Episode 25

1804 Words
"Yan!" Airin berusaha menyadarkannya. Dia menepuk pundak laki-laki itu. "Yan! Brian, Kenapa? Kamu mimpi buruk lagi?" tanya Airin. Dia tampak khawatir melihat Brian seperti itu lagi. Namun, hatinya berdebar tanpa dia sadari. Mungkin saat itu Brian baru tersadar. Dia segera melepaskan pelukannya untuk Airin. "Maaf," ujarnya cepat. Dia berusaha menenangkan diri. Brian mengusap wajahnya yang penuh keringat. Napasnya masih memburu. Namun, setelah memainkan teknik napas, kini menjadi lebih tenang. "Kenapa sering banget mimpi buruk?" tanya Airin pelan. "Enggak, aku nggak apa-apa," jawab Brian lirih. Airin mengambil air minum yang berada di meja kamar Brian. Dan meminumkannya pada laki-laki itu, agar lebih tenang. "Nanti acaranya jam tujuh malam. Ada yang kamu butuhkan lagi? Selain pakaian yang akan kamu pakai?" tanya Airin. "Atau kamu butuh aksesoris? Makanan? Atau minuman yang akan dibawa ke sana?" ujar Airin menawarkan semua. Brian hanya menggelengkan kepala pelan. "Desta mana?" tanyanya. Matanya melihat ke arah pintu kamar, namun tak ada suara bising dari Desta. Biasanya cowok itu menyanyi atau bersiul untuk mengusir keheningan. "Sepertinya dia sedang mandi." Airin berasumsi. "Kata Desta baju yang sudah dipesan kemarin, akan diantar jam empat sore." Airin menjelaskan. Brian hanya mengangguk mengerti. "Nanti malam kamu ikut, kan?" tanya Brian. "Aku?" tanya Airin memastikan. Dia menggeleng cepat. "Ya enggak, lah. Bahkan aku belum bersiap, aku nggak bawa baju ganti, ataupun niat buat datang ke sana," ucap Airin. Bersiap? Buat apa aku bersiap? Kalaupun ikut, juga tak akan terkena sorotan kamera. Pikir Airin. "Sudah bangun?" Suara Desta menggema di kamar itu. Keduanya menoleh bersamaan. "Ayo! Kita makan dulu," ucap Desta. Airin mengerutkan kening. "Makan apa?" Tak mungkin baginya, Desta memasak hanya dalam waktu lima menit setelah kedatangannya. "Tadi aku masak, sebelum kamu ke sini," jawab Desta. Airin keluar dari kamar Brian. Sedangkan Brian bersiap-siap untuk mandi. Membersihkan tubuhnya agar terasa segar. Desta dan Airin sudah di meja makan. Mereka hanya menunggu kehadiran Brian. "Des! Kita belum bahas masalah Attar," ujar Airin. Desta membulatkan matanya. "Apalagi? Ssttt," jawab Desta. Dia menyarankan Airin untuk diam. "Kenapa? Lagi pula Brian nggak ada," kata Airin dengan santai. "Rin, nanti kita bahas di luar aja," jawab Desta menghindar. "Des!" Airin ingin protes. Namun, Brian datang. "Ada apa?" tanya Brian penasaran. Dia duduk di samping Desta. "Sepertinya kalian sedang membicarakanku, iya, kan?" Pertanyaannya sedikit meledek. "Enggak! Airin rese nih," ucap Desta. Brian tersenyum. Mereka menyantap makanan yang ada di depannya. Enak juga masakan seorang Desta. Terlihat dari cara makan Airin yang tak biasa. "Kamu bisa masak juga," ujar Airin dengan mulut penuh dengan makanan. "Aku? Jelas, lah," jawab Desta menyombongkan diri. "Masak, nyuci, ngepel, beres-beres, semuanya bisa, apalagi kalo bahagiain perempuan, bisa banget," kata Desta meyakinkan. "Berguna juga kamu, cowok super rese dan trouble maker di sekolah, bisa ngerjain apa aja, multi talenta," lanjut Airin meledek. "Sialan! Dari dulu juga aku berguna," jawab Desta memprotes. Airin tertawa setelah menelan habis makanan itu. "Iya berguna buat si Attar itu, ya?" ledeknya. Desta terkejut. Bagaimana bisa dengan entengnya dia menyebut nama itu di depan Brian. Brian menelan saliva mendengar ucapan Airin tadi. "Attar?" tanyanya ragu. Airin mengangguk cepat. "Dia adalah teman Desta, satu-satunya teman dia," ucap Airin. Dia sangat bersemangat ingin menjelaskannya pada Brian. Namun, Desta lagi-lagi menghalanginya. "Rin!" Desta ingin menghentikan mulut Airin. Namun, perempuan itu pasti akan bertambah kecurigaannya. "Kenapa?" tanyanya aneh. "Yan! Nggak apa-apa, kan? Kita bahas masa sekolah di sini?" tanya Airin penuh percaya diri. Dia sengaja terus memancing identitas Brian. Dia ingin melihat ekspresi Brian dengan cerita versi dirinya. Lagi-lagi Brian meneguk saliva. Dia mengangguk ragu. "Tentu, kenapa tidak." Brian mulai cemas. "Jadi tuh, kita kan teman satu sekolah. Desta paling rese kalo di kelas." Airin memulai ceritanya. "Rin!" Desta mulai resah. Brian mengisyaratkan Desta untuk diam. Dia hanya mengangkat jari telunjuknya dan Desta mengerti kode itu. Tentu saja tanpa diketahui oleh Airin. "Di kelas itu dia tukang tidur, tukang palak, tukang dihukum sama guru." Airin mencoba mengingat hal itu. "Kamu ingat nggak, Des? Waktu kamu lagi minta nyontek PR matematika ke aku, dan guru lihat? Kuping kamu hampir aja putus gara-gara dijewer," ujar Airin. "Rin," jawab Desta. Dia ingin menghentikan Airin. Brian menahan tawanya. Dengan jelas dia ingin tertawa kencang. Benar, itu adalah momen paling memalukan bagi Desta. Mata Desta melotot kepada Brian. "Tapi, dia itu teman paling setia," ujar Airin. "Jadi, ada satu teman sekelas kita yang culun banget!" ujar Airin. "Airin!" Desta lagi-lagi ingin menghentikan. Namun, sayangnya Brian yang menghentikan dia. "Culun? Wah, seru kayaknya," timpal Brian. Airin mengangguk cepat. Dia sangat bersemangat bercerita masa lalu. "Desta ini, setia banget sama dia. Sampe-sampe kalau anak itu ..." Belum sempat Airin meneruskan. Desta sudah mensela ucapannya. "Sepertinya kita harus bersiap." Desta beralasan. "Oh ya, kamu juga harus ke butik, buat ambil baju," ucap Desta kepada Airin. "Butik? Bukankah baju Brian akan diantar nanti jam empat?" tanya Airin. "Bukan untuk Brian, tapi kamu," ujar Desta lagi. "Aku?" tanya Airin. Dia mengarah pada Brian. Laki-laki itu dengan entengnya mengangguk. "Kamu pilih baju, karena nanti kita akan ke sana sama-sama," perintah Brian. "Tapi," ucap Airin tertahan. "Nggak mungkin dong, stylish seorang artis papan atas menggunakan baju seperti ini di sebuah party besar," kata Desta. "Aku nggak harus ikut, kan?" tanya Airin lagi dengan polosnya. "Ikut," ucap Brian tegas. Dia memerintahkan Desta untuk mengantar Airin. "Ayo!" ujar Desta beranjak dari duduknya. Mau tak mau, Airin harus menurut. Dia mengikuti langkah Desta meninggalkan apartemen Brian. Setelah keduanya menghilang dari balik pintu. Entah apa yang tengah dipikirkan Brian. "Culun?" tanyanya pada diri sendiri. Dia lantas pergi meninggalkan meja makan yang masih dengan sisa makanan. Dia berdiri di depan cermin lemari bajunya. "Culun?" Seperti melihat bayangan dirinya di masa lalu, anak remaja berkaca mata yang selalu dirundung oleh temannya. Pertahanan Brian runtuh. Dia memundurkan langkah kakinya, napasnya tak beraturan. "Benar, sudah pasti aku jadi bahan olokan waktu itu," ucap Brian. Napasnya memburu. "Kenapa? Kenapa? Kenapa?" ucap Brian. Dia kembali melihat ke arah cermin. Menatap dirinya yang sekarang. "Apa kalian masih akan menertawakanku? Jika tahu aku seperti sekarang? Pengecut yang mengoperasi plastik wajahnya agar tak dikenali orang, pengecut yang lari dari kenyataan hidupnya di masa lalu, pengecut yang ingin dicintai banyak orang," ujar Brian. Wajahnya penuh dengan penyesalan. "Kenapa? Kenapa harus hidupku!" Tiba-tiba Brian berteriak. "Aku menyamarkan identitas ku agar orang tak tau kehidupanku sekarang! Kenapa? Apa aku salah?" Brian berbicara pada dirinya sendiri. Wajahnya penuh emosi. Selama ini dia tak bisa mengekspresikan emosinya karena Dava mendidiknya untuk menahan bahkan melupakan tentang masa lalunya. Desta yang notabene dari masa lalu, juga tak pernah membahas apapun di masa lampau. Dia sangat berhati-hati menjaga perasan Brian. Brian seperti memuntahkan rasa kecewa dalam dirinya, amarah yang selama ini dia tahan, yang dia tahu hanya tersenyum lebar di depan kamera. Seperti memakai topeng di depan penggemarnya. Brian adalah sosok artis yang tampan dan baik hati. ____ Hampir satu jam Desta dan Airin pergi akhirnya kembali. Mereka membawa tiga paper bag sekaligus. "Ini baju yang bakal lo pake," ujar Desta. Brian yang sedang bersantai di depan televisi mengerutkan kening. Dia mematikan layar flat itu dengan menggunakan remot. "Kok lo yang bawa?" tanya Brian. Desta mengangguk. "Tadi ketemu karyawan butiknya. Sama aja, kan, gue yang terima atau lo yang terima," kata Desta. Brian mengangguk mengerti. "Rin! Mending kamu siap-siap sekarang. Kita harus datang sebelum jam tujuh. Pasti di sana banyak wartawan dan fans Brian. Bakal ada fanmeeting dadakan." Desta memerintah. Seolah mengerti kesulitan Airin. Desta langsung peka. "Kamu nggak perlu pulang. Di sini saja. Bawa make up, kan?" tanya Desta. "Make up?" tanya Airin. Dia menggelengkan kepala pelan. Desta menghela napas. Ketiganya bersiap. Brian terlihat sangat tampan dengan celana berwarna cokelat mengkilap, dipadu dengan atasan kaos berwarna cokelat s**u dan jaket jeans. Dia terlihat sangat tampan walaupun tanpa riasan. Airin menggunakan dress selutut berwarna mocca. Walaupun bagian bahunya tak terbuka, namun gaun itu memberikan kesan manis dan cantik. Sedangkan Desta mengenakan celana panjang milik Brian dan kemeja pendek dipadu dengan blazer berwarna gelap. "Ayo!" ajak Desta setelah semuanya sudah siap. Ketiganya menuju mobil yang ada di lantai paling bawah. Seperti biasa, Desta mengemudi, namun kali ini Airin duduk di depan, dan Brian duduk di belakang. Belum juga Desta melajukan mobilnya, dia mendapat telepon dari Dava. "Iya, Kak." Desta menjawab tanpa basa-basi. "Sudah berangkat?" tanya Dava. "Ini, baru mau berangkat." Desta menjawabnya dengan santai. "Oke, ketemu di sana," ucap Dava lalu mematikan panggilannya. Perjalanan lumayan macet. Membuat Desta harus mengantre kendaraan di depannya. Pukul enam lewat lima menit, Brian Sampai. Benar, di sana sudah banyak banget wartawan yang hadir, penggemar juga turut serta meramaikan. Mereka membawa banner dengan nama Brian. Baru saja Brian turun dari mobil. Kamera benar-benar tersorot padanya. Semua mengambil gambar artis itu dari berbagai angel. "Brian! Bisa wawancara sebentar?" tanya salah satu wartawan. Brian tersenyum. Dia berdiri sembari melambaikan tangannya. Dia mencoba tersenyum selebar mungkin. "Brian! Apakah berita kencan itu benar," tanya wartawan lainnya. Brian hanya tersenyum. "Sebenarnya kamu dekat dengan wanita itu? Atau malah dia adalah temanmu?" celetuk wartawan lain. "Yang jelas aku sudah memiliki perasaan kepada seseorang," jawab Brian. Semua orang terkejut. Tentu saja, bahkan Airin yang berdiri di belakangnya ikut terkejut. "Yan! Tahan!" ujar Desta dengan bahasa tubuh. Karena Desta dan Airin tak bersama Brian saat itu. Mereka hanya di balik layar. Brian hanya tersenyum licik. Dia lantas berpamitan untuk masuk ke dalam gedung. "Yan! Lo gila!" pekik Desta saat dia sudah kembali mengekor di belakang sang artis. "Tenang aja, sih," bisik Brian dengan santai. "Aish," gerutu Desta. "Apa sih rencana dia? Aku masih nggak ngerti," batin Airin. Saat sudah masuk ke dalam ruangan yang akan dipakai untuk pesta, ternyata di sana sudah banyak orang. Kru, artis lain, bahkan Dava sudah berada di sana. Brian duduk di tempat yang sudah dipersiapkan. Makanan sudah siap untuk dinikmati. Airin hanya duduk canggung dan diam. Sedangkan Desta tanpa rasa malu mengambil makanan sesuka hati. Acara berlangsung sangat ramai, dari mulai sang sutradara, sampai artis menyampaikan rasa terima kasihnya. Mereka sangat bersyukur bahwa film yang digarap telah selesai dan sukses. Pesta sangat berjalan dengan hikmat. Selesai tepat pukul sebelas malam. Saat keluar pun masih banyak fans dan awak media yang menunggu. Jadi seperti biasa sebagai seorang artis harus menyapa dan tersenyum di depan kamera. Brian memasang wajah bahagia. Padahal saat itu dirinya sangat lelah. Dia mencoba tersenyum. "Brian, Brian, sebentar dong," ujar salah satu wartawan. Dia bertujuan untuk mewawancarai Brian malam itu. Brian mengangguk. Dia berpose di depan kamera lagi. "Brian, apakah skandal anggota DPR itu berkaitan dengan kamu?" tanya wartawan itu. "Apa?" tanya Brian dirinya terlalu serius menanggapi. "Maaf, sebaiknya Brian harus beristirahat dan pulang," ujar Dava. "Ayo!" bisiknya di telinga Brian. "Brian! Brian!" Seakan meminta jawaban. Mereka terus memanggil nama Brian. Ketika Brian sudah melangkah, lalu menghentikannya. Dia kembali menoleh ke arah para wartawan. "Skandal kencanku memang benar, tapi, tidak ada hubungannya dengan skandal anggota DPR itu," jawab Brian tegas. Langsung ramai seketika itu juga. Terlebih para fans Brian yang langsung berkasak-kusuk. Terkejut atas pernyataan yang keluar dari mulut idolanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD