Episode 22

1695 Words
Brian duduk di kursi santainya. Airin dan Desta membereskan semua barang milik Brian. Sedangkan Dava seperti biasa berbicara dengan sutradara film. Dia pasti kini tengah merayu sutradara agar kembali menggaet Brian di proyek film selanjutnya. Dava memang paling bisa berbicara dan mempromosikan Brian. Nggak salah dulu dia adalah seorang mantan management artis yang akhirnya keluar dan merintis karir artis baru. Kata Dava, dalam diri Brian ada emas yang perlu diasah dan dididik. Jiwa artis Brian sudah ada dalam dirinya. Terlebih wajahnya yang sekarang sangat tampan. Setelah selesai, Desta mendekat ke arah Brian. "Sudah selesai, lebih baik kita segera pulang," ujar Desta. Brian menganggukkan kepala tanpa menoleh. Dia masih memperhatikan sosok Airin yang masih sibuk dengan satu koper dan akhirnya dia tutup rapat. Desta menyadari bahwa Brian tengah memandang Airin. Dia hanya menggelengkan kepala. "Berhenti memandang dia seperti itu!" pinta Desta. Permintaan itu membuat Brian menoleh. "Apa?" tanya Brian. "Kenapa?" Brian tak terima dengan ucapan Desta. "Salah?" tanyanya lagi. "Ini lokasi syuting, banyak orang, ada wartawan, ada fans lo juga! Mereka melihat gerak-gerik lo," ujar Desta sedikit berbisik. Brian menghela napas. "Oke, oke," jawab Brian malas. "Please, jangan buat skandal yang nggak jelas," kata Desta sedikit memohon. Brian hanya menatap Desta sebagai jawaban. Setelah semuanya selesai, Mereka bergegas pulang. Seperti biasa, Brian menyapa penggemar yang menunggunya di sana sebelum masuk ke dalam mobil. Airin melihat langsung interaksi Brian dengan fansnya. "Benar, kenapa dia dicintai banyak orang, karena perlakuan dia sangat manis kepada penggemarnya," batin Airin. "Ayo!" Desta menarik lengan Brian. Brian segera melambaikan tangan. Wajahnya tersirat bahwa dia tak ingin berjauhan dengan para penggemar. Terlihat Brian mengambil beberapa hadiah dari fans. Dia membawanya ke dalam mobil. Meletakkan di samping dia duduk. Ketiganya sudah duduk di dalam mobil. Saat ini Airin duduk di depan. Sedangkan Brian di belakang. Itu hasil tadi Desta yang mengatur. "Pesan makanan dulu," perintah Brian. Desta melirik melalui spion mobil. "Pesan apa? Ini belum terlalu malam, gue mau makan di rumah," jawab Desta tegas. "Aku juga," timpal Airin menjawabnya. "Makan di rumah? Sejak kapan?" tanya Brian pada Desta. "Aish," gerutu Desta. "Sejak hari ini." Itu hanya alasan Desta agar Brian segera terpisah dari Airin. Desta sangat yakin itu hanya alasan Brian agar terus bersama Airin. "Pokoknya malam ini kita rayakan bahwa film gue sukses," ucap Brian memaksa. Dia mencari kesempatan agar terus dekat dengan Airin. "Yan!" Desta tak setuju. Dia menoleh ke arah Airin yang hanya terdiam. "Kamu setuju, kan?" tanya Brian pada Airin. Wanita itu menoleh secepat kilat. "Oh, iya." Airin mau tak mau setuju. Lagi pula tak ada yang salah dia menerima tawaran itu, terlebih ini baru pukul tujuh, jadi baginya waktu itu masih sore. "Oh ya, undang teman kamu juga, aku harus berterima kasih sama dia," perintah Brian. "Siapa? Ken?" tanya Airin ragu. Brian mengangguk. "Untuk apa?" Desta lagi-lagi tak setuju. Namun, matanya masih fokus pada jalanan di depannya. "Sudah lah, lo tinggal pesan makanan yang banyak. Nggak perlu banyak tanya," ujar Brian menang. Pasrah jika sifat buruk dalam diri Brian itu sudah keluar. Saat sudah sampai di gedung pencakar langit itu, seperti biasa Desta memarkirkan mobilnya. Airin mengambil semua koper yang ada di bagasi belakang. Sembari membantu Airin, Desta memainkan ponselnya dengan satu tangan. Dia tengah memesan makanan melalui aplikasi online. "Jangan lupa kabari teman kamu itu," kata Brian. Dia berjalan menuju elevator. Di dalam lift, Airin dan Brian sibuk dengan pikiran masing-masing. Sedangkan Desta sibuk membalas pesan dari tempat makan yang dia pesan. Desta dan Airin bisa bernapas lega ketika sudah sampai di apartemen Brian. Dia membiarkan koper-koper itu tergeletak manis di lantai. Sedangkan Brian entah di mana. Tak muncul setelah tadi duluan masuk. "Kenapa Airin bisa menemukan foto itu?" tanya Brian di dalam kamarnya. Dia tak mungkin panik saat di depan Airin. Sudah pasti Desta akan memarahinya. Brian mengatur napasnya. "Dia nggak mungkin tahu, kan?" tanyanya lagi. Dia meremas jemarinya untuk mengurangi rasa takut. Di ruang tengah. Airin tengah bersandar pada sofa panjang. Sedangkan Desta sibuk mengambil minuman dalam lemari es. "Sudah hubungi teman kamu?" tanya Desta. Airin mengangguk. "Udah aku chat, tapi belum dibalas," jawab Airin. Dia melihat layar ponsel, tak ada satu notifikasi. "Kenapa nggak di telpon aja?" Desta duduk di samping Airin. Airin menggelengkan kepala. "Nanti juga dibalas, sudah pasti dia akan menolak jika aku berkata jujur," jelas Airin. "Apa? Terus, kamu bohong?" tanya Desta mengerutkan kening. "Kenapa? Kenapa dia nggak mau datang kalau kamu jujur," ucap Desta. "Dia orang aneh," jawab Airin lalu tersenyum. Desta menggelengkan kepalanya tak mengerti. "Dan kamu juga aneh," ujar Desta. Dia menikmati air mineral dingin yang diambil tadi dari kulkas. "Oh ya, Brian ke mana?" Airin celingukan. " Kenapa dia terus di kamar," ujar Airin. "Mungkin lagi mandi," jawab Desta santai. Airin mengangguk mengerti. Hampir satu jam Brian berada di kamar, membuat Desta curiga. "Apa mungkin dia tertidur?" tanya Desta. Meja di depannya sudah penuh dengan makanan yang tadi dia pesan dan sudah datang. Tinggal menunggu kedatangan Ken yang kata Airin dia akan datang. Desta berjalan menuju kamar Brian. Dia mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Desta mengerutkan kening, dia pun membuka pintu itu yang ternyata nggak dikunci. Si pemilik kamar terkejut dengan kedatangan Desta. Desta melihat Brian tengah berdiri menatapnya. "Yan! Apa ada masalah? Kenapa nggak keluar?" Desta menatap wajah Brian yang panik. "Apa ada masalah?" tanya Desta lagi. "Tutup!" perintah Brian. Desta pun menutup pintu. Dia mendekat ke arah Brian. "Ada apa?" Wajah Brian tampak khawatir. "Des, apa Airin terus menanyai foto itu?" tanya Brian. "Foto?" Desta tampak ragu. Brian mengangguk cepat. "Bagaimana? Jika nanti dia tahu?" tanya Brian khawatir. "Apa mungkin, lo tahu? Jika dia adalah ..." Pertanyaan Desta terhenti, karena Brian mengangguk cepat. "Dia adalah gadis itu," jawab Brian. Desta membulatkan matanya, wajahnya terkejut. "Apa lo berasumsi sendiri?" tanya Desta lagi. "Enggak, dia yang bilang, kalau dia adalah teman SMA lo," kata Brian. Desta pasrah. Dia hanya diam di depan Brian. "Lalu apa rencana lo?" tanya Desta lemas. "Tentu saja gue harus menyembunyikan identitas asli gue," ujar Brian tegas. "Iya, kan? Harus! Lo harus bersembunyi dibalik nama Brian!" ucap Desta. "Tapi bagaimana jika dia tahu jika aku adalah Attar?" tanya Brian. "Nggak, itu nggak akan terjadi. Kita jaga rahasia ini sampai kapanpun!" Desta bertekad. Brian mengangguk setuju. "Ayo! Dia udah nunggu di luar," ucap Desta. Brian hanya mengangguk. Dia mengikuti langkah Desta. Ternyata Ken sudah berada di sana. "Datang dari tadi?" tanya Desta sopan. Ken yang tak nyaman hanya mengangguk sembari mengeluarkan senyum terpaksa. Mereka menikmati makanan itu dengan penuh semangat. Berbeda dengan Airin, dia hanya makan pizza satu potong dan berkali-kali meminum minumannya. "Ada apa undang aku ke sini?" tanya Ken tanpa basa-basi. Brian menoleh, berbarengan dengan Airin. "Aku mau berterima kasih karena sudah mengalihkan berita kencan itu," jawab Brian. Dia tersenyum. "Ah, terima kasih juga atas berita itu, aku nggak perlu repot-repot mengikuti jadwal ayahku sekarang," ucapnya. "Apa?" Ken tersenyum sinis. "Aku cuma nggak mau aja, ada penggemar kamu yang bunuh diri lagi karena berita kencan itu," jawab Ken tegas. Airin terkejut dengan ucapan Ken. Dia mengisyaratkan Ken untuk diam. Desta khawatir. Dia tak ingin Brian stress dengan ucapan Ken itu. Seketika Brian langsung terdiam. Wajahnya penuh rasa bersalah. Airin menyesal telah mengundang Ken datang ke rumah Brian. Desta mencoba tenang, dia tak mungkin marah. Hal itu hanya akan menambah suasana semakin keruh. Ken tertawa canggung. "Enggak, maksudku, kamu tahu, kan? Keadaan akan kacau jika seorang artis papan atas berkencan dengan seorang wartawan. Itu hanya akan membuat keadaan jadi rumit." Ken menjelaskan. Dia mencoba memperbaiki kata-kata yang sebelumnya. "Maka dari itu, aku menutup berita itu dengan berita artis lain, yang kebetulan bersangkutan dengan Ayahmu," kata Ken. Brian mengangguk mengerti. Sebenernya dia dalam kondisi tak baik sekarang. Namun, mencoba biasa karena Ken adalah tamunya hari itu. "Ken jangan banyak berbicara, kamu hanya harus makan," ujar Airin lirih. Membuat Desta sedikit melirik ke arah Airin. Ken hanya mengangguk. "Maaf," ujar Ken berbisik. "Sepertinya hubungan kalian sangat dekat," ujar Brian. Dia memperhatikan kedekatan Airin dan Ken yang saling berbagi makanan. "Tentu, kita itu soulmate," jawab Ken santai. "Soulmate?" tanya Airin memastikan. Ken mengangguk cepat. "Sudah sama-sama saling mengerti, sama-sama saling memahami, bahkan sama-sama saling melengkapi," jawab Ken pasti. "Ken apaan, sih?" Airin melayangkan tangannya ke arah lengan Ken. Laki-laki itu tertawa renyah. Brian sudah jelas cemburu. Dia melihat sinis ke arah Ken yang tampak sangat santai. "Bahkan, orang tua kita sangat dekat. Ya begitu deh, yang mau besanan kak harus akur, ya," ujar Ken. "Ken!" Airin merasa tak enak. "Kenapa bahas di depan mereka," ucap Airin malu. Ken tertawa lagi. Dia melihat Airin malu sekarang. "Kenapa?" tanya Ken. Desta mengamati wajah Brian. Sudah sangat kentara jika laki-laki itu sedang cemburu. "Eits, kita makan dulu aja kali, ya. Keburu nanti makanannya dingin dan nggak enak," ucap Desta menengahi. Dia mencoba mencairkan suasana. Ken mengangguk, dia kembali mencomot pizza dan menyuapkannya kepada Airin. Mau tak mau Airin menerimanya. "Oh ya, kalau mau minta bantuanku, calling aja, siap bantu kok, buat jadi mata-mata," ujar Ken kepada Brian. Brian tersenyum tipis lalu mengangguk mengerti. Acara sederhana malam itu berakhir sekitar pukul sebelas malam. Airin sudah sangat terlihat lelah. Makanan di meja sudah habis, minuman bersoda sudah beberapa kaleng yang terbuka. Perbincangan hari itu membuat lupa waktu. Desta yang hari itu banyak bertanya juga sudah mulai dekat dengan Ken. "Sebaiknya kita pulang sekarang aja, deh." Ken melirik arlojinya. "Sudah hampir larut. Kasian, si tukang tidur ini pasti udah kelelahan," ujar Ken meledek Airin dengan mengacak rambut Airin. Airin tampak tak terima. Dia merapikan kembali rambutnya sembari bibirnya mengerucut. "Kalian serasi," celetuk Desta. Ken yang mendengarnya langsung tersenyum. "Kita serasi?" tanya Ken. "Ih, enggak lah!" jawab Airin, dia menjulurkan lidahnya kepada Ken. "Ya udah, ya udah, mending kita pulang! Oke," ucap Ken. Dia terlihat bahagia meledek Airin malam itu. Semuanya sudah berdiri kecuali Brian. Laki-laki itu hanya terdiam sedari tadi. Seperti sedang kesal. "Apa kamu mencintai dia?" Pertanyaan Brian meluncur begitu saja. Membuat ketiga tamunya menoleh secara bersamaan. "Siapa?" tanya Desta penasaran. "Kamu," kata Brian pada Ken. Dia menunjuk laki-laki itu tepat di tubuhnya. "Aku?" tanya Ken memastikan. "Cinta dia?" Ken menunjuk Airin. Brian mengangguk pasti. "Apa kamu cinta sama dia?" tanya Brian mengulangnya. "Iya," jawab Ken tegas. Airin tentu saja terkejut. Desta juga ikut terkejut. Wajah Brian berubah, dia cemburu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD