"Siapa?" tanya Brian saking penasarannya. Airin mengerutkan kening.
"Bukankah, hanya satu kali pertanyaan?" tanya Airin. Brian tersadar. Dia segera meminta maaf.
"Ah, maaf." Brian malu. Dia sedikit menundukkan kepala.
Desta tersenyum. Dia tahu pasti Brian memang sedang mencari informasi tentang Airin. Laki-laki itu terlalu penasaran pada wanita yang dianggapnya sebagai gadis masa lalunya.
"Lanjut!" Desta kembali memutar botol itu. Ternyata botol itu berhenti ke arah Brian. Sedikit terkejut, namun Brian tak bisa berbuat banyak. Dia hanya mengedikkan bahu.
"Wah, tepat!" Tepat sasaran. Desta segera melempar tawaran. "Truth or dare?" tanya Desta bersemangat.
"Truth," jawab Brian. Desta akan melempar pertanyaan lagi. Namun, Airin meminta agar dia yang memberikan pertanyaan.
"Aku yang akan kasih pertanyaan," ucapnya. Desta terdiam, matanya bertemu dengan mata Brian. Lagi-lagi Brian hanya mengangkat bahu. Terlalu banyak hal yang dia tak ketahui dan susah untuk menebaknya.
"Oke," jawab Desta akhirnya setuju.
"Masa tersulit hidup kamu?" tanya Airin dengan jelas. Brian terdiam. Dia menatap Airin nanar.
"Tiga, dua ..." Desta menghitung mundur, agar Brian segera menjawab.
"Saat saya kehilangan orang yang saya cinta," ucap Brian. "Bukan kehilangan, tapi berpisah," lanjutnya lagi. Kini tatapannya kepada Airin semakin intens.
"Bukankah semua orang juga merasakan hal itu. Apa nggak ada yang lain?" tanya Airin penuh selidik. Brian ragu akan menjawabnya lagi. Namun, sepertinya Desta mengerti keadaan sekarang.
"Rin!" timpal Desta.
"Apa?" tanya Airin.
"Cukup! Permainan selesai," ucap Desta. Dia tahu niat Airin adalah memojokkan Brian dengan berbagai pertanyaan. Sebelum dia memuluskan aksinya, Desta segera menghentikannya.
"Kalian istirahat saja, besok pagi kita harus berangkat ke Jakarta," perintah Desta. Brian menurut. Dia segera menuju kamarnya. Berbeda dengan Airin, dia masih terdiam di tempatnya. Desta menghela napas lega. Matanya kini bertemu dengan mata Airin yang sedang menatapnya.
"Kenapa?" tanya Desta. Airin mengembuskan napas. Desta memastikan bahwa Brian sudah tak ada di sekitarnya.
"Des, apa kita nggak bisa pulang sekarang?" tanya Airin.
"Gila aja, udah malam. Mending istirahat, besok kita balik ke Jakarta." Desta memberi tahu. "Kalau malam itu rawan, kalo bukan weekend polisi jarang ada yang bertugas." Desta menjelaskan.
Airin lagi-lagi terdiam. Dia terlihat lemas. Ingin rasanya dia kembali ke Jakarta malam ini juga.
"Apa ada masalah?" tanya Desta penasaran.
"Enggak," jawab Airin singkat. "Aku ngerasa nggak nyaman," kata Airin menerawang. "Kenapa aku kalo di depan dia nggak berdaya gini. Hati aku selalu ingin balas dendam. Tapi, setiap di depan dia aku lemah," ucap Airin.
"Rin! Udah aku katakan, dia nggak bersalah!" ucap Desta. Dia memperkecil volume suaranya. Suara Desta nyaris tak berbunyi.
"Des! Adik aku, ini tentang nyawa, dia nggak akan bisa balik lagi ke dunia ini, dan Brian adalah penyebabnya." Mata Airin berkaca-kaca. "Aku sangat membenci dia!" Emosi Airin kini sudah hampir dimuntahkan. Penyesalan dalam hidupnya adalah membiarkan Irene mencintai sosok Brian. Benar, walaupun Brian tak memiliki kesalahan, tetapi dia adalah penyebab semua kejadian itu.
Desta mengusap punggung Airin. "Oke, gini aja. Aku cari tahu penyebab kematian adik kamu, tapi please jangan berbuat yang bisa membahayakan Brian," pinta Desta.
"Sudah jelas karena Brian!" ucap Airin tegas. Desta menggeleng.
"Nggak mungkin, adik kamu mempermainkan nyawa hanya untuk berita seperti itu. Pasti ada masalah lain," ucap Desta. "Aku akan cari tahu itu."
Airin menatap Desta penuh harap. Dia melihat wajah laki-laki itu serius.
"Lalu apa ada masalah lain? Selain Brian?" tanya Airin polos. Dia ingin menyerah. Namun, dia ingin keadilan dalam hidupnya.
"Sepertinya kamu harus istirahat," ujar Desta. "Aku bakal cari informasi lain, percaya sama aku," ucap Desta meyakinkan. Airin mengalah, dia lalu mengangguk setuju.
Desta tersenyum.
____
Matahari pagi itu enggan memunculkan sinarnya. Lebih tepatnya karena tertutup kabut sehingga semuanya gelap.
"Bagaimana mau pulang? Kalau keadaannya seperti ini, ini akan bahaya jika kita tetap kembali ke Jakarta," ujar Desta. Semuanya sudah bersiap untuk pulang. Tapi, keadaan di luar sangat tidak memungkinkan.
"Lalu bagaimana?" tanya Airin. Dia sudah sangat ingin kembali ke Jakarta.
"Kita tunggu aja sampai jam delapan nanti," timpal Brian. Laki-laki itu tampak banyak diam daripada memerintah Airin, atau berdebat dengan Desta.
"Oke deh," ucap Airin lemas. Desta pun akhirnya setuju. Mereka menunggu di ruang tamu, sibuk masing-masing dengan pikirannya. Brian memilih untuk memejamkan mata. Sedangkan Brian sibuk dengan ponsel dan permainan di sana, sedangkan Airin lebih memilih membaca majalah yang memang tersedia di meja.
"Lo sakit?" tanya Desta tiba-tiba. Dengan kompak Brian dan Airin menoleh bersamaan ke arahnya.
"Siapa?" tanya keduanya juga bersamaan.
Desta mengerutkan kening. "Ada apa? Kompak bener!" protesnya.
"Siapa?" tanya Brian mengulanginya.
"Lo!" Desta menunjuk Brian.
Airin heran. Desta begitu santai berbicara dengan Brian. Dari pada menyimpan rasa penasarannya, dia pun akhirnya bertanya, "Des, kok kamu manggil Brian, lo? Kalian sangat dekat pasti," ucap Airin.
"Oh, mmm ... Dia sepupu aku. Maaf," Desta beralasan. Dia sedikit ragu dengan jawabannya. Takut Airin curiga.
"Sakit?" tanyanya lagi pada Brian.
Brian menggelengkan kepala. "Gue perlu tanya banyak sama lo, tapi nggak bisa sekarang," ucap Brian.
"Apa?" Desta penasaran.
"Nanti, kalo udah sampai Jakarta," ujarnya.
Desta mengembuskan napas kasar.
"Bikin orang mati penasaran lo!" protesnya.
Pukul delapan lewat lima belas menit mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta, selain keadaan sudah membaik, Airin juga terus mendesak agar kembali lebih cepat.
Airin duduk di bangku belakang. Karena Brian meminta untuk menemani Desta yang tengah menyetir.
"Kenapa bukan lo yang di belakang? Lo bisa sambil istirahat," ucap Desta. Melalui kaca spion Desta dan Brian melihat Airin tengah tertidur pulas.
"Biarkan dia yang beristirahat," ucap Brian.
"Apa? Sejak kapan lo memuliakan bawahan lo," jawab Desta.
"Karena dia temen lo," ucap Brian.
Dia menoleh sebentar dan kembali fokus di jalanan.
"Teman?" selidik Desta.
Brian mengangguk. "Bukankah kalian saling kenal? Teman kerja, kan?" tanya Brian.
"Ah, iya," jawab Desta ragu. Dia tersenyum canggung.
"Oh ya, masalah dulu, apa sudah benar-benar selesai dengan keluarga korban?" tanya Brian tiba-tiba.
"Masalah dulu? Masalah apa?" Desta mengerutkan kening.
"Kasus bunuh diri itu," jawab Brian. Desta terkejut, dia memastikan Airin dalam kondisi terlelap.
"Apa lo gila? Kenapa membahasnya sekarang?" tanya Desta.
"Kenapa? Gue cuma pengen tahu cara kerja lo dan Kak Dava," ucap Brian.
"Itu sudah selesai. Keluarga menolak dapat bantuan. Please, jangan bahas sekarang," jawab Desta lirih.
"Kenapa? Dia adalah asistenku sekarang, kalaupun dia dengar, nggak ada masalah, kan?" Brian menoleh ke arah Airin yang masih pada posisi yang sama.
"Yan! Jangan kayak anak kecil. Kita bahas nanti setelah di Jakarta," pinta Desta. Brian menghela napas.
Jam dua belas lebih lima menit mereka sampai di tempat parkir apartemen Brian. Airin sudah bangun ketika masuk tol dalam kota tadi.
"Setelah ini kamu bisa pulang dan kembali besok jam tujuh, tepat!" perintah Brian.
Airin mengangguk mengerti. Dia hanya harus menyelesaikan tugasnya yaitu membawa barang-barang milik Brian ke dalam apartemen. Desta membantunya.
Setelah selesai, Airin pamit untuk pulang.
"Aku pulang dulu," ucapnya. Desta hanya terdiam. Sedangkan Brian mengangguk.
Airin keluar dengan penuh semangat. Dia harus menemui Ken hari ini juga. Sehingga dia segera mengambil ponselnya dalam tas. Dan mendapati sinyalnya sudah kembali normal. Banyak sekali pesan yang masuk dari ibunya dan juga teman-teman yang lain.
Airin langsung menghubungi Ken sembari kakinya melangkah menuju elevator.
"Halo," ucapnya sesaat setelah Ken menjawab panggilannya.
"Iya, kenapa?" tanya Ken. "Kenapa susah banget dihubungi?"
"Iya, abis tugas di gunung. Kamu di mana? Aku samperin sekarang," ucap Airin.
"Di studio," jawab Ken singkat.
"Oke!" Airin memutuskan panggilan itu. Dia segera berjalan cepat menuju elevator.
Airin harus menggunakan bus untuk menuju tujuannya. Dia tak mungkin menggunakan taksi yang akan menguras sebagian kantongnya. Untung saja dia hanya menunggu lima belas menit dan bis datang. Segera dia mencari tempat duduk yang kosong. Rasa lelahnya mungkin sudah terbayar ketika tadi dia hanya tidur di mobil dalam perjalanan pulang.
Airin memutar lagu dan mendengarkannya melalui hetset yang dia pasang di kedua telinganya.
Dia berpikir itu akan membuat pikirannya tetap relaks.
Belum juga satu lagu selesai. Dia mengingat sesuatu. Yaitu menghubungi ibunya. Dia segera membuka kontak telepon dan menelepon orang nomor satu di dunia itu.
"Mama!" teriaknya bersemangat. Hilda segera menjauhkan ponselnya dari radar telinganya.
"Maaf, aku nggak sempat pamit kemarin, nggak bisa hubungi juga, Mama baik-baik aja, kan?" tanya Airin.
"Iya, kemarin teman kamu yang datang, dia bilang teman sekolah kamu juga dulu. Dia bilang mau jagain kamu, jadi ya Mama percaya aja," ujar Hilda datar. "Mana anaknya sopan banget, ya Mama percaya banget," ucapnya lagi. Airin tertawa renyah.
"Desta maksud Mama?" tanya Airin.
"Iya itu, namanya Desta, ganteng lagi," ujarnya. "Tapi Mama kayak kenal sama wajahnya, tapi lupa di mana," ucap Hilda.
Sudah dipastikan dulu Desta yang datang ke rumahnya untuk permintaan maaf dari pihak Brian. Namun, saat itu Airin sibuk mencari bukti sampai jarang pulang ke rumah.
"Mama salah lihat kali, baru pertama kali dia datang ke rumah," ucap Airin tak percaya.
"Iya mungkin, aduh Mama udah tua jadi lupaan gini," ucap Hilda.
"Ya udah ya Ma, aku harus ketemu Ken dulu. Nanti langsung pulang kalo urusan sudah selesai," ucap Airin.
"Oke," jawab Hilda singkat.
Airin kembali memutar lagunya lagi.
Setelah dua puluh menit dia sampai di tempat favorit dia. Studio yang menjadi tempatnya berkeluh kesah, tempatnya bekerja, tempatnya menghabiskan malam untuk mencari berita, dan tempatnya tidur jika dia terlalu lelah untuk pulang.
Airin menghirup udara yang sudah tercemar siang itu. Bukan takut dengan penyakit, melainkan dia bisa merasakan harumnya masakan warung Tegal yang hari itu terlihat sangat ramai.
Airin memasuki gedung itu dan menjelajahi anak tangga satu demi satu. Dia melangkahkan kakinya penuh semangat. Padahal siang itu dia belum makan nasi.
"Aku datang!" ucapnya seraya membuka pintu kaca kantor Ken.
Laki-laki itu lalu menoleh, membiarkan matanya menatap tamunya hari ini. Dia mengangkat tangannya.
"Kamu yang posting berita tentang Wiratayudha?" tanya Airin tanpa basa-basi.
"Apa?" Ken mengerutkan kening. "Ah, berita itu?" Akhirnya dia mengerti pembicaraan Airin.
Airin mengangguk. Dia mengambil posisi duduk di depan Ken. Matanya menatap Ken penuh selidik.
"Kamu, kan? Kenapa?" tanya Airin lagi. Dia sangat yakin jika Ken lah yang mengunggah berita itu.
"Apa ada masalah? Bukankah itu hak baik untuk menutupi kasus berita kencan Brian," ucap Ken tegas.
"Iya baik, tapi apa kamu memikirkan perasaan Brian?" tanya Airin.
"Apa? Perasaan? Kamu cinta sama dia?" tanya Ken tiba-tiba.
"Ken!" Airin tak setuju dengan pertanyaan dari temannya itu.
"Apa kamu nggak takut, dengan terkuaknya inisial pacar dari Brian. Itu kamu! Kamu bakal diserang sama fansnya dia," ucap Ken.
"Itu hanya inisial!" jawab Airin lebih tegas.
"Enggak, tapi dia punya bukti foto wajah kamu sangat jelas," tegas Ken. Airin terkejut.
"Apa? Serius?" tanyanya ragu. Ken mengangguk pasti.