Episode 17

1824 Words
Brian menerawang. Dia menatap televisi di depannya dengan tatapan nanar. Pikirannya berkecamuk. Dia tak percaya bahwa dugaannya adalah benar. "Dia adalah gadis itu, dia adalah Airin yang dulu," batinnya. "Apa ada masalah?" tanya Airin membuyarkan lamunan Brian. Laki-laki itu tersigap. Dia tersenyum tipis. "Tidak," jawabnya ragu. "Aku mau istirahat, karena aku nggak bisa tidur hanya sebentar," ucap Airin bangkit dari duduknya. "Bangunkan aku jika kamu membutuhkan sesuatu." Dia berjalan melangkah tanpa mendapat persetujuan Brian. Brian menatap Airin hingga dia menghilang dari balik pintu sebuah ruang kamar. Rasa penasarannya sudah terjawab hari ini. Airin Yang selalu menyelamatkan dia, Airin yang selalu diam-diam memperhatikan dia, Airin yang terus memacu semangat dia dalam hal belajar. "Benar, Jakarta itu sempit. Gue nggak bisa menolak takdir, bahwa pertemuan ini pasti sudah digariskan," ucap Brian. "Gue nggak bahagia, saat mengenang masa sekolah itu. Gue nggak bahagia karena keluarga gue nggak pernah ada yang mendukung gue. Gue nggak bahagia, karena insiden bunuh diri itu," ucap Brian menatap pintu yang tadi dimasuki Airin. "Bahagia itu mahal buat gue, nggak bisa gue beli dan nggak akan bisa gue miliki," ucap Brian. Brian tertidur di sofa. Dia tersadar saat rombongan datang. Dengan malas dia membuka mata, walaupun belum ada yang masuk karena memang pintu sudah dikunci. Sudah dipastikan mereka baru saja tiba, karena mesin mobil yang masih menyala. Brian meraih ponselnya di meja. Dia melihat jam yang menunjukkan pukul satu dini hari. Dengan malas dia membukakan pintu. Wajah Desta yang pertama kali muncul dihadapannya. "Cuma berdua sama Airin?" Pertanyaan itu langsung muncul dari mulut Desta. Brian mengangguk. Desta masuk membawa dua buah koper di tangannya. "Sebagian kru di villa satunya lagi, nggak terlalu jauh kok, sama Monic juga." Desta menjelaskan tanpa diperintah. "Kak Dava mana?" tanya Brian. "Ada, dia masih ngobrol sama sutradara," jawab Desta. Dia menjatuhkan tubuhnya. Lelah, hal itu yang dirasakannya sekarang. "Bangunin Airin! Dia harus bersiap menyiapkan semua keperluan kamu," perintah Desta. "Des! Harusnya gue yang nyuruh lo," tolak Brian kesal. "Gue capek!" Desta beralasan. "Kenapa nggak bilang, kalau dia adalah gadis itu?" tanya Brian. Seperti tersambar petir di siang bolong, Desta secepat kilat menoleh. "Maksud lo?" tanya Desta. "Dia adalah Airin Arunika," jelas Brian. "Siapa? Airin Arunika?" Suara Dava mengejutkan dua laki-laki itu. Desta seolah tertangkap basah, dia kalang kabut. "Ah, dia adalah asisten Brian yang baru," jawab Desta ragu. Brian yakin Desta tak mungkin membahasnya sekarang. Dia tak ingin Dava curiga. "Iya, kan?" Desta melempar pertanyaan itu pada Brian. "Oh, benar." Brian pun menjawab dengan ragu. "Ah," jawab Dava menganggukkan kepala, dia mengambil posisi duduk di samping Brian. "Lalu ke mana perginya asisten kamu?" tanya Dava. "Dia masih tidur," ucap Brian. "Tidur? Bangunin! Kita harus bersiap," perintah Desta. "Kak, kasih waktu sebentar lagi. Lagipula aku tak membutuhkan banyak bantuan," ucap Brian. "Brian!" Dava tak setuju. "Aku, aku yang akan menggantikan dia. Kasih dia waktu untuk istirahat." Desta menawarkan diri. Brian hanya tersenyum tipis. Dava menggelengkan kepala. Dia kembali ke luar. Sembari menunggu waktu syuting, Desta membuatkan minuman hangat untuk Brian dan Dava. Kru yang lain tengah bertugas menyiapkan semua yang akan dipakai syuting di lokasi itu. Brian keluar dengan menggunakan jaket tebal. Dia duduk di tempat istirahat artis yang sudah disiapkan. "Kenapa harus bohong ke gue?" tanya Brian lagi. "Yan! Gue nggak ada niat buat bohongin lo, gue nggak mau dengan datangnya dia, lo bertindak bodoh," ucap Desta. Mendengar ucapan Desta, Brian menoleh. "Apa? Bodoh?" tanya Brian. "Please, jangan sampai dia tahu siapa sebenernya elo," ujar Desta. "Dia nggak bodoh, dia bisa saja menghancurkan lo dan karir lo besok," katanya tegas. "Dia nggak akan sejahat itu. Dia selalu baik sama gue," ujar Brian. "Itu dulu! Sekarang berbeda! Lo adalah Brian, lo artis top, lo adalah lulusan terbaik sekolah di Seoul, dan lo adalah laki-laki tampan yang dicintai banyak orang," ucap Desta. "Inget itu!" Waktu sudah menunjukkan pukul tiga, setting untuk tempat sudah disiapkan. Desta masuk ke dalam villa dan membangunkan Airin. "Rin! Bangun!" Desta membangunkannya dengan pelan. Airin kaget, dia segera membuka matanya sempurna. "Oh, maaf," ucapnya. "Kalian sudah datang?" tanyanya. Dia mengubah posisinya. "Ayo! Syuting akan dimulai," ucap Desta. "Apa?" Airin bergegas. Dia mengambil baju hangat yang dia bawa. Mengikuti langkah Desta menuju halaman depan. "Kenapa nggak bangunin aku?" protes Airin saat dirinya sudah berada di dekat Brian. Saat itu Brian sedang sibuk menghapal naskah, menoleh ke arah Airin. "Sudah cukup tidurnya?" tanya Brian lebih lembut. Airin mengerutkan keningnya. Kenapa Brian semanis itu kepadanya. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Syuting dimulai, kru sudah berkumpul. Sedangkan lawan main Brian tak muncul karena memang ini hanya menampilkan adegan Brian seorang diri. Langit berubah menjadi terang. Pagi ini kabut sangat tebal. Membuat proses syuting terhambat. "Oke, oke, kita bisa beristirahat dulu! Nanti jika siang keadaan sudah memungkinkan, kita lanjut lagi," perintah sang sutradara kepada semua kru dan artis yang hadir. Tentu saja hal itu membuat semua orang bersorak. Rasa lelahnya akan hilang hanya dengan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan memejamkan matanya walaupun hanya sebentar. "Kita kumpul sebentar!" perintah Dava pada Desta, Airin, dan Brian. "Oke," ucap Desta. Dava memilih sebuah ruangan yang lumayan besar untuk menjadi tempatnya berkumpul. Di sana mereka hanya menggunakan karpet sebagai alas tempat duduk. "Pasti mau bahas berita kencan itu," ucap Desta lirih. Brian hanya mengangguk. Keempat orang itu duduk berhadapan. Baru pertama kalinya dia ikut berkumpul seperti ini dengan manager Brian. "Yan! Kamu harus berhati-hati." Dava langsung pada pembicaraan inti. Airin mengerutkan kening. "Iya maaf," jawab Brian. Airin tak mengerti maksud dari pembicaraan mereka. "Please, jangan ada lagi berita yang akan membuat heboh. Cukup satu kali saja." Dava memohon. "Beritanya juga sudah hilang," jawab Brian. "Hilang? Netizen itu lebih pintar. Mereka bisa saja men-screenshoot berita itu dan menyebarkannya lagi!" Dava berasumsi. "Ah, berita kencan itu," batin Airin. Dia hanya terdiam melihat perdebatan itu. "Kak! Sepertinya kali ini akan aman," celetuk Brian percaya diri. Dava hanya tersenyum. "Iya, aman. Kamu tau berita apa yang muncul? Untuk menutupi berita kamu," tanya Dava. Brian dan Airin saling memandang. Bergantian, setelah melihat ke arah Airin, Brian melihat Desta. Laki-laki itu tentu saja hanya mengangkat bahu tak mengerti. "Apa?" tanya Brian ragu. "Gea, artis yang lagi naik daun, jadi simpanan pejabat," ucap Dava pasti. "Apa?" Brian terkejut. Dia melihat ke arah Airin, wanita itu hanya menggelengkan kepala pelan. Dava tersenyum. "Untung aja nama kamu nggak terseret. Sepertinya masih menjadi rahasia bahwa ..." Dava menghentikan ucapannya. Ia menatap Airin. "Ah, aku tahu," jawab Airin. Seolah dia tahu Dava akan menjelaskan bahwa rahasia itu adalah hubungan darah antara Wiratayudha dengan Brian. Dava mengangguk. "Ah, jangan sampai berita itu bocor. Jaga baik-baik rahasia itu dengan rapi," perintah Dava. Airin mengangguk karena memang Dava berbicara kepada dirinya. "Oke, kalian bisa beristirahat sebentar," ucap Dava. Dia bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan itu. "Bagaimana Kak Dava bisa tahu?" Brian terheran-heran. Desta hanya mengedikkan bahu. Dia beralih menatap Airin. "Apa kamu diam-diam mengunggah hal itu?" tanya Brian serius. Airin menggeleng cepat. "Tugasku waktu itu aja nggak selesai, bagaimana bisa aku tahu jika ayahmu dengan artis itu," jawab Airin tegas. "Kamu yakin?" tanya Desta menimpali. "Bukankah itu adalah makanan wartawan?" Desta menyelidik. "Tapi, serius! Bukan aku pelakunya," ucap Airin meyakinkan. Desta tersenyum. Hal itu membuat Brian mengarah padanya. "Kenapa?" tanyanya penasaran. Desta segera terdiam. "Enggak," jawabnya singkat. "Apa ada yang lucu?" tanya Brian ketus. "Enggak, enggak." Desta memastikan. Dia memilih untuk diam. Airin mengembuskan napas. Dia tak bisa menghubungi Ken karena kendalanya adalah sinyal. Sinyal di puncak membuatnya kalang kabut. "Oh ya, kapan syuting akan berakhir?" tanya Airin dengan polosnya. Tawa Desta kini pecah. "Rin! Belum aja sehari udah nanyain kapan kelar?" tanya Desta. "Yang bener dong. Pertanyaannya yang berbobot dikit," ujar Desta. "Aish," gerutu Airin. Dia tampak kesal Dangan gaya berbicara dari seorang Desta yang tak pernah berubah dari jaman sekolah. Songong, Rese, bahkan tak pernah terlihat serius. Diam-diam Brian tersenyum. "Memangnya ada apa?" tanya Brian pada Airin. "Enggak, aku harus menelepon ibuku, dia sendirian. Aku juga harus menghubungi Ken," ujar Airin datar. "Apa Ken adalah pacar kamu?" tanya Brian penuh selidik. Airin menggeleng kepala cepat. "Bukan, tapi aku nggak bisa kalau nggak menghubungi dia," ujarnya. "Kenapa?" tanya Brian lagi. "Bos! Anda terlalu banyak tanya, kasian dia, kan?" celetuk Desta. Brian mencoba tenang. Dia berusaha menjaga imagenya di depan Airin. "Maaf," ucapnya meminta maaf. Airin tersenyum. Dia menggelengkan kepala pelan. "Enggak apa-apa." Hari itu syuting kembali dilanjutkan jam dua siang. Karena keadaan lingkungan sudah membaik, jadi mereka bisa melanjutkannya tanpa kendala. Brian tengah beradu akting dengan lawan mainnya. Sedangkan Airin dan Desta berdiri di satu titik tempat yang sama, dan Dava seperti biasa duduk di samping sang sutradara yang memang tengah memandu acara syuting itu. "Rin! Sekarang kamu tahu kan berita tentang orang tuanya Brian. Apa kamu benar-benar nggak mengunggahnya?" tanya Desta memastikan. "Iya, serius! Berita itu muncul saat aku sudah dalam perjalanan ke sini. Bahkan mungkin saat aku sudah di sini, sinyal nggak ada. Aku nggak bisa menghubungi orang, nggak bisa main internet," jelas Airin. "Lalu siapa?" tanya Desta penasaran. "Apa mungkin? Ken!" tebaknya. Airin menggelengkan kepala. "Entahlah, aku nggak bisa menghubungi dia," ucap Airin. Pukul delapan lebih empat puluh lima menit, syuting selesai. Sebagian kru ada yang sudah mengemasi peralatan dan akan kembali ke Jakarta. "Oke, karena tadi emang keren banget. Sedikit kesalahan yang dilakukan Brian ataupun Monic jadi syuting hari ini lancar, dan banyak adegan yang bisa kita ambil." Sang sutradara menjelaskan. "Jadi, besok kita udah bisa kembali ke Jakarta," lanjutnya. "Yes!" sorak Airin lirih. Dia sangat senang. Ternyata secepat itu proses syuting untuk sebuah film. "Tetapi, kru akan pulang malam ini juga." Sutradara itu berucap. Airi. Tambah semangat mendengarnya. Karena dia berpikir jika dia juga akan pulang malam ini. Setelah melakukan perpisahan dan instruksi, mereka bubar. Airin mengikuti Brian, Desta dan Dava. "Kita pulang malam ini juga?" tanya Airin. Membuat ketiga laki-laki di depannya menghentikan langkah secara kompak. Menoleh bersamaan. "Besok!" jawab mereka dengan kompak. "Apa?" Airin terkejut. Dia kembali melangkah setelah ketiganya juga melangkah. Dava mengambil sebuah tas ransel. "Sorry, aku duluan ke Jakarta. Karena anakku lagi sakit," ucap Dava. Ini kesempatan Airin untuk ikut dengan Dava. Tapi sayangnya nihil. Tentu saja Brian tak mengizinkannya. "Apa?" tanya Brian setelah tahu Airin ingin pulang bersama Dava. "Kamu ini asisten saya, bagaimana bisa pulang duluan? Nanti kalau saya butuh apa-apa mau minta ke siapa?" tanya Brian. "Iya, tapi ..." "Nggak! Pokoknya harus tetap di sini," ujar Brian tegas. Airin menghela napas kasar. Dia hanya menuruti perkataan bosnya itu. Setelah suasana sepi. Desta, Airin, dan Brian tengah duduk saling berhadapan. Mereka tengah menikmati makanan hangat yang dikirim tadi oleh penjaga villa. "Oh ya, kita main truth or dare, oke!" Desta memberi ide. "Oh apaan, sih. Kayak anak kecil," tolak Airin tegas. "Oke," jawab Brian setuju. Desta tersenyum puas, dia merasa menang. Laki-laki itu mengambil. Sebuah botol dan mulai memainkannya. Dia memutar botol itu sampai akhirnya botol berhenti tepat ke arah Airin. "Truth or dare?" tanya Desta. "Truth," jawab Airin ragu. "Oke," celetuk Desta bersemangat. "Apa kamu memiliki cinta pertama?" tanyanya. "Pasti," jawab Airin. Hal itu membuat Brian penasaran. Dia menatap Airin serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD