Episode 23

1370 Words
"Ayo!" Ken tak memperpanjang ucapannya lagi. Dia menarik lengan Airin keluar dari apartemen Brian. "Ken!" Airin ingin meminta penjelasan dari Ken. Tetapi posisinya tak memungkinkan. Terlebih Desta mengantarnya hingga pintu. Setelah Airin dan Ken keluar. Desta kembali berjalan menuju Brian. "Emang pantas? Sama tamu nanya hal pribadi kayak gitu," ujar Desta kesal. Brian menghela napas. "Suka-suka dong, ini rumah gue," jawab Brian ketus. "Yan! Jangan mancing! Jangan sampai Airin tahu kalau lo itu, dia!" Desta berucap tegas. "Oke, cukup lo yang tau bahwa dia adalah Airin. Orang yang diam-diam ngebantu lo, orang yang paling lo kagumi!" Desta mengambil posisi duduk di samping Brian. "Des, kenapa lo nggak bilang kalau dia adalah Airin yang dulu?" tanya Brian. Matanya menatap langit-langit ruangan itu. Desta menoleh. Dia berancang-ancang akan menjawab pertanyaan itu. "Pertama, gue nggak mau lo dekat sama dia. Kenapa? Karena lo sekarang berbeda," ucap Desta. "Kedua, dia bisa saja menghancurkan karir lo, jika tahu lo adalah Attar!" Kata Desta tegas. "Dia bisa membuat berita super heboh yang akan menjatuhkan lo," lanjutnya. "Dan ketiga ..." Ucapan Desta berhenti. Dia menatap Brian lekat. Hal itu membuat Brian mengalihkan pandangannya dari langit-langit. Mata mereka bertemu, Desta ragu, sedangkan Brian penasaran akan nomor tiga itu. "Apa?" tanya Brian penasaran. "Enggak, cuma dua itu," jawab Brian cepat. Brian menghela napas kasar. Dia kembali menatap langit-langit. "Apa dia akan terkejut jika tahu gue adalah anak cupu itu?" tanya Brian. "Apa dia bakal heboh, tahu perubahan gue yang sangat drastis," lanjutnya tanpa menoleh. "Mungkin," ujar Desta. "Tapi, jika dia tahu, apa dia tega bakal membongkarnya ke publik. Dulu dia selamatkan gue dari mereka," kenang Brian. ____ "Stop!" teriak Airin tegas. Attar tampak sangat lega mendengar suara Airin. Cowok di depannya segera menoleh. "Rin! Bisa nggak sih, lo nggak muncul di depan gue!" Protes Dion si biang kerok SMA Tunas Jaya. "Ga! Lo gila, dia nggak salah. Kenapa selalu lo ganggu!" ujar Airin ketus. Dia mendekat dengan berani. Padahal Braga tak sendirian di sana. Anak buah yang selalu mengekor di belakang tengah mengerumuninya. Anak buah Braga minggir, saat Airin semakin dekat. "Lo! Teman lo mana? Jangan pergi sendiri! Jangan mau kalo Braga atau temennya ajakin lo ke sini," ujar Airin menunjuk Attar. Attar hanya mematung di tempatnya. Braga tersenyum sinis. "Lo suka sama dia?" Tangan Braga tak tinggal diam, dia meluncurkan jari telunjuknya tepat di kening Attar. Sehingga Attar terbentur tembok di belakangnya. "Ga, mau gue suka, mau nggak, itu bukan urusan lo. Gue cuma nggak suka perlakuan lo," Jawa Airin sedikit meninggikan suaranya. "Terus, mau lo, gue harus gimana? Ngebiarin si cupu ini suka sama lo?" kata Braga kesal. "Ga!" Airin tak terima. "Pergi!" teriak Airin. "Gue udah panggil Pak Sinaga untuk datang ke sini." Airin mengancam. "Aish," gerutu Braga. Sinaga adalah guru kesiswaan di sekolah. Perangainya buruk, tegas, galak, dan juga sangat disiplin. "Pergi! Sebelum gue bener-bener teriak panggil Pak Sinaga!," perintah Airin. "Aish." Braga meninggalkan Attar, diikuti oleh para pengikutnya. Setelah Braga dan kawab-kawan benar-benar pergi. Airin menatap nanar cowok di depannya. "Sampai kapan mau seperti ini terus? Masa depan lo masih panjang! Jangan mau terus dirundung sama mereka!" Airin menasehati. Dia berbalik badan. Niatnya terhenti ketika akan melangkah. "Terima kasih," ucap Attar. Hal itu membuat Airin menoleh. "Gue nggak mau lihat hal kayak gini lagi selanjutnya!" ujar Airin tegas. Dia kembali berbalik dan berjalan meninggalkan Attar. _______ "Intinya, lo berbeda dari sekarang, lo adalah Brian! Lo adalah artis top yang lagi naik daun!" Desta mengingatkan. "Oke, memang dia adalah Airin. Dia bisa saja masih sama seperti dulu. Tapi, mungkin saja dia sudah berubah. Jadi kamu harus tetap waspada." ucap Desta berceramah. Brian mengangguk mengerti. "Benar," jawabnya singkat. Desta sebenarnya sangat khawatir, dengan keadaan Brian sekarang. Dia tak ingin temannya itu kembali ke masa lalu, dengan kembalinya Airin. Semenjak kepergiannya ke luar negeri, Desta memang benar-benar menutupi identitas Brian yang baru. "Tidurlah! Istirahat," perintah Desta. Brian hanya mengangguk. Dia masuk ke dalam kamarnya, membiarkan Desta membereskan semua sisa makanan tadi. Brian menjatuhkan tubuhnya, dia menatap langit-langit kamarnya. "Bagaimana jika gue nggak berubah seperti ini? Apa dia mau tetap bantuin gue?" tanya Brian pada diri sendiri. "Apa dia bakalan baik sama gue?" tanyanya lagi. Pikirannya melayang. "Senyum itu, masih sama seperti dulu. Cara dia berbicara, cara dia bersikap, dia nggak berubah," kata Brian. "Benar, karena lo adalah Airin Arunika," lanjutnya. Brian mengubah posisinya. Dia memiringkan tubuhnya ke kanan. "Bagaimana jika nanti lo tau, kalo gue adalah Attar. Si cupu yang selalu dibully," ucap Brian serius. "Apa lo bakal ngatawain gue? Atau bahkan lo bakal kasihan sama gue?" tanya Brian lagi. Desta masuk. Membuat Brian memutar tubuhnya. Laki-laki itu kini dalam pandangannya. "Biarkan gue istirahat," ujar Desta berjalan mendekat ke arah Brian. "Lo bisa, kan? Tidur di sofa?" protes Brian. "Setelah gue menyelamatkan lo, lo nyuruh gue tidur di sofa? Gila lo!" bantah Desta. "Nyelametin gue? Nyelametin apa?" tanya Brian bingung. "Foto! Foto lo dari Airin," Jawa Desta tegas. Brian tertawa. Dia berpikir kata-kata Desta adalah lelucon. "Des, bukankah lo juga takut kalo rahasia gue terbongkar? Sudah kewajiban dong lo nyelametin gue," jawab Brian sekenanya. Desta mengambil posisi tidur di samping Brian. Dia menarik bantal untuk menjadi ganjalan kepalanya. "Sepertinya gue harus cepet nikah, supaya nggak tidur sama lo terus," ujar Brian. Desta tertawa. "Lo tuh artis. Nikah? Itu jauh, hal yang nggak mungkin nikah buat lo sekarang. Lo tahu, kan? Orang pertama yang bakal nentang lo nikah siapa?" tanya Desta sedikit meledek. "Dava!" "Sialan lo," gerutu Brian. Membayangkan untuk menikah itu jauh dari pikirannya. Terlebih jika mengingat Dava. Mustahil bagi Brian untuk membahas pernikahan dengan orang itu, terlebih di saat sekarang karirnya sedang di puncak. Desta tidur membelakangi Brian. Dia mencoba memejamkan matanya. Tubuhnya sudah sangat lelah. Membuat dia ingin cepat terlelap. Berbeda dengan Brian, dia masih menatap langit-langit kamarnya, menggunakan satu tangannya sebagai ganjalan kepala. "Des," panggil Brian lirih. "Apa lo tidur?" tanyanya. "Hemm," jawab Desta. "Gimana kalau mereka benar-benar saling mencintai?" tanya Brian. Desta dalam posisinya mengerutkan kening. "Siapa?" tanyanya masih dalam posisi yang sama. "Airin dan Ken," kata Brian pasti. Desta mengubah posisi tidurnya. Kini posisinya sama dengan Brian. "Kenapa?" tanya Desta. "Apa lo cemas? Cemburu?" tanya Desta menyelidik. "Enggak, apa Ken cowok yang baik? Airin adalah perempuan baik," kata Brian. "Mereka cocok," jawab Desta. Hal itu membuat Brian menoleh secepat kilat. "Apa?" tanya Brian tak terima. "Kenapa? Nyatanya Ken yang selalu mengisi hari-hari Airin sejak masa kuliah. Mereka sudah sangat dekat." Desta menjelaskan. "Apa lo mengenalnya?" tanya Brian. "Enggak, gue cari tahu tentang mereka," jawab Desta. "Untuk apa?" tanya Brian bingung. "Ada sesuatu," ucap Desta singkat. "Apa?" desak Brian. Desta menoleh. "Enggak, awalnya gue tahu Ken saat tragedi bunuh diri itu. Dia adalah wartawan yang selalu meliput, yang mengikuti hingga proses selesai," ujar Desta. "Apa?" Brian mencoba mencerna ucapan Desta. Desta mengangguk. "Dia adalah wartawan yang benar-benar mengikuti kasus itu sampai tuntas." "Berarti dia tahu, jika gue adalah penyebabnya?" tanya Brian. "Yan! Belum tentu lo adalah penyebabnya. Kasus ini ditutup karena keinginan keluarga gadis itu," ucap Desta menjelaskan. Keduanya terdiam beberapa saat. "Gue belum sempat menemui keluarga gadis itu. Dava selalu melarang gue, dan dia ..." Belum selesai melanjutkan. Desta mengubah posisi tidurnya. "Tidur! Gue lelah, jangan bahas hal yang sudah berlalu," ucap Desta. Dia kembali membelakangi Brian. **** Airin turun dari mobil Ken. Dari tadi dia terlelap karena rasa lelahnya. "Thanks, ya." Airin mengucapkannya dengan lemas. Ken yang saat itu ikut keluar dari mobil mengangguk. "Kenapa kamu undang aku ke rumah Brian?" tanya Ken. "Brian yang memintanya," jawab Airin. Dia mengurungkan niatnya untuk melangkah. "Rin! Apa kamu mencintai Brian?" tanya Ken serius. "Ken apaan, sih? Nggak mungkin lah," jawab Airin. Ken tersenyum kecut. "Benarkah?" tanya Ken memastikan. "Sorot mata kamu sama mulut itu berkata lain." "Maksud kamu apa?" Airin tak mengerti. "Kamu cinta dia, kan? Aku lihat mata kamu berbeda saat memandang laki-laki itu," ujar Ken. Airin menggelengkan kepala cepat. "Sok tahu kamu," jawab Airin lalu tersenyum. "Jangan pernah bermain dengan perasaan." Kini pembicaraan Ken terlihat sangat serius. "Iya! Aku ngerti," jawab Airin tegas. "Aku pulang oke," kata Airin. "Apa kamu percaya sama aku?" tanya Ken lagi. Lagi-lagi Airin mengurungkan niatnya melangkah. "Tentu!" jawab Airin pasti. "Ucapan aku tadi di rumah Brian adalah benar," kata Ken serius. "Ucapan?" Airin sedikit berpikir. Hingga akhirnya dia membulatkan kedua bola matanya. "Ken!" ujarnya tak percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD