Episode 19

1714 Words
"Aku nggak pengen kamu buruk di mata wanita lain. Nggak lucu, jika berita muncul hatters berkencan dengan seorang artis." Ken berucap serius. Airin hanya menatap Ken. "Kenapa? Kenapa tiba-tiba jadi perhatian gitu?" ujar Airin setengah meledek. Dia tak mempermasalahkan wajah Ken yang begitu serius. "Bukannya dari dulu aku perhatian?" tanya Ken. Airin tersenyum, dia mengangguk. "Kenapa kamu melakukan itu?" Lagi-lagi Airin bertanya. "Belum saatnya berita tentang Wiratayudha muncul di publik," kata Airin. "Rin! Sudah jelas jawabanku, aku nggak pengen kamu dalam masalah!" jawab Ken tegas. "Apa mungkin kamu masih memikirkan perasaan Brian?" tanyanya curiga. "Bukankah hubungan mereka tidak baik-baik saja?" Ken menebak. "Bukankah Brian juga bahagia dengan kemunculan berita tentang Ayahnya?" tanya Ken. "Ken! Walaupun hubungan mereka tidak baik, tapi hal itu sangat mengganggu Brian, pasti itu," ucap Airin. "Dia pasti memikirkannya, memikirkan ibunya, memikirkan keluarganya," ujar Airin panjang lebar. "Lalu? Aku harus hapus? Aku ganti dengan berita baru lagi? Atau aku hilangkan semua pemberitaan tentang Wiratayudha? Udah terlanjur, Rin," ucap Ken ketus. Dia kembali pada layar laptop di depannya. Membiarkan Airin menggerutu sendirian. "Lain kali, kita diskusikan dulu," ucap Airin lebih sabar. "Ini juga demi kebaikan kita," katanya. Padahal dalam hatinya dia juga tak enak kepada Ken yang jelas-jelas membela Brian. "Hmmm," jawab Ken singkat. Dia sama sekali tak memandang Airin lagi. "Ya udah, aku pulang," ucap Airin, dia beranjak dari duduknya. "Iya," jawab Ken tanpa menoleh. "Apa perlu aku antar?" Matanya masih pada layar di depannya. Airin menoleh. Dia tersenyum tipis. Sangat tahu tabiat Ken kalau sedang kesal. Berbicara tanpa menatap mata lawan bicaranya. "Nggak perlu," tolak Airin. Airin memilih untuk pulang. Dia berjalan keluar dan menghilang dari balik pintu. Ken menatap pintu yang sudah kembali tertutup. "Kenapa sekarang jadi masalah? Padahal dulu kita seenak jidat posting tentang artis." Ken berucap lirih. "Apa kamu sudah punya perasaan ke artis itu?" tanyanya. Airin berjalan menuju jalan raya. Dia ingin cepat-cepat sampai di rumahnya. Dia terlalu kangen dengan ibunya. Ken ingin mengantar, namun Airin menolak. Untungnya bis yang akan dia Naiki datang tepat setelah dia sampai di depan jalan raya. Jadi, tak perlu menunggu waktu lama. Ken bangun, dan berjalan menuju jendela. Dia menatap jendela studionya. Dia melihat pemandangan komplek itu yang sedikit sesak. "Kenapa kamu nggak pernah merasakan perasaan aku?" tanya Ken pada dirinya sendiri. "Dari awal, kamu bekerja dengan Brian adalah suatu masalah," katanya lagi. "Benar, aku cemburu," ucapnya penuh penyesalan. "Kenapa aku harus mengizinkan kamu bekerja dengan dia." Ken menatap luar jendela dengan penuh penyesalan. Ken menyimpan perasaannya sendiri. Yang dia lakukan selama ini adalah benar-benar perhatian nyata sebagai seorang laki-laki kepada perempuan. Ken menghela napas. "Kapan kamu bakal peka sama perasaan ini? Apa aku harus ungkapin?" tanya Ken lagi. Hatinya galau, terlebih saat Airin tadi jelas-jelas membela Brian. Membuat hatinya hancur. Airin tak pernah membela ataupun membanggakan seorang Brian sejak kematian adiknya. Yang dia tau hanyalah balas dendam dengan cara yang menurut dia akan menghancurkan Brian. Nyatanya sekarang dia mungkin sudah berpihak pada laki-laki itu. ____ Airin membuka aplikasi i********:. Dia mencari akun Secret. Lantas tersenyum melihat followers yang semakin bertambah. "Pintar banget naikin followers," ucap Airin. "Kamu emang terbaik Ken, nggak salah aku dulu menerima tawaran kamu. Kerja keras kamu patut diacungi jempol," ucap Airin. Setiap ada pemberitaan baru tentang artis, Secret selalu mendapat tambahan followers. Seperti sudah dijampi-jampi oleh si pemilik akun. Jam empat lewat dua puluh menit, Airin sampai di rumahnya. Dia mendapati ibunya sedang menonton serial di televisi. "Aku pulang, Ma!" teriak Airin setelah masuk rumah. "Assalamualaikum," ujar Hilda lembut. "Ah iya, Assalamualaikum Mama," ujar Airin sopan. Hilda hanya tersenyum. Airin duduk di samping Hilda. Dia melihat ibunya masih sibuk dengan gunting dan sebuah kain kecil yang pasti akan dijadikan lap. "Maaf, kemarin nggak sempat pamit. Bos baru aku emang rada gila!" Keluh Airin. "Kenapa nggak kerja sama Ken aja, kan dia baik," jawab Hilda. "Oh," ucap Airin gugup. Airin tak pernah menceritakan pekerjaannya yang baru kepada ibunya. Berbeda saat dia bekerja dengan Ken, setiap hari ada saja pembahasan tentang kelakuan Ken. Dia takut jika bercerita tentang Brian akan membuat ibunya ingat pada si bungsu. "Nanti juga balik lagi sama Ken. Aku kerja sama yang baru ini karena menyelamatkan aku dan Ken." Airin beralasan. "Oh gitu," jawab Hilda. "Terus kenapa meeting juga harus di puncak?" tanya Hilda. "Nah, justru itu! Dia rada gila, Ma." Airin menjawabnya tegas. Membuat Hilda tersenyum lagi. "Ya sudah, kamu mandi, terus makan. Baru istirahat, pasti capek," perintah Hilda. Airin mengangguk cepat. "Oke, Bos!" Airin bersiap meluncur ke kamarnya. Dia menghilang dari balik pintu kamarnya. Menghela napas lega. "Pinter juga Desta nutupin rahasia." Airin berucap lega. Malam itu Airin tertidur benar-benar pulas. Dia mengabaikan semua panggilan telepon dari Brian ataupun Desta. Entah ada keperluan apa dia cowok itu menghubunginya. Nggak tanggung-tanggung, ada lebih dari dua puluh tujuh panggilan tak terjawab dari Desta, dan dua puluh satu panggilan dari Brian. Walaupun mereka tak bersamaan menghubungi Airin. Saat wanita itu membuka matanya, dia langsung membulatkan kedua bola matanya saat melihat banyaknya panggilan masuk. "Ada apa ini?" tanya Airin. Dia tak bisa berlama-lama bertanya di depan ponselnya karena waktu sudah menunjukan pukul enam. Lima meit saja dia lelet, dia akan terlambat datang ke rumah Brian. Airin bergegas. Dia tak mempedulikan ponselnya lagi. Setelah barang itu masuk ke dalam tasnya, ia tak lagi membuka atau memainkannya. Hingga akhirnya dia sampai di apartemen Brian. Baru tiga kali ketuk pintu, pintu sudah terbuka. Desta sudah berada di sana ternyata. "Masuk," ucap Desta. "Ada apa semalam menghubungiku sampai banyak banget, ada masalah?" tanya Airin. "Nanti saja kita bahas," ujar Desta mengecilkan volume suaranya. "Bahas apa?" tanya Brian, kupingnya terlalu tajam untuk mendengar hal yang lirih. "Enggak, bahas masalah kerjaan yang pasti." Desta mencari alasan. "Kamu juga, kenapa menghubungiku banyak banget?" tanya Airin pada Brian. Desta mengerutkan kening. Dia menatap Brian penuh selidik. "Ah itu, saya juga akan membahas masalah pekerjaan," ujar Brian. Airin mengangguk mengerti. "Jadi masalah pekerjaan," ujarnya lirih. "Dan lagi, bisa nggak kita lebih santai dengan menggunakan bahasa aku-kamu aja," ujar Airin kepada Brian. "Aku-kamu? Hmmm," kata Brian sedikit berpikir. "Memangnya kenapa?" "Kita terlalu jauh, jika kamu menggunakan kata saya. Itu terlalu formal," jawab Airin. "Nanti saya pikirin," ucap Brian. "Oh ya, kamu udah sarapan?" tanya Desta menimpali. Airin mengangguk. "Bohong!" celetuk Brian. Kedua manusia di depannya menoleh secara bersamaan. "Apa?" tanya Airin. "Kamu belum sarapan, kamu pasti kesiangan tadi," ucap Brian menebak dengan pasti. "Benar," jawab Airin mengalah. Desta menyiapkan sarapan untuk dia, Airin, dan Brian. Dia memilih hanya membuat telur dadar dan saos sebagai menu sarapan pagi ini. "Kalau ini bukan sarapan kelas artis papan atas sebenernya," protes Brian. "Kalau Kak Dava tau aku hanya dikasih makan begini, sudah pasti kalian dipecat," ujar Brian. "Pecat aja," jawab Desta percaya diri. Brian memilih tak memperpanjang ucapannya. Airin hanya tersenyum. "Pasti hubungan kalian sangat dekat," ujar Airin. "Enggak!" jawab Desta tegas. Setelah melakukan sarapan bersama. Ketiganya lantas menuju lokasi syuting. Kali ini Brian berada di kursi penumpang yang ada di belakang. "Apa kamu nggak apa-apa?" tanya Airin menoleh ke arah belakang. Desta melirik sejenak sebelum pandangannya kembali ke jalanan lagi. "Pasti, kenapa?" tanya Brian mengerutkan keningnya. "Berita Ayah kamu," ujar Airin. Brian tertawa. Membuat Airin kebingungan. "Selagi nama aku nggak terseret, itu bakal baik-baik aja, kok." Brian berucap sembari cengengesan. "Oh, barusan kamu bilang aku," ucap Airin kegirangan. Dia bertepuk tangan. Brian terlihat malu, Airin kembali menghadap ke depan. "Iya, kan? Dia tadi bilang aku," tanya Airin pada Desta. Dia ingin memastikannya sendiri. Desta hanya mengangguk. Brian di kursi belakang hanya tersenyum melihat tingkah Airin. Perjalanan hari itu tak terlalu macet. Tidak pula lengang, padat merayap. Mobil Brian sama sekali tak berhenti untuk mengantre kendaraan lainnya. Sampai di lokasi syuting sebelum waktu yang ditentukan. Di sana sudah ada kru yang sedang bertugas menyiapkan peralatan untuk syuting. Desta menyiapkan tempat istirahat untuk Brian. Tak lama Dava datang, dan segera berbicara banyak dengan Brian. "Sepertinya syuting film ini akan selesai lebih cepat," ujar Dava. Mendengar itu Brian lega. Terlebih Airin yang lega, dia nggak harus bangun pagi untuk ke lokasi syuting atau seperti kejadian kemarin, yang tiba-tiba harus ke puncak. "Tapi, jadwal promosi bakalan padat banget. Itu hanya berlangsung selama dua minggu, kok," kata Dava menjelaskan. "Setelah itu kamu bisa berlibur sebelum mengerjakan projek setelahnya," ucap Dava. Brian mengangguk mengerti. "Promosi yang bagaimana?" tanya Airin lirih pada Desta. "Ya promosi, fanmeeting, atau nobar saat film launching, atau juga datang ke bioskop-bioskop buat nyapa penggemar." Desta menjelaskan. "Ah," jawab Airin mengerti. "Des, naskah buat hari ini," ujar Brian. "Ah, oke." Desta segera mencari di dalam tas. Dia sibuk mencari naskah itu hingga akhirnya menyerah. "Kamu yakin, sudah di dalam tas?" tanya Brian. "Sepertinya tertinggal," ucap Desta merasa bersalah. "Apa?" tanya Brian. "Lalu bagaimana?" "Biar aku saja yang ambil," ujar Airin. "Kamu yakin tertinggal?" tanya Dava panik. "Sepertinya Kak," jawab Desta. "Semalam Brian latihan baca, dan pasti ada di kamarnya," ucap Desta. "Terus gimana?" tanya Dava bingung. Dia melirik jam tangannya. "Sebentar lagi syuting akan dimulai. Semua orang sudah hadir di tempat itu. "Kamu bisa mengambilnya?" tanya Dava pada Airin. Airin mengangguk cepat. "Aku akan naik taksi biar cepat." "Kenapa naik taksi, kenapa nggak pakai mobil aku aja," celetuk Brian. "Ah, iya." Desta segera memberikan kuncinya. "Maaf," ucap Desta merasa bersalah. Dia tak bisa mengambilnya karena saat di lokasi syuting sudah terbiasa dia yang akan menyiapkan keperluan Brian. Dia yang mengatur stylish rambut Brian, hingga pakaiannya. Airin meluncur dengan mobil Alphard milik Brian yang tadi dinaikinya menuju lokasi itu. Untung saja jalanan bisa dipercaya hari itu. Lancar sampai tempat tujuan. Airin berlari menuju elevator, agar lebih cepat sampai. Sesampainya di depan pintu, Airin teringat sesuatu. "Ah, pasword!" Airin mengeluarkan ponselnya. Namun, dia mengingat ucapan Brian tempo lalu bahwa dia memberikan password rumahnya dengan cuma-cuma. Airin menekan tombol-tombol itu dan benar akhirnya pintu terbuka. Airin segera masuk dan sesuai perintah Desta, naskah itu ada di kamar Brian. Airin menuju kamar itu, kamar yang sangat rapi walaupun penghuninya adalah seorang laki-laki. Airin mencari-cari. Namun, tak menemukannya. Dia mencari hingga di kolong tempat tidur, dan hasilnya nol. Airi. Mencari lagi di rak lemari buku yang penuh dengan naskah yang sudah usang. "Wah, dia pasti banyak belajar," ujar Airin kagum. Dia menarik satu naskah yang sudah sangat berwarna coklat. Tiba-tiba sebuah foto terjatuh. Membuat Airin penasaran. Dia pun mengambilnya, membalikkan foto itu supaya tahu siapa Yang ada di foto itu. Airin terkejut. "Attar?" tanyanya ragu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD