“Gue setuju.” Pandanganku dan Mbak Retha pun spontan beralih pada suara Mas Bimo yang tiba-tiba muncul diantara kami. Mas Bimo melangkahkan kakinya mendekati kami dengan segelas kopi ditangannya. "Si Mahes aneh banget dikit-dikit ke si Vanala," lanjut Mas Bimo lagi. “Hipotesis kalian itu ngadi-ngadi. Gue emang lagi sibuk aja dan wajar kalo gue jawab kalo gue enggak bisa dan gue yakin kerjaan dari Pak Mahes gak penting-penting amat jadi Pak Mahes juga gak perpanjang saat gue tolak. Lagian bukannya kalian juga pernah nolak kerjaan dari Pak Mahesa?” Mbak Retha dan Mas Bimo diam lalu bertukar pandang satu sama lain. Aku bisa melihat keduanya masih ragu dengan ucapanku namun aku dengan cepat membubarkan mereka dengan alasan ada laporan yang harus aku kerjakan dengan segera dan untungnya kedu

