Aku duduk menatap sosok Mahesa Wiradilaga yang dengan santainya makan dihadapanku saat ini. Kami kini berada di apartemen sambil menyantap makanan yang kami beli saat perjalanan pulang. Pria itu dengan tegas menyuruhku untuk pulang bersamanya. Kami memang perlu bicara dan sepanjang perjalanan pulang tadi aku sudah memantapkan diri untuk mengakhiri kesepakatan gila ini. Aku sudah tidak bisa berbohong lebih lama. Sudah cukup hari-hari yang kulalui dengan ketakutan dan rasa tidak tenag karena takut semakin besar kebohongan yang akan terucap. "Kamu tidak mau makan?" Spontan aku pun memasang ekspresi datar setelah mendengar pertanyaan Pak Mahesa. Aku meletakkan alat makanku dan menatap pria itu heran. Bisa-bisanya pria ini makan dengan tenang setelah semua kehebohan yang terjadi. Pria ini bi

