Bab 20. Wanita Kekurangan

1091 Words
“Keyzia! Lo tahu? Perempuan seperti lo itu tidak pantas untuk hidup. Kenapa? Lo itu sadar tidak sih? Lo punya begitu banyak kekurangan dalam diri lo. Perlu gue sebutin satu-satu agar lo paham dan sadar? Kalau perlu, gue bisa bantu menyebutkan semua kekurangan lo tanpa terkecuali.” Viola menatap nyalang Keyzia yang kini tampak semakin tertekan.   “Cukup! Tolong hentikan!” pekik Keyzia sembari menutup kedua telinga serta kedua matanya rapat-rapat. Keyzia begitu ketakutan, ia masih berusaha keras untuk mengontrol dirinya baik-baik. Ia tidak bisa seperti ini terus, ia tidak ingin menyusahkan ibunya lagi jika ia kembali seperti kemarin. Terlebih lagi, saat pagi hari seperti ini akan banyak orang yang berlalu lalang. Ia tidak ingin membuat sang ibu semakin berat menanggung malu.   “Bukankah itu Keyzia?” tanya salah seorang yang baru saja lewat bersama dengan temannya.   “Siapa itu? Aku baru pernah mendengarnya. Apakah dia pendatang baru?” tanya balik sang teman.   “Kamu benar-benar tidak mengetahuinya? Dia adalah anak dari Bu Kania, pemilik toko kue yang berada di depan komplek sana. Tapi memang sih dia jarang keluar rumah karena kekurangannya.”   “Kekurangan? Gadis secantik dia punya kekurangan apa memangnya? Tampaknya normal.”   “Dia cacat mental.”   “Gila maksudmu?”   “Sebenarnya tidak gila. Hanya saja dia tidak bisa di sentuh. Tapi sedaritadi ku perhatikan, dia tampak seperti orang hilang akal. Dan apa itu temannya?” Bertepatan dengan kalimat tersebut usai, Viola sengaja membalikkan tubuhnya untuk memperlihatkan wajahnya.   “Loh, Viola? Sedang apa bersama dia?” tanya orang tersebut yang tampaknya mengenal Viola.   “Ah, aku hanya ingin menolongnya. Karena sepertinya dia sedang kumat,” jawab Viola dengan kekehan ringannya.   “Kumat? Maksudmu bagaimana? Kenapa dia sampai seperti itu?” tanyanya lagi yang tak mengerti kondisi Keyzia saat ini.   “Ya… kumat dalam artian seperti itu, kamu tahu? Tidak perlu ku jelaskan bukan?” tanya balik Viola yang membuat keduanya sedikit terkejut.   “Jadi dia sekarang benar-benar gila?”   “Ya, bisa dibilang seperti itu.”   “Kamu tidak perlu membantunya Viola, cepat tinggalkan dia. Orang gila yang sedang kumat seperti itu biasanya cukup berbahaya. Dia bisa melakukan apa saja dibawah alam sadarnya.”   “Tidak perlu, aku tidak apa. Kasihan dia jika tidak ada yang membantu. Ibunya pun pasti sedang menjaga toko,” jawab Viola dengan senyum maklum.   “Ah, begitu ya? Kamu baik sekali. Yasudah kalau begitu kami duluan ya. Kamu hati-hati dengannya, jangan terlalu berbaik hati,” ujar orang tersebut yang membuat Viola tertawa kecil seraya mengangguk.   “Ya, kalian hati-hati dijalan.”   Setelah kedua orang tersebut berlalu menjauh, Viola berbalik seraya memandang Keyzia yang kini berada di bawahnya dengan remeh.   “Lo dengar kan? Semua orang juga sudah menganggap bahwa lo itu gila Keyzia. Lo itu sudah rusak, tentu tidak bisa dipulihkan seperti semula. Jadi, tolong sadar dengan kondisi cacat lo ini. Jangan dekati Zello lagi karena lo itu memang sudah tidak pantas bersanding dengannya, paham?” tanya Viola sembari berjongkok guna dapat melihat wajah gadis malang itu.   “….” Keyzia tidak menjawab, dirinya terus menyorot ke arah depan dengan pandangan kosong sekaligus ketakutan.   “Kenapa diam saja hah?! Jawab! Gue paling tidak suka jika dihiraukan!” bentak Viola seraya menarik kasar rambut Keyzia hingga mendongak.   “….” Masih tidak ada jawaban dari Keyzia yang tak bergeming barang sedikitpun.   “Dasar perempuan jalang!” Viola yang sudah habis kesabaran pun dengan kasar menghempas Keyzia yang membuat kepala sang empunya pun membentur sebuah undakan batu yang cukup tajam.   Viola terbelalak saat melihat Keyzia yang tidak sadarkan diri dengan pelipis yang mengeluarkan darah.   Untuk yang kedua kalinya, Viola benar-benar merasa déjà vu dengan apa yang dialaminya. Ini seperti saat dia mendorong Keyra saat aula saat ini, bukan?   Dengan gemetar, Viola pun bergegas meninggalkan kediaman tersebut. Begitu terburu-buru dan dengan wajah paniknya Viola berusaha untuk lari dari apa yang telah diperbuatnya untuk yang kedua kalinya.   ***   Di sisi lain, saat ini Zello tengah berada di dalam perjalanan menuju kediaman sang murid. Ya, hari ini para guru tengah mengadakan rapat besar sehingga para murid dipulangkan lebih cepat.   “Kalau tau begini lebih baik tidak usah masuk dari pagi,” dumal Zello seraya menghela napas lelah.   Zello memang sengaja tidak pulang ke rumah terlebih dahulu. Karena ia tahu, jam segini pasti sang mama tengah berada di toko bunga, sudah pasti ia akan sendirian. Maka dari itu, ia memutuskan untuk langsung pergi mengunjungi Keyzia karena tahu bahwa gadis itu pasti sedang berada di rumah saat ini.   “Ah, apa gue mampir dulu ke toko tante Kania ya? Setelah membeli beberapa kue dari sana, baru gue ke rumah untuk makan di sana,” gumam Zello yang tampak masih menimbang-nimbang.   “Baiklah… mari bergegas….” Ya, pada akhirnya Zello pun memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke toko kue milik Kania, ibu dari sang murid.   ***   “Tante, Zello mau yang ini sama ini saja ya, masing-masing 2,” ujar Zello memilih kue yang berada di etalase.   Ya, saat ini Zello memang sudah berada di toko kue milik Kania. Tentu saja, sang empunya begitu menyambutnya dengan sangat baik. Justru, ia begitu kaget atas kedatangan Zello ke toko kue miliknya.   “Baik Nak Zello—“   “Panggil Zello saja ya tante,” potong Zello dengan kekehan ringannya.   “Ah iya maaf ibu kebiasaan. Baik kalau begitu ibu siapkan dulu ya,” balas Kania yang kemudian membawa keempat kue tersebut untuk ia kemas dengan cantik.   Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Kania pun kembali menghampiri Zello untuk memberikan kue tersebut.   “Nah, ini Zello kue yang kamu pilih,” ujar Kania sembari menyodorkan kotak cantik berisi kue tersebut pada Zello.   “Terima kasih ya tante, kalau begitu Zello permisi dulu. Mau ke rumah boleh kan ya?”   “Tentu saja, Keyzia juga pasti bosan sendirian di rumah,” balas Kania yang memperbolehkan Zello menemani sang anak.   “Terima kasih sekali lagi tante, kalau begitu Zello pergi dulu. Selamat siang!” ujar Zello yang kemudian berlalu keluar dari toko menuju mobil miliknya.   ***   Setelah dekat dengan kediaman sang murid, Zello mengernyit ketika mendapati pintu pagar yang terbuka begitu saja. Dengan perasaan tak menentu, Zello pun bergegas keluar dari mobil miliknya dan mengecek apa yang sebenarnya telah terjadi.   “Keyzia?!” kaget Zello saat mendapati sang murid yang telah tergeletak mengenaskan dengan pelipis yang terus mengeluarkan darah segar. Dengan gemetar, Zello pun bergegas menghampiri tubuh ringkih tersebut seraya mengecek nadi Keyzia guna memastikan.   “Keyzia, tolong tahan sebentar lagi. Kita akan ke rumah sakit agar kamu dapat segera ditangani,” ujar Zello sembari berusaha mengangkat tubuh sang murid untuk dibawanya masuk ke dalam mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD