Episode 21

1507 Words
Brian mendengar semua yang diucapkan Desta dan Airin di dalam mobil. Dia pura-pura tertidur. Dari mulai perjanjian, dan nama kafe di mana mereka akan bertemu, semuanya diketahui oleh Brian. "Yan!" pekik Desta lagi. Dia tampak khawatir. Desta melihat ke sekeliling tempat itu. Sudah dipastikan Brian menjadi pusat perhatian sekarang. "Kenapa kalian bertemu tanpa mengajakku?" tanya Brian. Dia duduk di samping Airin. Seperti sedang dipermainkan oleh keadaan, Airin menatap Brian lekat. "Kenapa kamu tahu?" tanya Airin tegas. "Apa kamu mengikuti kita?" tanyanya penuh selidik. "Aku?" tanya Brian. "Mengikuti kalian?" Brian menahan tawanya. Airin segera mengangguk. "Kenapa?" tanya Airin. Dia semakin bingung dengan jawaban Brian. "Itu punya Desta," ujar Brian menunjuk Desta. Mendengar jawaban itu, Desta langsung menghela napas lega. "Dia meninggalkannya di rumahku, dan aku simpan," ucap Brian sekenanya. "Apa? Meninggalkan apa?" tanya Airin berbelit. Dia berpura-pura bodoh dan ingin melihat reaksi Brian. "Foto, bukankah kalian sedang membahas tentang foto?" tanya Brian. Sebenarnya dia khawatir. Namun, dengan apik menyembunyikannya. "Apa kamu kenal sama orang yang ada di foto ini?" tanya Airin ragu. Brian mengambil alih foto itu. Dia memandangnya. "Tidak," jawabnya singkat, jelas, dan padat. "Benar, mana mungkin kamu mengenalnya. Bahkan aku nggak tahu dia masih hidup apa enggak," jawab Airin sekenanya. "Dia hanya ..." Belum selesai berbicara. Brian sudah melempar pertanyaan. "Apa kamu kenal sama dia?" tanya Brian. "Tentu sa ..." Belum juga Airin selesai menjawab, Desta sudah menselahnya. "Rin! Sepertinya ini bukan waktu yang tepat buat bahas masalah ini." Desta mencoba mengalihkan pembicaraan. Brian hanya tersenyum melihat wajah Desta begitu khawatir. Faktanya dia sudah mengetahui semuanya. Tentang Airin adalah gadis yang dulu di sekolah menengah atas. Teman dari Desta si biang kerok di kelas. "Sepertinya kita harus bersiap untuk bekerja," ucap Desta yang sudah melirik jam tangannya. "Sudah mau setengah sebelas," kata Desta. "Ayo! Kita bersiap untuk syuting." ajak Desta. "Dan lagi! Kamu akan dalam masalah, jika keluar rumah tanpa masker dan topi." Desta berceramah di depan Brian. "Ah, aku lupa," jawab Brian enteng. "Ayo!" Desta bergegas pergi. Padahal Airin belum puas akan jawabannya. "Ada yang nggak beres, aku harus selidiki," batin Airin. Dia mengikuti langkah Desta dan Brian. "Kamu bareng aku aja," ucap Brian kepada Airin. Perempuan itu menoleh. "Aku?" tanya Airin memastikan. "Enggak, dia bareng gue," timpal Desta. "Des! Gue bosnya, suka-suka gue dong," jawab Brian sekenanya. "Yan! Dia datang sama gue, jadi pulang juga harus sama gue!" Desta ngotot. "Enggak, pokoknya sama gue!" Brian bersiap untuk masuk ke dalam mobil. "Ayo! Masuk!" perintahnya. "Aku sama Desta aja," ucap Airin. "Baru kemarin gosip tentang kita, takutnya nanti ada wartawan yang mengikuti lagi," ujar Airin menjelaskan. "Tapi ..." Brian tak setuju. "Pulang!" perintah Desta. Dia merasa menang. Airin duduk bersama Desta. Sedangkan Brian sudah lebih dulu melajukan mobilnya cepat. "Des, kamu tahu, kabar Attar sekarang?" Airin kembali mempertanyakan itu. "Kenapa? Kenapa kamu ingin tahu?" tanya Desta. "Enggak, sejak aku lihat foto itu, aku terlalu penasaran. Kenapa ada di rumah Brian," ujar Airin. "Udah dijelasin kan tadi. Itu punyaku yang ketinggalan di rumah Brian, jelas, kan?" jawab Desta. Airin menggelengkan kepala pelan. "Nggak masuk akal," ucap Airin. "Rin! Hidup kamu selama ini baik-baik saja, kan? Tanpa ada kabar dari Attar?" tanya Desta. "Des, waktu itu dia pergi tanpa pamit. Kamu ingat, kan? Aku yang selalu bantuin dia! Aku yang menyelematkan dia dari anak-anak. Nggak salah dong, kalo aku mau tau kabar dia," jawab Airin tegas. Desta tersenyum. "Lucu! Kenapa kamu nggak cari dia dari pertama kali dia pergi? Kenapa baru sekarang kamu penasaran kehidupan dia setelah melihat foto itu?" tanya Desta. Airin berhenti menjawab. Benar kata Desta. Kenapa baru sekarang dia mengingat sosok teman SMA nya itu. "Setidaknya jika kamu jawab jujur, itu membuat aku nggak penasaran, kabar dia masih hidup pun membuat aku tenang," ujar Airin setelahnya. Desta terdiam. Dia fokus pada jalan raya yang hai itu lumayan padat. "Dia baik-baik saja," ucap Desta singkat. Airin menoleh secepat kilat. "Serius! Dia di mana sekarang?" tanya Airin berkelanjutan. "Rin! Please, jangan tanya soal dia lagi!" pinta Desta memohon. "Dan lagi, jangan bahas ini di depan Brian," ujar Desta. "Kenapa?" tanya Airin. "Percuma! Dia nggak kenal, kita bahas juga bakalan bikin dia pusing aja, nebak-nebak," kata Desta. Airin mengangguk setuju. Sesampainya di apartemen Brian. Ternyata sang pemilik rumah sudah sampai. Dia terlihat kesal, duduk di depan televisi yang tak menyala. "Cepat! Persiapkan semuanya, aku mau berangkat lebih cepat!" perintah Brian ketus. Airin dan Desta hanya saling memandang karena perubahan sikap Brian. Desta lantas mengangkat bahu tak mengerti. "Oke," jawab Airin. Dia bergegas menyiapkan semua bekal makanan ringan dan minum yang akan dibawa ke lokasi syuting. Sedangkan Desta menuju kamar Brian untuk mengambil beberapa baju yang akan dikenakannya syuting. Untuk perlengkapan syuting, Brian lebih memilih menggunakan semua milik pribadi. Dari baju, jam tangan, atau aksesoris yang lain. Dia tak ingin menggunakan barang bekas orang lain. Namun, berbeda saat dia diminta menjadi brand ambassador dari satu merk. Dia akan menggunakannya. Hampir tiga puluh menit, akhirnya Airin dan Desta selesai. "Ayo!" ajak Desta. Brian segera keluar. Dia benar-benar aneh hari itu. Ketiganya hanya berdiam di dalam elevator. Sampai akhirnya sampai di pelataran parkir bawah tanah. "Kamu duduk di belakang!" perintah Brian ketus pada Airin. "Apa? Kenapa?" tanya Desta bingung. Brian tak menjawab. Dia lagi-lagi hanya mengangkat bahu tak mengerti. Airi. Menghela napas, dan menuruti perintah bosnya itu. "Ada masalah?" tanya Desta setelah semuanya berada di dalam mobil. "Enggak! Apa kalau ada masalah gue harus ngomong ke elo?" tanya Brian ketus. "Enggak!" jawab Desta nggak kalah ketus. Desta melajukan mobilnya. Airin hanya diam ditempatnya. "Kira-kira besok aku boleh ijin?" tanya Airin membuyarkan keheningan. "Ijin? Ijin apa?" timpal Desta. "Besok aku harus pergi ke rumah temanku, kebetulan mau menjenguk ibunya yang sakit," ujar Airin menjelaskan. "Ah," jawab Desta. "Berapa lama?" tanya Brian tiba-tiba. "Maksudnya?" Airin tak mengerti. "Ijinnya berapa lama? Satu jam? Dua jam? Atau tiga puluh menit?" tanya Brian sinis. "Karena besok ada yang perlu aku kerjakan, dan itu harus dengan bantuan kamu," ujar Brian. "Apa?" tanya Desta penasaran. "Aku butuh dua jam, karena jarak rumahnya lumayan jauh," ucap Airin. "Oke," jawab Brian singkat, jelas dan padat. "Yan! Ngerjain apaan? Bukankah ..." Ucapan Desta terhenti. "Kenapa? Aku harus mempersiapkan semuanya, nobar, fanmeeting, ke luar kota juga, semua itu butuh persiapan," jawab Brian tegas. "Ah," jawab Desta mengerti. Kini dia tahu, Brian sedang kesal. Terlihat dari kelakuannya yang seperti anak kecil. Mereka sampai di lokasi syuting. Terlihat hanya ada beberapa kru yang sudah bertugas menyiapkan setting tempat. Sutradara juga sudah hadir. Hanya masih bersantai ria. Seperti biasa, Desta menyiapkan tempat istirahat buat Brian. "Semoga syuting hari ini nggak sampai malam," ujar Airin lirih. Namun, dengan jelas Brian yang duduk di sampingnya mendengarkan. "Apa kamu mau kencan?" tanya Brian. "Oh, enggak!" jawab Airin. "Apa kamu punya pacar?" tanya Brian lagi. "Pacar?" Airin menggeleng cepat. "Enggak," jawabnya pasti. "Syukurlah," kata Brian lirih. Airin samar mendengarnya. Dia memastikan apa yang diucapkan Brian tadi. "Apa?" tanya Airin. "Heh. Enggak!" jawab Brian ketus. Selang beberapa menit, orang-orang berdatangan. Dava juga hadir dan menyapa semua orang, termasuk sang sutradara. Benar, Dava paling bisa mengambil hati sutradara supaya artisnya tidak dipersulit saat syuting. Dia paling bisa cari perhatian walaupun itu adalah hal yang kecil. Dava tersenyum pada Airin dan Brian. Sedangkan Desta sudah menghilang sejak tadi. Biasanya Desta memilih untuk merokok ditempat lain sebelum syuting dimulai, tentu saja setelah semua pekerjaannya beres. "Semangat untuk hari ini," ucap Dava menepuk pundak Brian. Laki-laki itu hanya mengangguk. "Oh ya, besok malam ada acara makan malam. Kita juga dapat undangan Rin, dari tim produksi." Dava berbicara dengan Airin. "Ah, oke." Airin mengangguk mengerti. Syuting di mulai. Seperti sudah hapal dengan jadwal, tepat saat Brian melakukan adegan pertama, Desta muncul. Dia berdiri di samping Airin. "Dari mana aja?" tanya Airin lirih. Dia tak ingin mengganggu kru yang sedang bertugas atau mengacaukan suara di lokasi syuting. "Biasa cowok," jawab Desta enteng. "Kamu tahu, tadi Brian marah," bisik Desta. Airin mengerutkan keningnya. Dia menoleh ke arah Desta. "Kenapa?" tanya Airin. "Karena kamu lebih milih aku buat pulang, daripada bareng dia," ujar Desta. Airin tersenyum. "Kayak anak kecil," kata Airin. Matanya menatap Brian yang sedang melakukan adegan bergandengan tangan dengan lawan mainnya. "Emang, dia nggak suka kalau diabaikan!" Desta berbisik lagi. Airin tersenyum. Film yang dibintangi Brian adalah bergenre romance-mistery. Namun, di ending film itu mereka berakhir bahagia. Saat ini adalah pengambilan adegan untuk ending. Jadi terlihat, wajah Brian dan Monic harus terlihat bahagia, walaupun ada air mata yang tersisa di sana. Brian memeluk Airin erat, dia terlalu menjiwai dengan perannya. "I love you," ucapnya berkali-kali. Air mata Monic sudah tak bisa dibendung. Tangisnya pecah. Dia membalas pelukan erat dari Brian. Brian ikut menangis di pelukan Monic. "I love you too," jawab Monic pasti. Brian melepaskan pelukannya lantas dia mencium Monic dengan penuh gairah. "Cut!" teriak sutradara setelah mereka merekam ciuman itu hampir tiga menit. Brian segera melepaskannya. Dia segera menjauh dari Monic. Mengelap area bibirnya dengan telapak tangan. "Kerja bagus," ucap sang sutradara. Mereka semua bertepuk tangan. Namun, disaat itu, sepasang mata Brian dan Airin bertemu. Ada tatapan cemburu di sana. Airin merasa emosional melihat Brian. "Bagaimana dia bisa hidup seperti itu sekarang?" batin Airin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD