Episode 20

1514 Words
Airin menatap lekat foto itu. Tak percaya apa yang ada di depan matanya. "Kenapa foto anak itu ada di sini?" tanya Airin tak percaya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Fokusnya teralihkan. Nama Desta muncul di layar ponselnya. Airin segera menyeret tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya. "Kenapa?" tanya Airin lirih. Suaranya sedikit bergetar. Tetapi mungkin Desta tak akan mengetahuinya. "Sudah ketemu? Atau kamu belum sampai," tanya Desta. "Ini lagi aku cari," jawab Airin ragu. "Sepertinya ada di meja dapur. Semalam Brian meninggalkannya di sana," ujar Desta. "Coba kamu cek di sana," perintah Desta. "Oh benarkah? Oke, aku cek ke sana," ujar Airin. Tangannya masih memegangi foto itu. Dia segera menuju dapur. Matanya terus memandangi foto itu, hingga dia berjalan menabrak sebuah lemari. Untung saja lemari itu kokoh, sehingga tak goyang ataupun roboh. "Siapa Brian sebenernya?" tanya Airin sangat penasaran. Sesampainya di dapur, Airin melihat ke arah meja. Dan benar, naskahnya tergeletak manis di sana. Dengan gelas bekas kopi yang masih berisi tinggal separuh. Karena naskah itu sangat penting, Airin harus buru-buru. Dia memasukkan foto itu ke dalam tasnya. Membawa serta naskahnya. Dalam perjalanan pikirannya masih melayang jauh. Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Ia mengingat betul saja Attar, berkacamata dan sangat pendiam. Lebih tepatnya culun. Dibandingkan dengan Brian yang sekarang. Airin menggelengkan kepala cepat. "Nggak mungkin, dia adalah Attar, dan Brian adalah Brian!" ujar Airin. "Kenapa tiba-tiba ada Attar? Apa dia saudaranya? Atau ini adalah foto milik Desta?" "Ah ya, bagaimana kabar dia sekarang?" "Kenapa dia dulu pindah tanpa kasih kabar? Padahal aku yang selalu menolong dia kalau dia kesulitan," "Ah, kenapa aku memikirkan itu? Aku harus cepat sampai," ucap Airin. Semua pikiran Airin buyar. Matanya fokus pada jalanan di depannya sedangkan pikirannya masih sangat penasaran dengan foto yang dia bawa tadi dari rumah Brian. Hanya tiga puluh menit dia sampai lagi di lokasi syuting. Padahal biasanya waktu normal untuk sampai adalah Pat puluh lima menit. Airin menggunakan keahliannya dalam menyetir, sehingga datang kurang dari waktu yang diharapkan. "Makasih," ucap Brian setelah Airin memberikan naskahnya. Syuting sudah dimulai, rupanya Brian menggunakan naskah lawan mainnya. "Des, aku mau nanya sesuatu," ucap Airin. Keduanya tengah memperhatikan akting Brian. "Apa?" tanya Desta tanpa menoleh. Matanya fokus pada Brian yang sedang mendapat arahan dari sutradara. "Tentang Attar,"ujar Airin. Desta terkejut. Dia menoleh secepat kilat. "Apa?" tanya Desta kaget. "Nanti, setelah pulang dari sini, kita bicara," ucap Desta. Dia mengisyaratkan Airin untuk diam. Perempuan itu menurut. Dia hanya diam, menunggu waktu yang tepat untuk mendapat jawaban dari Desta. Syuting film ternyata memakan waktu cukup lama, hampir jam sepuluh malam syuting belum juga selesai. Airin sudah sangat ingin pulang. Dia terlalu penasaran dengan foto Attar yang sekarang dia simpan di dalam tas. "Des, mau selesai jam berapa?" tanya Airin lirih. Desta hanya mengangkat bahu tak mengerti. "Cut!" teriak sutradara. "Terima kasih, sudah bekerja keras." Ucapan itu selalu menjadi penutup saat syuting selesai. Airin menghela napas lega. Desta bergegas mengemasi barang-barang milik Brian. Sedangkan Dava sibuk berbicara dengan sang sutradara sembari melihat hasil adegan terakhir tadi. Brian terlihat tengah duduk santai. Wajahnya nampak lelah, dia melihat Airin tengah sibuk membantu Desta. Tak lama Dava menghampirinya, dia mengacungkan dua jempol untuk Brian. "Besok hari terakhir syuting, jadwalnya jam satu siang. Jadi, hari ini kamu bisa beristirahat," ujar Dava senang. Brian hanya mengulas senyum tipis. Wajah lelahnya memang tak bisa disembunyikan. Desta dan Airin lebih cepat membereskan barang bawaan milik sang artis. "Selesai!" Desta bersemangat untuk pulang. "Ayo!" "Ya sudah, aku langsung pulang. Angela masih sakit. Maaf," ujar Dava merasa tak enak hati. "Tak apa, ada Desta dan Airin yang akan mengantarku," ujar Brian. Dava merasa tenang. Dia mengangguk dan berpamitan. "Ayo!" Desta mengulanginya setelah Dava benar-benar menghilang dari lokasi itu. Brian duduk di bangku penumpang yang berada di belakang. Seperti biasa Desta mengemudi dan Airin di sampingnya. Airin menoleh, ia melihat Brian sudah terlelap di sana. Lantas Airin menoleh ke arah Desta. "Des," panggil Airin lirih. "Iya," jawab Desta singkat. "Soal tadi yang aku tanyain," ucap Airin ragu. Desta membulatkan kedua bola matanya. Dia melihat Brian dari spion yang berada di atas kepalanya. "Kamu gila! Nanti," ujar Desta lirih. Airin menghela napas. Dia sangat penasaran. "Besok aku jelaskan. Sekarang, aku antar kamu pulang dulu," ujar Desta. "Tapi ... Bagaimana dengan Brian?" tanya Airin. "Sementara dia istirahat di mobil. Biarkan dia tidur," kata Desta ketus. "Dan besok datang jam sebelas. Kita akan berangkat sekitar setengah dua belas ke lokasi syuting," ucap Desta jelas. "Temui aku jam sembilan di kafe Origin, jangan sampai telat," ujar Desta pasti. Airin mengalah, dia hanya menghela napas. Menurut dengan arahan dari Desta. "Oke," jawabnya lemas. Berarti malam ini dia hanya bertanya-tanya, berasumsi dan berimajinasi tanpa ada jawaban. Desta mengantar Airin hingga depan gang rumahnya. Wanita itu turun dan mengucapkan terima kasih. Sedangkan Brian masih terlelap. Karena rasa capek yang membuat dia merasa mengantuk. Airin langsung menjatuhkan tubuhnya tanpa mengganti baju. Dia teringat akan foto yang tadi ditemukannya di rumah Brian. Segera dia mengambil foto itu dari dalam tasnya. Foto siswa laki-laki berseragam lengkap, dia berkacamata tengah berdiri tegak di depan tembok. Wajahnya tanpa ekspresi, matanya hanya fokus pada kamera. "Attar? Kenapa ada di rumah Brian?" tanya Airin masih penasaran. "Dia adalah sahabat Desta. Apa mungkin ini milik dia?" tanya Airin lagi. "Dan kenapa Desta nggak langsung jawab, dia gugup," kata Airin mencoba menebak jawaban. "Aish," gerutunya. "Kenapa aku memikirkan itu?" Airin mencoba membuang pikiran anehnya. "Apa mungkin Attar adalah saudara Brian? Hei, mana mungkin, seorang artis papan atas, punya sodara kayak Attar," ucap Airin. Dia menggelengkan kepala cepat. Malam itu Airin hanya memikirkan bagaimana foto itu ada di rumah Brian, hingga dia bisa tertidur sekitar pukul dua dini hari. Jam weker terus berdering. Itu tandanya pukul tujuh tepat sudah datang. Waktunya matahari menyinari bumi dan waktunya Airin bangun. Namun, perempuan itu belum juga membuka matanya. Padahal bunyi weker itu sangat nyaring. "Airin!" Suara Hilda nampaknya lebih nyaring dari suara jam itu. Dia berjalan mematikannya. "Udah siang! Nggak kerja?" Nyatanya suara lembut Hilda membuat Airin membuka matanya perlahan. "Kerja siang, Ma," jawab Airin dengan suara serak. "Ya sudah bangun! Sarapan!" perintahnya. "Iya," jawab Airin singkat. Hilda meninggalkannya. "Ah, Desta." Hal pertama kali yang dia ingat adalah perjanjiannya dengan Desta. Airin segera bangkit dan menyeret handuk yang tergantung manis di belakang pintu kamarnya. "Rin, besok temenin Mama jenguk Mamanya Ken," ujar Hilda. "Siap," jawab Airin saat dia akan menyantap satu susun roti yang sudah dikasih selai. "Kira-kira bawa apa ya yang pantas?" tanya Hilda. Tangannya masih sibuk dengan sapu lantai. "Bawa Buah, bawa uang, bawa, makanan, bawa sayuran, bawa semua yang Tante Herlin perlukan," celetuk Airin. "Ngaco kamu!" Hilda tak setuju. "Ya sudah nanti, Mama mau belanja, biar besok enggak gugup. Kamu libur, kan? Besok," kata Hilda mengambil posisi duduk di depan Airin. "Aku bisa ijin sama Bosku," ucap Airin meyakinkan. "Sepertinya Bos baru kamu baik, ya," ujar Hilda. Airin hanya mengangguk. "Ya udah Ma, aku berangkat dulu," kata Airin lalu menyuapkan roti potongan terakhir ke mulutnya. Hilda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya. Airin melihat arloji di tangannya. Menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit. Masih ada waktu banyak untuk sampai di kafe tempat di mana, dia dan Desta akan bertemu. Airin berjalan santai, menelusuri komplek perumahan yang setiap hari dia lewati. Sesampainya di jalan raya, dia langsung mendapat bus yang akan membawanya ke tempat tujuan. "Wah, Tuhan sayang banget sama aku pagi ini," gumamnya lirih. Hanya saja Airin hari itu harus berdiri karena semua tempat duduk tampak sudah penuh. Hanya memakan waktu lima belas menit, Airin sampai. Dia melihat kafe sudah buka. Memang kafe itu selalu buka di jam tujuh. Di mana orang-orang kantor akan memesan dan membeli salah satu menu favorit mereka. Airin berjalan menuju kafe itu dengan penuh semangat. Lebih semangat lagi ketika matanya melihat sosok Desta turun dari mobil milik Brian. "Wah! Itu dia," ucap Airin. Dia sedikit berlari ke arah kafe itu. "Des!" panggilnya saat sudah dekat. "Aku nggak telat, kan?" tanya Airin dengan senyum sumringah. Desta hanya mengangguk, menampakkan wajahnya yang murung. Tak masalah, Airin hanya harus duduk dan mendengarkan penjelasan Desta hari ini. Desta memesan dua gelas minuman, tanpa makanan pendamping apa pun. "Langsung aja," ujar Airin. Dia sudah sangat penasaran. "Rin! Di mana kamu menemukannya?" tanya Desta. "Yang jelas di rumah Brian, jangan bilang ini adalah punya kamu," ucap Airin. "Itu punyaku," jawab Desta. "Pasti! Jawabannya akan seperti itu," ucap Airin kecewa. "Emang itu punya aku," ucap Desta tegas. "Oke, kalau ini punya kamu, sekarang aku tanya, kenapa kamu simpan? Apa karena dia adalah teman kamu?" tanya Airin. Desta gelagapan, dia bingung harus menjawab apa. "Terus kenapa ada di rumah Brian? Jangan bilang kamu lupa," kata Airin. "Rin! Please!" pinta Desta. Dia tak ingin Airin terus bertanya kepadanya. "Kamu tahu? Aku nemu itu di mana?" tanya Airin. Desta hanya terdiam. Dia benar-benar bingung harus menjawab aja. Satu kata saja akan membahayakan posisi Brian. "Di dalam naskah lama." Suara Brian tampak sangat jelas. Dia sudah berdiri di samping meja keduanya. Saking seriusnya, membuat Desta dan Airin tak menyadari dengan kedatangan Brian. Airin terkejut, jawaban Brian tepat. Desta lebih terkejut dengan kedatangan Brian. "Lo!" gumam Brian. "Aish," gerutunya. "Brian? Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Airin penuh selidik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD