!" Brian mengajak Airin untuk masuk di villa di mana sudah disewa oleh tim produksi film.
Hingga menjelang sore hari, tak ada satupun kru yang datang ke tempat itu. Airin semakin bingung. Dia ingin menanyakan hal lagi. Namun, dia melihat Brian tertidur sangat pulas. Jadi dia membiarkannya. Menelan rasa keingintahuan terhadap semua orang yang belum datang. Airin seperti seorang penjaga Brian. Dia hanya terdiam melihat artisnya tertidur. Sesekali matanya melihat wajah Brian, dan kembali memalingkannya.
"Kapan semua orang datang?" Airin masih bingung. Dia duduk di samping sofa yang digunakan Brian untung tidur. Sudah hampir pukul lima sore, namun tak ada tanda-tanda kru datang. Airin menghela napas. Dia mengikuti Brian bersandar pada sofa itu. Berniat untuk istirahat.
Tiba-tiba saja Brian mengigau. Dia terlihat ketakutan. Airin terkejut, keringat yang keluar dari dalam tubuhnya sangat banyak. Wajahnya bahkan pucat pasi. Airin khawatir. Pertama kalinya dia melihat Brian seperti itu.
"Brian! Kamu kenapa?" tanya Airin khawatir. "Brian!" Airin mencoba membangunkannya. "Brian!" Airin terus berusaha.
Mata Brian terbuka sempurna. Napasnya memburu, tangannya memegang tangan Airin erat.
"Jangan pergi!" pekiknya lirih.
"Apa?" tanya Airin. Brian mengubah posisinya. Keringatnya sangat banyak. Dia mencoba mengatur napasnya. Tangannya masih memegang lengan Airin erat.
"Apa kamu mimpi buruk?" tanya Airin. "Kamu nggak apa-apa?" lanjutnya ragu.
Brian mengangguk lemas. "Maaf," ucapnya tak kentara. Setelah beberapa saat dia tersadar bahwa tangannya masih memegang lengan Airin, laki-laki itu melepaskannya.
"Sebentar," ujar Airin. Dia beranjak dari duduknya dan menuju dapur.
Airin mengambil minum yang sudah tersedia di sana. Dia memberikannya pada Brian. Satu gelas berukuran besar habis langsung diminumnya. Brian sudah sedikit tenang sekarang. Dia hanya terdiam, Airin juga tak berani bertanya lebih banyak. Dia hanya juga memilih untuk diam.
Malam tiba, tak ada satupun kru atau rekan yang lain datang. Rasa penasaran Airin semakin memuncak. Pikirannya melayang, dia takut Brian berbohong kepadanya sekarang.
"Apa benar ini tempat kita untuk syuting?" tanya Airin ragu. Dia tak ingin bertanya, namun melihat tak ada satu orang pun yang datang membuat Airin benar-benar penasaran. Brian hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Lalu di mana yang lain? Kenapa belum juga datang?" tanya Airin lagi kepo. Dia terlalu penasaran. "Apa mereka nyasar?" tanya Airin lagi.
Brian menggelengkan kepala. "Nggak mungkin, Mereka paling dalam perjalanan ke sini," ujar Brian.
"Apa?" Airin terkejut. "Perjalanan? Lalu kenapa kita sudah ada di sini sejak tadi?" tanya Airin penuh selidik.
Brian mengangguk. "Syuting akan dimulai subuh nanti. Jadi, mereka pasti akan berangkat sekitar jam delapan dari Jakarta." Laki-laki itu menjelaskan dengan rinci.
"Lalu, kenapa kita ..." Sudah dipastikan Airin akan protes.
"Saya artis, jadi harus istirahat dulu supaya pas syuting nggak ada kendala," jawab Brian. "Apa kamu keberatan, sampai sini duluan?" tanya Brian. "Tenang aja, saya nggak akan menyakiti kamu, apalagi membunuh," ucap Brian.
"Bukan begitu, tapi ..." Sepertinya Brian enggan mendengar alasan Airin.
"Saya lapar, bisa buatkan saya makanan?" tanya Brian. Airin kesal.
Dia harus menerima semua konsekuensinya menjadi seorang asisten Brian.
Airin berjalan menuju dapur sembari menggerutu.
"Seenak jidatnya aja kalo nyuruh! Nggak tau orang lagi capek apa," gerutunya lirih. Namun, Brian dengan jelas mendengarnya. Dia hanya tersenyum.
Airin celingukan. Tak ada satu bahan makan pun di sana. Walaupun peralatannya lengkap, tetapi bahan makanan kosong.
"Nggak ada yang bisa dimasak!" teriak Airin dari arah dapur. Brian tak menjawab. Karena penasaran, Airin kembali berjalan menuju Brian.
"Nggak ada yang bisa dimasak! Mau makan apa?" tanya Airin berusaha sabar. Brian sudah sibuk dengan ponselnya.
"Pesan makanan saja," ucap Brian tanpa mengalihkan pandangannya.
Airin menghela napas. Dia benar-benar sabar menghadapi bos baru itu. Mengambil ponselnya yang berada di saku celana.
"Nggak ada sinyal!" Airin menunjukkan layar ponselnya. "Coba pakai hape kamu," perintahnya ketus.
"Hape saya mati," jawab Brian.
"Itu?" tunjuk Airin. Jelas-jelas Brian sedang memainkannya.
"Paket datanya aku matiin, Kak Dava yang suruh," jawab Brian singkat.
"Ya nyalain!" perintah Airin.
"Nggak bisa, sampai Kak Dava ke sini," jawabnya lagi.
Airin harus lebih sabar lagi. Dia pun keluar dari villa itu. Baru sampai pintu depan, dia sudah disambut oleh angin. Udara di sana sangat dingin. Hingga membuat bulu kuduk Airin berdiri.
"Wah," ujarnya sembari menggosok-gosok lengannya. Airin celingukan. Tak ada satu orangpun yang muncul di depannya.
"Gimana ini? Sebelum macan itu marah aku harus dapat makanan," ucap Airin.
"Macannya udah lapar banget," ucap Brian tiba-tiba. Tangannya meletakkan jaket berwarna hitam di pundak Airin. "Tau, kan? Kalau macan lagi lapar kayak gimana?" tanya Brian. Airin terkejut. Dia memegangi jaket itu supaya tak jatuh.
"Terus gimana? Sepi kayak gini," kata Airin pasrah.
"Biasanya kalo macan lapar dan nggak ada makanan, dia bakal memangsa macan lainnya," ucap Brian, dia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Airin.
Perempuan itu gugup, jarak wajahnya terlalu dekat dengan Brian. Dia sampai menghentikan napasnya. Brian tersenyum melihat Airin begitu tegang. Dia menarik kepalanya ke belakang.
"Sepertinya saya akan mati kelaparan di sini," ujar Brian. Dia berdiri membelakangi Airin.
"Aku akan cari makan," ucap Airin. Brian menoleh.
"Ke mana?" tanya Brian.
"Ke mana aja, asal ada yang jual aku beli," jawab Airin tegas. Brian tersenyum.
"Udah malam, bahaya!" Brian duduk di teras itu. "Sebentar lagi ada yang antar makanan ke sini," ucap Brian pasti. Belum juga Airin menjawab, benar ucapan Brian. Seseorang datang dengan membawa baki berisikan banyak makanan di sana, bahkan ada pisang ulin untuk cuci mulut.
"Maaf Tuan, saya terlambat mengantar makanannya," ucap Asep dengan logat Sunda yang kental.
"Nggak apa-apa." Brian menjawabnya dengan santai. Dia mengisyaratkan Airin untuk mengambil alih makanan itu. Airin menurut, dia mengambil baki dari tangan Asep dan membawanya masuk.
"Ya sudah, saya permisi lagi," ucap Asep pamit. Brian mengangguk. Setelah Asep pergi, dia kembali masuk.
Makanan yang tadi dibawa oleh Asep sudah disiapkan Airin di atas meja. Brian mengambil satu piring kosong dan mengisinya dengan nasi.
"Kamu nggak makan?" tanya Brian. Dia melihat Airin tak bergerak mengambil nasi.
Dia menggelengkan kepala. "Nanti, setelah kamu makan," ujarnya jelas.
"Kenapa nggak bareng aja?" tanya Brian lagi. Dia mengambil piring kosong yang lain. Dia mengambilkan nasi di sana, dan memberikannya pada Airin.
"Kalau udah dingin, makanannya jadi nggak enak," ucap Brian.
"Tapi aku ..."
"Nggak lapar? Besok pagi kita harus bangun subuh, dan memulai syuting. Belum tentu Kak Dava dan Desta bawa makanan nanti," ucapnya.
Airin menghela napas. Dia menurut dengan perkataan Brian. Keduanya tengah menyantap makanan itu, walaupun lauknya sangat sederhana, tetapi mereka sangat menikmatinya.
"Kamu sama Desta sudah kenal lama?" tanya Brian penuh selidik.
Airin terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia bingung harus menjawab apa.
"Iya," jawabnya singkat.
"Sejak kapan?" Brian mengintrogasi.
"Kenapa bertanya tentang hal itu?" tanya Airin.
"Enggak, saya cuma pengen tahu Desta orang seperti apa." Brian menjelaskan.
"Dia baik, aku kenal dia orang yang setia kawan? Mungkin," ujar Airin.
"Kalian teman satu perusahaan? Yang saya tahu Desta nggak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi," pancing Brian.
Airin menghentikan aktivitas makannya. "Bagaimana aku bisa menyelesaikan makananku, kalau kamu terus bertanya?" ujarnya ketus.
"Sorry," jawab Brian singkat.
Keduanya lantas meneruskan makan tanpa ada percakapan. Setelah selesai, Airin memberikan semuanya. Membersihkan piring kotor yang baru saja mereka pakai.
Brian tampak tengah duduk di ruang tengah. Ia memainkan ponselnya.
Setelah selesai di dapur. Airin duduk di depan Brian.
"Besok mulai syuting jam berapa?" tanya Airin membuka pembicaraan.
"Jam empat," jawab Brian tanpa menoleh.
"Apa kamu hidup bahagia sebagai seorang artis papan atas?" tanya Airin. Brian menoleh. Dia menatap Airin. Tampak wajah perempuan itu serius.
"Tentu," jawabnya singkat. "Karena saya banyak uang, saya dicintai banyak orang, dan juga saya ..."
"Tapi, kamu nggak terlihat seperti itu," sela Airin.
"Maksud kamu?" tanya Brian.
"Seperti ada sesuatu masalah di pikiran kamu. Kamu nggak terlihat bahagia," ujar Airin. Brian tersenyum kecut.
"Jangan sok tahu," kata Brian ketus. "Kamu baru mengenal saya, saya bahagia selama ini," ucapnya lagi.
"Serius! Apa masa lalu kamu juga membuat kamu bahagia?" tanya Airin. Brian sangat terkejut mendengar hal itu.
"Kamu!" Brian mencoba menutupi rasa terkejutnya.
Airin tersenyum. "Aku bahagia saat ini. Tapi, masa laluku masih membuat aku terus dihantui rasa bersalah." Airin bercerita. "Aku ditinggalkan oleh orang yang paling aku sayang, karena kebodohanku, dia pergi tanpa tau sebabnya."
Brian menatap Airin serius. "Kenapa harus merasa bersalah?" tanya Brian.
"Karena waktu itu aku nggak pernah tau, bagaimana perasaan dia, bagaimana keadaan dia, yang aku tahu senyum dia waktu terakhir kali adalah senyum kebahagiaan," kenang Airin.
Airin menoleh dan menatap Brian. "Kamu tahu? Dia memilih pergi karena apa?" tanya Airin. Brian menggelengkan kepala pelan.
"Karena orang yang dia cintai," ucap Airin. Dia menahan emosi. Brian hanya terdiam. Dia melihat wanita di depannya tengah emosional. Namun, Airin dengan apik menahannya.
"Semua itu sudah berlalu," ucap Airin. "Aku hanya harus melanjutkan hidupku lagi," lanjutnya. "Dan kamu, semoga bahagia selamanya," ucap Airin.
"Apa?" Brian terkejut. Tiba-tiba saja Airin malah membicarakannya.
"Desta bilang, hidup kamu nggak bahagia," pungkas Airin.
"Desta? Apa hubungan kalian dekat? Sehingga dia bisa mengatakan hal seperti itu?" tanya Brian.
"Tidak, kita hanya saling bertukar cerita. Kita adalah teman SMA yang akhirnya bisa ketemu lagi," ucap Airin.
Teras jantung Brian berhenti berdetak. Dia mematung mendengar ucapan Airin.