Episode 24

1697 Words
Ken mengangguk. "Aku suka sama kamu," ujar Ken serius. Airin terkejut. Tampak wajah Ken gugup, dia tak berani memandang ke arah Airin. "Ken, kamu sadar, kan? Dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Airin. "Sangat sadar," jawab Ken. Kini matanya bertemu dengan mata Airin. Namun, tetap saja dia terlihat gugup. "Aku harus pulang!" kata Airin. Airin membalikkan badan. "Aku nggak maksa mau jawab kapan, yang jelas aku udah jujur," ucap Ken. Airin mengembuskan napas. Dia menggigit ujung bibir bawahnya, lalu mengangguk dan melangkahkan kakinya. Ken terlihat lemas. Wajahnya menampakkan rasa lega. Dia mengatur napasnya untuk menenangkan diri. Seketika kakinya lemas. Dia sampai bersandar pada mobilnya. "Bodoh," gerutunya lirih. "Kenapa harus ngomong," ucap Ken, dia melayangkan tangannya tepat di depan bibir. "Malu banget," ujarnya lagi. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. "Aish." Sepertinya Ken menyesal dengan ucapannya tadi. "Kenapa berani banget ngomong gitu?" Seketika Ken lemas. "Bagaimana jika nanti kita ketemu lagi?" katanya penuh penyesalan. "Ken!" Dia memaki dirinya sendiri. Berkali-kali menampar pipinya. Dia tersadar jika hal itu membuat pipinya memerah dan sakit. Akhirnya dia melajukan kembali mobilnya untuk pulang. _____ Pagi ini Airin dan Hilda sudah terlihat sibuk. Airin sengaja bangun lebih cepat untuk membantu Hilda membuat kue. "Tumben banget, udah bangun. Karena mau ketemu Ken?" tanya Hilda. "Ken?" Airin mengerutkan kening. Dia mengingat kejadian semalam, seketika langsung lemas. Benar, hari ini memang Airin akan mengantar Hilda menjenguk Herlin yang merupakan ibunda dari Ken. "Kenapa? Kok kaget? Kalian bertengkar?" tanya Hilda penuh selidik. "Ma, bisa nggak kalau Mama datang ke sana sendiri. Ternyata aku ada urusan." Airin beralasan. "Kalian bertengkar?" tanya Hilda lagi. "Enggak," jawab Airin ragu. "Pasti bertengkar." Hilda tampak tak percaya dengan ucapan Airin. "Enggak, Ma." Airin akhirnya mengalah. Dia mengantarnya, toh dia pikir tak akan bertemu Ken di sana. Pasti laki-laki itu sudah sibuk dengan pekerjaannya. Airin dan ibunya siap untuk menuju rumah Ken. Dia memesan taksi melalui aplikasi online. Hampir lima belas menit menunggu, akhirnya taksi yang dipesan datang. Perjalan cukup jauh, untungnya hari itu juga jalanan masih bersahabat. Tak terlalu ramai, sehingga Airin sampai tepat waktu. Pukul sepuluh pagi Airin dan ibunya sampai. Keduanya menenteng satu buah kotak kue yang tadi pagi dibuatnya. Dua buah kantong keresek berisi buah dan makanan lainnya. Airin menekan tombol pintu utama rumah joglo bernuansa biru muda. Tak lama pintu dibuka oleh pemilik rumah. "Ken!" pekik Airin lirih. Dia mencoba biasa. Tersenyum ketika melihat laki-laki berwajah tampan itu. "Tantenya ada?" tanya Airin. Ken mengangguk. Dia lantas tersenyum pada Hilda dan menyalaminya. "Apa kabar, Tan?" tanya Ken. Hilda tersenyum sumringah. "Baik, dong. Kamu apa kabar?" tanya Hilda balik. "Baik juga, Tan," jawab Ken. "Silakan masuk," ujar Ken mempersilakan keduanya masuk. Hilda mengikuti langkah Ken dan Airin. Mendapati Herlin tengah duduk di depan televisi. Rupanya tengah bersantai melihat acara televisi. "Eh, ada tamu," kata Herlin menyambut. Dia segera berdiri dan mendekat ke arah Hilda dan Airin. "Silakan duduk." Hilda dan Airin duduk di ruang tamu. Ken juga turut duduk di sana bersama ibunya. "Kirana ke mana?" tanya Hilda. "Dia ke sekolah. Katanya lagi ada ekstrakulikuler," jawab Herlin. Hilda mengangguk mengerti. Hari Sabtu memang biasanya Kirana libur. Namun, memang hari ini ada acara di sekolahnya. "Maaf banget, lho, Jeng! Aku baru jenguk." Hilda merasa tak enak. "Airin sibuk banget. Jadi, harus nunggu dia senggang dulu," ujarnya jujur. Herlin tersenyum. "Enggak apa-apa, lagi pula aku nggak apa-apa. Sudah sehat," jawab Herlin. "Makasih banyak sudah datang menjenguk," ujarnya lagi. Mereke berbincang. Tertawa sembari menikmati teh yang dibuat oleh Ken. Tak seperti biasanya Airin hanya terdiam dan Ken pun ikut terdiam. "Sepertinya benar," ujar Hilda tiba-tiba. "Ada apa?" tanya Herlin bingung. Pasalnya ucapan Hilda baru saja berbeda dengan yang sedang mereka bahas. "Kalian berdua bertengkar," ucap Hilda pada Ken dan Airin. "Enggak, Ma," jawab Airin tegas. "Enggak, kok, Tan. Kita baik-baik aja, kan, Rin?" tanya Ken. "Iya!" timpal Airin. "Nggak seperti biasanya rame," ucap Hilda lagi. "Iya bener, biasanya salah satu dari kalian memulai perdebatan," celetuk Herlin. Airin dan Ken tertawa canggung secara bersamaan. "Lagi nggak ada yang perlu dibahas," jawab Ken. Hilda dan Herlin tersenyum bersama. "Sepertinya kita harus besanan ya," ujar Herlin tiba-tiba. Airin terkejut. Dia memandang ke arah Ken yang tengah tersenyum mendengar ucapan ibunya. Ketika mata mereka bertemu, Ken hanya mengangkat bahunya tak mengerti. Ponsel Airin bergetar. Dia segera mengambilnya dari saku celana jeans yang dia pakai. Panggilan dari Brian. Airin menyeret tombol merah. Ternyata banyak sekali panggilan yang Airin abaikan. Ken memperhatikan Airin. Wanita itu terlihat sudah gelisah. "Ma, aku harus kerja," bisik Airin pada Hilda. Hilda mengerutkan kening dan menoleh ke arah Airin. "Kerja? Bukannya libur?" tanya Hilda. "Masuk," bisiknya lagi. Herlin tampak penasaran. "Ada masalah?" tanya Herlin. "Enggak," jawab Hilda. "Sepertinya kita harus pamit." "Lho, kok buru-buru?" tanya Herlin. "Iya, Airin harus kerja." Hilda menjawab sekenanya. "Ya ampun, rajin banget. Bahkan akhir pekan masih kerja." Herlin memuji. "Ken, antar Tante Hilda dan Airin," perintah Herlin. "Siap, Bos!" Ken menjawabnya dengan penuh semangat. Itu hanya membuat Airin merasa tak enak. "Kita naik taksi aja, Tan." Airin berusaha menolak. Namun, gagal. "Enggak, mumpung Ken di rumah. Antar sampai rumah," jawab Herlin. Mau tak mau Airin menerima. Ken menyiapkan mobilnya. Airin duduk di kursi penumpang yang ada di depan. Hilda berada di belakang. "Ma, Airin langsung kerja aja, ya," ujar Airin. Dia sebenarnya ingin menghindar dari Ken. "Dengan pakaian seperti itu?" tanya Hilda. Dia melihat putrinya hanya dengan kaos oblong dibalut dengan kemeja flanel, juga celana jeans. "Kan, udah biasa," jawab Airin lagi. "Enggak, pulang dulu. Masa Mama hanya berdua sama Ken. Nanti siapa yang buatkan minum buat dia," kata Hilda. "Ma." Airin sedikit memohon. "Pulang dulu," jawab Hilda tegas. Ke tersenyum tipis dari balik kemudinya. Ia sangat tahu bahwa Airin kini sedang menghindari dirinya. Sesampainya di rumah Airin. Hilda memaksa Ken untuk masuk. Ken pun menurut. Ken duduk di ruang tamu. Hilda lantas sibuk membuatkan minuman untuk Ken. Airin yang menyaksikan hanya menggelengkan kepala. Dia pun segera masuk kamar. Di dalam kamar, dia memenangkan diri. Mengatur napas yang sedari tadi ia tahan berkali-kali. Lima belas menit di dalam, akhirnya Airin keluar. Dia mendapati Hilda dan Ken sedang mengobrol asik. "Aku berangkat, Ma," ujar Airin. "Biar aku antar," celetuk Ken menawarkan diri. "Heh, mmm ..." Airin ingin menolak. Namun, Hilda lagi-lagi mengambil alih posisinya. "Bagus tuh. Tambah aman kalau diantar sama Ken," ujar Hilda. Ken tersenyum. Sepertinya Hilda sengaja agar waktu Airin bersama Ken banyak. Lagi-lagi Airin hanya mengalah. Dia setuju Ken mengantarnya kali ini. "Oke," jawab Airin lemas. Ken tersenyum lagi, tanpa sepengetahuan Airin. "Ya udah Tante, aku pamit," ujar Ken berpamitan dengan sopan. Keduanya menuju mobil Ken. Airin seperti tadi, duduk di kursi penumpang depan. "Yakin mau nganterin aku?" tanya Airin ragu. Ken yang sudah bersiap-siap pada setir mobilnya menoleh. "Yakin, lah! Kenapa?" kata Ken bingung. "Oke," jawab Airin datar. Ken menyalakan mesin mobil. Dia lantas melajukan mobilnya. Sepanjang jalan, keduanya hanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Airin sibuk dengan kegelisahannya akan Ken yang takut membahas hal semalam. Ken sibuk akan rasa malunya tentang kejadian semalam. "Bukankah ..." Baru Ken berucap. Airin segera menjawabnya. "Apa?" jawab Airin gugup. "Enggak, bukannya syuting sudah selesai? Kenapa harus ke rumah Brian?" tanya Ken. "Ah, mmm, nanti malam ada acara party. Semua yang datang adalah artis dan kru yang bertugas. Jadi, aku harus siapin semua yang Brian butuhkan," jawab Airin detail. "Oh gitu," kata Ken mengerti. Airin hanya mengangguk. Keduanya kembali terdiam. Hingga akhirnya Airin sampai di depan gedung pencakar langit itu. Apartemen mewah yang ditinggali Brian. "Makasih, ya. Udah mau nganterin aku," ucap Airin. Dia segera ingin keluar dari dalam mobil namun masih terkunci. "Ken ..." Airin menunjuk pintu mobilnya. "Ah," jawab Ken. Dia lantas segera membuka kunci pintu mobil di samping Airin. "Rin," panggil Ken. Airin yang sudah bersiap keluar kembali menoleh. "Apa?" tanya Airin. "Soal semalam, aku nggak maksa kamu harus jawab apa. Tapi, aku nunggu jawaban kamu," ujar Ken. "Jangan jadi beban buat kamu, slow aja," katanya lagi. Airin mengangguk tanpa menjawab. Dia segera pergi. Setelah keluar dari mobil Ken. Airin mengembuskan napas lega. Dia melihat mobil Ken sudah kembali melaju. Airin benar-benar bernapas lega. "Kenapa jadi seperti ini?" tanyanya lirih. Dia berjalan lagi menuju apartemen Brian. Tatapannya kosong. Dia hanya menatap lurus jalan yang akan dilaluinya. "Rin!" Suara Desta menggema, namun tak diindahkannya. "Rin!" panggil Desta lagi. Hingga akhirnya dia sampai tepat di depan Airin. "Hei!" ujar Desta menyadarkan Airin. Mereka sampai di depan pintu elevator. Menunggu pintu itu terbuka. "Eh, iya, Des." Airin tersadar. "Ada masalah?" tanya Desta. Dia meneliti wajah Airin. Tampak sangat kentara sedang memikirkan sesuatu. Airin menggelengkan kepala. "Lalu kenapa?" tanya Desta. "Kok, lemes gitu," katanya. "Enggak apa-apa." Jawaban Airin nyatanya tak membuat Desta percaya. Namun, pintu elevator terbuka dan keduanya masuk. Airin hanya diam. Membuat Desta semakin bingung. Perasaannya galau. "Kalau ada apa-apa cerita," ujar Desta membuka suara. Airin menoleh ke arahnya dan tersenyum simpul. Dia mengangguk sebagai jawaban. Setelah pintu terbuka, Desta membiarkan Airin keluar lebih dulu. Airin berjalan sampai Desta mengejarnya. Airin menekan bel. "Rin," panggil Desta lagi. Dia sudah menekan angka-angka yang akan membuka kunci pintu itu. "Ah," jawab Airin. Desta hanya menggelengkan kepala. "Brian masih tidur," ujar Desta berjalan masuk. Airin mengikutinya dari belakang. Dia sampai tak sadar, jika Desta hanya mengenakan kaos oblong dan celana kolor pendek. "Kok kamu bisa tahu?" tanya Airin. Desta mengerutkan kening. Dia menatap Airin. Ternyata pandangannya masih kosong. "Hei," jawab Desta menyadarkan. "Nggak lihat aku pake baju apa?" tanyanya. Airin tersadar. "Ah, maaf." Dia tersadar pasti Desta menginap di tempat Brian. "Rupanya kamu tidur di sini," ujarnya. Desta mengangguk. "Bisa tolong bangunkan Brian? Kalau aku yang bangunin, bisa-bisa dia berubah jadi macan!" kata Desta. "Aku mandi dulu," ujarnya. Airin menghela napas. Ia pun setuju. Dia menuju kamar Brian. Benar, laki-laki itu masih tertidur lelap di balik selimutnya. "Pasti bergadang," ujar Airin. Dia mengambil posisi duduk di tepi ranjang. Mencoba membangunkan Brian. Namun, mengurungkannya saat melihat wajah tampan itu pucat pasi. Keringatnya sangat banyak. "Brian!" ujar Airin lirih. "Yan, bangun!" perintahnya pelan. "Brian!" Airin membangunkan lagi. Padahal suara Airin sangat lirih. Namun, Brian begitu terkejut. Dia membuka matanya sempurna. Napasnya memburu, dia segera mengubah posisinya menjadi duduk. Menarik Airin dalam pelukannya. "Airin, gue suka sama lo," ujar Brian tiba-tiba. Tentu saja Airin terkejut dengan hal itu. Dia hanya mematung dalam pelukan Brian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD